Panduan Menyelami Trio Tekno Legendaris Jepang Yellow Magic Orchestra Bagi Pemula
Foto oleh Charlie Gillett/Redferns via Getty Images
Musik

Panduan Menyelami Trio Tekno Legendaris Jepang Yellow Magic Orchestra Bagi Pemula

Lagu mereka jadi bahan sampling J Dilla, dinyanyikan ulang Michael Jackson, dan punya pengaruh besar bagi kancah musik tekno, trio asal Tokyo ini berjasa membentuk wajah musik elektronik kontemporer.
Lia Kantrowitz
ilustrasi oleh Lia Kantrowitz
20.2.18

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Sejak terbentuk pada 1978, Haruomi Hosono, Ryuichi Sakamoto, dan Yukihiro Takahashi telah melintasi berbagai genre dan gaya musik sebelum menciptakan musik pop paling aneh dan berani dalam sejarah. Mulai dari synth-funk yang berani, musik video game, hingga art pop New Romantic yang mendaratkan Sakamoto sebuah penampilan (dan scoring) di film Merry Christmas, Mr. Lawrence bersama David Bowie, Yellow Magic Orchestra telah mempertunjukkan elemen eklektik yang membuat mereka sangat berpengaruh terhadap berbagai subgenre musik komputer.

Iklan

Lagu mereka jadi bahan sampling produser hip hop J Dilla, dinyanyikan ulang Michael Jackson, dan disebut oleh Juan Atkins dan Derrick May sebagai pengaruh kunci dari kancah musik tekno Detroit. Trio asal Tokyo ini memainkan peran yang sangat penting di masa-mawa awal perkembangan musik elektronik, baik di kancah bawah tanah dan di mainstream. Sayangnya band ini banyak dilewatkan orang seiring tren musik datang silih berganti. Tidak seperti pencetus musik synth Jerman, Kraftwerk, yang mendapat kesempatan tur di stadium dan diberikan penghormatan dalam museum, YMO tidak pernah mengalami tingkat popularitas yang sama di luar negeri. Barangkali karena produktifnya karir solo setiap anggota, dan sulitnya mendapatkan musik mereka dari era pra-internet.

Menghasilkan delapan album studio dan album solo yang tak terhitung jumlahnya, YMO berutang budi terhadap akar musik jazz AS, namun menggabungkan berbagai pengaruh lain yang membentuk sound yang unik. Dibentuk pada 1978 sebagai upaya untuk sedikit mengejek namun juga memberikan penghormatan terhadap musik “eksotika” musisi lounge macam Martin Denny dan Les Baxter, trio ini menambahkan elemen teknologi terhadap musik kitsch ini sebagai alat pertukaran budaya. Sama seperti bagaimana obsesi Kraftwerk terhadap mobil memberi kita wejangan bahwa manusia dan mesin adalah satu kesatuan, YMO mengerti bahwa banyak sekali potensi—dan kengerian—yang bisa diberikan teknologi terhadap masyarakat. Setelah kehancuran brutal yang dialami Jepang paska bom atom, teknologi menjadi alat untuk membangun ulang dan mencapai kemajuan, sebuah medium yang digunakan Jepang untuk nantinya mencapai ledakan pertumbuhan ekonomi.

Iklan

Ringan, menyenangkan, namun selalu terkonsep dengan teliti, YMO membangun dunia estetika dari album ke album yang mencerminkan perubahan lanskap dunia kreatif yang cepat. Mulai dari komunisme sibernetika di album Technodelic (1981), ke fasad bocah remaja Naughty Boys (1983) hingga komedi kitsch Service (yang mencakup berbagai skit dari Super Eccentric Theatre menyatir acara televisi populer), komitmen kuat band ini terhadap estetika masih terasa pengaruhnya di berbagai penampil di dunia. Dengan video musik yang siap masuk MTV dan penampilan super stylish ala Devo, YMO menekankan perbedaan antara poptimisme nakal kancah post-punk awal dan kualitas ‘wah’ popstar Amerika, dan mungkin juga membuka jalan bagi jenis musik J-Pop yang nantinya akan terus mendominasi Jepang lima puluh tahun kemudian.

