Larut dalam Suara dan Cahaya: Pengalamanku Menikmati Djakarta Warehouse Project 2019 Festival EDM Terbesar Indonesia
Kembang api meriah memungkasi penampilan Jonas Blue di hari ke-3 Djakarta Warehouse Project 2019. Foto dari arsip Ismaya/DWP/via Rukes.
Festival musik

Larut dalam Suara dan Cahaya: Pengalamanku Menikmati Festival EDM Terbesar Indonesia

Kontributor VICE awalnya tak nyaman saat datang ke lokasi Djakarta Warehouse Project. Di hari ketiga, dia sudah menari bersama penggemar Calvin Harris, Zedd, hingga Skrillex, dalam suasana penuh ekstase.
15.1.20

Sebelum 2019 berakhir, aku bertekad buat mencoba sesuatu yang baru. Enggak peduli sesederhana apapun pengalaman itu. Selama 25 tahun dalam hidupku, aku enggak pernah membayangkan diriku bakal ada di acara pesta yang meriah—jenis pesta yang dipenuhi dekorasi lampu neon, outfits yang seru dan gila, atau musik yang menghentak—jadi aku pun sama sekali enggak nyangka bahwa di acara semacam itu, aku ternyata merasa larut dalam hiruk pikuk suasananya.

Iklan

Djakarta Warehouse Project, atau DWP, adalah gelaran tahunan yang diselenggarakan oleh Ismaya Live. Festival tiga hari itu menyajikan berbagai penampilan musik, terutama yang bergenre electronic dance music. Banyak banget DJ ternama yang manggung di sana, mulai dari Calvin Harris, Disclosure, juga Zedd, sampai Skrillex, mereka semua ikut ambil bagian menghibur penonton (kalangan menengah atas) Jakarta.

Jadi, akhirnya di sanalah aku berada, di tengah keramaian JiExpo Kemayoran. Aku ingat terakhir kali aku ke JiExpo adalah saat mengunjungi Pekan Raya Jakarta (PRJ), acara besar tahunan lain di Jakarta. Tapi kali itu, segalanya jadi terlihat berbeda, dan entah kenapa aku merasa tempat itu jadi terasa asing dan familiar di saat yang bersamaan.

Aku mengamati bermacam orang yang ada disana—cowok-cowok atletis yang cuma pakai tank tops, cewek-cewek yang mengenakan celana pendek dan aksesoris kepala, para ekspatriat, dan aku—si orang aneh yang pakai t-shirt dan jeans, saltum maksimum. Waktu itu, aku enggak menduga nantinya bakal banyak keringetan dan sebagainya.

1579074291090-Untitled-design-23

Gerbang masuk JEC masih lengang, sebelum badai pesta pora melanda kawasan ini di malam hari. Foto dari arsip Ismaya/DWP/via Vido.

Aku datang ke lokasi acara pada 14 Desember, hari kedua penyelenggaraan festival. Sebenarnya, aku kepengin ikut dari Jumat, hari pertama festival. Tapi, aku pikir, kalau misalnya aku datang langsung begitu aku pulang kerja di hari Jumat itu, aku pasti bakal tepar. Jadi, akhirnya aku menghadiri hari kedua dan ketiga festival itu.

Bodohnya, aku sudah berangkat ke lokasi sejak jam 5 sore. Aku enggak sadar kalau jam segitu, kebanyakan orang bahkan mungkin masih tidur dan istirahat untuk malam nanti. Sesampainya di sana, sebagian besar penampil dalam festival masih dalam perjalanan ataupun masih sibuk melakukan soundchecks. Aku melihat Garuda Land, dan terpukau dengan betapa besar dan megahnya panggung itu dengan segala hiasan lampu neon dan tata pencahayaannya yang begitu banyak dan keren.

Iklan

Malam pun tiba, dan aku akhirnya bertemu dengan beberapa temanku yang datang dari sekitar pukul 7. Mereka nampak enggak sabar buat berpesta, semacam sudah siap banget. Mereka datang berkelompok dan sepakat mengenakan dress code mereka sendiri, yaitu pakaian warna hitam. Aku memperhatikan kalau mereka semua memilih jenis outfits yang memang terlihat nyaman dipakai.

1579074358328-Her-DWP-2019-get-up-by-HIGH-ISO

Salah satu pengunjung DWP 2019. Foto dari arsip Ismaya/DWP/via High ISO.

