Ilustrasi perbedaan waktu di Indonesia oleh Farraz Tandjoeng.
Sejak kecil, kita yang hidup di Indonesia sudah terbiasa dengan fakta bangsa ini terbagi atas tiga zona waktu. Ada Waktu Indonesia Barat, Waktu Indonesia Tengah, dan Waktu Indonesia Timur. Siapa sangka, bagi sebagian orang, perbedaan berselisih satu hingga dua jam itu dapat menyebabkan persoalan serius. Menurut Indonesian Marketing Association (IMA), yang mendorong gagasan penyatuan zona waktu sejak 2005 sampai sekarang, negara kita sulit menjadi produktif secara ekonomi bila terus ada selisih jam. Itulah kenapa, beberapa pihak ini berharap zona waktu cukup satu saja.Kalau sudah jadi satu, jam kantor dan aktivitas bisnis (termasuk kegiatan di bursa saham) menjadi seragam dari Sabang sampai Merauke. Komunikasi antara mahasiswa maupun pegawai negeri yang berkoordinasi dengan pemerintah pusat jadi lebih mudah. Harapannya sih begitu. "Banyak keuntungan yang kita peroleh untuk jadi satu kawasan yang terintegrasi dan lebih produktif," kata YW Junardy, salah satu aktivis penyatuan zona waktu, kepada BBC Indonesia.Enggak pernah terbayang seberapa lambat atau bahkan cepatnya ritme hidup sebelum akhir Abad 19. Pada masanya enggak penting berapa jam perbedaan waktu antara satu desa dengan desa lainnya. Semua bisa orang bisa mengatur waktu versi desa mereka masing-masing. Kemudian industri transportasi semakin maju, adanya kereta api memungkinkan kita untuk bergerak lebih cepat dari satu tempat ke tempat lain. Majunya industri kereta api, dan selanjutnya pesawat, membuat perkara waktu menjadi penting, tidak boleh ada moda transportasi yang sampai bertabrakan jadwal atau malah terlambat. Maka, standardisasi waktu menjadi penting.Gagasan soal zona waktu ini pertama kali dikemukakan oleh Sir Sandford Fleming dari Kanada. Ia mengatakan Bumi terbagi menjadi 24 zona waktu, tiap pergeseran 15 derajat menandakan perbedaan 1 jam. Idenya dianggap sebagai gagasan brilian di tengah disorientasi waktu saat itu.Kepulauan Indonesia yang terbentang sepanjang 6.400 kilometer ini pun setelah kemerdekaan membagi wilayahnya menjadi tiga zona: barat, tengah, dan timur. Masalahnya, seperti diserukan di atas, perbedaan waktu ini membuat banyak orang bertanya-tanya kenapa kita tidak sekalian saja menyatukan zona waktu demi kemudahan komunikasi, bisnis, dan meniadakan diskriminasi bagi peraturan-peraturan yang sialnya masih terpusat di Jawa yang masuk zona waktu Indonesia Barat?Ditengok dari perspektif sosial, sosiolog Imam Prasodjo dari Universitas Indonesia saat diwawancarai BBC Indonesia, menyatakan perbedaan waktu ini menyebabkan ketimpangan yang makin besar antara Indonesia Barat dan Timur. "Selama ini, Indonesia Timur kesulitan mengalami ketimpangan karena terjadi kendala komunikasi dengan pusat pemerintahan, pusat ekonomi, dan pusat pendidikan yang terpusat di Indonesia Barat."Peraturan soal zona waktu ini memang tergantung kemauan politik sih. Contohnya, negara bagian Indiana di Amerika Serikat bisa punya dua zona waktu. Di lain pihak, kok bisa Cina yang panjangnya membentang hampir seluas Amerika Serikat sepakat hanya punya satu zona waktu. Meskipun lagi-lagi, kebijakan ini menjadi kontroversi buat sebagian masyarakat Cina bagian Barat yang jauh dari waktu Beijing yang jadi acuan? Atau bayangkan orang-orang di negara empat musim santai aja mengalami perubahan waktu satu yang disebut Daylight Saving antara musim panas dan musim gugur, sementara di negara lain perubahan waktu satu jam saja ribetnya minta ampun?Lagi-lagi, toh realita soal angka yang merujuk waktu bukanlah hanya kesepakatan? Maka, ada baiknya kita bertanya langsung pada mereka yang hidup di kawasan timur Indonesia soal isu penyatuan waktu. Pentingkah kebijakan ini dikaji pemerintah?Berikut penuturan anak muda dari kawasan timur Indonesia kepada VICE, soal ide penyatuan zona waktu dan hambatan macam apa yang mereka alami sehari-hari akibat perbedaan WIB, WITA, dan WIT.VICE: Halo Abdul. Bisa diceritakan apa pekerjaanmu?