Setelah sempat hiatus sesaat untuk mengerjakan karir solo masing-masing, trio ini mulai bereksperimen dengan sound elektronik baru dan di album reuni mereka, Technodon (1993), mereka mendorong musik tekno dan acid house ke tingkat selanjutnya. Sementara itu, karir solo Ryuichi Sakamoto terus berkembang sebagai aktor dan komposer film, tren yang terus berlanjut dengan dirilisnya album studio keenam belasnya awal tahun ini. Dibuktikan oleh berbagai karya remix dari Arca, Yves Tumor, dan Oneohtrix Point Never, rasanya generasi baru musisi baru saja mulai menyadari talenta Sakamoto, baik sebagai musisi solo dan bareng YMO selama hampir tiga dekade.

Iklan

Hampir tidak bisa dibandingkan dengan artis lain, Yellow Magic Orchestra telah mencapai posisi yang unik baik dalam kultur Jepang maupun dunia. Tapi bagaimana kita bisa mulai menyelami sebuah band yang memiliki katalog yang sangat luas? Satu-satunya cara untuk memahami YMO adalah menyiapkan diri untuk elemen norak manis yang menjadi ciri khas band. Entah itu musik tekno cepat dari album terakhir mereka, atau musik pop penuh efek chorus ala Depeche Mode atau The Human League, YMO bisa menghibur siapa saja.

Yellow Magic Orchestra versi Eksotis

Setiap anggota YMO adalah musisi ternama sebelum grup ini terbentuk. Terkenal di komunitas musik Tokyo di 70an, Haruomi Hosono bermain di berbagai grup jazz dan rock seperti Tin Pan Alley, sebuah kumpulan penulis lagu yang menulis tembang-tembang hits bagi penyanyi pop dan folk dari seluruh Jepang. Album awal Hosono saat itu memiliki elemen hangat dari musik yacht-rock ala Steely Dan atau the Dooboe Brothers. Memiliki komitmen yang mirip dengan teknikalitas jazz, track awal seperti “Shimendoka” dan “Worry Beads” perlahan-lahan mulai memperkenalkan synth dan drum machine sebagai bentuk tribut ke musik folk tradisional Jepang namun tetap berakar di tradisi jazz negara barat.

Bersama Takahashi dan Sakamoto (yang bermain drum dan keyboard sebagai musisi sesionan di album-album awal Hosono), Hosono terus masuk ke ranah abad pertengahan musik kitsch Amerika lewat perilisan album debut self-titled mereka sebagai Yellow Magic Orchestra. “Firecracker,” sebuah single dari era awal Hosono yang direkam ulang untuk album debut mereka, merupakan gabungan dari tradisionalisme Jepang dengan elemen musik “orientalisme” yang digunakan Hollywood untuk menggambarkan Asia Timur selama beberapa dekade. Mengambil inspirasi dari musisi lounge LA macam Martin Denny dan Les Baxter, YMO menemukan daya tarik tersendiri dalam kultur pastiche yang komikal. Menggunakan bunyi synth yang menyerupai bunyi instrumen tradisional Jepang, track macam “Mad Pierrot” dan “La Femme Chinoise” mengubah sound mereka menjadi hingar bingar synth yang membumbung tinggi.

Iklan

Biarpun pengaruh “eksotika” ini akan semakin pudar seiring band mulai semakin masuk ke ranah elektronik, kehadiran mereka tetap terasa di beberapa momen tertentu, seperti di tembang “Seoul Music” dari Technodelic, atau “Rydeen,” dari Solid State Survivor. Lebih menantang daripada musik dance-pop yang nantinya mereka mainkan, lagu-lagu berakar jazz ini membuktikan bahwa para musisi ahli ini sangat sadar akan sejarah mereka, dan sanggup menampilkan ide komposisi yang rumit dan tetap terdengar mewah.

