Politik

Sandiaga Uno Jadi Contoh Bahwa Politisi Tak Cuma Bisa Pindah Partai, tapi Juga Balikan

Setelah gagal jadi wakil presiden, Sandiaga Uno memutuskan kembali berpolitik menyambut pelukan Partai Gerindra. Nasib pengusaha tajir itu tak berakhir drama seperti Fahri Hamzah atau Basuki Tjahaja Purnama.
17.10.19
Sandiaga Uno Jadi Contoh Bahwa Politisi Tak Cuma Bisa Pindah Partai, tapi Juga Balikan
Sandiaga S. Uno dijumpai awak media di Jakarta sesudah pemilu 2019. Foto oleh Goh Chai Hin/AFP

Sandiaga Uno mengumumkan kembalinya ia berpolitik menggunakan cara paling cringe yang pernah ada. Berbekal latar musik superhero, Sandi berjalan dengan efek gerak lambat menghadap kamera mengenakan kemeja batik biru. Di tengah video, ia mencopot kancing baju satu per satu sambil mempertahankan simpul senyum penakluk emak-emaknya itu.

Kaos hitam dengan tulisan “Gerindra” di balik kemeja mengonfirmasi bahwa cita-cita video berjudul "Saya Kembali" tersebut bermaksud mengumumkan kembalinya ia ke Gerindra. Ew, cringe…. Pernyataan balikan ini dibenarkan Andre Rosiade, anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra kepada Tempo. "Secara jelas Bang Sandi menyampaikan kepada kami, dalam Rakernas Rabu besok (16/10) akan kembali bergabung dengan Partai Gerindra. Dia akan datang ke Rakernas (rapat kerja nasional) besok dengan baju putih kantong empat dan celana krem, seragam resmi Partai Gerindra," kata Andre kepada Tempo.

Ia juga menambahkan informasi bila Sandi sampai membatalkan rencananya pergi ke Turki demi menghadiri rakernas.

Sandi bergabung sebagai politikus Gerindra pada 2015 karena diminta langsung oleh Prabowo Subianto. Jabatannya terakhirnya adalah Wakil Ketua Dewan Pembina (Wakawanbin) sebelum harus mundur dari Gerindra, dan posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta, saat diajak Prabowo (lagi) menjadi calon wakil presiden untuk kontestasi pemilu presiden 2019. Dari pernyataan Ketua DPP Gerindra Habiburokhman, sepertinya Sandi akan kembali menjabat Wakawanbin.

Iklan

Saat ditemui sebelum Rakernas, Sandi mengungkapkan bahwa persamaan visi jadi alasannya kembali. "Platform perjuangannya sama dan saya dulu awal berpolitik di sini. Saya merasa ini rumah kita bersama, rumah untuk memperjuangkan Indonesia yang tentunya lebih adil, makmur, sejahtera untuk masyarakat (agar) bisa menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja. Jadi mohon doanya teman-teman," ujar Sandi dikutip Detik.

Proses balikan ini terlalu adem ayem. Padahal, terakhir kali ada seorang politisi besar yang keluar dari partai lalu “balik” lagi, masyarakat dapat suguhan drama.

Pada 11 Maret 2016, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengumumkan telah memecat Fahri Hamzah sebagai anggota partai. Hal ini membuat Fahri diminta melepaskan jabatannya sebagai pimpinan DPR karena PKS sudah menyiapkan nama baru, Ledia Hanifa.

Drama dimulai ketika Fahri tidak terima pemberhentian sepihak ini dan memutuskan membawa kasus ke ranah hukum. Selama sengketa berjalan, jajaran pimpinan DPR menolak desakan PKS untuk menurunkan Fahri karena proses hukum masih berjalan.

Ternyata, Fahri menang. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan sebagian gugatan Fahri dan pemecatannya dianggap tidak sah. Alhasil, PKS dipaksa hukum kembali menerima Fahri menjadi kader PKS sekaligus membayar Rp30 miliar sebagai pengganti kerugian imateriil.

Kasasi diajukan Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi PKS Abdul Muis Saadih pada pertengahan 2018 namun majelis hakim Mahkamah Agung (MA) kembali menolak. Sampai masa berakhirnya periode jabatannya di DPR, ia masih dianggap politisi PKS. Setelah tidak lagi menjabat, ia memang keluar dari PKS dengan membentuk partai baru bernama Gelora yang akan diresmikan akhir tahun 2019.

Balikannya politisi dengan partai bisa dibilang jarang terjadi, kejadian yang lebih umum justru aktivitas pindah-pindah partai. Basuki Tjahja Purnama misalnya. Mengawali karier sebagai kader Golkar, ia merapat ke Gerindra menjelang Pilkada DKI 2012 sebelum akhirnya berlabuh di PDIP setelah keluar dari penjara.

Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, memulai karir politik sebagai kader Partai Bulan Bintang lebih dari satu dekade lalu. Pada 2010, ia memutuskan pindah ke Golkar. Beberapa contoh politisi “kutu loncat’ lainnya adalah Ahmad Rofiq, Yuddy Chrisnandi, Yenny Wahid, Ruhut Sitompul, hingga Dede Yusuf.