Pergelaran Tari Massal di Pyongyang
Semua foto oleh Dan Medhurst 
Petualangan

Pengalamanku Nonton Pergelaran Tari Massal Absurd di Korut

Pesan yang kudapat dari pentas di Pyongyang tahun ini: Rezim Korut pengin menjalin hubungan normal dengan negara lain.
22.12.18

Pemandu wisata yang menyertai kami menunjuk sedereet tempat duduk. Kami akan duduk di sana selama pergelaran berlangsung. Penonton lain masuk stadion, mencari tempat duduk masing-masing. Mereka memasang paras muka mirip meerkat, mencari teman-teman mereka yang duduk di deretan tempat duduk yang lebih tinggi. Penonton lainnya—yang sudah dulu masuk ke stadion—menunggu acara dimulai dengan ngobrol. Berisik sekali. Sebagian lagi berbagi snack atau tut saat penonton yang telat masuk memaksa mereka berdiri.

Iklan

Di seberang kami, pada sisi lain stadion, pemandangannya jauh lebih teratur. Barisan anak sekolah berseragam sama—jumlah totalnya 17.000 orang—berjalan dalam satu barisan, mengantre menuju ke tempat duduk masing-masing.

Sebuah teriakan terdengar dan 2.000 anak muda langsung meresponnya. Pemilik teriakan itu terus mengabsen satu demi persatu sekolah. Lalu, cahaya meredup, musik mulai dinyalakan dan bagian stadion yang kami tempat henting. Acara akan segera dimulai.

1544722018226-North-Korea-Dan-Medhurst-2159

Ratusan ribu orang menonton Pergelaran Tari Massal 2018 Setiap malam. Foto: Dan Medhurst

Pergelaran Tari Massal adalah atraksi turis terbesar di Korea Utara. Kalian bisa langsung mengerti alasannya setelah menengok beberapa foto yang saya pampang di artikel ini. Sepintas, Tari Massal di Korut mirip seperti gabungan upacara pembukaan Olimpiade, pergelaran Trooping The Colour dan pertunjukan West End. Boleh dibilang, Pergelaran Tari Massal Korut ini adalah tontonan yang susah dicari tandingannya di seluruh dunia.

Setelah mulai digelar rutin saban tahun sejak 2002, Tari Massal sempat dihentikan pada 2014. Namun, awal tahun ini, muncul pengumuman bahwa Tari Massal akan kembali digelar disertai rangkaian program satu bulan penuh sebagai perayaan 70 tahun berdirinya Korea Utara. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, sampai menyempatkan datang menghadiri pergelaran Tari massal.

Kendati mengambil foto jelas-jelas diharamkan selama tari Massal berlangsung. Tapi, itu cuma teori belaka ya. Buktinya, kamiberuntung banget bisa menghadiri pegelaran senam massal—dan diam-diam memotret sebagian rangkaian acara malam itu.

1544722077221-North-Korea-Dan-Medhurst-2181

Penari membawa bendera Korut. Foto: Dan Medhurst

Selama 90 menit, kami menonton puluhan ribu warga Korea dengan pakaian yang seragam berganti menyuguhkan tari-tarian bertema patriotik, memamerkan kemahiran baris-berbaris dan berbagai peragaan kemampuan atletis semacamnya.

Di belakang mereka, dengan koreagrafi tingkat dewa, bocah-bocah sekolah yang kenyang dicekoki kedisplinan ala DPRK berperan menjadi pixel yang menyusun backdrop manusia raksasa. Setiap anak ditugaskan merentangkan buku lipat raksasa, membuka halaman demi halaman untuk menciptakan backdrop animasi yang terus berganti.


Tonton dokumenter VICE mengenai para pembelot Korut yang mengirim propaganda lewat balon pada sanak saudaranya agar melawan rezim Kim Jong-un:


Efek dari apa yang mereka lakukan adalah pembauran warna yang bikin kami menganga. Animasi yang dibuat anak-anak ini terus berganti selagi para penari membentuk dan mengubah formasi mereka, musik menyala kencang dan cahaya memancar dari sejumlah penjuru stadion. Saban lima menit atau lebih, begitu lagu berhenti, pertunjukan jeda barang beberapa saat. Lampu di seluruh stadion dimatikan dan panggung diatur ulang. Lalu, sekian jurus kemudian, muncul kelompok penari baru dan mereka tampil sama bersemangatnya dengan grup sebelumnya.

1544722133376-North-Korea-Dan-Medhurst-2208

Penari kipas berseragam warna warnii berbaris menciptakan koreografi bendera Korut jika dipandang dari atas. Foto: Dan Medhurst

Tahun ini Pegelaran Tari massal diberi judul “The Glorious Country.” Kemungkinan besar, Rezim Korea Utara ingin mengisahkan kembali sejarah mereka yang gemilang (dalam versi pemerintah Korut tentunya). Tapi, lantaran ada kelewat bajian pertunjukan dalam pertunjukan malam itu, kami kesusahan mengikuti narasi sejarah yang dituturkan malam itu. Untungnya, kalaupun kemampuan bahasa Koreamu minim sekali atau tak bisa menemukan sisi menarik dari mitos-mitos nasional Korea Utara yang agak berbau fasis. Ada sejumlah adegan dan tema yang bisa dengan mudah dipahami siapapun yang memiliki pengetahuan dasar tentang ikonografi negara komunis, seperti sekelompok petani yang dengan gembira merayakan hasil panen yang melimpah, tarian tentang meratanya jaringan listrik di seluruh Korut serta, di satu panggung, sekelompok pekerja perusahaan pengolahan logam dengan badan yang kekar memutar tongkat lengkung mereka untuk merayakan industri baja Korea Utara.

