kesehatan

Aku Cuma Makan Nutella Seminggu, Lalu Mengalami Semua Jenis Mimpi Buruk

Dulunya kupikir Nutella adalah selai terenak di dunia. Aku sempat mikir "bisa hidup cuma makan Nutella'. Setelah membuktikan kata-kataku sendiri, masalah mulai muncul.
27.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Banyak orang doyan Nutella. Sangking banyaknya, nggadoin Nutella pakai sendok sudah menjadi semacam ritual tersendiri. Saya termasuk kelompok itu. Saya doyan Nutella, yang menyebabkan saya menghadapi sisi-sisi gelap diri sendiri dan mengalami minggu terburuk dalam hidup saya.

Semuanya bermula karena saya sedang mencari bahan tulisan. Sebagai penulis muda, saya sering disarankan menulis mengenai hal-hal yang seru. Jadi pas saya mencari ide, saya keingetan Nutella. Saya selalu bilang ke orang-orang saya bisa hidup hanya dengan makan Nutella, tapi ini belum pernah benar-benar saya coba. Apa yang akan terjadi kalau saya hanya makan Nutella selama seminggu? Ya, saya ajukan saya ide ini ke editor saya. Jadinya, saya boleh minum apapun yang saya inginkan, selama bukan sebagai pengganti makanan. Di samping itu, saya hanya boleh makan Nutella. Iya. Itu doang.

Editor saya rada cemas soal ide ini, tapi juga penasaran, dan begitulah percobaan ini dimulai. Saya membeli dua stoples Nutella di minimarket dan memutuskan untuk mulai diet ini pada Sabtu. Tekad saya sudah bulat.

Hari Ke-0: Sabtu, 18.00. Berat Badan: 66,2 kg

Saya baru aja melalui malam pertama keliling kota dengan seorang teman, dan rasanya baik-baik saja. Saya menghabiskan stoples pertama hanya dalam beberapa jam pertama, dan merasa semakin baik. Mantep lah.

Hari ke-1: Minggu. Berat Badan: 66 kg

Ga ada yang kerasa yang aneh-aneh banget, sih. Biasanya, pada pagi hari saya emang makan Nutella. Jadi saya sarapan sambil senyum dan mikirin betapa hebatnya menjadi orang dewasa yang bisa secara sengaja melakukan ini. Beberapa jam kemudian saya duduk di balok dengan beberapa teman sekosan—matahari bersinar terik dan langit lumayan biru. Kami duduk-duduk di kursi usang, minum wiski ALDI sambil cekikikan. Abis itu kita cabut ke taman.

Di taman, kami dengerin Jimi Hendrix dan Joey Badass dan minum wiski lagi—ide yang brilian sementara perut penuh Nutella.

Sekitar jam 7 malam, saya pulang ke rumah dan memuntahkan cairan kecokelatan ke kloset. Ini adalah pertanda buruk pertama.

Hari ke-2: Senin. Berat Badan: 64,9 kg

Wah, hangover banget. Kepala saya pening banget dan saya butuh makan pizza. Saya kesulitan pindah dari tempat tidur ke kamar mandi dan, ya, saya juga diare. Di dapur teman-teman sekosan saya ngeledek. "Lah, masih ngejalanin diet Nutella?" kata mereka. "Iye," saya jawab datar.

Kami pergi keluar dan dia ngomong soal apaan tau, tapi saya enggak dengerin. Pikiran saya berkabut dan kuping saya seperti terhambat. Saya tidak punya tenaga dan di penghujung hari saya kelapan. Tapi bayangan menelan selai cokelat itu membuat saya pengin muntah lagi. Akhirnya sekarang jam 8 malem. Saya bisa mencium bau pizza punya tetangga. Kampret.

Hari ke-3: Selasa. Berat Badan: 64,4 kg

Saya memulai hari dengan menonton seorang laki-laki di kereta nyamil roti bakar selai kacang. Setelah tiga hari makan selai Nutella doang, indra penciuman saya jadi lebih tajam. Saya bisa mencium setiap molekul garam dalam selai kacang di TV dan mereka memanggil-manggil nama saya. Saya pengin kacang dan saya pengin burger. Burger keju pakai bacon. YA ALLAH TOLONG HAMBA. Saya berangkat kerja dan langsung mampir ke toilet; diare lagi. Lalu saya 'sarapan' di meja saya yang bikin saya mengalami sugar high. Saya jumpalitan selama beberapa jam, tapi enggak ilang-ilang. Di sore hari kolega saya bilang saya terlihat sakit. Saya bilang aja, emang sakit. Saya nyoba ngetik tapi otak saya enggak responsif. Saya berjalan-jalan keluar buat cari udara segar, tapi saya malah kedinginan dan jadi ngantuk.

