Serba-serbi cinta

Kata Siapa Kita Tertarik dengan Orang yang Sifatnya Berbeda?

Kenyataannya, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kita cenderung tertarik dengan seseorang yang memiliki banyak kesamaan.
23.2.18

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic Tampaknya semua orang setuju kalau sifat yang berlawanan lebih menarik perhatian mereka. Anak remaja tertarik dengan yang lebih tua, orang bahagia berpacaran dengan mereka yang tidak bahagia, para jomblo naksir suami atau istri orang. Penulis bergenre romantis sering menulis buku berdasarkan asumsi ini. Pepatah klasik ini rupanya juga sudah tertanam di benak para pejuang cinta. Angka menunjukkan 86 persen orang yang mencari pasangan dengan sifat berlawanan dari mereka.

Iklan

Kutub magnet yang berbeda memang akan saling tarik-menarik, tetapi bukan berarti hal ini juga berlaku dalam urusan percintaan. Seperti yang saya jelaskan dalam buku Great Myths of Intimate Relationships, orang cenderung tertarik dengan mereka yang memiliki kesamaan dengan dirinya.

Sudah ada banyak penelitian ilmiah yang berupaya mencari tahu apakah orang benar-benar lebih tertarik dengan hal yang berlawanan. Peneliti telah menyelidiki kombinasi apa yang bisa membentuk pasangan romantis yang lebih baik – yang memiliki kesamaan, perbedaan atau justru yang berlawanan? Para ilmuwan menyebut tiga kemungkinan ini sebagai hipotesis homogamy, heterogamy dan complementarity.

Siapa pemenangnya? Homogamy, tentu saja. Sejak tahun 1950-an, ilmuwan sosial telah melakukan lebih dari 240 penelitian untuk menentukan apakah kesamaan dalam hal sikap, kepribadian, minat, nilai-nilai, dan sifat lainnya dapat mengarah pada ketertarikan. Pada tahun 2013, psikolog Matthew Montoya dan Robert Horton menganalisis hasil gabungan dari penelitian-penelitian ini. Analisis ini disebut meta-analisis. Mereka menemukan bahwa kesamaan sifat ada hubungannya dengan kecenderungan mereka untuk tertarik dengan orang tersebut.

Burung saja terbang berkelompok dengan yang sejenis, manusia pun memiliki ketertarikan yang kuat dengan seseorang yang sama sifatnya dengan mereka.

Karena kesamaan dikaitkan dengan ketertarikan, maka masuk akal apabila sepasang kekasih cenderung serupa dalam banyak hal. Hal ini sering disebut kawin asortatif, walaupun istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana orang cenderung berpasangan dengan mereka yang memiliki keserupaan dalam hal tingkat pencapaian pendidikan, sarana keuangan, dan penampilan fisik.

Iklan

Meskipun begitu, bukan berarti sifat yang berlawanan tidak dapat menarik perhatian seseorang. Hipotesis homogamy dan complementarity bisa saja benar adanya. Tapi, apakah ada penelitian ilmiah yang mendukung bahwa sifat berlawanan memang lebih menarik?

Cerita cinta kerap mengangkat kisah orang yang menemukan pasangan dengan sifat yang tidak mereka miliki. Banyak novel romantis yang menceritakan perempuan baik-baik selalu jatuh cinta pada laki-laki bajingan. Ini membuat mereka tampak saling melengkapi. Contoh lainnya, orang ramah dan humoris memacari orang pemalu dan serius. Hubungan seperti ini dianggap ideal karena kekuatan mereka bisa menyeimbangkan kelemahan pasangannya. Kita juga sering menyaksikan langsung teman yang pemalu dijodohkan dengan orang ramah agar sifat pemalu mereka berkurang. Yang menjadi pertanyaan, apakah benar orang mencari pasangan yang bisa melengkapi kekurangan mereka? Atau ini hanya terjadi di film saja?

Nyatanya, ini hanyalah fiktif belaka. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian, minat, pendidikan, pandangan politik, agama atau sifat lainnya dapat menciptakan ketertarikan.

Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa mahasiswa lebih memilih deskripsi pasangan yang biodata tertulisnya serupa dengan mereka daripada yang berbeda. Penelitian lain telah mendukung temuan ini. Misalnya, orang introver tidak mungkin tertarik pada orang ekstrover.

Iklan

Bukti-bukti ilmiahnya sudah ada, tetapi kenapa mitos heterogamy tetap bertahan? Ada beberapa faktor yang mungkin menjelaskan hal ini. Pertama, perbedaan cenderung lebih menonjol. Pasangan yang banyak memiliki kesamaan sifat pun bisa berdebat karena hal yang berbeda dari mereka.

Di luar itu, ada bukti yang menunjukkan bahwa perbedaan kecil antara pasangan bisa semakin besar nantinya. Dalam buku self-help Reconcilable Differences, psikolog Andrew Christensen, Brian Doss dan Neil Jacobson menjelaskan bahwa sepasang kekasih akan mengambil perannya masing-masing sesuai dengan sifatnya seiring berjalannya waktu.


Baca artikel VICE lain yang membahas tema serupa:

Misalnya, jika seseorang lebih humoris maka dia akan mengklaim sifatnya, sementara pasangannya akan memantapkan diri menjadi orang yang serius. Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa sepasang kekasih akan saling melengkapi seiring berjalannya waktu. Awalnya mereka mungkin memiliki kesamaan, tetapi kemudian mereka membedakan diri dari pasangan.

Pada akhirnya, daya tarik seseorang terhadap perbedaan masih kalah dengan persamaan. Sayangnya, mereka masih saja ngotot bahwa sifat berlawanan lebih menarik – meskipun kenyataannya, sepasang kekasih yang memiliki banyak kesamaan akan saling melengkapi setelah mereka menghabiskan waktu bersama.

Matthew D. Johnson adalah ketua dan dosen jurusan psikologi dan direktur Marriage and Family Studies Laboratory di Binghamton University, State University of New York. Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation. Baca artikel aslinya di sini.