Playlist: “Exotic Dance (Yellow Magic Orchestra) - Haruomi Hosono” / “Firecracker” / “Mad Pierrot” / “Rydeen” / “Seoul Music” / “Rap Phenomena”

Spotify | Apple Music

Yellow Magic Orchestra versi New Romantic/Art-Pop

Seiring YMO semakin masuk ke ranah dance-pop penuh synth, dunia di sekitar mereka juga berubah. Apabila album debut 1978 mereka memiliki akar di musik lounge AS dan “eksotika,” album Solid State Survivor (1979) menawarkan sesuatu yang lebih terinspirasi oleh Kraftwerk, lengkap dengan vocoder dan aransemen drum machine. Tembang paling juara, “Behind the Mask” nantinya direkam ulang oleh Michael Jackson untuk Thriller, tapi dibuang sebelum masuk ke album karena sengketa hak cipta. Track tersebut nantinya dimasukkan ke album anumerta 2010 Michael, dengan lirik baru yang ditulis oleh beliau sendiri.

Kuping Michael bisa mengenali melodi yang bagus. Seiring YMO semakin mendalami teknologi baru seperti ARP Odyssey dan Roland TR-808 di 80-an, beberapa karya mereka terdengar semakin mirip dengan musik post-disko dan New Wave yang ramah radio dan penuh dengan melodi. Di album BGM (1981), YMO membangun alam semesta dari bebunyian synth tajam yang akan mempengaruhi band macam The Human League dan Eurythmics, sementara tembang-tembang ballad seperti “Expected Way” (dari album Naughty Boys dirilis 1983), memasukkan elemen string manis ala-ala musik New Romantics Inggris. Bersama musisi macam Japan, Boy George, dan Ultravox, YMO menemukan sesuatu yang hangat di awal 80-an. Album Naughty Boys, terutama, menawarkan sisi terhangat trio ini, dengan bebunyian string cerah dan bunyi snare drum yang dimanipulasi menggunakan gate reverb—teknik yang nantinya digunakan semua orang di era 80-an.

Iklan

Tidak hanya terbatas di satu album, pengaruh musik art-pop ini bisa ditemukan di banyak lagu lain YMO di era tersebut. Di lagu seperti “Pure Jam” dan “Neue Tanz” (dari Technodelic rilisan 1981), YMO memasukkan elemen drum machine metalik ala Phil Collins, sementara lagu “The Madmen” (Dari album Service rilisan 1983) akan cocok dibawakan oleh David Byrne. Di momen-momen terang macam inilah, YMO menampilkan warna mereka sesungguhnya sebagai pop star.

Playlist: “Cue” / “Music Plans” / “Expected Way” / “Opened My Eyes” / “The Madmen” / “You’ve Got To Help Yourself” / “Neue Tanz” / “Day Tripper” (Beatles Cover)

Spotify | Apple Music

Yellow Magic Orchestra versi Musik Video Game

Pada 1984, Hosono merilis Video Game Music. Sebagai bagian dari kolaborasi dengan desainer video game di Namco, album ini merupakan salah satu rilisan pertama yang dianggap serius dari genre format 8 dan 16 bit. Komposisi-komposisi sebelumnya sempat dirilis dalam bentuk single dan EP, tapi selalu dianggap sebagai novelti semata dan hanya dinikmati oleh maniak komputer, dan anak kecil. Hosono memperlakukan komposisi elektronik sebagai bentuk seni yang nyata, dan berkat kesuksesannya dengan YMO, membuka jalan bagi generasi baru komposer 8 dan 16 bit di dunia video game.

Di saat yang sama, beberapa elemen dalam musik YMO memang selalu terpengaruh oleh musik video game kuno. Lagu pembuka di album debut mereka, “Computer Game (Theme From the Circus)” dimulai dengan bebunyian elektronik patah-patah, dan menetapkan atmosfir album penuh melodi rumit yang menggunakan sampel dari Space Invader, Circus dan Gun Fight. Diwarnai dengan kord rumit dan melodi yang memukau, lagu macam “Rydeen” dan “Yellow Magic” seringkali disebut sebagai inspirasi bagi tembang-tembang soundtrack awal Nintendo. Seiring kabar keterlibatan Michael Jackson dengan soundtrack Sonic 3 terkuak, tidak mengherankan apabila YMO juga menjadi inspirasi di dalam proyek ini.

