FYI.

This story is over 5 years old.

Penelitian ilmiah

Penelitian: Tinggal di Wilayah Beriklim Dingin Berpeluang Bikin Kamu Demen Minum Alkohol

Sejak lama kita berasumsi konsumsi alkohol populer karena bikin tubuh hangat, tapi tak ada landasan ilmiahnya. Siapa sangka, sebuah penelitian membenarkan dugaan kita.
Seorang lelaki memegang botol bir dekat pegunungan salju
Foto ilustrasi alkohol di pegunungan salju via Pixabay and Pexels.  

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.

Penduduk Kanada mengonsumsi alkohol di atas rata-rata konsumsi alkohol global. Fakta ini tak hanya menarik bagi teman-temannya yang berdalih ‘Kalau hujan-hujan, enaknya minum-minum.” Sekelompok ilmuwan di luar sana juga tertarik mengungkap korelasi antara udara dingin dan konsumsi alkohol

"Korelasi ini sudah jadi semacam asumsi umum selama beberapa dekade. Masalahnya, belum ada bukti ilmiah yang menguatkannya. Kenapa orang Rusia doyan sekali minum-minum? Kenapa orang Wisconsin juga begitu? Semua orang mikir karena udaranya dingin," kata Dr. Ramon Bataller, kepala hepatologi, pengajar kedokteran di Pitt University, sekaligus peneliti utama dalam riset korelasi udara dingin dan asupan alkohol dalam pernyataan pers tertulis.

Iklan

Bataller mengatakan dua dan timnya terkejut tak bisa menemukan satupun laporan penelitian tentang korelasi ini dan segera memutuskan untuk melakukannya sendiri. Alhasil, Bataller dan 13 peneliti lainnya mengulik data meteorologi dan sejumlah besar data kesehatan publik untuk mencari tahu hubungan antara asupan alkohol dan iklim suatu wilayah. Siapa sangka, para peneliti berhasil mengungkap korelasi tersebut. Temuan mereka dijabarkan dalam sebuah paper, dimuat di jurnal ilmiah Hepatology.

maps

Peta ini menunjukkan temperatur wilayah dengan data konsumsi alkohol per kapita serta durasi sinar matahari sehari-hari. Foto via Ventura-Cots et al./Hepatology/John Wiley and Sons .

"Ini penelitian pertama yang secara sistematis menunjukkan betapa di kawasan-kawasan yang beriklim dingin dan yang memiliki durasi sinar matahari lebih pendek, penduduknya lebih sering mengonsumsi alkohol atau tingkat alcoholic cirrhosisnya tinggi," kata Bataller. Kelompok yang dipimpin oleh Bataller mengatakan mereka berusaha mengontrol aspek-aspek yang bisa memengaruhi konsumsi alkohol seperti agama, aturan hukum dan hal lainnya. Lebih jauh, mereka menganjurkan penelitian lebih lanjut untuk menegaskan korelasi yang mereka temukan.

Secara ringkas, begini kesimpulan yang disuguhkan tim Bataller: makin dingin iklim kawasan tempat tinggal kita, kita akan cenderung mengonsumsi alkohol lebih banyak, mabu-mabuan seperti anak muda berumur belasan tahun dan menderita penyakit yang disebabkan konsumsi alkohol yang tinggi. Penyebab pastinya belum diketahui tapi laporan tim Bataller menyebutkan beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan temuan mereka.

Iklan

Salah satunya mengatakan bahwa korelasi tersebut bisa muncul karena "alkohol adalah sebuah vasolidator." Dengan demikian, alkohol berfungsi melancarkan aliran darah hangat ke kulit yang dipenuhi sensor suhu. Secara harfiah, alkohol membuat tubuh kita lebih hangat. Makanya, satu sloki whiskey yang disikat teman kita saat hujan sedang deras-derasnya adalah upaya bikin tubuhnya tetap hangat. Di sisi lain, tim Bataller juga menyuguhkan sebuah penjelasan yang agak lebih gelap: konsumsi alkohol punya kaitan dengan depresi—sesuatu yang lazim ditemui di daerah yang pasokan sinar mataharinya terbatas.

Sebagai seseorang yang berasal dari Edmonton, salah satu kawasan paling dingin di Amerika Utara, saya paham betul fenomena ini. Ingat ya, saya bilang "salah satu kawasan paling dingin.” Soalnya, warga-warga Winnipeg yang lebih dekat Kutub Utara misalnya bisa saja ngambek dan bilang "Alah, sedingin apa sih Edmonton dibandingkan Winnipeg."

Kami mungkin sering berselisih paham tentang kawasan mana yang lebih dingin. Cuma, kalau sudah masalah alkohol, kami sepakat bahwa jika temperatur mendadak turun, itu artinya waktu untuk menenggak alkohol.

Ada sesuatu yang menarik dari tinggal di kawasan yang kondisi alamnya begitu bengis. Kami seperti punya rasa kebersamaan yang lebih erat dibanding mereka yang tinggal di kawasan yang iklimnya lebih ramah. Saya juga merasa kami lebih akrab lewat alkohol. Dulu sih, saya cuma mengimani asumsi tersebut. Artinya saya tak butuh bukti untuk mengonfirmasinya.

Terimakasih Dr. Ramon Bataller dkk. Kini asumsi saya punya bukti ilmiah dan punya alasan untuk terus mabuk.

Follow Mack Lamoureux di Twitter . Dia sering kedinginan dan cari-cari alasan menenggak alkohol