Panduan Menyelami Musik Mastodon Bagi Pemula
Panduan Noisey

Panduan Menyelami Musik Mastodon Bagi Pemula

Mudah jatuh cinta pada jawara prog metal asal Atlanta itu. Cuma diskografi band ini begitu panjang; supaya kalian tidak keder, kami beri panduan tematiknya.
31.1.18

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Kuartet metal Mastodon muncul dari kancah musik Atlanta, Amerika Serikat, awal dekade 2000'an. Di tahun-tahun awal karir, mereka memainkan musik sludge metal galak sebelum akhirnya berubah menjadi band rock/metal progresif yang rumit dan penuh imajinasi. Sampai akhirnya mengukuhkan diri sebagai bintang heavy rock mainstream lima tahun belakangan. Kancah heavy metal AS sedang terombang-ambing di awal Abad 21; kemunculan Mastodon di awal 2000'an terbilang sangat tepat waktu. Nu-metal masih digemari, dan metalcore tidak bisa menemukan ruang dalam musik mainstream. Seiring banyak band kesulitan berusaha tetap relevan, Mastodon melejit di kancah sludge Georgia bersama band macam Harvey Milk, Baroness, Black Tusk, dan Kylesa.

Iklan

Brann Dailor (drum/vokal) dan Bill Kelliher (gitar) bertemu Troy Sanders (bass/vokal) dan Brent Hinds (gitar/vokal) di sebuah gig High on Fire di Atlanta hampir 20 tahun yang lalu. Mastodon terbentuk semalam setelahnya akibat kecintaan mereka semua terhadap band macam Neurosis dan Thin Lizzy. Percakapan seru tentang band favorit tidak lama berubah menjadi sesi latihan dan menghasilkan materi demo pada tahun 2000. Tidak lama setelah merilis demo, mereka dikontrak oleh label independen metal besar Relapse Records—langkah besar bagi sebuah band di awal karirnya.

Tidak lama kemudian Mastodon direkrut oleh major label seperti Warner Bros and Reprise, menjadikan mereka satu label bareng Cher dan Prince. Musik mereka muncul dalam Headbanger’s Ball (RIP) dan video game. Mereka menjalani tur dunia, menjadi headliner festival; dan semalam, memenangkan Grammys. Formula musik Mastodon yang terus berubah selalu terasa segar; mereka selalu menawarkan sesuatu yang berbeda, dan menyuntikkan hidup baru ke dalam sebuah genre yang tergolong keras kepala terhadap perubahan—sama seperti apa yang dilakukan Metallica dan banyak band lainnya.

Mastodon sebagai sebuah band telah berkembang menjadi nama besar di dunia metal. Dailor dianggap sebagai salah satu drummer terbaik musik modern, dan dia telah mengembangkan kemampuan vokalnya sedemikian rupa hingga suaranya menjadi titik utama materi baru Mastodon. Hinds dan Kelliher terus digadang sebagai duo gitaris paling dinamis di metal; waktu bertahun-tahun yang dihabiskan meracik musik bersama membuat riff dan melodi mereka semakin tajam dan kompleks. Hinds juga berhasil menjadi seorang vokalis istimewa, biarpun suara Sanders masih dianggap sebagai representasi terbaik Mastodon di setiap era.

Iklan

Ketika menilik diskografi Mastodon, kita akan melihat tujuh album penuh tersebar dalam waktu 15 tahun; di luar tujuh album tersebut, ada juga banyak rilisan demo, split, EP, dan single. Material yang mereka hasilkan sangat banyak dan bisa membuat seseorang kewalahan—kedalaman dan nuansa dari lagu-lagu mereka juga tidak bisa dilewatkan. Empat album pertama mereka terhubung lewat sebuah tema elemen yang longgar—api, air, tanah, dan udara. Beberapa album mereka mengikuti konsep narasi, dan banyak dari album ini memiliki makna tersendiri bagi setiap anggota band. Ada banyak penampilan bintang tamu seiring perjalanan karir mereka (Scott Kelly dari Neurosis telah tampil di setiap album semenjak 2004), dan Mastodon berhasil menggunakan penampilan setiap bintang tamu untuk memperkuat hasil karya mereka.

Untungnya, diskografi yang beraneka ragam malah memberi kita banyak titik masuk ke dalam musik Mastodon. Tak peduli kamu penggemar musik sludge metal superkencang, metal progresif yang teknikal, atau sekedar rock ‘n’ roll, Mastodon punya semuanya.

