fobia

Aku Mengidap Fobia Disentuh Manusia Lain

AJ, laki-laki 23 tahun, mengidap haphephobia (rasa takut terhadap sentuhan fisik). Ketakutan ini mempengaruhi kemampuannya menjalani hidup dan mencintai.
6.7.17
Foto ilustrasi via Flickr usuario Emily P.

Haphephobia menjelaskan ketakutan menyentuh dan disentuh. Siapapun yang menyentuh, baik orang asing, kawan akrab, ataupun pasangan romantis, orang-orang dengan haphephobia merasa sangat tidak nyaman saat disentuh. Biasanya, rasa takut ini bukan berasal dari rasa risih terhadap kuman atau kontaminasi (yang disebut misophobia), melainkan dari obsesi menjaga ruang pribadi. Untuk mendapatkan gambaran rasanya hidup dengan fobia ini, kami ngobrol dengan AJ, laki-laki berusia 23 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai desainer grafis di AS. Dia bercerita soal kali pertama dia menyadari fobia ini, dampaknya pada kehidupan romantisnya, dan reaksi orang-orang (biasanya tersinggung) terhadap keengganannya disentuh dan menyentuh.

Iklan

Ketika seseorang menyentuh saya, rasanya sakit. Tidak ada cara lebih baik untuk menggambarkan hal itu. Hingga baru-baru ini, saya bisa mengingat tiap kali seseorang menyentuh saya selama hidup: bagian tubuh mana yang disentuh, dan apa yang seharusnya saya lakukan untuk menghindarinya. Saya bisa mengingat segala hal ini karena setiap kali seseorang mencoba mendekat, saya merasa cemas. Kalau mereka menyentuh saya, kulit saya seakan terbakar, dan saya bisa merasakan bekas tangan mereka untuk waktu yang lama. Saya terus-menerus merasa dilanggar, sampai saya berhasil memfokuskan pikiran pada hal lain. Seorang kawan pernah bilang, lucu banget nontonin saya di ruangan penuh orang, karena saya bakal melipir-melipir memastikan tubuh kami tak bersentuhan sama sekali. Saya merasa seperti ini selama hidup, tapi baru pas kelas satu SMA, ketika video "Free Hugs" sedang ngetren-ngetrennya, saya menyadari saya punya masalah. Lalu, ketika saya riset untuk makalah psikologi, saya membaca istilah haphephobia. Sontak saya ingin menunjukkannya ke semua orang, "Nih, ada beneran!" dan saya melakukannya. Orang tua saya mencemooh. Mereka bilang "manusia butuh sentuhan," meski mereka sendiri sangat jarang menunjukkan kasih sayang lewat sentuhan fisik. Yang menarik adalah, nenek buyut saya dari keluarga ibu dijuluki "The Great Untouchable" tanpa sepengetahuannya. Dan seperti Nenek Buyut, orangtua saya cuma pernah memeluk saya beberapa kali saja seumur hidup. Kami bahkan tidak pernah cipika-cipki. Sewaktu kecil, saya pernah nguping perbincangan telepon Ibu dengan kawannya. Saya dengar Ibu bilang, orangtua mengecup anak-anaknya adalah hal yang menggelikan. Saya tidak pernah meragukan cinta dan kasih sayang mereka. Hanya saja, kami bukan orang yang senang bersentuhan. Haphephobia telah berdampak pada seluruh hubungan asmara saya, namun menurut saya perempuan-perempuan memberikan respon yang lebih positif dibandingkan laki-laki. Saya rasa mungkin karena mereka sadar saya tidak punya keinginan berhubungan seks dengan mereka. Sebagian besarnya juga berasumsi saya gay. Saya tidak tahu sih, bagaimana rasanya jadi perempuan, tapi sepertinya mereka harus menjalani hari-hari dengan kecemasan setiap laki-laki bisa mencolek pantat mereka, dan itu terdengar mengerikan. Tapi hanya karena saya tidak suka disentuh bukan berarti saya tidak punya dorongan seks. Hanya saja, saya tidak akan menuruti dorongan ini kecuali saya merasa amat nyaman. Suatu waktu kawan-kawan saya bilang kami akan mengantar pulang seorang kawan perempuan karena terlalu mabuk. Saya enggak langsung ngeh, tapi ternyata waktu itu mereka semacam mengset supaya saya tidur dengan dia. Pada situasi-situasi seperti itu, saya mengenakan cincin kawin. Saya bilang aja, saya sudah menikah dan dia bisa tidur di sofa. Saya enggak bisa tidur malam itu karena saya takut dia tiba-tiba menyelinap masuk dan mencoba tidur dengan saya. Ada beberapa kawan dekat yang saya taksir, dan saya ingin mencoba tidur dengan mereka. Hati saya akan berdegup kencang dan saya tidak akan menikmati perasaan seperti itu. Hal ini membuat perempuan-perempuan yang tidur dengan saya merasa was-was dengan dirinya sendiri, jadi saya coba-coba sendiri mengobatinya dengan alkohol supaya bisa lebih rileks. Lalu, saya juga bisa menyalahkan ketidakmampuan ejakulasi.