Saat itu, aku pun tersadar, kalau pengin menikmati pesta yang meriah, kamu cuma perlu membiarkan dirimu sebebas mungkin. Ada juga sih yang pakai makeup dan aksesoris heboh gitu, kebanyakan melakukannya karena mau bikin konten™ di sana. Bukannya pengin julid, malahan aku justru kagum sama mereka. Semangat mereka begitu menggelora dan aku rasanya enggak akan pernah sanggup melakukan hal semacam itu.

Selam keliling di lokasi festival dengan salah seorang temanku, kami menemukan banyak hal menarik. Ada beragam jenis stan di sana, mulai dari stan makanan, layanan, produk, sampai stan aktivasi brand. Meski punya tujuan tersendiri, keberadaan mereka ikut mendukung berjalannya festival itu.

Misalnya, stan Gojek yang menawari kami layanan pijat dan salon gratis (benar-benar kayak salon asli yang bisa motong atau nge-warna-in rambut!), atau ada juga stan yang menyediakan semacam kotak kaca, terus di situ kamu harus mengumpulkan sebanyak mungkin kertas yang kamu bisa, dan di antara kertas-kertas itu, kamu nanti bisa menemukan freebies atau semacamnya. Kelihatannya seru, tapi karena antreannya panjang, aku jadi ogah buat ikutan.

1579074421460-Red-lights-galore-at-Cosmic-Station-stage-by-Vinodii

Foto dari arsip Ismaya/DWP

Aku ngobrol sama temanku itu soal penyelenggaraan festival sebesar DWP. Karena dia bekerja di bagian pemasaran, temanku cerita gimana Ismaya selalu mampu bertahan di tengah arus perkembangan industri musik yang pesat dan selalu berganti, di mana satu hal bisa dengan cepat dianggap ketinggalan zaman, dan hal-hal semacam itu. Penjelasannya membuatku jadi berpikir.

Aku terkesan dengan bagaimana EDM sendiri sebenarnya bahkan baru dinikmati secara luas dalam kancah musik arus utama enggak lebih dari satu dekade lalu. Diawali oleh musisi-musisi semacam LMFAO dan The Black Eyed Peas pada masa “I Gotta Feeling” lagi ngetop, bisa dibilang aliran musik ini masih cukup baru. Lalu, ada musisi-musisi pop cewek yang semakin membantu mempopulerkannya dengan menonjolkan kekayaan elemen dalam electronic dance music.

1579074491982-Penonton-Diajak-Menaikkan-Tangan-Mereka

Mulai dari Lady Gaga dan Zedd di ARTPOP, sampai Calvin Harris dan Rihanna lewat lagu “We Found Love”, dan sebagainya. Ya, Kylie Minogue memang jadi sosok yang mengukuhkan EDM jadi tren di masa itu, tapi melihat bagaimana genre itu saat ini berkembang, membuktikan bahwa EDM sudah jadi sesuatu yang umum dinikmati dan kaitannya dengan musik pop bahkan enggak bisa lagi dipisahkan. Sebagaimana genre musik lain, EDM perlahan melahirkan berbagai aliran baru dalam dunia musik.

Banyak orang yang diuntungkan dari perkembangan industri EDM. Sebagian memilih menempuh karir profesional sebagai DJ dan menciptakan karya-karya mereka sendiri, sementara sebagian yang lain menemukan peluang dengan cara menghelat sebuah festival musik yang meriah di Jakarta, ibukota Indonesia. Aku sendiri kerap bertanya-tanya soal gimana Ismaya sanggup membangun hegemoni mereka dalam bisnis penyelenggaraan festival musik di Indonesia selama satu dekade terakhir. Pasti ada resep rahasianya, kan?

1579074601838-Untitled-design-24

Skrillex disambut meriah pada hari kedua festival, karena kembali lagi memeriahkan DWP.

Aku pun menemui juru bicara DWP, Kevin Wiyarnanda. Sebelumnya, kami pernah ngobrol bareng dan dia sempat cerita tentang sejumlah hal menarik di DWP tahun ini, misalnya, 2019 menandai penyelenggaraan ke-11 dari DWP. Itu fakta yang patut diperhatikan.

