Olahraga Ekstrem

Kontes Adu Tampar Profesional Adalah Cabang Olahraga Paling Keren Sedunia

Pemenang lomba menempeleng di Rusia ini dapat dua hadiah: uang tunai serta kepuasan menabok orang lain tanpa risiko diseret ke meja hijau.
Mack Lamoureux
Toronto, Canada
25.3.19
Kontes Adu Tampar Profesional di Rusia Adalah Cabang Olahraga Paling Keren Sedunia
Adegan saat si pangsit, juara lomba menempeleng 2019 dari Rusia, menghajar lawannya. Foto oleh Dmitry Kotov.

Sebuah video mencuri perhatian saya saat iseng menyelami Internet. Rekaman itu dibuka dengan sangat sederhana: dua lelaki kulit putih saling berhadapan di atas panggung, dipisahkan sebuah meja.

Di satu sisi berdiri seorang pria kekar mengenakan sweatshirt. Di hadapannya, lawan yang terlihat lebih mungil sudah menanti. Tubuh sang lawan dibungkus jaket hijau dan sebuah syal. Dua orang tadi mencondongkan badan masing-masing ke arah meja. Di sekitar mereka sekumpulan penonton—jumlahnya ratusan orang—bersabar menantikan aksi keduanya.

Mata dua lelaki ini saling mengunci. Lalu seorang lelaki lain naik ke panggung. Mungkin kita bisa menyebut lelaki ketiga ini sebagai seorang wasit. Dia lantas menepuk bahu kedua lelaki pertama. "Saatnya beraksi," begitu mungkin katanya. Sejurus kemudian, dua lelaki pertama mulai saling menampar dengan sopan. Buktinya, dua lelaki ini tertib menggampar lawannya bergantian.

Pada satu bagian video, lelaki yang mengenakan jaket menempatkan tangannya di balik punggung. Dia terlihat songong menunggu gilirannya ditampar. Di seberang meja, lelaki yang berbadan kekar mengambil ancang-ancang, mengarahkan telapak tangannya—yang kokoh seperti balok kayu—tepat ke pipi sang lelaki mungil. Tak lama kemudian, dia melayangkan sebuah tamparan yang barangkali paling keras dalam sejarah umat manusia, sampai sang lawan terkapar.

Tontonan luar biasa indah ini adalah cuplikan kontes 'Male Slapping Championship', alias kejuaran menempeleng khusus peserta lelaki. Menurut sebuah media di Rusia, kejuaraan yang videonya saya tonton itu digelar di Krasnoyarsk, kota kawasan Siberia.

Kejuaraan Menempeleng Se-Siberia ini adalah salah satu acara dalam Siberian Power Show—yang juga mempertandingkan binaraga, angkat berat, adu joget, hingga lomba makan pangsit. Selidik punya selidik, kejuaraan menempeleng sedang digemari di Negeri Beruang Merah. Tahun lalu, kejuaraan sejenis digelar oleh Sarychev Power Expo.

Aturan dalam kejuaaran menempeleng sangat sederhana. Peserta cukup berjalan menuju sebuah meja putih, berdiri di salah satu sisinya. Peserta dipersilahkan menempeleng lawan, dan wajib menerima tamparan balik jika sang lawan sanggup membalas.

Selepas itu, kedua peserta akan saling tampar bergantian, sampai pertandingan berakhir ketika salah satu peserta menyerah atau KO. Oh iya, layaknya seorang atlet angkat besi, peserta kejuaraan menempeleng juga menaburkan kapur ke telepak tangannya. Tujuannya? Enggak tahu juga nih. Mungkin biar tamparannya lebih berasa kali ya?

Pemenang kejuaaraan ini juga membawa pulang hadiah, selain kepuasaan menggampar lelaki lain tanpa khawatir diseret ke meja hijau. Lelaki yang paling jago menempeleng seantero Siberia tahun ini berhak atas hadiah utama uang tunai 30.000 Rubel (setara Rp6,5 juta).

Lelaki yang menjadi kampiun dalam kejuaraan 2019 adalah Vasily Pelmen. Dia mencatatkan rekor menempeleng. Kata juri, kekuatan tamparannya setara wajahmu ditabok benda dengan bobot 1 kilogram. Uniknya, dengan kekuatan tangan semenyeramkan itu, Pelmen, menurut seorang reporter, punya julukan yang menggemaskan yakni "Si Pangsit".