Abdul Maskur: Saya bekerja di NGO baru ada dua bulanan lah, NGO-nya berfokus di konservasi laut. Sebelumnya, sudah pernah dengar soal ide penyatuan zona waktu di Indonesia?
Justru saya baru dengar pertama kali ini.Apa sih yang dirasakan sama teman-teman di Indonesia Timur yang waktunya terpaut dua jam lebih cepat dari Jakarta?
Saya punya contoh ya, misalnya kalau kita mau rapat apa-apa harus telepon. Misalnya rapat online, nah biasanya mengikuti waktu teman-teman yang di Jakarta. Jadi agak susah tuh. Misalnya, di Jakarta baru pada selesai kerja, kita yang di sini (Ambon) sudah keburu malam. Apalagi kalau ada teman-teman yang lembur di Jakarta, terus mereka baru bisa kontak kita, itu bisa baru jam 12 malam telepon, atau bahkan lewat tengah malam. Kalau misalnya di grup komunitas rapat online di chat Whatsapp, kita sampai pertengahan diskusi saja sudah ketiduran.Kalau ada beda jam biologis sih. Misalnya kalau berkunjung ke Jakarta dan ada kegiatan malam, nah jam segitu di Ambon sudah waktunya tidur. Ngaruh ke produktivitas juga.Kalau kebijakan penyatuan zoba waktu benar akan ditanggapi serius, apa pendapatmu?
Kalau saya sendiri belum paham jadinya akan bagaimana dengan disamakan jamnya. Kalau kita ini kan lebih banyak berpatokan pada matahari yah, jadi kalaupun jamnya sama tapi misalnya di Indonesia Barat masih gelap eh kita sudah terang. Namun kalau dipikir-pikir ada baiknya juga sih, contohnya agak susah untuk menyesuaikan waktu bisa sama-sama. Awalnya bakal bingung sekali pasti, karena sudah terbiasa kan. Biar punya satu acuan kalau menurut saya sih, buat punya sistem yang lebih baik, buat semuanya bisa diatur sama-sama, kalau bisa jadi lebih baik ya kenapa tidak. Saya sepakat-sepakat saja.Kamu apakah merasa dirugikan dengan perbedaan waktu dengan bagian barat Indonesia?
Ya begitu sih. Memang hehehe. Kalau dari segi waktu sih begitu, seolah-olah kita ketinggalan. Karena apapun terpusat di Barat.VICE: Halo Mario. Konon akan ada rencana penyatuan zona waktu di Indonesia, sudah pernah dengar?
Mario: Sudah pernah dengar dari lama.Kalau penyamaan zona waktu ini diberlakukan bagaimana menurutmu?
Kalau saya sih pro sekali. Saya ini kan kerja jauh dari keluarga, waktu kerja dan waktu istirahatnya berbeda. Kalau sekarang saya lagi di WITA sih nggak terlalu berasa, tapi kalau di WIT itu berasa sekali. Keluarga saya di Jakarta. Sebelumnya juga saya pernah tinggal di Jailolo, Ternate, Maluku Utara.Kendala utama ketika ada perbedaan waktu?