Apalagi, bisnis industri festival musik di Indonesia bisa dibilang masih sangat rentan mengalami kegagalan. Ketika banyak festival musik lain perlahan kian meredup popularitasnya atau bahkan dikritik habis-habisan sama penonton, DWP justru semakin sukses dari tahun ke tahun. Tak kurang dari 78 musisi dari berbagai aliran genre EDM dijadwalkan untuk tampil di festival ini.


Tonton dokumenter VICE soal kebangkitan kancah hip hop Asia:


"Penggemar musik di Indonesia itu sangat setia terhadap DJ dan musisi favorit mereka. Jadi, begitu para musisi itu bilang bahwa mereka bakal tampil di sini, para penggemar mereka pun pasti ingin menonton secara langsung, beli merchandise mereka, dan sebagainya," kata Kevin.

Menurutnya, dedikasi para penggemar musik di Indonesia amat luar biasa. Selaras dengan fakta itu, DWP pun dibuat dengan konsep yang benar-benar berbeda dari festival musik lain yang ada di Indonesia.

1579074690500-Calvin-Harris-on-the-deck-at-Garuda-Land-by-Nareend

Calvin Harris saat tampil di hari ke-3 DWP.

"Ada banyak banget hal yang bisa kamu temukan di sini, sampai-sampai rasanya enggak jauh berbeda sama taman hiburan. Enggak cuma sekadar nonton artis favoritmu tampil, kamu juga bisa memperoleh banyak pengalaman seru di festival ini," imbuh Kevin.

Emang benar, sih. Saat aku melihat ragam stan yang ada, tata panggungnya, serta berbagai perilaku unik dari para penonton di festival itu, menurutku DWP jelas adalah festival musik yang hebat.

Iklan

Nama "Djakarta Warehouse Project" sebenarnya enggak berkaitan langsung dengan EDM, lho. Orang-orang cuma mengira kalau nama DWP itu berhubungan dengan EDM gara-gara banyak DJ yang tampil di sana. Sejarah dari nama DWP sendiri bermula dari awal gelaran festival ini pada 2008.

Lokasi penyelenggaraan festival DWP saat itu, kelab malam Blowfish, sangat kental dengan nuansa underground dan membuat penonton serasa berada dalam bangunan gudang besar. Terinspirasi dari sana, DWP akhirnya dipilih sebagai nama festival itu.

1579074960659-Get-Looze-dan-Fungfung-by-HIGH-ISO

Sebelumnya, aku yang enggak tahu tentang DWP mengira kalau festival itu cuma berisi orang-orang yang berpesta sepanjang hari. Rupanya begitu aku sampai di sana dan mengalaminya sendiri, DWP lebih tepat disebut sebagai tempat pelarian buat orang-orang yang mendambakan sesuatu yang lebih dari hidup mereka, dan ingin jadi bagian dari pengalaman hebat. Kebersamaan yang dirasakan oleh para penonton seakan memancarkan gemerlap.

Awalnya, aku sudah bersiap buat mewawancarai beberapa orang lagi yang ada di sana, tapi aku mengurungkan niat itu. Mereka nampak begitu menikmati momen yang berlangsung, aku jadi merasa enggak enak kalau harus mengganggu.

Bisa jadi itu cuma karena aku merasa minder, tapi ternyata anggapanku itu kemudian terbukti benar. Di hari ketiga, aku dan temanku berkesempatan menyaksikan Tinashe dan musiknya yang memukau. Kami lalu bergegas pergi ke panggung tempat Calvin Harris tampil, dan tiba di sana tepat saat sang DJ mulai memainkan lagu “We Found Love”.

1579075042155-Confetti-confetti-and-more-by-High-Iso

Segalanya terasa menakjubkan, dan banyak penonton yang nampak larut dalam dunianya sendiri, satu-satunya yang mereka perhatikan cuma alunan musik di sekitar kami. Kami semua menari bersama, baik dalam gelap maupun diterangi cahaya. Meski enggak saling kenal, tapi saat itu kami enggak peduli. Kami saling tos, tersenyum, dan bahkan melakukan fist-bump akrab dengan satu sama lain.

Pada akhirnya, aku berhasil menyatu dengan euforia di sekitarku. Perasaan enggak nyaman yang muncul saat aku mau pergi ke sana berangsur lenyap, tergantikan oleh perasaan yang begitu membebaskan.