Menyaksikan jalannya pertandingan adu tempeleng ini merupakan keindahan tersendiri yang sulit ditandingi. Kita bakal sering melihat lelaki-lelaki perkasa roboh karena gamparan lawan, menyerupai kucing yang mengeong keras setelah digebuk sapu lidi. Menyebut pemandangan ini indah saja sepertinya tak cukup. Saya menganggapnya cabang olahraga paling sempurna mempertontonkan kemampuan atletis manusia, selepas pertarungan gladiator di era Kekaisaran Romawi.

Dari video yang saya tonton, Si Pangsit enteng saja menampar KO lawan-lawannya. Dia tampil bak The Mountain, mantan lelaki terkuat di dunia asal Islandia. Satu demi satu lelaki Siberia tumbang karena digampar Si Pangist. Salah satunya lelaki kekar dari Siberia berkaos hijau. Setelah membereskan lelaki ini, Si Pangsit membuka kaosnya lalu bersiap melawan tukang gampar tanpa baju lainnya.

Saga antara keduanya berjalan panjang. Si Pangsit berkali-kali menjatuhkan lawannya yang lekas bangkit, sampai akhirnya Si Pangsit dinyatakan sebagai pemenang. Di akhir pertandingan, Si Pangist yang sudah tahu dirinya kampiun tahun ini menempeleng lawannya. Kali ini, pelan saja. Dia tahu sifat welas asih adalah penanda ksatria sejati.

Sebenarnya, ada video lain yang menampilkan pertandingan peserta lain selain Si Pangsit. Tapi buat apa ditonton, kalau ada yang sekeren tempelengan Si Pangsit. Tamparan peserta lain dalam video itu terlihat amatiran. Tak ada yang mampu menyaingi kekuatan gamparan Si Pangist, yang saat ini saya nobatkan sebagai Muhmmad Ali-nya kompetisi menempeleng profesional.

Setelah mengalahkan lelaki bertelanjang dada, Si Pangsit memasuki (kayaknya) babak final melawan lelaki lebih tua mengenakan kaus polo putih. Ketegangan memancar dari video saat kedua atlet menatap satu sama lain. Kerumunan penonton sampai menahan napas saat menyaksikan adegannya.

Mereka akan melihat tamparan paling bersejarah di dunia. Dari meja putih, para atlet saling melotot. Ini dia waktunya mereka memamerkan kemampuan menempeleng yang telah mereka latih selama ini. Sudah saatnya mereka memilih antara menampar atau kalah. Percayalah, Si Pangsit datang untuk menang.

Meskipun lelaki lebih tua tersebut bisa menampar, tapi jelas saja dia tak mampu mengalahkan jagoan kita satu ini.

Setelah lawan pulih dari tamparan Si Pangsit (maksudnya, ditangkap teman-temannya karena hampir jatuh), dia bangkit lagi. Tapi, yah, namanya juga hidup. Enggak ada ending bahagia seperti di film-film. Lelaki itu bernasib sangat malang.

Dia menampar Si Pangsit sekuat tenaga. Tapi sialnya, dia belum mempersiapkan diri akan apa yang terjadi selanjutnya. Si Pangsit tak segan-segan melayangkan tamparan maut kepada lelaki berkaus Polo.

Wasit segera menghampiri mereka dan memberi tanda X, yang berarti pertandingannya harus diakhiri. Paramedis bergegas naik ke panggung, merawat lelaki tersebut. Nyawanya seperti hampir dicabut setelah menerima tamparan ketiga dari Si Pangsit.

Dengan berakhirnya babak final, Si Pangsit resmi keluar sebagai pemenang. Atau mungkin jurinya enggak mau mengorbankan orang lain untuk ditampar sampai pingsan oleh jagoan kita.

Khabib Nurmagomedov, Christiano Ronaldo, atau LeBron James adalah atlet-atlet yang dianggap punya kekuatan fisik mengerikan. Tapi saya yakin mereka enggak ada apa-apanya saat berhadapan dengan Vasily 'Si Pangsit' Pelmen, atlet lomba menempeleng terbaik sepanjang 2019.


Follow Mack Lamoureux di Twitter. Ajak dia ngobrolin berbagai olahraga seru di dunia ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada