Bela Diri

Bruce Lee, Sang Pelopor Tarung Jalanan Ilmiah

Seorang petarung MMA mengalahkan praktisi tai chi di Cina sekian bulan lalu. Tindakannya menguatkan teori Bruce Lee tentang pentingnya membuat bela diri tidak sekadar jadi parade gerakan indah.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

"Kebodohan yang terorganisasi." Ini adalah frase yang digunakan Bruce Lee untuk menggambarkan banyak seni bela diri.

Bruce memiliki banyak frase kritik penuh warna macam ini, dan dia tidak pernah malu-malu menggunakannya: "kekacauan klasik," "berenang di daratan kering," "robot berpola." Dia melempar istilah-istilah ini ketika melihat seni bela diri yang menyimpang, dan menyampaikan opininya tentang bagaimana banyak praktisi bela diri hanya menjalankan semacam rutinitas koreografi, atau sesuai kata beliau, "teknik artifisial…dilatih secara ritual untuk mensimulasikan pertarungan sesungguhnya."

Iklan

Biarpun menikmati popularitas sebagai ikon global, orang kerap lupa bahwa sudut pandang Bruce yang kritis tidak selalu diterima dengan baik oleh komunitas bela diri, terutama sebelum dia meraih sukses di layar lebar. Faktanya, mulutnya yang gamblang mendaratkan banyak tantangan berkelahi di awal karirnya dan juga reputasi sebagai "pembangkang dengan sikap yang buruk." Biarpun opini jujurnya sering dianggap kontroversial, tindakan Bruce Lee bukan hal baru dalam sejarah seni bela diri. Misalnya, lebih dari 150 tahun sebelumnya, Kaisar Cina Jia Qing merilis pernyataan kekaisaran yang mencakup kekhawatirannya soal tren bela diri saat itu: "Sekarang Wuyi [jenis bela diri] dari Barak Tentara Hijau condong menggunakan gerakan-gerakan manis,… hanya demi pertunjukan, bukan penggunaan praktikal." Di 1930an, ahli sejarah seni bela diri Cina, Tang Hao menghimbau adanya reformasi dalam kultur seni bela diri, dan mendorong para praktisi untuk "menekankan para aspek praktis; mengurangi kembangan gerak yang tidak perlu."

Sang Kaisar, Bruce Lee dan akademisi semuanya berdebat topik yang sama: seiring keelokan dan tradisi dalam seni bela diri makin mendominasi, komponen seni bela diri sesungguhnya semakin menjauh dari pertarungan dunia nyata. Guna menghadapi kekhawatiran ini, Bruce menyebut pendekatan bela dirinya sebagai "pertarungan jalanan ilmiah," mempromosikan sudut pandang yang didasarkan akan fakta, penelitian, dan analitik; bebas dari mitologi dan hiperbola romantis yang saat itu menguasai seni bela diri. Dengan menggunakan istilah "pertarungan jalanan," dia menekankan applikasi praktis dari bela diri, yaitu bahwa "sebuah pertarungan itu hidup dan tidak bisa ditebak." Lebih dari empat dekade semenjak kematiannya, identitas reformis Bruce Lee masih sangat relevan dalam kultur seni bela diri dan juga ketegangan abadi yang masih bisa ditemukan dalam lanskap seni bela diri di Abad 21.

Iklan

Bruce Lee berpose di jalanan Kota Oakland, pertengahan 1965. Bruce membenci guru bela diri masa itu, karena tidak mau mengajarkan pentingnya berkelahi di jalanan. Foto oleh Barney Scollan)

Studi Lapangan

Ketika dia pergi di musim semi 1959 dari Hong Kong ke San Francisco menggunakan kapal uap, Bruce Lee sudah memiliki pandangan seni bela diri yang terbentuk berdasarkan pengalaman pribadi. Biarpun baru berumur 18 tahun, keterlibatannya dalam kultur pertarungan di atas atap gedung Hong Kong di 1950an memberikannya konsep bertarung yang berdasar kepada pertarungan jalanan, dan bukan sesi latihan di dalam studio. Kultur pertarungan jalanan Hong Kong dimulai oleh banyak sekolah kung fu yang menjamuri negara mantan jajahan Inggris tersebut setelah kaum komunis datang ke dataran Cina di 1949, dan mendorong banyak praktisi bela diri muda untuk terlibat dalam pertarungan tangan kosong. Ketika polisi setempat mulai memandang pertarungan ini sebagai aktivitas gang, generasi muda memindahkan lokasi pertarungan ke atap gedung, di mana mereka bisa meneruskan hobi mereka tanpa gangguan polisi dan orang dewasa. Semenjak remaja, Bruce tidak hanya terlibat dalam pertarungan-pertarungan ini, tapi juga memiliki kursi paling depan untuk menonton dan meneliti pertarungan lain. Gurunya—master Ip Man, Wing Chun yang kini dielu-elukan—mendorong murid-muridnya untuk mencari applikasi bela diri dari dunia nyata di luar ruangan kelas. Sesuai dengan penjelasan teman dan teman seperguruan Bruce, Hawkins Cheung, "Ip Man mengatakan, 'jangan percaya saya…pergilah ke luar dan bertarung. Coba aja sendiri.'" Pengalaman Bruce dalam kultur pertarungan jalanan Hong Kong akan nantinya membentuk fondasi inti dari pendekatannya terhadap seni bela diri hingga akhir hayatnya. Ketika Bruce tiba di Amerika di musim semi di 1959, seni bela diri Asia baru saja hendak meledak untuk pertama kalinya di negara barat, dan sebagian besar ketertarikan ini terbentuk akibat pandangan romantis dunia barat terhadap kultur timur. Banyak lelaki muda Amerika memandang seni bela diri timur sebagai kultur yang penuh mistik dan eksotik. Biarpun banyak yang memanfaatkan narasi ini, Bruce justru menentangnya: "80 persen seni bela diri yang diajarkan di Cina itu omong kosong. Di Amerika, sekitar 90 persen itu omong kosong." Tidak heran, sudut pandang seperti ini tidak diterima dengan baik oleh kebanyakan komunitas bela diri, terutama ketika datang dari mulut seorang bocah pendatang muda.

Iklan

Tidak lama setelah bersekolah di Seattle, Bruce menerima tantangan berkelahi pertamanya setelah dia melakukan demonstrasi umum yang menyiratkan bahwa kung fu merupakan bentuk bela diri yang lebih lengkap dibanding karate. Pernyataan ini menganggu praktisi karate lokal, Yoiche Nakachi, 10 tahun lebih tua dari Bruce, dan mendalami karate semenjak masa kecilnya di Jepang, dan dikenal sebagai jagoan pertarungan jalanan. Ketika Bruce menerima tantangan tersebut, dia menghabisi Yoiche dalam waktu 11 detik, membuatnya jatuh pingsan dan menyebabkan tulang kepalanya retak. Bukannya membungkam para kritik, suara penentang Bruce justru semakin bertambah keras setelah itu.

"Apakah gerakan ini membantu kita saat bertarung sungguhan?"

