Fashion

Ngobrol Bareng Lelaki Perancang Hijab Eksperimental

Hasil rancangan Kallol Datta meredefinisi konsep kerudung bagi perempuan muslim.
7.6.18
Images courtesy of Kallol Datta

Saat berusia tujuh tahun, saya pergi ke Karachi, Pakistan, bersama ibu untuk menghadiri kawinan anak paman. Seusai pesta, para perempuan buru-buru merapikan cadar atau burka mereka sebelum pulang naik becak. Saya memegang cadar ibu saya dan berjalan menuju lalu lintas Karachi yang padat. Beberapa menit kemudian, tangan seseorang menyenggol tangan saya dan saya tersesat di kerumunan perempuan tanpa wajah. Mereka semua tersembunyi di balik cadar dan burka dan saya berupaya keras untuk mengenali ciri fisik ibu saya. Pengalaman ini membuat saya jengkel bukan main dengan cadar dan burka.

Lambat laun, saya baru mengerti bahwa tak penting apakah saya suka atau tidak suka dengan chador. Yang penting adalah, bahwa cadar merupakan tanda pencarian romantis ibu saya terhadap agensi budaya—sebuah sentimen yang saya temukan pada karya-karya perancang Kallol Datta.

Pada 2015, Kallol menampilkan serangkaian hijab eksperimental, di Arab Saudi dan Kuwait, dengan teknik memotong pola yang mencakup: bagian-bagian 3D, tasel, tas sampah, dan print foil. Penekanan dramatisnya pada cadar memberikan kualitas “pahatan” pada garmen-garmennya, yang melintas dari runway sampai galeri, sambil menyamarkan otoritas budaya cadar.

Iklan

Kallol dibesarkan di Timur Tengah di mana fesyen berada di puncak batasan politik, pakaian tradisional, dan konvensi religius. Kallol, yang menempuh pendidikan di India dan kemudian di Central Saint martins dan menampilkan garmen anti-fit dengan motif-motif uniseks di runway Lakme Fashion Week, menghabiskan satu dekade terakhir mengonstruksi ulang dan memprovokasi masyarakat lewat busananya. Ia sering kali menampilkan garmen-garmen sebagai alat-alat pemberdayaan politik.

i-D: Sewaktu kecil dulu kamu tinggal di Timur Tengah, apa kamu pernah memikirkan soal fashion di sekitarmu?
Kallol Datta: Saya ingat melihat orang-orang mengenakan pakaian panjang, ramping, dan menyeluruh di ruangan-ruangan. Selain itu, tinggal di sata membukakan saya akses pada musik, sastra, dan filmnya. Dan meski pengaruh-pengaruh tersebut tidak selalu harafiah atau langsung, masa saya tinggal di sana telah membentuk keterampilan saya.

Apa yang menginspirasi gaya hijab yang kamu ciptakan ini?
Koleksi pakaian pribadi saya. Juga keinginan untuk membungkus tubuh manusia menyerupai kepompong. Selain itu, saya merasa ada kenikmatan yang subversif saat melepaskan lapisan-lapisan itu. Merujuk pada pakaian tradisional, perjalanannya… saya memproduksi pakaian yang “anti-fit” dan di waktu bersamaan sadar dengan tubuh. Keduanya bisa dicapai bersamaan.

Karya-karyamu mengeksplorasi konsep gender dan mempertanyakan batas maupun ekspektasi dari seksualitas. Apakah ada ruang dalam fesyen untuk menggambarkan identitas penggunanya di Timur Tengah dan India?
Pakaian tradisional dan yang bernuansa religius telah menjadi panduan soal apa yang diterima dan apa yang tidak bagi masyarakat di wilayah tersebut. Identitas seseorang menjadi amat penting dalam menentukan dan mendukung opini soal pakaian mereka. Pemerintah dan instansi pemerintah perlu membiarkan pencipta, seniman, dan perancang untuk menjadi agen kreatif.

Dengan situasi yang sangat politis, cadar sudah menjadi ikon yang menindas, terutama lewat lensa Barat. Kita sering kali mengabaikan keindahan cadar, apakah ibumu juga mengenakan hijab?
Di keluarga saya tidak ada yang pakai hijab, tapi saya sudah ngobrol dengan banyak sekali perempuan selama penelitian saya, yang menjadi satu-satunya atau pertama yang mengenakan hijab pada saat SMA atau kuliah. Ini adalah aksi feminis yang harus dilihat seperti itu pula. Kepemilikan pakaian perempuan seharusnya jatuh pada sang perempuan dan dia seorang. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan saya bahwa perempuan lah yang seharusnya menentukan hak-hak perempuan. Melihat laki-laki mengatur dan memutuskan itu semua rasanya seperti sebuah ejekan.

Kamu menggambarkan cadar atau hijab bagaikan susunan bangunan, kayaknya itu memang karakter dominan dari karyamu ya.
Hijab dan cadar belum pernah dimasukkan ke dalam spektrum fesyen. Bagi saya, mereka memperluas kisaran produk saya. Kami sudah menghabiskan berdekade-dekade mengabaikan sebuah bagian dari populasi dengan tidak memproduksi garmen. Seakan-akan kita bilang, “kita lihat kalian, tapi kita ingin mengabaikan kalian.” Dan saya gak pernah setuju dengan pemikiran atau sikap macam itu.

Iklan

Apakah kamu khawatir merasa busana rancanganmu akan mendapat cap politis?
Karya saya memang politis kok. Karena saya percaya ada komentar sosial dari karya saya. Hal ini berhubungan dengan cara saya beroperasi. Ada praktik yang sudah mapan… praktik yang disepakati dalam memotong pola, membuat pakaian, dalam terlibat secara emosional pada prosesnya karena saya mendekatinya secara konsep. Cakupan karya saya seharusnya tak sekadar tubuh-tubuh, tetapi juga ideologi rancangan seluruhnya, estetika dalam pakaian-pakaian kontemporer dan karya saya seharusnya mengizinkan orang untuk ambil bagian.

Kallol Datta

Artikel ini pertama kali tayang di i-D.