Internet

Sudah Saatnya Kalian Menyiapkan Surat Wasiat Digital

Wasiat ini bisa memberi panduan bagi keluarga, sahabat, dan perusahaan teknologi memperlakukan jejak digital kita setelah meninggal, di medsos maupun Internet.
1.4.19
Sudah Saatnya Kalian Menyiapkan Surat Wasiat Digital Supaya Jejak Digital Aman Setelah kita Meninggal
Foto ilustrasi jejak digital oleh VICE UK

Setiap hari, kita pasti meninggalkan jejak di internet. Bentuknya macam-macam, mulai dari postingan yang di-like, retweet, atau foto yang kalian unggah. Seringkali kalian enggak peduli sama jejak tersebut. Kita menganggap apapun yang diunggah ke internet kekal di dalamnya.

Anggapan yang mengentengkan jejak digital gini sangat keliru. Lihat saja insiden terhapusnya data pengguna MySpace secara massal. Terbukti konsumen terbukti tak memegang kendali penuh akan apa yang kita tinggalkan di jagat internet.

Iklan

Memegang kendali atas jejak virtual selama kita hidup saja sudah susah, apalagi nanti ketika kita sudah mati? Dilema inilah yang selama satu dekade terakhir diselidiki Psikolog Elaine Kasket.

Dalam buku terbarunya All the Ghosts in the Machine, Eliane mendalami pertanyaan soal apa yang harus dilakukan terkait data pengguna Internet yang sudah mati, selagi perusahaan teknologi raksasa makin memegang kendali akan berbagai aspek kehidupan kita.

Beberapa waktu lalu, saya menemui Elaine. Kami berdua ngobrol tentang privasi di jagat internet, data, dan kematian. Elaine punya solusi menarik: semua pengguna Internet wajib memikirkan surat wasiat digital. Supaya data kita bisa terjaga, sekalipun kita sudah tiada. Dia merasa upaya jaga-jaga macam ini amat penting. Seperti apa detailnya? Berikut cuplikan obrolan kami:

VICE: Apa yang bikin kamu tertarik mendalami persoalan wasiat digital?
Elaine Kasket: Belakangan, aku sering membaca berita-berita di media massa tentang pemisahan antara kematian dan jagat internet. Menurutku, sudah waktunya kita menulis persoalan ini memakai sudut pandang baru. Buku-buku tentang privasi pengguna internet yang sudah terbit tak pernah membahas pertanyaan-pertanyaan moral, etis, psikologis, serta filosofis yang tak bisa dikesampingkan begitu saja. Aku ingin menggunakan kematian sebagai titik tolak menjelaskan bagaimana perusahan teknologi raksasa mengontrol hidup kita. Kebanyakan buku yang mengangkat topik ini hanya berhenti pada apa yang terjadi pada datamu setelah kamu meninggal. Tak ada yang membahas tentang kontrol perusahaan-perusahaan ini.

Iklan

Banyak yang bilang apapun yang kita unggah di internet bakal kekal. Berkaca dari kasus MySpace, jejak digital kita ternyata bisa dihapus begitu saja. Bagimana kamu memandang isu ini?
Setiap legacy website yang kalian ikuti tak pernah berhenti menggunakan frase “kekekalan,” “selamanya” dan “keabadian.” Inti pesan yang mereka ingin sampaikan adalah segala yang ada di internet tak akan hilang. Orang-orang menelan begitu saja pola pikir ini. Tapi, yang kita ini punya sekarang barulah bayi sebuah sistem bernama internet—coba ingat-ingat lagi semua sistem/teknologi internet yang ditinggalkan beberapa tahun terakhir ini. Sebagai perbandingan, mansia masih punya gulungan papirus dari zaman Mesir kuno yang masih bisa dibaca. Sebaliknya aku sudah tak lagi bisa memainkan minidisc dari 12 tahun lalu. Persoalan ini berpotensi menghapus kita dari sejarah. Di tataran personal, hal ini tak terlalu berpengaruh. Tapi dalam konteks kehidupan kolektif bermasyarakat, abainya perusahaan teknologi melindungi data pengguna jelas masalah besar.

Ada tidak sih cara untuk mengelola secara etis mengelola data orang yang sudah meninggal ketika internet dikuasai korporasi teknologi?
Belum ada. Tapi pengelolaan data orang yang sudah meninggal adalah argumen sangat kuat agar kita mewujudkan desentralisasi internet. Upaya sejauh ini masih jauh dari sempurna—perusahaan teknologi besar masih jadi yang berperan besar memikirkan aturan main di Internet. Gampangnya, mereka masih mereka-reka tindakan yang akan diambil jika seorang pemilik data meninggal dunia. Nah keputusan mengenai apa yang seharusnya dilakukan ini muncul dalam proses pengambilan keputusan yang sifatnya pribadi, saat kita semua punya kendali penuh atas apa yang terjadi pada data kita. Lagipula, aku tak sedang membahas media sosial doang—persoalan ini mencakup banyak aspek: hardware, software, lokasi data, serta otobiografi dirimu dalam bentuk riwayat pencarian di peramban.