Iklan

Playlist: “Computer Game (Theme From the Circus)” / “Rydeen” / “Yellow Magic (Tong Poo)” / “Solid State Survivor” / “Ongaku” / “Technopolis”

Spotify| Apple Music

Yellow Magic Orchestra versi Synth-Funk

Pada 1982, Afrika Bambaataa menciptakan sejarah lewat sebuah sampel dari Kraftwerk. Setahun kemudian, dia mengubah lagu “Firecracker” YMO menjadi mahakarya boombox galak lewat “Death Mix Pt. 2,” B-Side dari album live Death Mix. Biarpun kini hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah genre, lagu-lagu YMO kerap dimainkan dalam DJ Set, disampel oleh semua orang dari Mos Def dan De La Soul hingga J Dilla, 2 Live Crew, Mariah Carey, dan Jennifer Lopez. Selain fakta bahwa vinyl mereka menjadi sasaran empuk pencinta sound video game, bunyi synth ajaib YMO mengandung pengaruh funk kuat yang cocok dengan era awal hip-hop. Di track macam “Cosmic Surfin” dan “Rap Phenomena,” YMO menggunakan elemen funky dari dance-pop untuk menciptakan euforia synth-funk rapi satu dekade sebelum G-funk menjadi subgenre nyata di Amerika Serikat.

Playlist: “Cosmic Surfin’” / “Firecracker” / “Yellow Magic” / “Chinese Whispers” / “Pure Jam” / “Rap Phenomena” / “Citizens of Science” / “Behind the Mask”

Spotify | Apple Music

Yellow Magic Orchestra versi Acid House

“Tekno adalah suara George Clinton dan Kraftwerk nyangkut bareng di sebuah lift.” Kutipan dari Derrick May (The Belleville Three) ini gagal memperhitungkan pengaruh musik lain di demo Cybotron trio ini, yang juga sangat terpengaruh oleh YMO. Dalam tulisan Simon Reynolds tentang sejarah rave, May menambahkan bahwa Bootsy Collins, Giorgio Moroder, dan YMO memiliki dampak besar terhadap era formatif Cybotron, kelompok yang nantinya membentuk kancah musik tekno Detroit dan menjadikan kota tersebut pusat musik elektronik. “Kami dulu sering nongkrong dan memfilosofikan apa yang orang-orang ini pikirkan ketika mereka membuat musik, dan bagaimana mereka memprediksi arah musik di masak depan,” jelasnya di sebuah interviu. “Kami nyantai, lampu mati, dan mendengarkan album Bootsy dan Yellow Magic Orchestra. Kami tidak pernah hanya menganggapnya sebagai hiburan, kami memperlakukannya seperti filosofi serius.”

Untungnya, pengaruh ini tidak hanya berlangsung satu arah, dan di era 90an, YMO mulai masuk ke ranah tekno dan acid house lewat album “reuni” Technodon. Penuh dengan beat kencang, dan bunyi lengkingan 303 bass, track macam “High-Tech Hippies” dan “Nanga Def?” mengurangi melodi synth dan menampilkan musik klab berkualitas layaknya veteran dalam genre tersebut. Di paruh kedua album, YMO menampilkan musik ambient-house mellow yang lebih menyerupai grup-grup dance populer Eropa seperti 808 State, Orbital atau The Orb. Biarpun hanya ditampilkan dalam satu rilisan, interplay antara formula synth-pop YMO yang sudah paten dengan upaya mereka untuk memperluas ranah ke sound baru membuktikan bahwa mereka tidak pernah berhenti berinovasi, biarpun fokus mereka akan semakin lari ke karir solo masing-masing.

Playlist: “Nanga Def?” / “Dolphinicity” / “High-Tech Hippies” / “Chance” / “U. T” / “Key” / “Nostalgia” / “Floating Away”