1544723047061-North-Korea-Dan-Medhurst-2309

Para pesenam beraksi di depan backdrop patriotik yang disusun anak-anak sekolah Foto: Dan Medhurst

Mudah ditebak, lantaran Korut sangat mementingkan kekuatan militernya (sampai saat ini, Korut adalah negara dengan jumlah tentara terbesar di dunia. 20 persen penduduknya terdaftar sebagai tentara), banyak sekali bagian pertunjukkan yang kental dengan tema militer. Marching band, lengkap dengan drum majorette, berparade melintasi stadion. Lalu, seluruh stadion disuguhi diplay kemampuan beladiri Taekwondo.

Para atlet Taekwondo yang terlibat di dalamnya menghancurkan balok kayu dengan tangan dan kepala mereka selagi backdrop setinggi 100 kaki menampilkan sosok-sosok mirip karakter Streetfighter melakukan gerakan serupa.

Dalam pergelaran tersebut, disajikan juga seksi panjang tentang Fatherland Liberation War (atau kita mengenalnya sebagai Perang Korea). Sembilan pianis konser didorong masuk stadion dengan menggunakan kontainer. Mereka memainkan grand piano yang serupa. Saat bermain, mereka dihujani grafik animasi api untuk menggambarkan upaya pengeboman pasukan Amerika. Seorang ibu pemberani maju ke depan memeluk anaknya yang sudah mati…dan akhirnya sekelompok tentara Rakyat Korea memanggul senjata, mengibarkan bendera Korut dan menari tarian kemenangan dan kebencian.

1544723406533-North-Korea-Dan-Medhurst-2343

Marching band punya peranan penting dalam pergelaran ini . Foto: Dan Medhurst

Bukannya sebal, kami malah merasa bagian tadi itu menyenangkan sama seperti adegan pertarungan sengit di West Side Story. Amat disayangkan, kebanyakan gerakannya kurang kelihatan real. Untungnya, kekurangan ini tertutup oleh skala besar yang ditampilkan. Dalam satu satu titik, stadion dipenuhi oleh ribuan penari.

Itu pun belum menghitung penari yang menunggu giliran di pinggir lapangan. Mungkin, yang paling mencengangkan dari semua penari ini adalah sekelompok anak-anak yang menumpuk diri mereka sampai membentuk piramid manusia, naik sepeda roda satu, berkeliling stadion dengan rollerkskate dan melakukan split dalam barisan yang lurus sempurna.

Iklan

Penampilan bocah-bocah ini memicu teriakan penonton paling keras malam itu dan mengundang ratusan ribu penonton mengacungkan ponsel pintar mereka (benaran lo, di Korut ada ponsel pintar). Tetap saja, terdapat sebagian penonton yang adem ayem saja. Mungkin, suara mereka disimpan untuk menyambut kemunculan imej dua pemimpin besar Korut.

1544723443244-North-Korea-Dan-Medhurst-2221

Foto besar Kim Il-sung, Bapak bangsa Korea Utara dan Presiden Korut sepanjang masa meski sudah lama meninggal. Foto: Dan Medhurst

Gambar Kim Il Sung dan Kim Jong Il muncul sekilas dalam backdrop manusia pada titik tertentu narasi historis Korut yang disajikan malam itu. Kim Jong-un tak muncul di sana. Wajahnya tampak dalam cuplikan video tengan memberi salam kepada pemimpin Korea Selatan Moon Jae-in dalam pertemuan bersejarah keduanya awal tahun ini. Dalam pertemuan, Jong-Un megajai Jae-in melangkahkan kakinya ke teritori Korut.

Ini adalah salah satu contoh penggunan teknologi yang relatif canggih sepanjang pertunjukkan. Contoh lainnya adalah ketika drone yang berlampu melayang di atas stadion, membentuk bendera resmi Korut. Namun, penggunaan teknologi canggih tak ada apa-apanya dibandingkan pesan perdamaian yang ingin disampaikan malam itu.

1544723546150-North-Korea-Dan-Medhurst-2389

Anak-anak punya sumbangsih besar dalam Pergelaran Tari Massal. Dalam foto ini, pesenam berusia sekolah bersama-sama melakukan split. Foto: Dan Medhurst

Penyatuan kembali dua Korea selalu jadi bagian penting dari propaganda Korut. Menurut pemerintah Korut, penyatuan ini tak kunjung terjadi karena saudara mereka di Selatan dihalang-halangi oleh Amerika Serikat. Padahal, mereka sebenarnya mau-mau saja bersatu di bawah kepemimpinan Korut.

