Daftar Penting Nih

11 Cover Album yang (Sayangnya) Lebih Keren Dari Musiknya

Pepatah bilang ‘jangan menilai buku dari sampulnya,’ tapi kalo isinya beneran engga sebagus sampulnya gimana dong?
5.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Biarpun era musik digital perlahan menghapus pentingnya peranan rilisan fisik, cover album masih dipandang sebagai bentuk seni yang penting. Iya, mungkin sekarang banyak orang sudah tidak lagi memegang album dalam tangan, kecuali anda kolektor CD, kaset atau vinyl, tapi tetap saja cover album menjadi representasi awal wajah sebuah album.

Kadang cover album bisa 'menjatuhkan' kualitas musik yang brilian, menjadi semacam imej tanpa arti bagi sebuah rilisan yang solid. Tapi jangan salah, kebalikannya juga sering terjadi—anda melihat cover album yang sangat menarik, segera bergegas ke kasir untuk membayar, begitu sampe rumah anda putar, anda merasa kecele habis-habisan. Rasanya seperti beli DVD yang covernya kelihatan seperti film horror, ternyata isinya film artsy ribet gak karuan.

Iklan

Berikut sederetan album yang mem-PHP kita sebagai pendengar akibat cover albumnya yang menawan.

The White Stripes – Elephant

Tahu gak Jack White pernah mengaku album ini "dibuat dari tai gajah"? Terserah deh, Jack. Biar gimana juga, cover album Elephant, sama seperti album White Stripes lainnya, selalu keren.

Penuh dengan warna merah dan putih, cover album menampilkan ampli gitar, tengkorak manusia dan kulit kacang. Pergelangan kaki diikat dengan pita, Meg terlihat tengah menangis sementara Jack sedang duduk bengong memegang tongkat pemukul cricket. Artsy.

Sayangnya, semenjak 2013, musik White Stripes memang terdengar seperti bunyi gajah lagi berak. "Seven Nation Army" memang menjadi soundtrack reguler di stadium-stadium olahraga, tapi album debut major label mereka benar-benar menenggelamkan kualitas musik mereka secara keseluruhan.

Awalnya muncul dalam kancah musik sebagai dua anak muda yang menginterpretasi ulang dan menyederhanakan musik blues, di album Elephant, arah mereka semakin tidak jelas. Biarpun mereka pernah membuka konser the Rolling Stones, cover album yang keren tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa musik dengan kualitas mentah penuh keseruan yang mereka tampilkan di album De Stijl dan White Blood Cells sudah pudar.—Tim Scott

Burzum – Fallen

Ini adalah album comeback kedua Burzum sesudah Varg Vikernes keluar dari penjara. Sampul itu menampilkan sosok perempuan lembut yang secara anggun sedang menikmati kesedihan. Dikelilingi bunga mawar di tengah hutan yang tenang, lekukan tubuh sang perempuan mengundang tatapan. Ekspresi wajahnya yang sedih menampilkan suasana melankolik. Illustrasi ini memberi kesan tentram dan menampilkan representasi dari kecantikan ala Eropa. Kemungkinan besar alasan terakhir itulah yang membuat gambar tersebut digunakan sebagai cover album oleh sosok pria yang terkenal rasis dan xenofobik. Siapa lagi kalau bukan pendiri Burzum, Varg Vikernes. Alih-alih membayar biasa komisi untuk karya, salah satu tokoh paling ternama di dunia metal tersebut mencolong imej tersebut dari seniman Perancis, William-Adolphe Bouguereau.

Diberi judul Elegy, imej yang menampilkan bidadari cuek masa bodo ini pertama kali muncul di 1899 dan aslinya menampilkan sosok malaikat bersayap (biar makin 'elegi' lah gitu hawanya). Untuk album Fallen yang membosankan setengah mati ini, Vikernes sedikit memodifikasi lukisan Bouguereau untuk menghindari pelanggaran hak cipta. Lucunya, cover album ini adalah hal terbaik tentang Fallen, dan itu pun hasil curian dan bukan karya Varg sendiri. — Kim Kelly

Lil Wayne – I Am Not a Human Being II

Cover album I Am Not a Human Being II dibuat oleh kolektif desain Kanye West, DONDA. Keren? Pastinya. Beda dengan cover album Lil Wayne lainnya? Jelas. Gambar ngengat mengerikan tersebut memberi kesan bahwa album ini bernuansa gelap dan bersih. Sayangnya, Wayne adalah rapper yang tergolong berantakan, dan IANAHB2 merupakan salah satu album dia paling berantakan. Biarpun banyak single dari album ini lumayan keren—"No Worries," "Rich As Fuck," dan "Love Me" adalah trio tipikal lagu modern Wayne—dan banyak musisi tamu menampilkan penampilan yang memukau, album ini juga kurang lebih bertanggung jawab atas kemunculan meme Rap Like Lil Wayne. Album ini banyak menampilkan lirik rap kasar namun kadang juga pintar. Sayangnya, secara keseluruhan IANAHB2 merupakan album yang jomplang secara kualitas, dan cover albumnya gak nyambung dengan isinya. — Kyle Kramer