Dalam trem menuju rumah perut saya bunyi terus dan saya yakin semua orang bisa mendengarnya. Mereka tahu apa yang saya lakukan. Saya adalah tokoh utama di Tell-Tale Heart-nya Edgar Allan Poe; tapi saya jadi gila karena zat manis. Akhirnya trem berhenti dan saya keluar, dan yakin banget semua orang ngeliatin.

Hari ke-4: Rabu. Berat Badan: 64,1 kg

Saya tepar. Saya enggak bisa bergerak padahal saya harusnya ngampus. Hadeh, susah banget dah. Sekarang masih siang, tiba-tiba ponsel saya berdering. Si Julian, editor saya di VICE. "Heh, kami lagi mikir-mikir apa sebaiknya naskah ini dibatalin aja," katanya. "Kami sebenarnya kaget sih, kamu masih ngelanjutin ini. Tapi kami watir dengan kesehatanmu." Setelah itu gambar-gambar makanan enak terputar di kepala saya. Tapi meski saya tergoda, saya tidak akan menyerah.

Saya menghabiskan sepanjang siang dengan mencari cara membuat Nutella terasa lebih enak. Saya membekukannya biar bisa dikunyah. Ya lumayan sih, rahang saya jadi terpakai, tapi rasanya gitu-gitu aja. Lalu saya melelehkannya ke dalam kopi. Eh ternyata rasanya enak! Cobain deh.

Hari ke-5: Kamis. Berat Badan: 63,9 kg

Kamis adalah waktu yang surem. Saya enggak menyangka dampak perubahan pola makan bisa berpengaruh begitu besar pada kesehatan mental saya. Pada titik ini, saya mulai merasa di ambang kegilaan. Tidak ada yang terasa nyata, dan kemampuan konsentrasi saya menurun drastis. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah memandang langit-langit dan memikirkan enaknya bobo siang.

Malamnya saya mengunjungi ibu saya dan disapa dengan harum masakan pasta. Hampir saja tekad saya runtuh. Dia memandangi saya dan menyuruh saya berhenti percobaan ini. Dia merasa saya sudah gila dan tak mempedulikan kesehatan diri. Saya bilang, Mama enggak ngerti jurnalisme berkualitas!

Hari ke-6: Jumat. Berat Badan: 63,5 kg

Seharian saya mengucapkan mantra ini: Besok saya bisa makan. Besok saya bisa makan. Besok saya bisa makan. Saya menghabiskan malam itu di rumah teman saya di Fitzroy. Kami duduk-duduk dekat api unggun dan ngobrol soal aneh-aneh. Suasana hati saya adalah campuran gembira dan kebencian. Saya hampir makan, tapi belum bisa. Saya menemukan api mengesankan 100 persen.

Hari ke-7: Sabtu. Berat Badan: 63,1 Kg

Saya tidak akan lupa momen pagi itu. Saya merasa seperti anak berusia 8 tahun yang bangun pada Natal pagi. Saya bangun dari kasur, hampir melompat-lompat. Saya berhasil melalui ini dan akan merayakannya dengan roti lapis babi panggang yang besar banget sampai susah digigit. Manteb. Kini sudah tiga hari saya makan seperti biasa. Kalau diingat-ingat, saya pikir itu adalah minggu dengan emosi paling beragam yang pernah saya alami. Saya merasa sedih tanpa alasan, lalu saya kegirangan sendiri dan hiperaktif. Dan saya bingung terus-terusan. Ada pula waktu-waktu di mana saya kecapekan di kosan dan mikir apakah ini semua sepadan. Saya memandang cermin. Di hadapan saya yang terlihat hanyalah sesosok zombie berkantung mata memandang balik. Zombie itu meminta saya makan wortel. Saya enggak bisa bilang saya sudah enggak suka Nutella. Ccoba deh, tanya lagi bulan depan.

Follow David di Twitter