Menyelami Kehidupan Suku Bajo di Tengah Lautan
Semua foto oleh penulis.
Budaya

Menyelami Kehidupan Suku Bajo, Pengembara Laut Sejati

Suku Bajo di luar wilayah Sulawesi seringkali tak memiliki kewarganegaraan dan dijuluki ‘pengembara laut’. Mereka sudah ribuan tahun tinggal di atas samudra.

‘Mengasingkan diri’ ke laut lepas kedengaran seperti ide liburan luar biasa. Sementara bagi suku Bajo yang kebanyakan tak memiliki kewarganegaraan, hidup di atas air hanyalah rutinitas sehari-hari.

Suku Bajo sejatinya berasal dari Filipina Selatan, dan menjadi suku nomaden yang hidup di tengah laut sejak berabad-abad lamanya. Sayangnya, jumlah populasi mereka terus berkurang. Suku ini sudah menyebar ke berbagai wilayah Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tetapi status warga negara mereka tetap tidak diakui. Tanpa kewarganegaraan, mereka tidak mendapat hak formal menetap di daratan dan mengakses fasilitas umum seperti sekolah atau pekerjaan. Sebagai orang laut, keterampilan berburu mereka di air tak perlu ditanyakan lagi.

Iklan

Suku Bajo terbagi menjadi dua, yakni “Bajau Darat” ( Bajau Kubang) dan “Bajau Laut”. Mereka juga dijuluki gipsi laut, pemburu laut, atau pengembara laut. Namun, mereka sebenarnya paling tepat dipanggil “suku asli”. Bajau Darat tinggal di rumah panggung yang mereka bangun sendiri, dan hanya berinteraksi dengan Bajau Laut ketika ingin melakukan barter.

Sementara itu, Bajau Laut tinggal di perahu lepa yang mengambang di perairan dangkal. Tak seperti rumah panggung, perahu lepa sangat sempit. Untuk menaruh peralatan masak dan memancing saja sudah pas-pasan. Dengan demikian, setiap anggota keluarga di dalam perahu lepa—yang muat hingga lima orang—cuma punya satu baju dan sedikit barang pribadi.

Bajau Laut biasanya turun ke daratan untuk menjual hasil tangkapan laut mereka (ikan, lobster, dan teripang). Sebagai imbalannya, mereka menerima bahan-bahan pokok, air, atau singkong untuk dimasak menjadi Kasaba Panggykayu. Mereka kembali ke rumah kapal saat sore tiba. Di sana, Bajau Laut akan masak-masak bareng komunitasnya.

Suku Bajo juga terampil dalam menciptakan sesuatu. Tukang kayu otodidak mampu membuat kapal dalam seminggu tanpa bantuan apa pun. “Keterampilan ini diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya,” terang Nalu, anggota Bajo yang datang dari Filipina 28 tahun lalu. Rumah panggung kayu, yang dapat menampung lima sampai 30 orang, bisa diselesaikan bersama dalam waktu tiga minggu.

Iklan

Mereka bahkan membuat sunscreen versi mereka. Borak Buas terbuat dari bubuk beras, dan digunakan oleh kaum perempuan untuk melindungi kulit mereka dari sinar matahari. Perempuan lajang memakainya tebal-tebal supaya memiliki kulit yang halus dan memikat calon pasangan.

Suku Bajo juga dikenal sebagai salah satu penyelam bebas terbaik di dunia. Mereka mengandalkan ini untuk memburu makanan. Mereka tampaknya memiliki limpa lebih besar, dan dapat menyelam di kedalaman 200 kaki selama 13 menit. Inilah alasan makanan laut mereka sangat beragam, dan tak pernah ditemukan di restoran mahal. Teripang, misalnya, adalah asupan protein yang sangat bagus untuk mereka. Makhluk laut ini bermanfaat sebagai obat diabetes dan kanker, serta afrodisiak.

Berikut beberapa potret kehidupan suku Bajo yang berhasil diabadikan VICE:

Bajau life
Bajau life
1569296165043-Malaysia-Borneo-Sabah-Semporna_Area-8829
1569296188944-Malaysia-Borneo-Sabah-Semporna_Area-9398
Bajau life
Bajau life
1569296612300-Malaysia-Borneo-Sabah-Semporna_Area-9565-2
Bajau life
Bajau life
1569296517278-Malaysia-Borneo-Sabah-Semporna-8369

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.