Bring Me the Horizon – Count Your Blessings

Inget gak pas 2007 ngeliat cover album Count Your Blessings dari Bring Me The Horizon di akun Myspace temen? Elo mungkin mikir wah pasti ini album dalem penuh introspektif nih. Sayangnya yang elo dapet adalah riff-riff deathcore bego dan bocah berambut polem yang doyan teriak-teriak "go fuck yourself, you stupid fucking whore." Sampai sekarang masih aneh rasanya mencoba menganalisa bagaimana cara band segaduh mereka bisa menampilkan cover album yang tentram dan bijaksana. Mungkin ini satu-satunya karya bagus yang pernah dihasilkan BMTH. — John Hill

Death Grips – The Powers That B

Akhir dekade 90-an, ketika aksi bombing graffiti di stasiun kereta bawah tanah New York mulai kehilangan dampaknya, akibat pihak aparat mulai mengerti cara membersihkan kereta dengan benar, banyak seniman jalanan beralih ke metode yang lebih murah namun mematikan: menggores kaca jendela Plexiglas menggunakan asam, kunci dan alat pahat. Artwork dari album ganda Death Grips, The Powers That B mengingatkan saya akan era itu, ketika generasi muda yang penuh semangat mencoba 'menganggu' dunia dengan cara meninggalkan jejak mereka dengan segala cara. Sayangnya, musik album ini tidak ada hubungannya dengan klaim saya barusan. The Powers That B gagal menampilkan jejak musik masa depan, dan tidak juga berhasil merangkum masa kini. Ada beberapa ide menarik yang ditampilkan (gara-gara sampel vokal Björk di setengah lagu-lagu Niggas on the Moon), tapi begitu masuk ke album kedua, Jenny Death, mereka terdengar seperti versi KW diri mereka sendiri. Ini seperti musik bagi mereka yang ingin merasa pintar dan memberontak tanpa harus menanggung beban dan jerih payah di dunia nyata. Untung covernya bagus. — Craig Jenkins

The Yeah Yeah Yeahs – It's Blitz

Masalah saya dengan It's Blitz, rilisan 2009 dari Yeah Yeah Yeahs bukan semata karena artwork album mengungguli musiknya, tapi bagaimana cover album ini menyesatkan pendengar. Saya ingat menunggu It's Blitz dirilis dengan penuh antisipasi. Sudah tiga tahun semenjak Fever to Tell dan Show Your Bones memperkenalkan sisi kasar rock alternatif dan vokal penuh energi Karen O. Ekspektasi pun meninggi.

Ada banyak sekali cerita di balik pembuatan It's Blitz sebelum albumnya keluar. Kabarnya Karen O, Nick Zinner dan Brian Chase menghabiskan banyak waktu menulis, merekam dan mencari inspirasi di studio rekaman legendaris, Sonic Ranch di Tornillo, Texas. Setelah mendengar kabar itu, saya mengharapkan album psikedelik gila yang penuh pengaruh narkoba. Cover album menampilkan foto sebuah telur yang sedang dipecahkan, dan kuning telor beterbangan di udara. Sayangnya, lagu-lagu yang ditampilkan tidak agresif atau seru biarpun beberapa berjudul seperti "Heads Will Roll," "Hysteric," "Dragonqueen."

Iklan

It's Blitz justru menyajikan sisi introspektif nan lembut Yeah Yeah Yeahs, tidak jauh berbeda dengan album solo penuh ukulele Karen O. Saya tidak mengatakan bahwa It's Blitz itu album yang jelek. Album ini menandai perkembangan YYY dan Karen O sebagai penulis lagu. Tapi sayangnya album ini tidak berhasil membuat saya bergairah untuk menyetelnya berulang kali seperti rilisan-rilisan sebelumnya. Boro-boro ingin headbang, setelah mendengarkan album ini, saya bahkan tidak bersemangat untuk memecahkan sebuah telur. —Bryn Lovitt

