Perjalanan Tiga Tahun Merekam Keseharian Komunitas Keturunan Jepang-Brasil
Semua foto oleh Keisuke Nagoshi.

Perjalanan Tiga Tahun Merekam Keseharian Komunitas Keturunan Jepang-Brasil

Brasil pada awal Abad 20 menjadi wilayah dengan populasi imigran berdarah Jepang terbanyak sedunia. Bagi orang Jepang yang lahir dan besar di Brasil, kembali ke tanah leluhur ternyata memicu masalah sosial pelik.
15.12.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Japan.

Jepang memiliki hubungan yang rumit dengan diaspora bangsa mereka, khususnya asal Brasil. Awal tahun 1900 Jepang masih berstatus negara miskin. Pemerintah berusaha mengatasi peningkatan populasi dan lapangan pekerjaan yang terbatas. Pekerja-pekerja Jepang lantas mencari peruntungan di luar negeri. Saat itu, pilihan mereka cukup terbatas. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris menerapkan kebijakan imigrasi rasis yang membatasi kedatangan imigran Asia atau imigran non-kulit putih.

Sementara itu, ekonomi Brasil sedang membaik dan mencari tenaga kerja asing. Negeri Samba di awal Abad 20 mencoba berbagai macam cara, namun gagal mendorong imigran Eropa tertarik bekerja di ladang kopi melalui program imigrasi bersponsor yang rasis dan rawan disalahgunakan.

Makanya ketika imigran asal Jepang tiba di Brasil, perantau dari Tokyo, Osaka, atau Yokohama menemukan banyak lowongan pekerjaan walau gajinya minim. Mari kita percepat cerita menuju sekian dekade berikutnya. Kondisi ekonomi Brasil dan Jepang sudah terbalik.

Jepang berjaya pada dekade 1980'an. Kala itu Jepang sukses mengubah diri menjadi negara adidaya ekonomi, dengan pendapatan bruto nasional jauh melampaui Brasil. Sebenarnya Jepang membutuhkan tenaga kerja baru, tapi pemerintah mereka masih enggan membuka kesempatan untuk miliaran orang asing datang mengadu nasib ke Negeri Matahari Terbit. Dalam kondisi separuh anti pada ekspatriat dan buruh migran, para petinggi pemerintahan di Tokyo melirik Brasil, negara yang sejak Perang Dunia II menjadi tanah air bagi populasi etnis Jepang terbesar di luar negara mereka sendiri.

Tokyo kemudian menawarkan visa kerja berdasar kontrak kepada warga negara Brasil keturunan Jepang. Satu dekade kemudian, program imigrasi tersebut diperluas untuk semua orang berdarah Jepang yang tinggal di Brasil. Diaspora ini bahkan diberi visa khusus residen permanen dan dipermudah mencari kerja. Syaratnya garis keluarga tidak terpisah lebih dari tiga generasi dari leluhur asli mereka di Jepang.

Memasuki Abad 21, perekonomian Jepang mendadak stagnan. Dampaknya kebanyakan pekerja kontrak diaspora tersebut kehilangan pekerjaan. Masalah memburuk, setelah Jepang memutuskan berhenti menerima “orang asing” sebagai residen permanen, apapun asal keturunannya. Pada 2009, pemerintah Jepang menawari laki-laki dan perempuan diaspora yang menganggur uang saku setara US$3.000—ditambah US$2.000 untuk masing-masing anak mereka—jika bersedia kembali ke Brasil. Banyak yang memilih tetap tinggal di Jepang. Sejak itu hubungan komunitas diaspora asal Brasil dengan penduduk asli Jepang menjadi tegang. Orang Brasil berdarah Jepang itu merasa terkhianati. Dipanggil pulang ke tanah leluhur, hanya untuk dipaksa enyah karena dianggap orang asing, itupun setelah kondisi ekonomi memburuk.

Inti masalah yang menimpa diaspora Brasil ini dipicu pandangan budaya Jepang terhadap definisi “orang asing." Orang-orang keturunan Jepang masih dianggap sebagai orang asing oleh banyak penduduk Jepang, hanya karena mereka dilahirkan di luar negeri. Tak lama kemudian ketegangan semakin meningkat, dengan skalanya paling serius terjadi antara penduduk Jepang dan warga Brasil-Jepang di Kota Toyota, Prefektur Aichi.

