Dampak Serangan ISIS di Marawi Lambat Laun Akan Merembet ke Indonesia
Warga kabur dari kota Marawi saat diserang militan. Foto oleh Erik De Castro/Reuters.
Terorisme

Dampak Serangan ISIS di Marawi Lambat Laun Akan Merembet ke Indonesia

Muncul ajakan dari militan Filipina agar jihadis dari Asia Tenggara membantu mereka merebut Marawi, mendirikan kekhalifahan di sana, karena sudah sulit buat mereka berangkat ke Suriah.
31.5.17

Baku tembak antara militer dan sel kelompok teror di Kota Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Filipina Selatan tak bisa lagi dipandang sebagai konflik regional. Para pengamat mengatakan konflik tersebut dalam waktu dekat merembet ke negara tetangga sewaktu-waktu. Terutama jika mempertimbangkan fakta bahwa beberapa militan dari luar Filipina telah bergabung dan turut bertempur dengan kelompok Abu Sayyaf.

Iklan

Filipina bukanlah tanah yang dijanjikan dalam kitab suci Al Quran seperti Syam (Suriah). Namun sesudah berakhirnya perang Uni Soviet-Afghanistan, jauh sebelum konflik Marawi, Filipina berhasil menjadi magnet bagi para jihadis dari berbagai daerah, terutama Indonesia, yang ingin mendirikan negara Islam di Asia Tenggara bersama Moro National Liberation Front (MNLF) maupun kelompok pecahannya Moro Islamic Liberation Front (MILF).

"Hubungan militan di Filipina dan Indonesia sudah lama terjalin," ujar pengamat terorisme Al Chaidar yang sempat meneliti pergerakan Darul Islam di Mindanao saat dihubungi VICE Indonesia. "Sejak awal 1990-an militan Filipina memberikan bantuan kepada jihadis Indonesia. Tambah intensif sejak 2014 setelah berbaiat kepada ISIS."

Menurut Al Chaidar, Filipina menjanjikan tempat perlindungan bagi jihadis yang lari dari kejaran aparat, terutama karena lanskap Filipina yang berupa gunung dan hutan di tengah kepulauan, menawarkan tempat aman untuk berlatih maupun berkoordinasi melakukan serangan.

Berdasarkan informasi terbaru, militan Indonesia saat ini tidak menduduki jabatan strategis di kelompok-kelompok jihadis Filipina. "Mereka cuma foot soldiers," tambah Al Chaidar.

Pada 1994, Jemaah Islamiyah mendirikan Kamp Hudaibiyah di pedalaman Kepulauan Mindanao melatih para militan Asia Tenggara, terutama prajurit MILF. Abu Bakar Ba'asyir beberapa kali datang ke kamp tersebut untuk memberikan dukungan moral maupun dana.

Iklan

Setelah serangan bom Bali 2002 dan kerusuhan Poso, tokoh-tokoh JI seperti Hambali, Dulmatin, dan Umar Patek lari ke Mindanao untuk bersembunyi sekaligus menjadi instruktur senjata dan perakitan bom.

Baca juga: Serangan Kota Marawi mempersatukan jaringan jihadis Asia Tenggara

Hambali kini mendekam di Penjara Guantanamo Amerika Serikat. Dulmatin tewas dalam penggerebakan di Pamulang pada Maret 2010. Sementara Umar Patek saat ini tengah menjalani hukuman 20 tahun penjara di Lapas Porong, Jawa Timur.

Hubungan militan Indonesia-Filipina tetap langgeng sampai sekarang. Terutama ketika tiga kelompok militan, Ansharul Khilafah Philippines (AKP), Klan Maute, dan Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF) telah bergabung dengan Abu Sayyaf. Keempat organisasi militan itu berbaiat kepada ISIS dua tahun lalu. Selanjutnya, kelompok tersebut menyatakan pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, sebagai amir wilayat (pemimpin provinsi) ISIS untuk Asia Tenggara.

Menurut Al Chaidar, saat ini ada 14 militan Indonesia yang berada di bawah komando Isnilon Hapilon. Salah satu yang teridentifikasi adalah Agus Syahputra, yang diduga berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat dan bergabung dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) sebelum berangkat ke Mindanao pada 2016.

Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) dalam laporan yang dirilis Oktober 2016 telah memperingatkan bergabungnya empat kelompok militan tersebut dengan menyatakan kesetiaan kepada ISIS, dapat mengundang potensi konflik perbatasan yang tinggi, terutama ketika ISIS telah mengeluarkan fatwa untuk berjihad di Filipina.

