Tata Surya

Ilmuwan Temukan Indikasi Mikroba Alien Hidup di Satelit Saturnus

Jangan buru-buru mikir manusia bisa bikin koloni di sana, sebab permukaan Enceladus beku dan penuh es. Hmm, kayak gimana mahluk yang sanggup hidup di sana?
Foto Enceladus, satelit terbesar keenam di orbit Saturnus, diambil pada 2015 lalu. Foto oleh Universal History Archive/UIG via Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Para ilmuwan berusaha mereproduksi kondisi salah satu bulan yang mengorbit Saturnus. Kesimpulannya, kehidupan sangat mungkin ditemukan di sana.

Satelit Saturnus tersebut, dinamai Enceladus, telah jadi lokasi pencarian kehidupan ekstrateresterial para ilmuwan. Gara-garanya wahana luar angkasa milik NASA, Cassini, menemukan bulu-bulu tumbuh di permukaan Enceladus yang mengandung air. Lautan air asin—semuanya terbungkus—menutup seluruh permukaan bulan terbesar keenam di Orbit Saturnus ini. Sepertinya, terdapat ventilasi hidrotermal dan hidrogen molekular, keduanya penting bagi keberadaan makhluk mikrobial di Bumi.

Iklan

Kini, setelah berhasil mereka ulang kondisi Enceladus, para ilmuwan percaya mereka sudah berhasil membuktikan kehidupan bisa muncul di Enceladus, jika kondisi yang mereka prediksi benar adanya.

Masih banyak pertanyaaan yang tersisa mengenai kemampuan Enceladus mendukung kehidupan yang lebih kompleks dari mikroba. Sekelompok ilmuwan di Austria nekat mereproduksi kondisi lautan es Enceladus. Di akhir percobaan, mereka sampai pada kesimpulan kalau Enceladus minimal bisa jadi rumah bagi spesies tertentu.

Spesies tersebut adalah archaea yang duji oleh para ilmuwan tersebut dalam kondisi mirip permukaan Enceladus dalam laboratorium mereka. Archaea merupakan makhluk bersel satu yang bisa hidup dalam kondisi ekstrem di Bumi, seperti di dalam geyser panas, di dasar permukaan laut dan sumur minyak bumi. Makhluk ini memakan karbon dioksida dan mengeluarkan gas metana—temuan ini meyakinkan ilmuwan-ilmuwan tersebut bahwa gas metana yang terdeteksi di sekitar Enceladus berasal dari makhluk-makhluk kecil ini.

“Dengan kondisi seperti itu, kehidupan bisa berlangsung,” ujar peneliti Simon Rittman, kordinator riset yang juga bagfuian dari divisi biologi archaea dan ekogenomik, pada Atlantic. Hasil penelitian mereka dipublikasikan Selasa lalu di jurnal ilmiah Nature Communications.

Intinya Enceladus bisa ditinggali makhluk hidup. Cuma jangan kegeeran dulu. Kesimpulan Rittman dkk diambil berdasarkan beberapa asumsi doang. Pengetahuan kita tentang permukaan es Enceladus masih sangat terbatas. Cassini, wahana NASA yang mengakhiri karirnya dengan menabrakkan diri ke permukaan Saturnus setelah tujuh tahun bekerja, cuma kebetulan saja menemukan kehidupan di Enceladus. Selain itu, Cassini memang tak dilengkapi perkakas memadai untuk memonitor Enceladus. Yang kita tahu saat ini adalah bahwa Enceladus memiliki permukaan yang tertutup es dan memiliki hidrogen molekuler—atau dua atom hidrogen yang bertautan—mengindikasikan adanya ventilasi hidrotermal di bawah laut Enceladus.

Para ilmuwan menguji serangkaian kondisi untuk mengecek ketahanan archaea di kondisi yang diperkirakan mirip dengan permukaan Enceladus. Dan ternyata, archae bisa dengan mudah bertahan. Beberapa spesies archae malah bisa selamat dalam kondisi yang lebih berat saat para ilmuwan menambahkan formaldehida—yang konon terdeteksi di Enceladus dan membahayakan kehidupan mikrobial.

Kendati di atas kertas kehidupan bisa berkembang di bulan orbit Saturnus itu, NASA tak akan gegabah mengirim misi buat memeriksa langsung kondisi permukaan Enceladus.

“Kita harus mendesain dulu sebuah lander yang bisa mendarat di lapisan belang di Kutub Selatan dan mampu mengambil sampel es dari retakan-retakan yang ada di sana,” kata Scott Edgington, deputy project scientist untuk proyek Cassini saat diwawancarai The Verge pada April 2017, segera setelah hidrogen ditemukan di Enceladus. “Saya sendiri pengin pergi ke sana dan mengebor sendiri permukaan Enceladus agar tahu seperti apa kondisinya.”