Mastodon versi Sludge

Ini yang paling mudah: mulai dari awal karir mereka. Materi awal Mastodon sangat heavy. Album debut mereka, Remission, dan juga EP 2001 mereka, Lifesblood penuh dengan riff down-tuned yang groovy. Dibawah nuansa kelam materi awal mereka, ada indikasi apa yang bisa dilakukan oleh Dailor, Kelliher, Sanders dan Hinds; Permainan drum Dailor mengandung pengaruh jazz, riff kompleks Kelliher dan Hinds saling keluar masuk dengan mulus, dan lick bass dan geraman Sanders sanggup menggoncang bumi.

Era singkat Mastodon ini terbukti menjadi masa penting bagi perkembangan raksasa metal ini dalam mengukir sound mereka sendiri, dan ada banyak sekali momen individual keren yang layak didengarkan. Lifesblood EP—yang lagu-lagunya bersama dengan track demo muncul di kompilasi 2006 Call of the Mastodon—dan Remission memiliki banyak lagu keren yang bisa membuatmu ingin berlari ke mosh pit. Putar kencang-kencang agar rekan-rekan kerjamu ketakutan.

Iklan

Playlist: “March of the Fire Ants” / “Where Strides the Behemoth” / “Ol’e Nessie” / “Mother Puncher” / “Shadows that Move” / “Battle at Sea” / “Deep Sea Creature”

Spotify | Apple Music

Puncak Era Paling Progresif Mastodon

Ada sekitar rentang lima tahun dalam karir Mastodon yang bisa disebut sebagai “puncak era progresif”. Di era ini, Mastodon mulai keluar dari ranah sludge dan mengembangkan sound mereka lebih jauh. Perubahan ini disebabkan oleh perkembangan pesat kemampuan bermusik para anggota. Mereka mulai bereksperimen dengan tuning yang berbeda, ketukan ganjil, dan konsep narasi, menghasilkan album Leviathan, Blood Mountain, dan Crack the Sky, yang dianggap sebagai album-album keemasan mereka. Rentang waktu ini mendorong popularitas band di pertengahan hingga akhir 2000an menuju kesuksesan mainstream.

Album kedua mereka, Leviathan (2004), dianggap sebagai album terbaik Mastodon. Musik di Leviathan menceritakan novel klasik bahari Herman Melville, Moby Dick, di mana setiap lagu melambangkan porsi cerita yang berbeda, dan menghasilkan hit single pertama Mastodon “Blood and Thunder”—yang memiliki salah satu riff pembuka paling berkesan dalam metal—dan “Iron Tusk.” Semenjak perilisannya, Leviathan telah digadang sebagai salah satu album metal terbaik di abad 21—dan dinobatkan oleh Rolling Stone sebagai salah satu album metal terbaik sepanjang masa.

Mengikuti Leviathan rasanya sulit, tapi Mastodon kembali merilis sebuah album sensasional di tahun 2006: Blood Mountain. Di album ini, mereka kembali menyajikan narasi yang unik. Seorang karakter protagonis berusaha menemukan tengkorak kristal yang menjadi kunci langkah berikutnya dalam proses evolusi manusia; di sepanjang jalan, si karakter bertemu beberapa monster ketika masuk ke dalam daratan yang aneh. Cerita ini semakin memperkuat daya tarik Blood Mountain, tapi sesungguhnya evolusi penulisan lagu mereka lah yang benar-benar bersinar di sini. “Sleeping Giang” masuk ke ranah psikedelik, sementara “Circle of Cysquatch” menyajikan riff thrashy dan penggunaan talk box.

Iklan

Eksplorasi gaya Mastodon terus berlanjut ke rilisan mereka selanjutnya, Crack the Skye (2009)—sebuah mahakarya metal progresif. Album keempat mereka ini—yang didedikasikan untuk mengenang saudara perempuan Dailor—mengisahkan seorang penderita lumpuh yang hanya bisa bepergian lewat proyeksi astral. Setelah dia mendekati matahari, dia jatuh dan masuk ke dalam tubuh Grigori Rasputin di era Imperial Rusia. Sama seperti bagaimana karakter protagonis masuk ke dalam tubuh Rasputin, beberapa nama besar dalam dunia prog rock juga dibangkitkan dalam Crack the Skye. Nuansa Pink Floyd dan King Crimson muncul seiring Mastodon menampilkan tembang-tembang spacey berdurasi panjang macam “The Czar” dan “The Last Baron”. Lagu-lagu epik ini cocok disandingkan dengan track macam “Oblivion” dan title track, yang memanfaatkan interplay dinamis yang membuat Leviathan dan Blood Mountain sangat spesial.