Iklan

"Dukungan kepada ISIS dapat meningkatkan kerjasama antar klan dan etnis di Mindanao, dan memperbesar kesempatan kelompok tersebut untuk merekrut militan dari luar Filipina. Serangan mematikan kini hanya perkara waktu," seperti dikutip dari laporan tersebut.

Jika ada kelompok militan Filipina yang memiliki jaringan kuat dengan Indonesia, itu adalah AKP pimpinan Mohammad Jaafar Maguid alias Tokboy, yang tewas dalam serangan militer pada Januari 2017.

Tokboy memiliki orang kepercayaan asal Indonesia yang berperan dalam membangun jaringan Indonesia-Filipina. Mereka adalah Saifullah Ibrahim alias Sucipto dan Mohammad Karim Yusop Faiz alias Abu Walid.

Sucipto, alumnus Pesantren Ngruki di Sukoharjo yang ikut pelatihan paramiliter di kamp Hudaibiyah pada 1998, merupakan penghubung antara Bachrumsyah—pemimpin jihadis Indonesia Katibah Nusantara di Suriah—dan MIT. Tak jelas bagaimana Bachrumsyah bisa membuka hubungan dengan Sucipto. Namun kabarnya, Bachrumsyah mengirim dana jihad sebesar Rp1 miliar ke sebuah rekening yang diduga milik istri Sucipto untuk pembelian senjata bagi MIT dan jihadis di Mindanao.

Sementara Abu Walid, pria asal Klaten, Jawa Tengah, adalah alumni kerusuhan Poso yang tergabung dalam Laskar Mujahidin KOMPAK (Komite Penanggulangan Krisis) di Ambon. Dia pergi ke Mindanao pada 2000 dan bertemu Dulmatin.

Abu Walid pergi ke Suriah pada Maret 2014 setelah dideportasi ke Indonesia oleh pemerintah Filipina. Mungkin dialah satu-satunya penghubung jihadis Indonesia-Filipina yang tersisa saat ini, terutama ketika Bachrumsyah dikabarkan tewas dalam serangan bom bunuh diri di Palmyira, Suriah Maret tahun ini. Abu Walid telah beberapa kali menyerukan jihad di dalam negeri dan Filipina.

Iklan

Kedua jihadis Asia Tenggara di Suriah tersebut dapat dilihat sebagai sosok yang menginspirasi, terutama sejak video yang menampilkan Abu Walid memenggal sandera asing Abu Sayyaf muncul November tahun lalu.

Menurut Al Chaidar, tak menutup kemungkinan akan lebih banyak jihadis Asia Tenggara yang bergabung dengan Abu Sayyaf, terutama ketika ISIS telah menyerukan jihad di Filipina ketika pergi ke Suriah tak lagi memungkinkan. Bagi para militan, lemahnya pengawasan di sekitar perbatasan Filipina terutama pulau-pulau di Laut Sulu merupakan celah yang menguntungkan.

Tentara Filipina berjaga di dekat masjid Kota Marawi. Foto: Erik de Castro/Reuters.

Al Chaidar mendesak pemerintah Indonesia untuk mempererat kerja sama dalam bidang militer dengan Filipina, karena menurutnya, konflik Marawi bukan lagi konflik lokal, namun dapat mengancam Asia Tenggara.

Saat pertemuan Presiden Joko Widodo dan Rodrigo Duterte September lalu, pemerintah Indonesia setuju untuk membantu militer Filipina dalam membasmi kelompok Abu Sayyaf. Mendadak, pihak militer Indonesia membatalkan kesepakatan tersebut tanpa keterangan jelas.

"Dari dalam negeri, revisi UU Anti Terorisme harus segera dilakukan, terutama untuk memberikan peran aktif bagi militer untuk operasi anti-terorisme. Sehingga pemberantasan terorisme tidak lagi menjadi hak eksklusif bagi kepolisian," ujar Al Chaidar. Pemerintah, lanjut Al Chaidar, juga perlu merumuskan cara untuk mengkriminalisasi mereka yang hendak bergabung dengan militan di Suriah dan Filipina.

Korban tewas dalam konflik bersenjata di Marawi telah mencapai 104 orang termasuk 65 militan, 20 anggota militer, dan 19 warga. Tiga jasad di antaranya teridentifikasi sebagai militan asal Indonesia. Sementara hampir 60 ribu warga terpaksa mengungsi akibat bentrokan bersenjata tersebut.

Setelah sepekan lebih sejak Duterte mengumumkan status darurat militer di Marawi dan seluruh Mindanao, pihak militer Filipina saat ini mengklaim berhasil menguasai lagi 90 persen wilayah kota Marawi.