Ada beberapa daerah di mana ketegangan ini dapat dirasakan sangat kuat sampai sekarang. Salah satunya komplek apartemen Homi Danchi, di jantung Kota Toyota. Sekitar 40 persen Danchi (komplek apartemen besar) tersebut ditempati oleh imigran diaspora keturunan BraSil-Jepang—jumlah populasi 'orang asing' paling besar dalam satu kawasan mengingat betapa homogennya ragam etnis di Jepang. Orang Jepang-Brasil dan warga sekitar cenderung tidak membaur.

Dalam situasi sosial unik seperti itu, Fotografer Keisuke Nagoshi mendokumentasikan keseharian komunitas warga diaspora Brasil-Jepang di Homi Danchi. Selama tiga tahun hidup bersama komunitas tersebut, Keisuke memotret lebih dari 40.000 foto, yang beberapa di antaranya masuk ke buku kumpulan potret berjudul Familia Homi Complex. Kantor VICE Tokyo memutuskan menghubungi Keisuke, membahas motivasinya mendokumentasikan kehidupan muda-mudi keturunan Brasil-Jepang di Kota Toyota.

VICE: Apa saja subyek atau isu dari Homi Danchi paling menarik perhatianmu?
Keisuke Nagoshi: Saya sebelum ke sana sering melakukan sesi pemotretan di luar negeri. Untuk proyek terbaru, saya memutuskan 'kali ini saya ingin memotret subyek yang berhubungan dengan Jepang ah'. Kebetulan ketika memiliki waktu luang di akhir tahun, saya mendengar kabar pembalap-pembalap motor keturunan Brasil di Kota Nagoya. Mereka rajin ikut balapan di daerah pelabuhan. Saat itu saya pikir, 'wah seru kayaknya menghabiskan akhir tahun memotret mereka balapan sembari dibonceng motor.'

Lantas, kenapa kahirnya memilih memotret kehidupan komunitas Brasil-Jepang?
Kalau tidak salah semuanya bermula musim panas tahun 2000. Saya sedang naik mobil keliling Hamamatsu. Karena cuacanya sedang panas, saya mencari-cari tempat agar bisa tidur di luar mobil. Melewati daerah gurun agak kering di pinggiran kota terlihat ada banyak orang yang sedang menikmati karnaval. Suasananya seperti sebuah pesta di pantai beneran. Ada sekitar 3.000-an orang keturunan Brasil semuanya berpakaian renang, tumplek blek di lokasi tersebut. Saya tidak melihat satupun orang Jepang 'asli' yang datang. Karenanya, tempat itu sama sekali tidak terasa seperti Jepang. Selain itu, saya sudah pernah berkesempatan memotret di Rio de Janeiro dan Salvador pada musim karnaval. Pengalaman di Brasil tersebut sangat mengesankan.

Sebelumnya kamu juga pernah menghasilkan seri foto imigran Filipina. Sebagai fotografer, apa yang mendorongmu rutin memotret lika-liku hidup 'orang asing'?
Orang asing memiliki kebiasan hidup serta budaya yang cenderung sangat bertentangan dengan definisi budaya Jepang. ‘Serampangan’ tuh kata yang kasar bukan? Masalahnya saya enggak tahu lagi gimana cara mendeskripsikannya. Haha.

Boleh cerita sedikit gimana momen kedatanganmu ke Homi Danchi pertama kali?
Waktu itu tengah malam. Banyak remaja dari warna kulit berbeda-beda berlarian. Ada lima dari bocah-bocah tadi, yang sempit-sempitan masuk bilik telepon umum. Mereka sedang nongkrong dan asik sendiri. Saya memotret beberapa foto yang kebetulan saya suka, dan itulah awal mula rutinitas saya pergi ke Homi Danchi.

Konon warga sempat mengira kamu polisi?
Sekarang udah enggak sih. Haha. Ada suatu masa di mana mereka semua yakin saya merupakan polisi menyamar. Tapi dari perspektif saya sebagai orang "asli Jepang", mana ada sih polisi menyamar seniat saya? Tapi waktu itu saya mengambil banyak sekali foto sehingga wajar kalau mereka curiga.

Walaupun begitu, foto-fotomu selalu terkesan intim. Bagaimana caramu mengurangi jarak antara diri sendiri dan para subyek—terlebih lagi kalau mereka merasa curiga dari awal?
Ya, awalnya saya merasa respon yang saya dapat dari foto-foto yang mendokumentasikan keseharian remaja Homi Danchi cukup positif. Niat saya hanya ingin terus memotret pakai tema yang sama.

