Raja Foto Aura di Indonesia Membantuku Menemukan Jati Diri
Foto aura dari King Gunawan.
Spiritualitas Masa Kini

Raja Foto Aura di Indonesia Membantuku Menemukan Jati Diri

King Gunawan membuka jasa fotografi tak lazim di Jakarta. Hasil jepretannya diklaim bisa menjelaskan sifat dan nasibmu. Aku mendatangi kiosnya mencari tahu seperti apa rasanya diramal lewat foto aura.

Gue agak malu sih ngakuin ini, tapi intinya gue tertarik banget sama pseudosains. Mulai dari astrologi, tarot, atau semua analisis psikologi yang enggak ada dasar ilmiahnya. Pas masih abege, gue demen berjam-jam membaca semua tulisan tangan pembunuh berantai, sampai-sampai gue sempat percaya grafologi bisa jadi pilihan karir masuk akal pas lulus kuliah nanti. Abis bosen sama grafologi, gue khusyuk mendalami astrologi. Gue tuh masuk kategori sun Gemini, moon Taurus, dan ascendant Leo. Kalau menurut Myers-Briggs gue itu INTJ, yang kalau itu semua digabung artinya gue orang yang lumayan ngeselin. Nah, akhir-akhir ini, gue mulai ganti minat lagi. Gue sering datang ke ahli akupuntur kalau rasa-rasanya lagi mau flu. Gue percaya bahwa memar-memar sehabis dipijit itu berarti bentar lagi badan gue enakan. Tapi, ada satu hal yang dari dulu pengin gue cobain tapi belum pernah kesampaian: foto aura. Oke, buat kalian yang baru dengar, foto aura adalah teknologi New Age di mana kamera "khusus" motret wajah seseorang. Dari hasil jepretan itu, kita bisa lihat warnanya apaan. Warna itu, ternyata, mendeskripsikan banyak hal soal jenis aura tiap orang. Sejujurnya nih, penjelasan soal cara kerja kamera aura kerasanya kayak filter Instagram "spiritual" terus harganya kemahalan. Foto-foto aura belakangan bermunculan di feed Twitter gue. Ada dua teman gue yang pacaran, terus nyobain foto aura. Mereka warna auranya mirip tuh… berarti bakal langgeng kali ya. Gue terus semakin bertanya-tanya, “Aura gue kayak apaan ya?” Apa benar ada yang bisa baca kepribadian gue lewat satu foto? Pas gue cari tahu di internet, ternyata cuma ada satu tempat di seluruh Jakarta yang menawarkan jasa foto aura. Kiosnya itu bernama Foto Aura (iya, harfiah banget), berlokasi di Mall Mangga Dua, Jakarta Pusat.

Iklan

Situs yang gue baca menginformasikan kalau gue lansung ngobrol aja sama laki-laki bernama King Gunawan, pakar yang dilatih langsung sama Guy Coggins. Si Guy itu insinyur asal Amerika Serikat yang menemukan teknologi fotografi aura pada dekade 80'an. Kayaknya meyakinkan. Tunggu apa lagi. Gue harus temui Pak King ini. Gue ditemani satu teman jalan bareng ke Mangga Dua Minggu siang. Badan gue legrek banget dan semalam gue kurang tidur. Gue sempet takut, kalau lagi enggak fit jangan-jangan ntar aura gue terpengaruh. “Gimana dong kalau ternyata salah satu dari kita sebenarnya Setan?” tanya teman gue itu. Pas kami sampai lokasi, gue bahkan yakin banget kalau hasil foto aura gue nantinya item pekat.

Sampai lokasi nih.

Baiklah. Kami sampai di toko Foto Aura. Seorang laki-laki memperkenalkan dirinya sebagai asisten King, menyambut kami tempat resepsionis dekat pintu. Dia mengajak kami naik tangga. Di atas, ada pintu bertuliskan “KING GUNAWAN - AURA CONSULTANT & PHOTOGRAPHER, PARAPSYCHOLOGIST, TELEPATHIST.” Masuklah kami berdua ke ruangan foto. Pak King ada di situ, tapi diam aja. Si asisten yang melakukan semua tetek bengek foto aura. Ruangannya lapuk dan kuno. Ada lemari besar diisi beberapa map sama telepon kabel. Ada PC hitam tua di atas mejanya, monitor di atasnya berwarna putih kusam lengkap 3X5 floppy disk drive. Old school abis.

Foto oleh Katyusha Methanisa.

Ternyata gue langsung disuruh foto dong. Si asisten nyuruh gue duduk di kursi, terus dia mengarahkan tangan gue ke atas piringan besi biru tersambung kabel. Dia menutup tubuh gue pakai kain hitam sambil meminta gue senderan. Ada cahaya menyinari wajah gue. Kameranya berbentuk boks besar, kira-kira seukuran VCR lama, dipasang di atas tripod.

Iklan

Foto oleh Theodora Abigail

Gue ngelihatin kamera selama beberapa detik. Terus udah aja gitu. Beda banget dari foto di studio biasa. Tak berapa lama printer di dekat situ mulai mencetak hasilnya. Ternyata setelah jadi, baru Pak King bekerja. Dia memulai analisisnya. Gue ikutan ngelihat hasil jepretan tadi. Dari gambar tadi, gue kayak dikelilingi awan berwarna oranye. Awannya lumayan besar sampai-sampai hampir menutupi wajah, tapi guenya masih kelihatan, seperti mengambang di antara awan oranye. Gue kelihatan kayak malaikat.

Gini nih penampakan aura gue.