Playlist: “Blood and Thunder” / “Iron Tusk” / “Aqua Dementia” / “Crystal Skull” / “Sleeping Giant” / “Circle of Cysquatch” / “Colony of Birchmen” / “Oblivion” / “The Czar” / “Crack the Skye”

Spotify | Apple Music

Fase Mastodon Keranjingan Arena Rock

Mengikuti kesuksesan tiga album sebelumnya, Mastodon melakukan sesuatu yang berbeda di album berikutnya. Pada 2011, mereka meninggalkan konsep album wah demi sesuatu yang lebih mendasar dan emosional. Ini diwujudkan dalam album The Hunter. Biarpun albumnya sendiri dinamakan dan didedikasikan untuk saudara lelaki Hinds, tidak ada narasi khusus yang merangkai lagu-lagu dalam album tersebut. Mastodon ingin ngerock—dan ini memang berhasil dilakukan. “Black Tounge” dan “Stargasm” tetap menggunakan elemen keras dari masa lalu mereka, tapi lagu macam “Curl of the Burl” mengenakan tone yang lebih ringan dan ngeblues.

Once More Round the Sun mengikuti formula yang serupa. “The Motherload” dan “High Road” mendorong Mastodon masuk semakin jauh ke dalam ranah radio rock, menaruh penekanan dalam melodi dan chorus yang bisa dinyanyikan penonton (dan juga video musik berbudget besar lengkap dengan goyangan-goyangan penari perempuan). Beberapa lagu mengingatkan kita akan era puncak progresif mereka—seperti “Chimes at Midnight” yang cocok masuk ke dalam Crack the Skye atau “Halloween,” yang menggunakan elemen blues ala The Hunter.

Iklan

Barulah di rilisan Emperor of Sand dan Cold Dark Place EP yang dirilis tahun lalu, Mastodon seperti menyelesaikan siklus mereka. Album ketujuh mereka, Emperor of Sand menceritakan perjalanan mereka dalam sebuah metafora kehidupan dan kematian akibat kanker, sesuatu yang sangat dipahami oleh Kelliher dan Sanders karena orang-orang tercinta di sekitar banyak menghadapi penyakit ini. EP selanjutnya juga menyajikan tone yang lebih gelap akibat pengaruh pengalaman-pengalaman pribadi ini. Disini jugalah beberapa momen terbaik Mastodon tercipta. Lagu nominasi Grammy “Sultan’s Curse” dan “Steambreather” menyajikan paruh pertama Emperor of Sand yang lebih aksesibel sementara paruh kedua album penuh dengan materi nostalgik yang sanggup memuaskan penggemar-penggemar lama yang keras kepala (contoh: “Andromeda”)

Biarpun album terakhir mereka jauh berbeda dari beberapa album pertama, Mastodon telah secara mulus bertransisi dari talenta underground menjadi raksasa mainstream. Beberapa album terakhir mereka menunjukkan sisi aksesibel dan penuh mereka ke para penggemar musik, sama bagaimana empat album pertama mereka menunjukkan skill bermusik metal.

Playlist: “Black Tongue” / “Curl of the Burl” / “Stargasm” / “The Motherload” / “Chimes at Midnight” / “Sultan’s Curse” / “Steambreather” / “Andromeda” / “Jaguar God” / “Toe to Toes”

Spotify | Apple Music

Mastodon Versi Cover Band

*Untuk lebih banyak Cover Band Mastodon, klik tautan di judul lagu dari playlist dibawah ini.

Sepanjang karir, Mastodon banyak sukses mengkover lagu-lagu classic rock dan metal, menunjukkan selera musik mereka yang beragam. Mereka mengkover salah satu pengaruh terbesar mereka, Thin Lizzy, di tembang “Emerald,” yang muncul sebagai bonus track di versi CD Remission. Kuartet ini sempat memainkan era awal Metallica (“Orion”), The Melvins (“The Bit”), dan ZZ Top (“Just Got Paid.”)

Selain cover rock dan metal, Mastodon juga sempat masuk ke ranah indie rock cover lewat beberapa rilisan vinyl tujuh inci. Pada tahun 2012, mereka berkolaborasi dengan penyanyi Feist untuk menyanyikan lagunya, “A Commotion.” Feist mengkover “Black Tounge” dari album The Hunter. Di tahun yang sama, Mastodon juga berbagi ruang dengan The Flaming Lips—dan sempat mengkover lagu Flaming Lips “A Spoonful Weighs a Ton.”

Playlist: “Emerald” / “The Bit” / “Orion”/ “Just Got Paid” / “A Commotion” / “A Spoonful Weighs a Ton”

Spotify | Apple Music