Menjelang akhir pertunjukkan, penekanan akan reunifikasi Korea makin kuat saat narasi pertunjukan sudah mulai mendekati apa yang terjadi di masa kini. Bedanya, kali ini, Korut menginginkan penyatuan lewat jalan perdamian.

Iklan

Pada satu titik pertunjukan malam itu. Penonton disuguhi tarian tertang persabatan internasional. Saat itu, backdrop manusia menampilkan pesan dalam bahasa Inggris seperti: “Solidarity, Co-operation, Good Neighbourliness, Friendship,” “Multilateral Relations,” atau “Independence, Peace, Friendship.”

1544723647590-North-Korea-Dan-Medhurst-2248

Penari berseragam merah mewakili darah pejuang yang tumpah dalam Perang Korea. Foto: Dan Medhurst

Pada dasarnya, Pergelaran Tari Massal dirancang untuk tontonan warga Korut. Seperti yang terlihat di tempat-tempat hiburan lain yang tersedia di sana (museum, galeri sini dan bahkan pameran), penonton umumnya datang beramai-ramai bareng kolega mereka di pabrik dan kantor. Akan tetapi, penyelanggara pergelaran sadar atau bahkan mengincar sejumlah turis asing yang terselip di antara warga Korut yang memadati stadion malam itu.

Bila kalian belum memahami maksud dari langkah-langkah Korut dalam pergaulan internasional belakangan ini—atau tujuan pertemuan Kim Jong-Un dengan Trump tahun ini, apa yang diinginkan Korut begitu jelas terbaca dalam pergelaran tari massal tahun ini: mereka ingin menjalin hubungan yang normal dengan negara-negara lainnya.

1544723740569-North-Korea-Dan-Medhurst-2308

Para pesenam beraksi dengan hula hoop di depan sebuah backdrop raksasa. Foto: Dan Medhurst

Mereka yang sinis sama propaganda Korut tak akan mudah percaya niat tersebut. Banyak orang merasa Korut tak akan pernah serius menjalin persahabatan normal dengan negara lain. Cara mereka sesumbar tentang reunifikasi juga masih dianggap gimmick semata, termasuk oleh rakyat tetangganya Korsel. Bagi mereka, Korut belum juga memusnahkan senjata nuklirnya. Dan, seperti dugaan Trump, bukannya menghancurkannya, Korut malah mengupgrade koleksi senjata nuklirnya.

Kalian juga bisa sangsi dengan apa yang kami ungkapkann di atas. Bagaimana bisa kami menemukan politik tentng perdamaian dan rekonsiliasi ini dalam hiburan massal yang disponsori negara. Tapi tetap saja, sangat menyenangkan menemukan pesan-pesan positif ini dalam pergelaran seakbar ini. Lagipula, sebagai perbandingan, di awal penyelenggaraannya Pergelaran Tari Massal Korutmemasang tema utama pamer kekuatan untuk berperang.

Iklan

Apapun itu, masih ada jalan panjang yang harus ditempuh sebelum hubungan Korut dengan negara lain kembali normal. Selain itu, terlepas dari intensi yang mulia, Pergelaran Tari Massal tahun ini punya segala macam kekurangan—salah satunya malah luar biasa konyolnya. Setelah menzoom kameranya pada perwakilan salah satu negara Afrika. Dan, fotografer senior Amuse, berpaling ke arahku, lalu bilang "ehmm, itu bukannya orang Korea yang kulitnya dibikin hitam doang."

1544723829199-North-Korea-Dan-Medhurst-2280

Kembang api pertanda akhir pertunjukkan. Foto: Dan Medhurst

Ini jelas jadi salah satu elemen aneh dari pertunjukan malam itu. Akan tetapi, toh Pergelaran Tari Massal di Korut dari sononya memang aneh. Di sisi lain, ini adalah pertunjukan yang luar biasa menghibur.

Saat pertunjukkan ditutup dengan ledakan kembang api, kami tak bisa duduk-duduk saja. Kami ikut berdiri dan tepuk tangan seperti penonton lainnya.

Saya lantas teringat komentar George W. Bush tentang Upacara Pelantikan Trump yang diutarakan ke Hillary Clinton: “Ini benar-benar pertunjukan yang aneh."

Dalam kasus Pergelaran Tari Massal Korut, meski aneh, pergelaran malam itu sungguh memukau.

1544723875864-North-Korea-Dan-Medhurst-2410

Penonton menunjukkan apresiasi mereka Foto: Dan Medhurst


Tristan dan Dan jalan-jalan ke Korea Utara lewat paket wisata Koryo Tours. Sedikit info, Koryo Tour, yang berkantor pusat di Beijing, adalah biro wisata Korea Utara tertua dan paling terpandang. Kunjungi koryogroup.com untuk melihat paket wisata yang ditawarkan dan sila mendaftarkan diri jika kalian berminat.

Tristan adalah editor Amuse—situs seputar wisata dan jalan-jalan bagian dari VICE.com. Tristan bsia diajak ngobrol lewat Twitter atau Instagram. Dan Medhurst adalah editor foto Amuse. Silakan follow Dan di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di AMUSE