Makin Banyak Orang Mati dan Cedera Hanya Demi Foto Instagram Sempurna
Sumber gambar via shutterstock. Desain grafis oleh Noel Ransom
media sosial

Makin Banyak Orang Mati dan Cedera Hanya Demi Foto Instagram Sempurna

Polisi di berbagai negara menyatakan angka kecelakaan dan kematian saat seseorang melakukan swafoto meningkat. Kami bergegas minta saran fotografer cara selfie yang aman.
25.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.

Setelah menghabiskan waktu dua jam mengambil banyak foto di Chedoke Trail di Hamilton, Ontario, fotografer berumur 22 tahun, Brandon Trahan dan teman-temannya hendak bergegas pulang. Lokasi jalan setapak tersebut, terletak di pusat kota, merupakan rumah bagi perbukitan, air terjun dan pemandangan indah.

Dihalangi oleh sebuah genangan berlumpur yang menutup jalur utama, Trahan dan teman-temannya memutuskan mencari jalan pintas tidak resmi untuk bisa keluar. Trahan berusaha turun dari bukit perlahan-lahan, menggunakan batu sebagai pijakan. Tiba-tiba dia mendengar sebuah teriakan. Ketika menoleh ke belakang, seorang temannya tergelincir jatuh.

Iklan

Ketika sedang tergelincir jatuh dari bukit, dagu sang teman menghantam sebuah batu, mematahkan tiga tulang rahang dan pergelangan tangan.

Trahan memang kerap menyambangi sebuah lokasi air terjun ramah-Instagram di Ontario untuk mengambil foto, dan kejadian yang menimpa temannya merupakan salah satu cedera terparah yang pernah dia saksikan.

"Saya memang tadinya lagi moto-moto, tapi pas lagi turun, kita enggak moto-moto kok," kata Trahan. "Tapi memang perjalanan menuju lokasi-lokasi indah ini banyak resikonya kadang-kadang."

Dalam beberapa tahun terakhir, Hamilton, kadang dikenal sebagai ibukota air terjun dunia, kerap didatangi banyak forografer, baik amatir maupun profesional. Silakan cari air terjun Hamilton di Instagram, anda akan menemukan ribuan kaki teruntai di ujung tebing dan selfies dari puncak bukit.

Biarpun foto-foto berbahaya ini memang mendapatkan banyak perhatian di media sosial, naiknya angka kecelakaan dan cedera yang menimpa fotografer mulai menimbulkan kekhawatiran.

Tahun lalu, departemen pemadam kebakaran Hamilton harus mengerahkan 25 operasi penyelamatan menggunakan tali di beberapa air terjun, meningkat sebanyak 65 persen dibanding tahun 2015.

Sepanjang 2016, ada beberapa operasi penyelamatan yang dilakukan gara-gara pengunjung terjatuh ketika selfie. Beberapa hanya terluka, namun seorang fotografer muda sempat meninggal bulan lalu.

Masalah ini jelas bukan sekedar masalah warga Kanada. Banyak negara juga mengalami tren sejenis.


Dua kakak-beradik harus diselamatkan dari Scarborough Bluffs di Ontario akibat berusaha mengambil selfie berbahaya. Sementara itu, dua pria dewasa dengan berbagai peralatan kamera ditangkap setelah memanjat 15 hingga 21 meter jembatan Lions Gate Bridge di Vancouver.

Di seluruh dunia, angka kematian akibat selfie dan pengambilan foto telah meningkat. Penyebab utama kematian diantaranya: tenggelam, luka tembakan, tertabrak kereta, dan yang paling utama: jatuh dari ketinggian.

Iklan

Awal 2017, seorang perempuan berumur 21 tahun tenggelam di dalam air bendungan ketika dia dan teman-temannya sedang mengambil foto selfie di sebuah batu besar di Sungai Waikato di Selandia Baru.

Maret lalu, dua remaja lelaki jatuh dan meninggal setelah mengambil foto di puncak sebuah bukit di Inggris. Beberapa bulan setelahnya, seorang pria di India mati tertabrak kereta ketika dia dan beberapa teman tengah berpose selfie di rel kereta.

Berusaha kreatif di Instagram dan media sosial sebenarnya sulit, jadi tidak heran banyak orang tergoda mengambil resiko demi foto yang terlihat keren buat dipamerkan. Namun pihak kepolisian mulai khawatir dan mengambil langkah menghalangi tindakan nekat maniak Instagrammers.

Kara Bunn, pejabat Kota Hamilton menerapkan berbagai bentuk pengamanan di sekitar air terjun guna mencegah terjadinya cedera dan kematian.

"Gak senilai sih resikonya,"kata Bunn tentang mereka-mereka yang mengambil resiko untuk berfoto-foto di air terjun demi Instagram. "Saya harus menahan nafas ketika menonton orang-orang seperti ini. Biarpun anda seorang hiker berpengalaman, apabila anda salah satu langkah atau tanahnya sedang tererosi, anda bisa langsung jatuh."

