Film Horor

Kita Memasuki Era Keemasan Baru Film Horor

Film-film horor belakangan tidak lagi menggunakan adegan-adegan klise. Yang baru-baru malah berani menyentuh tema politik tanpa kehilangan efek seramnya.
Cuplikan Thelma

Sukses besar film Get Out menunjukan bahwa genre film horor belum kehabisan ide. Sering dikritik karena menggunakan elemen yang itu-itu saja, ketika dieksekusi dengan baik, film horor bisa bersifat politis dan tetap menyeramkan. Beberapa film horor yang ditayangkan di London Film Festival memberikan kita jaminan bahwa banyak sutradara film horor yang siap menampilkan ide-ide baru dan segar.

"Saya rasa film horor ketika dieksekusi dengan baik bisa jadi jenis film terbaik yang paling mampu mencerminkan masyarakat," ujar David Freyne, penulis sutradara dari The Cured, film zombie kanibalistik berlatar belakang Dublin yang menampilkan kritik sosial cerdas. Premis ceritanya sederhana tapi sangat cerdik: daripada menampilkan perjangkitan serangan virus yang membuat orang berubah menjadi zombie, film ini menampilkan drama yang muncul setelah obat penangkal diciptakan.

Iklan

Film ini menampilkan usaha para penyintas virus atawa para mantan zombie untuk kembali masuk ke peradaban manusia. Bagaimana mereka menangkal pelbagai stigma buruk juga mengatasi hidup yang penuh trauma.

Jika betul target Freyne adalah menggambarkan suasana pasca obat penangkal ditemukan, dia bisa dibilang sukses. The Cured menggambarkan dunia penuh rasa takut dan kecemasan. Mereka yang lemah ditindas secara brutal oleh penguasa. Pergolakan sosial yang terjadi akhirnya melahirkan pemimpin populis garis keras.

"Saya mulai menulis filmnya enam tahun yang lalu," jelas Freyne, "pas ketika resesi ekonomi mulai menimpa Irlandia dan banyak penduduk yang marah. Kami menulis seorang karakter berdasarkan politisi populis macam Farage dan Le Pen, yang memanfaatkan kemarahan dan memanipulasi rasa takut penduduk. Sekarang, dengan kehadiran Trump, kemiripannya sangat terasa."

Apabila anda awas, berbagai referensi tentang Konflik Irlandia Utara, holokaus, dan krisis pengungsi ada di dalam film. Apabila banyak film zombie di masa lalu sering memasukan komentar politik lewat kiasan dan sindiran, The Cured justru lebih terang-terangan. "Situasi politik sekarang sangat mengerikan, jadi untuk membuat film yang menyeramkan, anda tinggal memasukkan elemen ini," jelas Freyne. "Apabila kamu ingin membuat film politis yang juga seram, tidak perlu lagi menutup-nutupinya."

Lima dekade semenjak George Romero menciptakan seri horor klasik Living Dead, The Cured meneruskan prinsip kuno film horor yang masih terus relevan: kalau kamu ingin melihat kritik sosial yang tajam, tontonlah film horor. Freyne menambahkan: "Kenapa ya kanibalisme yang kejam justru merefleksikan sifat dasar manusia?" Pertanyaan yang sama diajukan oleh Good Manners, sebuah film aneh tentang eksplorasi ras, kelas, dan manusia serigala haus darah di pusat kota Sao Paolo. Film ini menceritakan Clara, seorang perawat bokek yang dipekerjakan oleh Ana sebagai suster untuk anaknya yang akan lahir. Keduanya menjadi akrab. Tapi setiap bulan purnama muncul, Ana mulai berjalan dalam tidurnya dan menjadi mimpi buruk bagi kucing-kucing di komplek perumahan. Lagian bapak anaknya siapa sih?

Iklan

Good Manners

"Manusia serigala menjadi metafor untuk pergulatan antara insting dan rasionalitas manusia," jelas salah satu sutradara film, Marco Dutra. "Manusia memiliki impuls seksual dan kekerasan, tapi juga impuls untuk mencintai. Di film ini, ketegangan antara kedua sisi tersebut ditampilkan secara kontras di antara karakter akibat perbedaan kelas sosial dan ras."

