10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan Ingin Kalian Ajukan Pada Pengacara Teroris

Apakah dia mengalami pertentangan batin saat mengetahui motivasi kliennya? Jika teroris tak beragama, kenapa pakai nama Tim Pengacara Muslim? Satu lawyer spesialis kasus terorisme buka-bukaan soal profesinya kepada VICE.
22.5.18
Pelaku Bom Bali I, Mukhlas alias Ali Gufron, memeluk pengacaranya setelah divonis hukuman mati oleh hakim di Denpasar. Foto oleh Darren Whiteside/Reuters.

Ada dua alasan kenapa kasus terorisme jarang sekali dilirik para pengacara di negara ini. Faktor pertama, bisa dipastikan nyaris tidak ada pemasukan bagi si lawyer selama membela tersangka kasus terorisme. Maklum, kebanyakan dari mereka dulu dikesankan tidak punya kocek dalam untuk menyewa pengacara (walaupun belakangan makin banyaknya kelas menengah terlibat aksi teror membantah asumsi itu). Kedua, stigma yang muncul sebagai ‘pengacara teroris’ menurut mereka yang tergabung dalam Tim Pengacara Muslim (TPM) memang mencoreng karir untuk bantuan hukum bidang lain. Ada beberapa klien mendadak batal memakai jasa mereka, setelah tahu mereka pernah membela teroris.

Dua faktor tersebut rupanya tidak bikin gentar Asludin Hatjani. Hampir dua dekade, Asludin menjadi pengacara bagi para terpidana kasus terorisme. Ratusan anggota sel teror sudah dibelanya, sejak kerusuhan di Poso hingga rangkaian aksi bom bunuh diri yang diotaki Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Asludin merasakan imbas pilihan karirnya. Banyak klien yang, setelah tahu sepak terjangnya, menghindari atau bahkan membatalkan kasus yang tengah bergulir karena citranya sebagai pengacara teroris.

Meski begitu, dia mengaku sampai sekarang tidak bersimpati pada agenda klien-kliennya. “Walaupun saya membela para teroris, saya tidak pernah bersentuhan dengan ajaran-ajaran mereka,” kata Asludin. “Sampai sekarang saya belum tahu apa sebenarnya yang mereka yakini, meski mereka berpendapat bahwa dasar pemikiran mereka adalah Al Quran.”

VICE Indonesia berbincang dengan Asludin, membahas awal mula dia terjun membela para teroris, sampai menyinggung pengalamannya hampir bangkrut karena tidak ada klien yang menyewa jasanya.

VICE Indonesia: Bagaimana awalnya anda memutuskan menjadi pengacara teroris?
Asludin Hatjani: Saya mulai tahun 2000, saat terjadi konflik SARA di Poso, Sulawesi Tengah. Dalam konflik tersebut banyak orang muslim ditangkap. Saya lahir dan besar di Palu, jadi saya tahu apa yang terjadi saat itu. Saya mulai turun untuk membela para ikhwan di persidangan. Dari situ saya dan kawan-kawan lantas mendirikan Tim Pengacara Muslim (TPM). Kasus terorisme pertama yang saya tangani ketika kami menggelar praperadilan melawan Polda Sulawesi Tengah atas penangkapan 29 warga muslim. Kami yakin waktu itu penangkapan mereka tidak sesuai prosedur. Kami memenangkan praperadilan tersebut dan semuanya bebas.

Apa alasan yang menggugah Anda membela teroris?
Saya yakin semua orang berhak mendapat bantuan hukum, apapun kejahatan yang mereka lakukan, termasuk terorisme. Semua orang berhak dibela dan mendapat proses peradilan yang seadil-adilnya.

"Saya tidak dalam posisi untuk menghakimi pandangan mereka benar atau tidak. Itu bukan tugas saya."

Sudah berapa teroris yang ditangani?
Ratusan teroris. Dari Poso, Sumatera, Ambon, dan Jawa sudah saya tangani. Mungkin beberapa nama yang cukup menyita perhatian seperti anggota Jemaah Islamiyah (JI) Umar Patek (terpidana bom Bali), Abu Dujana, Abu Tholut, Ustaz Harits pimpinan JAD Jakarta, dan baru-baru ini Aman Abdurrahman.