Lupe Fiasco – Lasers

Salah satu kualitas terbaik dari musik Lupe Fiasco sebelum album LASERS adalah bagaimana dia tidak pernah terasa merendahkan, tidak peduli seberapapun pintarnya dia. Namun begitu LASERS dirilis, semuanya berubah. Liriknya menjadi semakin politis dan musiknya makin payah. Yang membuat situasi semakin runyam, LASERS adalah salah satu cover terbaik Lupe Fiasco, menampilkan semprotan anarkis merah "A" di belakang instalasi neon. Tanpa menampilkan Lupe sama sekali, cover album terlihat seperti karya seni yang meneriakkan protes dan tetap enak untuk dilihat secara estetik. Sayangnya, musik album ini adalah salah satu terburuk yang pernah dihasilkan Lupe, berada di tengah-tengah antara pesan protes dan kompromi komersil. Penuh dengan lagu-lagu balada politik, nuansa penuh ceramah membumbui 12 lagu di album. Biarpun album ini akhirnya menjadi pemecah karir Lupe, LASERS tetap cover album terbaik yang pernah dia hasilkan. — Slava Pastuk

Die Antwoord – Donker Mag

Jujur deh, Die Antwoord itu gak akan terkenal kalau bukan karena visual mereka yang keren abis. Di saat yang sama, estetika yang kuat ini akan terasa kosong apabila tidak diiringi dengan musik mereka yang terkenal aneh.

Video "I Fink U Freeky" yang berani dan penuh detail tidak akan lengkap tanpa verse penuh ketegangan yang ditampilkan Ninja dan Yolandi. Anda juga baru akan merasakan semangat "Baby's On Fire" setelah melihat adegan Yolandi dikelilingi mobil ngedrift.

Iklan

Di album Ten$ion rilisan 2012, mereka berhasil menemukan titik manis dalam bermusik. Album mereka berikutnya, Donker Mag, mereka bahkan tampil semakin ekstrem: foto hitam putih telanjang Yolandi yang melayang di atas sebuah kompas. Estetika minimalis dan apokaliptik ini seolah menjanjikan album yang lebih ganas lagi dibanding Ten$ion.

Sialnya, Donker Mag sama sekali tidak berkesan. Lagu-lagunya kelewat nyaman dan lebay. Mungkin "mudah diterima" bukanlah kata yang biasa digunakan untuk menggambarkan Die Antwoord, tapi album-album mereka sebelumnya jauh lebih menarik dibanding Donker Mag. Album ini terasa lelah dan sulit dipahami, layaknya karikatur yang tidak lagi bisa dibela oleh para penggemarnya. — Andrea Domanick

Sleigh Bells – Reign of Terror

Reign of Terror mungkin adalah salah satu cover album terbaik dalam dekade terakhir. Menampilkan sepasang sepatu Keds putih yang sudah lecek dengan cipratan darah vokalis Alexis Krauss, foto ini menampilkan semangat yang simpel dan tidak neko-neko. Estetika minimalis ini juga nantinya dicolong oleh perusahaan desain Kanye West, DONDA. Lihat saja cover album IANAHB2 atau The Pinkprint dan B.O.A.T.S. II: Me Time sebagai buktinya. Sayangnya, saya bisa menghabiskan berjam-jam ngomongin foto cover album ini, tapi tidak tentang musiknya. Bukan berarti RoT itu album yang buruk, tapi banyak sekali lagu yang tidak jelas arahnya. "True Shred Guitar" merupakan lagu pembuka yang luar biasa dan "End of The Line" beserta "Demons" merupakan lagu noise-pop yang pol kerennya, tapi lagu-lagu yang lain semua berasa seperti filler. Sialnya lagi, album mereka berikutnya, Bitter Rivals isinya semua lagu filler. — Jabbari Weekes

Kevin Rowland – My Beauty

gila ya covernya. Seakan-akan cover album ini diambil dari majalah porno AS tahun 80an biarpun ini merupakan rilisan tahun 1999. Gayanya yang malu-malu kucing, kalung mutiara yang dikenakan di leher, pandangan matanya yang serius, semuanya menunjukkan keberanian yang luar bisa, seolah-olah mengatakan "Yup, ini adalah foto yang saya ingin gunakan untuk merepresentasikan album pertama saya dalam 11 tahun." (pesan sampingan: pikiran gue doang, atau jarak antara kedua pentilnya jauh banget?) Terus musiknya gimana? Vokalis Dexy's Midnight Runner ini mestinya gak usah rilis album solo sih, biar kita inget hit single mantan bandnya "Come on Eileen." Sebuah album berisikan lagu-lagu cover yang dimulai dengan versi spoken-word dari "The Greatest Love of All" karya Whitney Houston memang lucu di 30 detik pertama, tapi lama-lama jatuhnya menyedihkan. Tapi salut buat gaya covernya yang nekat. — Kim Taylor Bennett

Van Halen – Van Halen III

Tanpa David Lee Roth dan Eddie sebagai vokalis utama, album ini dinilai sebagai album Van Halen terburuk sepanjang masa. Tapi beneran deh, foto perut seorang lelaki ditembak meriam—dan difoto ketika meriamnya masih penuh asap—itu keren gila. Sayangnya ini menggambarkan perasaan saya ketika mendengarkan album, seperti ditembak meriam. — Dan Ozzi