Namun di luar semua itu, Good Manners juga mengingatkan kita bagaimana film horor yang baik bisa bercampur dengan komedi liar. Film ini menampilkan drama sosial-realis, romansa lesbian dan horor tubuh dan salah satu adegan kelahiran paling mengerikan sepanjang sejarah. "Konsep melahirkan anak itu menyeramkan," jelas Juliana Rojas, yang juga ikut menyutradarai. "Melahirkan anak melibatkan transformasi tubuh, ini indah tapi juga menyeramkan dan emosional. Selalu ada kekhawatiran bahwa bayinya akan keluar cacat atau mengidap penyakit."

Good Manners berusaha menampilkan rasa takut dalam wujud fisik. Biarpun mungkin filmnya sedikit kelewat ambisius, bukan berarti Good Manners tidak spesial. Silakan tonton sendiri. Film sekeren dan seaneh ini tidak akan sering-sering muncul.

Apabila kedua film di atas ujung-ujungnya tetap mengandalkan adegan kejar-dan-bacok tipikal film horor pada umumnya, Hagazussa: A Heathen's Curse justru mengambil pendekatan yang berbeda. Film horor rakyat ini menampilkan trauma yang diderita seorang ibu baru yang kabur ke bukit di Austria. Mengikuti tren film horor akhir-akhir ini—disebut sebagai "post-horror" oleh seorang penulis—Hagazussa tidak menggunakan taktik horor kagetan dan menampilkan suasana yang mencekam. Tokoh protagonis, tanpa alasan yang jelas, ditampilkan jatuh cinta dengan sebuah tanaman jamur liar dan mengencingi mayat tikus. Buset, post-horror aneh juga ya?

Iklan

Thelma

Sama seperti Hagazussa, Thelma, karya Joachim Trier, adalah mimpi buruk dari represi seksual manusia dengan latar belakang visual yang indah. Thelma bercerita tentang anak kuliah tahun pertama yang meninggalkan rumah orang tuanya yang relijius, dan masuk ke dunia miras, kehidupan malam yang bebas lepas, lalu bertemu dengan Anja, seorang teman kampus perempuan yang misterius. Memerankan karakter utama, Elli Harboe menampilkan pencarian jati diri yang penuh penderitaan dan kekosongan, semua ditampilkan dengan penuh cita rasa. Bayangkan Thelma seperti Blue Is the Warmest Colour bercampur dengan Carrie.

Trauma masa muda, sulitnya menjadi orang tua, fanatisme religius takut Tuhan, dan kesadaran seksual adalah beberapa tema yang muncul di film-film di atas. Namun benang merah yang menghubungkan keempat film tersebut adalah gender. Tiga film menceritakan karakter protagonis perempuan, sementara The Cured, diramaikan oleh produser eksekutif dan aktris Ellen Page.

Jangan salah, ini bukan sekadar usaha untuk memenuhi kuota standar jumlah 'karakter perempuan kuat' dalam film, yang merupakan terobosan positif mengingat peran gender di dalam layar kaca masih sangat tidak setara dalam banyak hal.

Memang perempuan di belakang kamera masih sangat terbatas, diwakili oleh Rojas dari film Good Manners—tapi dia meyakini bahwa keadaan akan berubah. "Dalam beberapa tahun terakhir, perempuan mulai direpresentasikan dalam film horor dengan cara yang berbeda," jelasnya. "Di 60-an dan 70-an, banyak film populer yang menseksiskan karakter perempuan: tren mencampur horor dengan erotisme. Bahkan di film-film yang saya sukai, perempuan biasanya ditampilkan sebagai objek seksual—dan karakter perawan biasanya yang bertahan hidup. Sekarang semakin banyak perempuan yang menggeluti film horor, menggunakan elemen fantasi untuk membahas perjuangan perempuan."