Bitcoin

Investor Bitcoin Tak Khawatir Melihat Nilai Mata Uang Digital itu Terjun Bebas

Lebih tepatnya, yang tidak takut adalah investor kawakan. Sementara yang baru beli Bitcoin akhir tahun 2017 panas-dingin. Nilai tukar jatuh adalah realitas mata uang crypto.

Siapapun yang baru memutuskan membeli Bitcoin sebulan terakhir sedang panas dingin di tengah hiruk pikuk Natal serta tahun baru. Data terkini menunjukkan mata uang digital tersebut nilai tukarnya terjun bebas sejak 21-22 Desember lalu. Saat ini, satu Bitcoin setara US$12 ribu. Padahal pada puncak rekornya, 17 Desember, satu Bitcoin masih setara US$19.992. Rupanya sebagian investor kawakan masih tenang. Reaksi mereka cukup mengherankan. Di bidang investasi lainnya, kejatuhan nilai tukar sebesar itu akan dianggap sebagai persoalan besar.

Iklan

Bitcoin sempat menikmati masa-masa bullish selama sebulan sebelum nilai tukarnya jatuh. Valuasi Bitcoin dibanding mata uang crypto lainnya unggul hingga kelipatan miliaran Dollar AS. Bagi investor kawakan, terutama mereka yang sudah makan asam garam jual beli Bitcoin, ethereum, dan mata uang digital lainnya, hal seperti ini sudah biasa. Di berbagai forum Internet, misalnya, muncul guyonan soal anak baru di bidang Bitcoin bakal muntah-muntah, serta lelucon lain tentang diskon 25 persen Bitcoin demi merayakan Natal.

Kenapa para investor kawakan ini bisa santai?

Sebab jatuhnya nilai Bitcoin itu sudah berulang kali terjadi. Bahkan, pernah rekor anjloknya jauh lebih besar dibanding 25 persen. Artinya, investor kawakan memandang naik turun drastis tak lagi sebagai sesuatu yang abnormal. Mereka percaya, Bitcoin bakal rebound dalam waktu dekat. Atau, kalau pemulihan tak terlalu lama, alihkan saja investasi ke mata uang crypto lainnya.

"Sebelumnya nilai tukar Bitcoin sudah pernah jatuh ke level 30 persen lebih, dan itu beberapa kali terjadi sepanjang 2017," kata Chris Burniske, penulis buku Cryptoassets yang menjelaskan seluk beluk investasi mata uang digital bagi pemula.

"Bagaimanapun harus diakui, apapun komoditas atau instrumen investasi yang sempat jatuh lebih dari 20 persen dianggap bearish dan wajib dihindari. Tapi inilah bedanya pasar mata uang crypto, investor dibikin terbiasa dengan naik turun semacam itu," imbuh Burniske.

Iklan

Data dari investor kawakan lain juga menjelaskan hal senada.

Salah satu contoh dari investor kalau kejatuhan nilai tukar ini "hal biasa", adalah peristiwa pada kurun 20 hingga 23 Juni. Selama periode tersebut, harga Bitcoin jatuh 23 persen, dari US$761 menjadi tinggal US$586. Kejatuhan selalu terjadi saat terlalu banyak investor pemula ikutan menggelontorkan uang memborong Bitcoin.

Penjelasan itu, misalnya, diberikan oleh Alex Sunnarborg, investor mata uang crypto. Para investor pemula (dia juluki 'ritel') terbujuk hype Bitcoin, lalu ikutan membeli di pasar sekunder. Akibatnya, ketika return yang diharapkan para pemula tadi tak besar, sebagian langsung menjual.

"Semua indikasi menunjukkan jatuhnya nilai Bitcoin selalu terjadi ketika aliran dana ritel yang kemudian rentan keluar lagi dari pasar karena terpengaruh oleh pergerakan harga," kata Sunnarborg. "Adapun Bitcoin juga terhitung berhasil terus mengerek nilainya karena disokong oleh investor-investor kawakan yang memandang mata uang digital sebagai investasi jangka panjang, dan terbiasa terhadap guncangan harga."

Tetap saja, nilai turun artinya ada uang betulan yang hangus. Sebiasa-biasanya dengan penurunan drastis, para investor kawakan juga ada yang syok melihat perkembangan pasar dua hari lalu. Di forum seperti r/bitcoin salah satu anggota senior membagikan video lelaki merosot lewat eskalator, sambil diberi caption “Bitcoin today.”

Postingan tersebut memperoleh banyak upvote dari anggota forum Reddit lainnya. Hal itu menandakan, walau sudah biasa, tetap pusing juga bisa nilai investasi besar yang tadinya kita peroleh (setidaknya di layar komputer) mendadak terhapus begitu saja.