Kendala utamanya pasti waktu untuk mengunjungi keluarga. Sebetulnya kalau dilihat dari matahari terbenam, nggak terlalu beda jauh, akhirnya di sana pun matahari terbenam 6.45. Jadi kalau waktunya disamakan pun nggak beda jauh. Sangat memungkinkan, nggak ada permasalahan yang signifikan. Menurut saya pembagian waktunya pun tidak tepat. Contohnya, saya kan lahir di Samarinda, kota ini masuknya WITA tapi kalau WIB pun nggak beda jauh dengan Surabaya.Kalau di Maluku Utara kan saya juga ada penginapan. Nah kalau di penginapan itu, masalah saya itu soal jam kerja saya mau email ke orang. Misalnya untuk check in dan check out, urusannya kan ke travel agent di Jakarta. Misalnya di sana buka jam 9 WIB berarti saya bisa menyelesaikan masalah itu jam 11 waktu Jailolo. Waktu itu sangat signifikan.Apa karena semua terpusat di WIB?
Itu juga sebetulnya berpengaruh. Kalau misalnya kantor-kantor travel agent adanya di Ternate, sesama pihak yang tinggal di zona waktu WIT kan nggak masalah. Karena hampir semuanya hampir di Jakarta, akhirnya kita yang harus selalu beradaptasi ke WIB.Merasa selalu jadi pihak yang harus menyesuaikan dengan WIB?
Iya betul, menurut saya ketika ada orang di WIB dan berurusan dengan orang di WIT, itu juga pasti akan beradaptasi juga, tapi karena ujung-ujungnya semua terpusat di WIB dan kesannya orang di zona WIT lebih banyak yang membutuhkan orang-orang di WIB akhirnya ya WIT yang mengalah.
Kan dulu saya sekolah di Amerika, jadi ketika kita mau masuk musim gugur biasanya bakal mundurin jam. Kalau menurut saya itu adaptasi yang wajar dan biasa saja apalagi kalau ini mau seterusnya, bukan seasonal. Jadi kalau mau seterusnya pasti akan lebih enak tuh.VICE: Halo Robby. Sudah berapa lama tinggal di wilayah zona WIT?
Tinggal di sorong sudah hampir dua tahun. Kuliah di Jakarta, tapi aslinya dari Pekanbaru.Bagaimana rasanya tinggal di Sorong yang zona waktunya Indonesia Timur, sulitkah?
Ya mungkin kita juga harus terbisanya menyesuaikan waktu dengan orang yang tinggal di Indonesia barat. Misalnya ketika di Sorong ini sudah jam 8 masuk kerja, nah itu kan mau berkomunikasi dengan orang yang di Jakarta, butuh dokumen atau sesuatu mau nggak mau harus kontak orang Jakarta. Kalau di Sorong jam 9, nah di Sorong baru persiapan pergi ke kantor. Begitu pula kalau yang di Jakarta misalnya ada rapat yang sampai malam jam 10 malam, nah mereka masih minta data ke kantor Sorong. Kalau itu sudah larut malam di Sorong sudah tengah malam.Kalau ternyata rencana menyatukan zona waktu terlaksana, apakah kamu setuju?
Kalau saya sih kurang setuju karena kayaknya takut membingungkan dan menyalahi aturan. Nanti enggak sesuai dengan keadaan geografisnya. Belum lagi nanti membingungkan buat orang luar, karena berubah dari zona waktu sebelumnya.Kalau benar diadaptasi akan sulit nggak adaptasi satu zona waktunya?
Menurut saya sih susah juga untuk membuat semua orang sepakat. Dengan keterbatasan informasi ada juga orang-orang yang tidak ter-update soal zona waktu baru dan nanti akan menimbulkan kekacauan dan mungkin kemarahan. Aneh aja sih.
