Psikologi

Penelitian Menunjukkan Manusia Cenderung Mengharapkan Hal Terburuk Terjadi

Mau kalian orang optimis atau pesimis, pasti tetap mempersiapkan diri menerima kemungkinan terburuk saat menanti kabar.
30.11.19
Seorang perempuan kelihatan pasrah
Foto oleh Briana Morrison via Stocksy

Sebentar lagi masuk penghujung tahun, dan sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan dari 2019. Presiden Indonesia yang kembali terpilih ternyata tidak seprogresif yang dikira, dan pemerintahannya kacau-balau. Ujaran kebencian, rasisme dan misogini terus berkembang di berbagai belahan dunia. Sementara itu, krisis lingkungan juga semakin memperburuk keadaan.

Kabar baiknya, kita bersama-sama melewati ini semua. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality membeberkan baik orang optimis maupun pesimis sama-sama mempersiapkan kemungkinan terburuk ketika mengantisipasi sesuatu.

“Kami menemukan kebanyakan orang cenderung tidak bisa optimis saat hari yang ditunggu segera tiba,” tulis para peneliti dari Universitas California, Riverside. Bersikap pesimis tak hanya “meringankan kekecewaan”, tetapi juga “mengurangi kemungkinan terlihat seperti orang tolol karena kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan.”

Bersama timnya, guru besar psikologi Kate Sweeny melakukan sembilan studi berbeda di laboratorium dan lapangan. Dalam setiap percobaan, mereka mengukur kecenderungan alami para peserta untuk menjadi optimis atau pesimis. Setelah itu, peneliti menilai perkiraan mereka seraya menunggu hasil resminya keluar. Sejumlah peserta eksperimennya adalah lulusan hukum di California yang menunggu keluarnya hasil ujian pengacara, pelajar yang memprediksi seberapa baik tes kecerdasannya, dan peserta yang memperkirakan seberapa atraktif mereka di mata orang lain.

Iklan

Tak satupun studi mereka menunjukkan perbedaan signifikan antara orang optimis dan pesimis ketika menanti kabar. “Wajar kalau kita mempersiapkan yang terburuk. Pesimisme sangat diperlukan dalam kesempatan tertentu,” ujar Sweeny selaku peneliti utama.

Timnya tertarik mendalami bagaimana orang-orang dengan berbagai watak menghadapi ketidakpastian. “Temuan kami memiliki dua manfaat potensial selain untuk menambah wawasan,” katanya. “Pertama, temuannya dapat menenangkan mereka yang selalu memikirkan hal terburuk ketika menghadapi kebenaran. Sederhananya, kita tidak sendirian mengalami ini. Kedua, orang super optimis saja terbukti juga menguatkan diri kalau-kalau tidak sesuai harapan. Ini menunjukkan mempersiapkan kemungkinan terburuk adalah strategi adaptif untuk mengendalikan reaksi emosional terhadap ketidakpastian dan berita yang akan kita terima. Jika tidak berhasil, mereka mungkin takkan melakukannya secara konsisten.”

Ketika ditanyakan cara menangani ketidakpastian, Sweeny berujar “waktu adalah segalanya ketika mempersiapkan kemungkinan terburuk.”

“Kecenderungan ini terbentuk sendirinya supaya kita siap menerima kabar buruk yang tak terduga,” lanjutnya. “Lebih baik kamu mulai menguatkan diri menjelang pengumumannya tiba, karena kamu malah akan sedih kalau kelamaan memikirkan hal terburuk.”

“Nasib hidup kita akan terungkap beberapa bulan atau tahun kemudian. Maka cara terbaik menghadapinya yaitu dengan bersikap optimis beserta mempersiapkan skenario terburuk.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.