Maksudnya, memotret lebih banyak lagi keseharian orang yang dianggap asing?
Benar. Ketika saya memutuskan memotret keseharian mereka, saya khawatir bila pulang-pergi dari Tokyo ke sana, tidak banyak hal bisa saya saksikan. Kami mustahil mampu mengerti satu sama lain secara total. Jadi lebih baik saya menyewa kamar di Homi Danchi agar bisa dapat tinggal di tempat yang sama dengan subyek proyek foto ini. Bukan berarti saya bisa sembarangan memotret momen-momen yang tidak bernilai lho. Kalau diingat-ingat lagi sekarang, waktu tiga tahun tinggal di sana, seya lebih sering mengalami hari-hari di mana tidak terjadi peristiwa penting apapun.

Jadi kalian menjalin hubungan dengan menghabiskan hari-hari ‘kosong’ itu bersama?
Kalaupun saya bilang bahwa kami akrab, saya tetap dua kali lebih tua dari anak-anak Brasil-Jepang itu. Penduduk Homi Danchi yang berketurunan Jepang sudah biasa kalau tiba-tiba harus pindah dari Brasil atau sebaliknya. Jika kondisi masih seperti dulu, pasti pelajar asing akan kesulitan menembus bangku SD atau SMP lokal. Selain itu, komunitas diaspora Brasil-Jepang ini juga tertutup. Sulit sekali sekolah atau perusahaan di Jepangmenerima pria Jepang tak dikenal yang tiba-tiba muncul dari Tokyo. Saat saya mengikuti mereka ke sekolah sembari mengambil foto, polisi dan para orang tua yang ada di sana menyadari keberadaan saya. Banyak hal seperti itu terjadi. Pelajaran penting dari aktivitas ini adalah lahan kosong di bawah gedung nomor 142. Selalu ada orang nongkrong di sana.

Kebanyakan foto di seri ini kayaknya diambil di gedung nomor 142 ya?
Mungkin itu saya kebanyakan waktu luang. Tahu sendiri, menghabiskan duit sebanyak itu waktu sendirian bisa membuat siapapun kesepian. Ketika saya membutuhkan teman bicara, saya biasanya pergi ke lahan kosong di bawah gedung nomor 142. Selalu ada seseorang di sana. Sebetulnya ini bukan tentang mengambil foto sih, tapi lebih ke aspek mental kehidupan saya di Homi Danchi. Sepertinya mereka juga memiliki banyak waktu luang, jadi kita memang tidak merencanakan apa-apa, cuma nongkrong bareng aja.

Di Tokyo, emangnya orang cenderung sampai lupa artinya ‘waktu luang’?
Enggak juga. Di Danchi relatif banyak sekali waktu luang. Biasanya saya tidak banyak mengambil foto-foto pemandangan, tapi ketika saya melihat kembali foto-foto yang saya ambil di Homi Danchi, ternyata lumayan banyak foto-foto pemandangan. Memang kayaknya saya kebanyakan waktu luang. Haha. Di Tokyo, saya seringkali baru tidur larut malam, kadang-kadang baru tidur dini hari. Sebaliknya di Danchi, saya biasanya tidur sebelum tengah malam.

Bagaimana kamu bisa memotret foto-foto bersalin? Pasti saat itu kamu sudah dekat dengan keluarga mereka ya.
Persalinannya lumayan menarik. Ayahnya tidak diperbolehkan masuk ke ruang bersalin. Ternyata hanya satu orang yang diperbolehkan masuk, dan harus bergantian. Saat itu mertuanya sedang di dalam, jadi ayahnya tidak boleh masuk. Dia sangat marah dan pada saat itu mulai menonjoki tembok rumah sakit. Akhirnya ia pulang setelah meneriaki ‘pecun!’ kepada mertuanya.

Ada salah satu foto di bukumu ini menunjukkan semua orang di ruangan saling mencium satu sama lain. Terus satu lagi menampilkan anggota geng motor sedang ngobrol-ngobrol di bawah pohon ceri. Apa cerita di balik jepretan itu?
Semua orang selalu menanyakan apakah saya mengarahkan gaya mereka di dua foto tersebut. Tapi saya cuma mengambil foto-foto itu ketika mereka sedang beraktivitas. Foto ciuman memiliki cerita yang cukup menarik dibaliknya. Saya diundang ke sebuah pesta dan ketika salah satu dari pasangan di sana berciuman, semuanya ikut-ikutan.

Tentang foto geng motor… Orang-orang Brasil yang tinggal di Danchi membenci geng motor Jepang. Kalau geng motor itu naik motor di dalam Danchi, pasti mereka habis dipukuli. Haha. Makanya mereka cuma berani nongkrong di luar Danchi, dan saya mengambil foto tersebut saat mereka memanjat pohon ceri yang ada di sana.

Bukumu ini banyak banget sih foto orang lagi ciuman.
Dibanding orang Jepang, orang Brasil cenderung sangat terbuka perkara menunjukkan perasaan. Mungkin saya melebih-lebihkan sedikit, tapi orang Brasil terkesan senang sekali flirting. Saya sih enggak bisa kayak mereka, jadi saya agak iri.

Ambil contoh ayahnya Ricky. Dia asal Peru dan ketika dia pertama kali ke Danchi, dia bilang merasa seperti di surga. Dia memang jago menari dan dia sering bercerita betapa banyak uang yang dia dapat cuma dari menari di jalanan Tokyo. Sepertinya dulu dia besar di daerah yang miskin.

Gimana ceritanya kamu bisa ketemu subyek foto seperti ayahnya Ricky?
Di bawah gedung nomor 107 komplek apartemen itu, ada suatu ruangan yang digunakan sebagai balai pertemuan warga. Anak Ricky merayakan ulang tahunnya di sana. Ketika ayah Ricky mulai menari di lantai dansa, semua cewek heboh. Dia jago banget nari. Setelah itu, dia cerita tentang pengalamannya melawan teroris di Ibu Kota Lima (Peru-red) sebagai tentara. Dia menunjukkan luka-luka bekas peluru dari masa itu. Saya tidak tahu ada orang dengan pengalaman sekaya itu yang tinggal di Danchi.

Saya sendiri, karena tinggal di Jepang lebih dari 20 tahun dan tumbuh di lingkungan yang serba dilarang, senang sekali melihat orang yang "sok kejepang-Jepangan” tapi tetap jujur kepada diri sendiri. Ayahnya Ricky itu bisa menari semalaman, sambil mendekati orang asing seperti saya dengan santai. Makanya, bagi saya dia orang yang baik banget.

Faktor pa yang membuatmu mengakhiri proyek ini setelah tiga tahun? Kan kamu mendokumentasikan keseharian manusia, bisa saja dong proyek ini lanjut terus?
Saya memutuskan menyelesaikan seri foto diaspora Brasil di Jepang, karena anak-anak yang dekat sama saya sudah tidak nongkrong di sana lagi. Kalau ngomongin transportasi, Homi Danchi kurang strategis. Apalagi kalau kamu remaja 16 atau 17 tahun, wah susah deh pergi-pergi karena kamu dilarang nyetir. Sekarang semua kenalan saya sudah dewasa dan punya SIM masing-masing, jadinya nyaris enggak ada yang masih mau nongkrong di sekitar Danchi. Akhir-akhir ini malah seringnya enggak ada orang sama sekali di lahan kosong di bawah gedung nomor 142. Sudah beda banget dibanding saat saya melihat sendiri era keemasan Danchi.

Kamu sendiri merasa berubah kepribadiankah setelah tiga tahun tinggal di Homi Danchi dan membaur bersama warga diaspora?
Saya rasa tidak. Tapi hubungan saya dengan anak-anak Danchi memang berubah. Awalnya bagi mereka saya hanya pria paruh baya yang terlihat mencurigakan. Tapi saya diliput televisi dan mereka mulai mengenal saya sebagai ‘pria yang ada di TV’. Ada beberapa dari mereka yang tetap berinteraksi santai sama saya, tapi ada juga yang jadi malu-malu. Jauh lebih mudah memotret orang ketika mereka menganggap saya sebagai orang biasa cuma agak aneh sedikit karena menenteng kamera.

Sepertinya beberapa dari anak-anak diaspora itu masih menganggap saya sebagai teman. Tiap saya mendengar ada kenalan menanyakan kabar dan alasan saya menghilang dari kompleks, saya yakin kalau hubungan kami berubah dalam artian positif.

Saya percaya manusia adalah makhluk yang menarik. Dengan mendokumentasikan emosi manusia dan lika-liku kehidupan mereka lewat kamera, saya akan bisa menunjukkan bukti orang-orang yang menarik masih ada di dunia ini. Makanya, saya ingin menunjukkan perasaan bersyukur karena sudah bisa diterima oleh orang-orang yang tinggal di Homi Danchi. Ini rasa terima kasih saya kepada para subyek foto sekaligus teman saya.

Disclaimer: Familia Homi Complex adalah buku seri foto yang diterbukan kantor VICE Japan. Jika tertarik membelinya, klik tautan ini.