Wabah Pes

Wabah Pes Mematikan Kembali Serang Manusia, Kali Ini Kejadiannya di utara Cina

Berbagai negara waspada, tapi pemerintah Tiongkok meminta semua pihak tenang. Penyakit ini biasa disebut 'wabah hitam', dulu menghabisi sepertiga penduduk Eropa pada Abad Pertengahan.
15.11.19
Wabah Pes Mematikan Kembali Serang Manusia, Kali Ini Kejadiannya di utara Cina
Foto ilustrasi pes dari Wikipedia Commons/lisensi CC 3.0

Awal November 2019, dua orang di perbatasan Mongolia-Tiongkok terjangkit Pes yang pernah menghabisi sepertiga populasi Eropa pada abad ke-14.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 1.000-2.000 kasus wabah yang dilaporkan secara global setiap tahunnya. Pes lazimnya berjangkit di Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, dan Peru. New York Times melansir kasus di Cina melibatkan dua pasangan paruh baya yang terkena wabah mematikan pneumonia.

Sempat disebut “Wabah Hitam”, jenis Pes paling umum — bubonic — dapat disembuhkan jika ditangani dengan cepat dan tepat. Menurut NYT, pemerintah Cina memastikan kedua penderita sudah dikarantina dan risiko penularannya rendah.



Namun, pernyataan pemerintah tak mampu meredam ketakutan warga. UPI menunjukkan mereka mengungkapkan kekhawatirannya di media sosial bahwa sebenarnya jumlah penderita lebih banyak daripada yang dilaporkan atau bahkan telah meninggal dunia. Meski tak ada bukti yang mendukung klaim tersebut, tidak mengherankan jika mereka berpikiran seperti itu.

Pemerintah Cina tak jarang menutup-nutupi soal penyakit yang mewabah di sana. Beberapa wabah terakhir — 12 kasus pada 2009 yang membunuh tiga orang; 7 kasus pada 2010 dengan dua kematian; tiga kasus pada 2014 yang menelan tiga korban — menanamkan rasa takut lebih banyak orang akan mati. Wabah pneumonia bisa berakibat fatal jika tidak diobati dengan tepat.

Vaksin tak mampu mencegah infeksi. Penularan Pes dapat terjadi melalui gigitan tikus atau kutu yang terinfeksi, tetapi bisa juga lewat kontak dengan manusia atau hewan tergantung varietasnya. Dari tiga jenis wabah Pes, wabah bubonic menjadi yang paling umum dengan angka kematian 1-15 persen jika segera diobati. Namun, jumlah pasti kematiannya sulit ditentukan karena kasus di negara berkembang sering kali tidak dapat didiagnosis dengan tepat.

Jenis paling umum kedua yaitu wabah septikemia, yang berkembang dari bubonic jika tidak diobati. Dua orang Mongolia dikabarkan terinfeksi pada Mei setelah memakan jeroan marmut mentah yang dipercaya bagus untuk kesehatan. Mereka meninggal karena wabah septikemia.

Wabah pneumonia jarang terjadi, tetapi paling mematikan. Penyakit ini dapat diakibatkan oleh wabah yang menyebar ke paru-paru akibat tidak diobati dan ditularkan melalui udara.

Penderita pneumonia mengembangkan “bubo” merah menyakitkan di sekitar lokasi infeksi untuk membersihkan tubuh dari bakteri penyebab penyakit. Bubo diikuti oleh demam tinggi, menggigil, dan kelemahan ekstrem. Wabahnya menjadi lebih serius jika bersikulasi di darah atau paru-paru. Saat itulah gejalanya berubah menyeramkan, yaitu kulit menghitam.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) melaporkan ada tujuh kasus wabah di Amerika setiap tahunnya, sering kali menyerang sistem limfatik (bubonic) dan terjadi di Amerika Serikat bagian barat.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US