Ada pemikiran teroris tidak bisa dan tidak adil bila selalu dikaitkan dengan ajaran Islam. Lantas mengapa anda dan rekan-rekan memakai nama Tim Pengacara Muslim (TPM)?
Saya bukan ahli agama. Mendirikan TPM bukan berarti kami mendukung terorisme atau mencoba membenarkan apa yang mereka lakukan. Kami bergerak sesuai fakta. Dalam setiap kasus terorisme, saya ingin melihat apa yang mereka perjuangkan. Apakah memang murni dari hati atau ada kesalahpahaman dalam menerima suatu ajaran? Saya tidak dalam posisi untuk menghakimi pandangan mereka benar atau tidak. Itu bukan tugas saya. Namun ketika timbul korban jiwa, itu sudah jelas salah.


Tonton dokumenter VICE menyorot sosok mantan anggota Jamaah Islamiyah yang kini membuka pesantren mendidik anak terpidana teroris di Sumatra Utara:


Saat ini Anda dalam proses mendampingi pemimpin spiritual Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman, apa strategi anda untuk membelanya di pengadilan?
Mungkin ini persidangan tersulit. Karena selama proses persidangan, terjadi serangkaian serangan di Jawa Timur dan Riau. Sehingga saya yakin serangan tersebut akan berpengaruh pada tuntutan jaksa. Ternyata benar, Aman dituntut hukuman mati. Strateginya saya hanya akan fokus ke fakta yang terungkap selama persidangan. Dari situ bisa kita lihat tidak ada satupun saksi yang menyatakan bahwa Aman memerintahkan secara langsung atas serangan-serangan teroris. Serangan-serangan tersebut diotaki oleh para amir JAD di daerah-daerah.

Apa pendampingan kasus terorisme tersulit yang pernah anda tangani?
Selain kasus Aman, mungkin kasus Umar Patek. Kasusnya tergolong berat karena dia peracik utama bom Bali. Dia dituntut hukuman seumur hidup. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana caranya agar dia menyadari bahwa perbuatannya keliru. Dan dia menyadari hal itu. Akhirnya dia dihukum 20 tahun penjara dan beberapa kali mendapat remisi.

Ada beberapa teroris, seperti Aman, yang awalnya menolak didampingi, bagaimana anda mendekati mereka?
Pada saat mereka ditangkap, saya menemui mereka. Saya ajak mereka diskusi. Setelah mendapat kepercayaan mereka, saya bilang akan berbuat maksimal dan sesuai fakta yang ada.

Aman Abdurahmman, ulama diduga pemimpin spiritual JAD, menjalani persidangan pada 15 Februari lalu. Foto oleh Beawiharta/Reuters.

Anda tidak mengutip bayaran saat membela teroris, makanya ada cerita anda sempat nyaris bangkrut. Bagaimana caranya anda bertahan hidup dong?
Saya juga menangani kasus-kasus lain di luar terorisme. Kalau enggak begitu, mau makan dari mana? Memang betul dulu banyak klien yang akhirnya membatalkan kerja sama. Di tengah jalan mereka tiba-tiba memutus kontrak, atau memberi alasan lain. Tapi saya tetap maju. Saya yakin mereka (para klien yang menolak-red) cuma berbeda pandangan dengan saya. Sampai sekarang pun masih ada klien yang tiba-tiba membatalkan kerja sama, tapi enggak masalah, saya masih punya beberapa klien lain yang masih percaya dengan profesionalisme saya.

Apa rasanya dicap sebagai ‘Pengacara Teroris’?
Enggak masalah sejujurnya. Terus terang secara pribadi, saya juga mendapat keuntungan tersendiri. Nama saya jadi muncul ke permukaan saat menangani kasus terorisme besar. Dari situ saya bisa mendapat kasus lain yang lebih menghasilkan secara finansial.

Menurut anda, apakah teroris masih memiliki rasa kemanusiaan?
Masih ada rasa kemanusiaan dalam diri mereka. Banyak yang menyesali perbuatannya, tapi ada juga yang masih bersikeras dengan pendiriannya. Kasus Umar Patek mungkin yang paling saya ingat. Kami senang dia menyadari perbuatannya salah. Dia merasa sedih dengan mata berkaca-kaca ketika tahu korban meninggal akibat Bom Bali terlampau banyak.


10 Pertanyaan Penting adalah kolom VICE Indonesia untuk mengajak pembaca mendalami wawancara sosok yang jarang disorot, padahal sepak terjangnya bikin penasaran. Baca juga wawancara dalam format serupa dengan topik dan narasumber berbeda di tautan berikut:

10 Pertanyaan yang Selalu Ingin Kamu Sampaikan Pada Polisi Pembakar Narkoba

10 Pertanyaan Penting Buat Dokter Spesialis Sunat di Jakarta

10 Pertanyaan Penting Untuk Pengusaha Judi Online Tanah Air