Habis itu teman gue menjalani proses yang sama. Jepretannya langsung dikasih ke Pak King. Kami berdua duduk bareng di hadapan Pak King mendengarkan analisisnya. Pak King mulai dari gue lebih dulu. Dia bilang, dari gambar yang oranye abis tadi, tandanya gue punya energi kreatif tinggi. Gue dibilangnya senang bersosialisasi, percaya diri, berani, dan punya tekad untuk mendapatkan apa saja yang gue mau. King menambahkan kalau gue sering pengin dipandang dan didengar sama orang lain. Sayang, di sisi lain, menurutnya gue punya kecenderungan egois dan sering berubah pikiran. Eh, King bilang kalau seks bukan prioritas-prioritas amat dalam hidup gue. Gue sering mendekati orang-orang sesuka hati, lalu dengan cepat melupakan mereka. Mendengar penjelasan panjang lebar dari King, gue ngerasa… telanjang. Gue enggak mengira pembacaan dia bisa pas banget (menurut gue sih gitu ya). Gue yakin dia sengaja enggak menyebutkan beberapa sifat buruk, tapi yang dia bilang sih udah akurat banget. Setelah sifat-sifat gue selesai dibaca lewat foto aura, gue nyempetin ngobrol-ngobrol dulu sama si King. Gue penasaran gimana dia bisa punya bisnis kayak gini. King menjelaskan dulunya cuma pengusaha kecil-kecilan di Jakarta. Tokonya dibakar sepanjang kerusuhan Mei 1998 akibat sentimen anti-Tionghoa. King kehilangan seluruh harta benda dalam kerusuhan itu. Dia mengaku patah hati dan tidak yakin bisa pulih dari trauma.

Iklan

“Setelah pengalaman traumatis itu, saya enggak bisa memulai bisnis baru,” ujar King. “Tiga puluh tahun susah payah berjuang, habis dalam sekejap.”

Dalam titik terendah hidup, King mendadak dapat telepon dari kawan di Amerika Serikat. Kawannya itu menceritakan soal foto aura, fungsinya menebak peruntungan, dan siapa tahu bisa memberinya ilham membangun lagi bisnis yang amblas akibat kerusuhan Mei.

King tertarik mendengar penjelasan kenalannya. Dia menuruti saran sang kawan, terbang ke AS ikut pelatihan foto aura. Awalnya, dia ragu. Tapi kawannya itu terus menelepon. Pada akhirnya, King memutuskan mencobanya. “Beberapa hari dia telepon saya terus. Lalu dia bilang tujuan aura itu untuk melihat karakter orang agar bisa menentukan kesuksesan. Sukses melalui karakter. Nanti ditraining untuk melihat siapa anda, kenapa anda, dan harus bagaimana anda. Saat dia bilang itu, saya tertarik. Pikir punya pikir, bolehlah saya berangkat.”

Arsip foto dari King Gunawan.

King pergi ke AS bareng istrinya, yang lebih fasih berbahasa Inggris. King mendaftar kursus yang berlangsung selama 6 bulan. Selama minggu pertama pelatihan, semuanya tampak sulit. Metode Guy Coggins berurusan sama banyak istilah pseudosains yang asing di telinganya. Ada penjelasan soal gelombang elektromagnetik dan nanometer segala. Materi kayak gitu yang berbeda jauh dari pekerjaan King selama era Orde Baru, yakni ngobrol sama klien lewat telepon. Coggins tampaknya tahu masalah anak didiknya. Dia memberi King liontin kristal. King masih menyimpan liontin itu dan sempat menunjukkannya ke gue. "Seminggu itu, saya masih belum bisa masukkan ke otak. Akhirnya [Guy Coggins] kasih pinjem saya kristal. Saya pakai, dalam seminggu kok rasanya pikiran tenang, rasa cemas hilang dan bisa fokus. Akhirnya saya mengerti pelajarannya."

Sekembalinya ke Indonesia, King membuka jasa foto aura. Teman-temannya membantu King promosi di radio. Banyak orang mengira dia sekarang jadi “orang pinter” atawa dukun. Tapi King berkekeuh itu semua sains. Dia bahkan pernah melakukan riset foto aura sama anggota fakultas Universitas Indonesia. Pada 2003, dia menerbitkan buku membahas foto aura dan manfaat kristal.

Kisah hidup King bikin gue tersentuh. Di satu sisi, King menggunakan foto aura dan kristal untuk memahami hidupnya yang pada 1998 porak-poranda. Rasanya mirip kayak gue pas menemukan ketentraman mempelajari astrologi. Jujur, waktu belajar soal rasi bintang, hidup gue juga emang lagi berat-beratnya. Hidup pada dasarnya sulit, penuh guncangan, dan seringkali membingungkan. Siapa sih, yang enggak kepincut sama 'pengetahuan' yang bisa membantu kita memahami hidup serba enggak masuk akal ini? Intinya, gue makin tertarik sama foto aura. Apalagi hasil pembacaan King dari hasil foto bikin gue mikir keras. “Kamu bakal jadi orang sukses!” katanya sambil senyum. Gue sama temen terus pamitan habis itu. Gue paham, kedengarannya konyol sih kalau warna-warna dalam sebuah foto bisa menjabarkan kepribadian. Nyatanya, gue meninggalkan toko Foto Aura King Gunawan dengan perasaan lega—seperti gue telah mempelajari hal penting soal diri sendiri. Seenggaknya, dari pengalaman ini gue dapat kenang-kenangan foto keren buat dipajang di tembok kamar.