Aku habis ketemu teman lama kemarin, dan dia mengingatkanku akan sesuatu. Kami dulu selalu berangkat sekolah bareng. Kami bertemu di ujung jalan karena aku enggak mau dia datang ke rumah. Kenapa? Biar aku bisa mendengarkan 3-4 lagu dari walkman saat jalan sendirian. Aku bilang ke dia aku butuh waktu sendiri. Padahal sebenarnya biar aku bisa dengerin musik.Kebiasaan ini belum berubah. Terkadang aku bakalan bangun lebih pagi dan jalan kaki supaya aku bisa mendengarkan musik tanpa gangguan. Selama aku berjalan dan mendengarkan musik, aku selalu membayangkan jadi orang lain. Lebih tepatnya jadi Karen O. Aku berkhayal sedang menyanyikan “Date With the Night” di Glastonbury. Khayalanku jadi lebih realistis atau abstrak seiring aku beranjak dewasa. Aku bakalan membayangkan pindah ke LA atau ngomong pada diriku yang masih 17 tahun. Khayalannya mirip-mirip lah.
Iklan
Aku pasti bukan satu-satunya yang pernah berkhayal pas dengerin musik. Aku bahkan berasumsi kalau kebanyakan orang yang mendengarkan musik pasti punya fantasinya sendiri. Entahlah. Orang-orang jarang membicarakan ini karena fantasi bisa memalukan. Khayalan bersifat pribadi dan menunjukkan kepribadian seseorang, jadi sulit untuk diungkapkan.Karena itu, aku memutuskan untuk cari beberapa orang yang bersedia menceritakan fantasinya saat mendengarkan musik. Proses pencariannya ternyata enggak susah sama sekali.“Aku sering membayangkan jadi drummer Babes in Toyland—khususnya pas memainkan lagu ‘Sweet 69’ dengan lonceng sapi di bagian awal. Aku berkhayal penontonnya adalah mantan-mantanku dan mereka kagum melihat permainanku. Aku enggak keringatan sama sekali soalnya ada kipas di panggung. Aku menjadi drummer cewek keren yang selalu kuimpikan selama ini. Plotnya benar-benar sedikit, karena seringnya cuma sampai intronya selesai. Aku sering membayangkan ini saat masih muda dulu, sewaktu aku merasa terpojok dengan kritikan mantanku. Aku telah mengencani lima drummer, jadi… tahu lah ya.”“Aku bakalan berbaring sambil mendengarkan satu lagu berulang kali dari walkman. Aku mendengarkannya pakai headset. Aku akan berkhayal meneriakkan lirik lagu dari ujung tebing, menumpahkan semua amarah ke keluarga dan teman-temanku di bawah sana. Mereka semua sedang berpesta dan memegang gelas martini berhiaskan buah zaitun. Mereka enggak sadar ada aku di atas. Aku menyanyikan versi a capella-nya (gema di ujung tebing sudah cukup buat jadi mikrofon), dan rambutku tertiup angin.”
HAN, 25 Tahun
SAMMI, 27 Tahun
Iklan
CALUM, 23 Tahun
JASMINE, 25 Tahun
LEILA, 24 Tahun
Iklan