Untuk menjaga para pengunjung agar tidak mengambil rute berbahaya, departemen Bunn baru-baru ini memasang pagar kawat, tanda bahaya, dan denda sebesar 10.000 dollar bagi mereka yang melanggar. Mereka bahkan berusaha menutup jejak-jejak kaki para pelanggar menggunakan ranting dan daun-daunan.

Iklan

Bunn mengatakan meningkatnya angka pengunjung disebabkan oleh media sosial.

"Tren ini menyebar dengan cepat di media sosial karena banyak orang ingin mengambil sendiri foto selfie keren di puncak air terjun," kata Bunn. "Tapi banyak orang tidak tahu betapa bahayanya berusaha menuju lokasi tersebut. Jadi banyak orang datang tanpa tahu resikonya."

Biarpun beresiko tinggi, para penggila petualangan terus mendatangi area-area berbahaya di Hamilton dan daerah lain demi foto Instagram yang ber-e s t e t i k a.

Bisa dimengerti bahwa prospek mendapatkan foto yang sempurna kerap mendorong fotografer untuk mengambil resiko. Sama seperti seniman lainnya, mencapai sebuah gol bisa sangat menguntungkan—termasuk secara finansial.

Fotografer spesialis atap gedung berbasis New York, Adrian C, si pemilik akun @opoline di Instagram merupakan satu dari banyak fotografer yang bersedia repot-repot menaiki atap gedung pencakar langit demi mendapat foto yang bisa membuat perut anda mulas.

Dengan lebih dari 54.000 follower di Instagram, Adrian berani mengambil resiko yang tidak bisa dilakukan semua orang.

Menurutnya, salah satu pencapaian tertingginya adalah berada di puncak 432 Park Avenue, gedung residensi tertinggi di dunia Barat dengan ketinggian hampir 426 meter. Untuk bisa menyelesaikan misi tersebut, Adrian harus melakukan penelitian berhari-hari, berpakaian seperti seorang pekerja konstruksi bangunan pada pukul 4 pagi, hampir tertangkap oleh satpam keamanan di atap, dan nekat memanjat mesin derek agar bisa sampai ke tepi gedung.

Iklan

"Ketika anda mulai berjalan menuju atap gedung, anda paham benar resikonya. Bahkan merencakan misi seperti itu di dalam kepala anda pun sudah beresiko," jelas Adrian. "Ketika anda mulai memikirkan misi, tidak ada yang bisa menghentikan anda. Ide tersebut akan terus bertumbuh hingga menjadi sebuah obsesi untuk mendapatkan foto. Dan entah bagaimana, anda akhirnya berhasil."

Adrian mengatakan setiap kali dia berjalan keluar dari sebuah gedung, dia langsung ingin melakukannya lagi. Obsesi dan sensasi adrenalin kerap mendorong orang untuk mengambil resiko tinggi.

Dia sadar betul bahaya dari aktivitas ini dan tahu banyak orang mati di New York akibat mencoba melakukan hal semacam ini.

"Ya begitulah memang, anda tidak akan pernah tahu. Bisa saja saya yang mati nanti. Kematian bisa menimpa siapa saja yang mencoba aktivitas berbahaya macam ini," kata Adrian. "Saya bukan orang yang tepat untuk bisa memberi nasihat soal ini, tapi kalau anda mau nekat, lakukanlah sehati-hati mungkin dan sadar risikonya."

Profesor sosiologi dari University of Western Ontario, Anabel Quan-Haase sadar betul betapa besar pengaruh media sosial dalam pembentukan keputusan manusia untuk mengambil risiko di dunia nyata.


"Media sosial merupakan semacam ekonomi berbasis perhatian dimana ada ratusan ribu foto tersedia, sehingga orang muda kerap bersedia mengambil resiko demi mendapatkan foto yang akan menarik perhatian orang lain," kata Quan-Haase. "Dari titik itu, media sosial bisa mendorong seseorang untuk mengambil resiko lebih besar dan membuyarkan batasan kapan resiko yang diambil masih sehat atau sudah kelewat jauh."

Biarpun Quan-Haase tidak menganjurkan anak muda ceroboh menentukan takdir sendiri, dia berargumen bahwa mengambil resiko merupakan bagian dari pendewasaan manusia dan memang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan…dalam takaran tertentu.

Sebagai seorang fotografer spesialis atap gedung, Adrian mengatakan dia kerap sanggup memberikan titik cerah dalam hal-hal yang luput dari mata masyarakat.

"Misalnya ada tembok besar di depan anda; beberapa orang akan hanya memikirkan apa yang ada di balik tembok. Kami adalah orang-orang yang memanjat tembok tersebut. Kami melihat apa yang terjadi di belakang tembok tersebut. Kemudian kami kembali dan menunjukkan foto-foto yang kami ambil ke orang yang tidak bisa melewati tembok tersebut," katanya. "Mungkin memang ada orang-orang yang lahir dengan kemampuan semacam ini."

Trahan mengamini pernyataan ini. "Kadang kamu harus keluar dari zona nyaman untuk bisa mendapatkan foto bagus," katanya. "Tapi jangan sampai harus keluar terlalu jauh dari zona nyaman sehingga nyawa kalian terancam."

Follow Ebony-Renee Baker di Twitter.