Iklan
Gagasan tersebut didukung Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, yang kerap berurusan dengan jadwal pengiriman barang ke berbagai pulau di Tanah Air. Di masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, gagasan penyatuan zona waktu sempat dikaji Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Namun, akhirnya ide itu ditunda pada 2012, lantaran muncul pro-kontra dan tidak ada sikap dari presiden. Kalau terburu-buru diputuskan, pemerintah khawatir korban utama kebijakan satu zona waktu adalah anak sekolah.Dalam proses wawancara tulisan ini, saya merasakan tantangan perbedaan waktu dengan teman-teman di Indonesia Timur. Buat saya yang tinggal di Jakarta, dan semuanya segala terpusat di kota ini termasuk zona waktu, rasanya tak ada masalah yang dihadapi. Nyatanya ketika menghubungi kawan-kawan saya yang tinggal di wilayah yang dua jam lebih cepat, kok rasanya sudah terlalu malam ya? Wawancara pun kebanyakan ditunda sampai keesokan harinya, di pagi hari saat waktu mereka berangkat kerja, yang buat saya masih waktu indonesia bagian ngumpulin nyawa.
Iklan
Iklan
Abdul Maskur Marasabessy, 25, Ambon
Abdul Maskur: Saya bekerja di NGO baru ada dua bulanan lah, NGO-nya berfokus di konservasi laut. Sebelumnya, sudah pernah dengar soal ide penyatuan zona waktu di Indonesia?
Justru saya baru dengar pertama kali ini.Apa sih yang dirasakan sama teman-teman di Indonesia Timur yang waktunya terpaut dua jam lebih cepat dari Jakarta?
Saya punya contoh ya, misalnya kalau kita mau rapat apa-apa harus telepon. Misalnya rapat online, nah biasanya mengikuti waktu teman-teman yang di Jakarta. Jadi agak susah tuh. Misalnya, di Jakarta baru pada selesai kerja, kita yang di sini (Ambon) sudah keburu malam. Apalagi kalau ada teman-teman yang lembur di Jakarta, terus mereka baru bisa kontak kita, itu bisa baru jam 12 malam telepon, atau bahkan lewat tengah malam. Kalau misalnya di grup komunitas rapat online di chat Whatsapp, kita sampai pertengahan diskusi saja sudah ketiduran.
Iklan
Kalau saya sendiri belum paham jadinya akan bagaimana dengan disamakan jamnya. Kalau kita ini kan lebih banyak berpatokan pada matahari yah, jadi kalaupun jamnya sama tapi misalnya di Indonesia Barat masih gelap eh kita sudah terang. Namun kalau dipikir-pikir ada baiknya juga sih, contohnya agak susah untuk menyesuaikan waktu bisa sama-sama. Awalnya bakal bingung sekali pasti, karena sudah terbiasa kan. Biar punya satu acuan kalau menurut saya sih, buat punya sistem yang lebih baik, buat semuanya bisa diatur sama-sama, kalau bisa jadi lebih baik ya kenapa tidak. Saya sepakat-sepakat saja.Kamu apakah merasa dirugikan dengan perbedaan waktu dengan bagian barat Indonesia?
Ya begitu sih. Memang hehehe. Kalau dari segi waktu sih begitu, seolah-olah kita ketinggalan. Karena apapun terpusat di Barat.
Mario Hideyuki, 33, Manggarai NTT dan Jailolo
Mario: Sudah pernah dengar dari lama.Kalau penyamaan zona waktu ini diberlakukan bagaimana menurutmu?
Kalau saya sih pro sekali. Saya ini kan kerja jauh dari keluarga, waktu kerja dan waktu istirahatnya berbeda. Kalau sekarang saya lagi di WITA sih nggak terlalu berasa, tapi kalau di WIT itu berasa sekali. Keluarga saya di Jakarta. Sebelumnya juga saya pernah tinggal di Jailolo, Ternate, Maluku Utara.