Tonton dokumenter VICE soal gereja yang mengaku punya teknologi hidup abadi:


Iya juga sih. Aku juga malas kalau sampai ada orang yang bisa melihat history pencarian Google-ku tiap jam 3 pagi pas lagi bosen…
Itu maksudku. Kita selalu fokus pada profil kita di depan publik. Tapi apa jadinya bila seseorang meninggal dunia dan kamu mengobrak-abrik jejak digital yang orang itu tinggalkan terus menemukan sesuatu yang memancing pertanyaan? Jelas pemilik data tak bisa lagi menjawab pertanyaan kita. Kita tak pernah kebanjiran data jejak digital sebanyak ini sebelumnya.

Kita mengira sudah sangat hati-hati mengunggah apapun di media sosial. Faktanya, jejak kita ada di mana-mana, dan aku rasa banyak orang tak menyadari hal ini.
Benar. Abainya kita pada jejak digital disebabkan karena perusahaan teknologi enggan jujur tentang keuntungan yang terus mereka dapat dari data pengguna yang sudah meninggal. Facebook bersikap seolah-olah mereka melakukan kerja kemanusiaan dengan merawat profil penggunanaya. Masalahnya, setelah pemiliknya tiada, akun itu sepenuhnya dimiliki Facebook. Mereka punya kekebalan hukum untuk menggunakannya semau mereka, karena pemiliknya tak lagi dilindungi undang-undang perlindungan data. Lewat cara inilah, Facebook selalu bisa mempertahankan jumlah penggunanya yang masih hidup. Di ujung abad ini, jumlah profil pengguna Facebook yang sudah meninggal bisa mencapai 3,6 miliar. Kamu bisa bayangkan kekuatan data sebesar ini? Kita tahu manusia tak mau terperangkap dalam pemakaman. Mereka juga tak mau selama berada dalam kuburan digital.

Iklan

Dalam bukumu, kamu menulis tentang ikatan yang terus kita rasakan setelah seseorang meninggal. Kamu tahu kan, banyak medsos menawarkan makam digital. Apakah kebijakan kayak gitu bisa membuat kita lebih lama berduka dan susah move on?
Kondisinya benar-benar berbeda sekarang. Orang sudah meninggal benar-benar terintegrasi dengan dalam ruang sosial virtual. Sebenarnya, baru setelah psikologi modern dikembangkan Freud dan Elisabeth Kübler-Ross, kita punya gagasan tentang cara manusia melewati sejumlah bagian proses berduka sampai akhirnya "mengikhlaskan kepergian seseorang." Sebagian orang melewati proses berduka yang rumit dan panjang. Ini sama sekali bukan indikasi bila keberadaan orang-orang yang sudah meninggal di internet sebagai sebuah masalah. Jadi, lebih mudah move on atau tidak tergantung dengan tahapan keikhlasan tersebut.

Masalah lainnya, anggota keluarga tak punya kendali atas jejak-jejak digital ini seperti pada foto-foto atau barang peninggalan mendiang di rumah.
Tepat sekali. Masalah mendasar dari jejak-jejak virtual seseorang melulu soal akses dan kendali. Berduka itu kan proses yang sangat khas. Kini, di zaman media sosial ini, kita masih kebingungan menentukan hubungan macam apa yang kita jalani dengan profil-profil orang meninggal di internet. Permasalah paling besar dari semua ini ada kaitannya kontrol kita pada interface saat berduka.

Jadi apa saranmu bagi orang yang berniat mengelola data digital mereka setelah meninggal?
Langkah pertama yang harus diambil adalah menghadapi kecemasan kita terhadap kematian dan mulai memikiran tentang kesementaraan hidup. Hanya sedikit manusia mau memikirkan kematian. Persiapan paling standar yang dilakukan banyak orang adalah menulis surat wasiat. Nah membuat surat wasiat digital, meski mungkin belum punya kekuatan hukum, adalah ide yang bagus. Setidaknya, kamu bisa memberi tahu bagaimana orang memperlakukan jejak digitalmu sesudah kamu meninggal.

Hal yang paling penting ditegaskan di surat wasiat itu adalah mengklaim kembali memori-memori hidupmu yang kamu rasa berharga dari perusahaan teknologi besar. Pokoknya, semua kenangan yang kemungkinan bakal kamu lihat kembali nanti di masa depan, semua yang kamu anggap berharga. Jika kamu meninggalkan jejak seberharga ini, pastikan selama apa sistem automatic trust-nya berlaku, atau sampai kapan perusahaan teknologi bisa memanfaatkannya.

Follow penulis artikel ini lewat akun @rey_z

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.