Ini adalah salah satu alasan saya terjerumus kecanduan alkohol. Untungnya dari situ saya bertemu seorang suster. Dia akan mengulurkan tangannya dan bilang bahwa saya boleh menyentuhnya dan tidak akan terasa sakit. Dan dia menyuruh saya menyuntuh lengannya atau dia akan menyentuh wajah saya dan bilang semua tidak seburuk yang saya bayangkan. Rasanya tidak nyaman, tapi dia mahir berkelakar jadi saya tidak tegang. Lalu kami akhirnya menikah. Saya tidak mungkin bisa menikah kalau bukan berkat dia. Istri saya memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya. Saya telah hidup bersama mereka selama dua tahun dan saya tidak pernah menyentuh mereka sekalipun. Bahkan secara tidak sengaja. Suatu waktu di bar, saya melihat kawan menyentuh pundak seseorang yang bersisipan dengannya, dan saya ingat berpikir, "Wih gila asik banget, coba gue bisa begitu." Tapi saya tidak bisa. Ketika saya pergi ke tempat yang ramai, saya mending mabuk, atau kalau kondisi tidak memungkinkan, saya berbisik kepada anjing imajiner. Tunggu dulu, saya bukan mendongak ke bawah dan berpura-pura ada anjing di sana. Saya hanya ngomong sendiri. Entah bagaimana hal ini membuat saya merasa baikan. Beberapa kali saya pernah tertangkap basah ngobrol dengan anjing imajiner, dan saya ngeles berkata saya lagi menyanyi. Untungnya, saya belum pernah ditanya lagu apa yang saya nyanyikan. Saya hampir selalu melipat kedua lengan, tapi saya mencoba menebusnya dengan senyuman ramah atau menertawakan kelakar kawan-kawan saya; tapi saya merasa kedua hal ini kontradiktif dan justru membuat saya terlihat seperti seorang psikopat. Saya sudah lumayan jago menghindari sentuhan, jadi saya tidak harus mengalami situasi-situasi buruk. Saya seorang seniman grafis, namun saat ini sedang dalam transisi ke program komputer karena tidak terlalu memerlukan interaksi dengan pelanggan. Saya telah membiasakan diri membayar apapun dengan kartu alih-alih uang tunai. Kalau saya terpaksa membayar dengan uang tunai, saya hanya menaruhnya pada tangan sang kasir, dan mencoba tak bersentuhan sama sekali. Saya sadar tak semua hal bisa dikontrol. Suatu waktu saya diberikan kartu ucapan selamat Natal dari atasan saya, dan dia langsung memeluk saya. Secara refleks saya mundur, menarik tangan saya, dan menyatakan bahwa saya tidak bisa memeluknya. Terlihat jelas dia sedikit tersinggung, lalu ketika saya membuka kartunya dan mendapati bonus besar, saya jadi merasa sangat bersalah. Kemarin, ibu mertua saya sedang menangis dan yang saya bisa lakukan hanyalah bergeser sedikit, mendekat dengannya. Saya mencoba menepuk-nepuk bahunya, tapi yang saya lakukan malahan menekankan jari telunjuk saya pada bahunya. Ini merupakan perjalanan panjang. Kalau saya tidak mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki diri saya, saya mungkin sudah terkena gagal ginjal karena keseringan mabuk. Saya sering merasa seperti outsider, tapi saya tahu saya harus membuat prioritas: lebih baik tidak disentuh ketimbang akrab dengan orang lain. Saya masih berada dalam awal perjalanan mengatasi fobia saya ini, jadi kita lihat sajalah. Karena, saya kira ayah saya tepat adanya: manusia membutuhkan sentuhan. Saya hanya perlu menemukan cara supaya bisa nyaman merasakan sentuhan.