Iklan
Kendala utamanya pasti waktu untuk mengunjungi keluarga. Sebetulnya kalau dilihat dari matahari terbenam, nggak terlalu beda jauh, akhirnya di sana pun matahari terbenam 6.45. Jadi kalau waktunya disamakan pun nggak beda jauh. Sangat memungkinkan, nggak ada permasalahan yang signifikan. Menurut saya pembagian waktunya pun tidak tepat. Contohnya, saya kan lahir di Samarinda, kota ini masuknya WITA tapi kalau WIB pun nggak beda jauh dengan Surabaya.Kalau di Maluku Utara kan saya juga ada penginapan. Nah kalau di penginapan itu, masalah saya itu soal jam kerja saya mau email ke orang. Misalnya untuk check in dan check out, urusannya kan ke travel agent di Jakarta. Misalnya di sana buka jam 9 WIB berarti saya bisa menyelesaikan masalah itu jam 11 waktu Jailolo. Waktu itu sangat signifikan.Apa karena semua terpusat di WIB?
Itu juga sebetulnya berpengaruh. Kalau misalnya kantor-kantor travel agent adanya di Ternate, sesama pihak yang tinggal di zona waktu WIT kan nggak masalah. Karena hampir semuanya hampir di Jakarta, akhirnya kita yang harus selalu beradaptasi ke WIB.Merasa selalu jadi pihak yang harus menyesuaikan dengan WIB?
Iya betul, menurut saya ketika ada orang di WIB dan berurusan dengan orang di WIT, itu juga pasti akan beradaptasi juga, tapi karena ujung-ujungnya semua terpusat di WIB dan kesannya orang di zona WIT lebih banyak yang membutuhkan orang-orang di WIB akhirnya ya WIT yang mengalah.
Iklan
Hal yang paling terasa adalah kinerja pegawai negeri. Karena sekarang kan online kerjanya semua tersambung, dan sekarang jam kerjanya sudah pasti, nah bagaimana itu ketika mereka mau menyingkronkan? Kan berarti buang waktu dua jam.Menurutmu, apakah adaptasinya akan susah? Misalnya pemerintah mau menerapkan standarnya menjadi WITA?
Kan dulu saya sekolah di Amerika, jadi ketika kita mau masuk musim gugur biasanya bakal mundurin jam. Kalau menurut saya itu adaptasi yang wajar dan biasa saja apalagi kalau ini mau seterusnya, bukan seasonal. Jadi kalau mau seterusnya pasti akan lebih enak tuh.
Robby Agusta, 23, Sorong, Pegawai BUMN
Tinggal di sorong sudah hampir dua tahun. Kuliah di Jakarta, tapi aslinya dari Pekanbaru.Bagaimana rasanya tinggal di Sorong yang zona waktunya Indonesia Timur, sulitkah?
Ya mungkin kita juga harus terbisanya menyesuaikan waktu dengan orang yang tinggal di Indonesia barat. Misalnya ketika di Sorong ini sudah jam 8 masuk kerja, nah itu kan mau berkomunikasi dengan orang yang di Jakarta, butuh dokumen atau sesuatu mau nggak mau harus kontak orang Jakarta. Kalau di Sorong jam 9, nah di Sorong baru persiapan pergi ke kantor. Begitu pula kalau yang di Jakarta misalnya ada rapat yang sampai malam jam 10 malam, nah mereka masih minta data ke kantor Sorong. Kalau itu sudah larut malam di Sorong sudah tengah malam.Kalau ternyata rencana menyatukan zona waktu terlaksana, apakah kamu setuju?
Kalau saya sih kurang setuju karena kayaknya takut membingungkan dan menyalahi aturan. Nanti enggak sesuai dengan keadaan geografisnya. Belum lagi nanti membingungkan buat orang luar, karena berubah dari zona waktu sebelumnya.Kalau benar diadaptasi akan sulit nggak adaptasi satu zona waktunya?
Menurut saya sih susah juga untuk membuat semua orang sepakat. Dengan keterbatasan informasi ada juga orang-orang yang tidak ter-update soal zona waktu baru dan nanti akan menimbulkan kekacauan dan mungkin kemarahan. Aneh aja sih.