Mulai 1962, Bruce Lee mulai bermukim di Oakland, California. Keputusan ini diambil agar Bruce bisa berkolaborasi dengan James Lee dan kelompok bela dirinya yang inovatif. James punya reputasi sabagai petarung jalanan mematikan di Oakland semasa muda. Dia mengelola tempat latihan beladiri modern di garasi rumahnya yang menekankan efektvitas sebuah teknik dalam pertarungan sesungguhnya. Bruce, James, dan beberapa martial artist kenamaan asal Bay Area ( Ed Parker, Wally Jay, Ralph Castro, dan Al Novak) mendirikan semacam laboratorium bela diri di Oakland. Di sana, mereka akan berlatih sepanjang hari dan membahas habis-habisan apa yang mereka latih sampai malam. Di kawah candradimuka bela diri ini, ada dua hal yang ditekankan—inovasi dan kreasi gerakan baru. "Apa gerakan ini benar-benar bisa kita gunakan dalam pertarungan?" adalah pertanyaan yang dijadikan sebuah kertas litmus guna mengecek kesahihan sebuah teknik bela diri. Teknik-teknik yang dibahas dalam laboratorium bela diri diuji dalam berbagai skenario. Jika pertarungan jalanan sangatlah hidup, Bruce berargumen, kenapa kita harus latihan? "Tak ada satupun alasan lawanmu dijalanan bakal bertarung berdasarkan pola terten Di Oakland saat itu, inovasi dianggap sebagai penawar dari kemunduran dari pola pelatihan beladiri kolot. Di masa ketika master beladiri geram melihat muridnya menyimpang dari pola-pola yang dia ajarkan, laboratorium bela diri yang digagas Bruce Lee dkk malah penuh semangat merayakan percampuran aliran dan mengambil inspirasi dari pengalaman kolektif pendirinya. Pendekatan beladiri yang dikembangkan kamp ini sangatlah ekpansif dan analitis. Bruce cs kerap menonton pertandingan tinju lama, membahas footwork pemain anggar dan berdebat keras tentang kondisi sebuah pertarungan jalanan yang pernah mereka alami. Dalam proses ini, Bruce Lee mulai menyusun sebuah sistem bela diri baru. Pada Long Beach Tournament di 1964, Bruce memberikan sebuah demonstrasi bela diri di hadapan publik bela diri. Dalam kesempatan ini, Bruce mengejek "kuda-kuda tengah" sebagai teknik busuk ("tak stabil dan tak mudah bergerak"). Guna memberangus praktisi beladiri kapiran, Bruce juga berdalih bahwa tiap murid bela diri harus memiliki pendekatan bela diri. Intinya, pelaku bela diri harus mementingkan teknik-teknik yang efektif (bagi diri mereka). Respon yang didapat Bruce Lee beragam. Sebagai menganggap Bruce visioner dalam dunia bela diri. Sebagian lagi memandangnya sebagai tukang bikin masalah yang besar mulut ("si bangsat arogan," seperti kata seorang peserta Long Beach Tournament). Dengan semua cara pandang dan perilaku seperti ini, Bruce mulai memasukkan istilah "pertarungan jalanan ilmiah" dalam tiap demonstrasi publik yang dia lakoni. Tak ayal, opininya kian membentangkan jarak antara dirinay dengan para praktisi bela diri di kawasan Pecinan San Fransisco. Salah satu guru kung fu di kawasan ini menyebut Bruce Lee sebagai "buronan berperangai buruk." Dalam demonstrasi di hadapan penonton kawasan Pecinan, Bruce terang-terangan mengkritik guru-guru kungfu setempat sebagai "harimau tua ompong."

Iklan

James Lee, petarung jalanan yang menakutkan pada masa mudanya tinggal di Oakland. Bisa dibilang, dialah pencipta bela diri khas Amerika dari era modern. (Foto oleh Greglon Lee)

Tak ayal, sebuah tantangan langsung dilayangkan. Pertarungan bebas di Oakland yang mempertemukan Bruce Lee dan praktisi muda Wong Jack Man adalah salah satu pertarungan bela diri paling ternama dalam sejarah modern. Bruce ternyata dibikin kerepotan. Dia butuh waktu lama untuk menundukkan Wong Jack Man. Bruce memang menang namun dengan cara yang ceroboh. Bukannya puas dengan kemenangan tersebut, Bruce menganggap insiden ini sebagai katalis evolusi diri. Bela diri ciptannya Jeet Kune Do mulai berbentuk tak lama setelah itu. Bruce mengombinasikan berbagai pengaruh yang dia miliki sembari tetap menjunjung prinsip viabilitas dan inovasi yang dijunjung oleh kawan-kawannya di laboratorium bela diri Oakland. Jeet Kune Doo menekankan prinsip bela diri sederhana, langsung dan non-klasik. Dan meski Jeet Kune Do adalah hasil dari riset bela diri Bruce Lee selama satu dekade, Jeet Kune Do tak punya struktur pasti dan didesain untuk terus berkembang. Setengah dekade kemudian, prinsip yang diajarkan Bruce Lee di Jet Kune Do masih relevan dalam lanskap bela diri modern seluruh dunia.

Rekaman Pertarungan Tak Bisa Bohong

Ada beberapa video viral akhir-akhir ini yang menunjukkan petarung MMA mengalahkan praktisi kung fu, lagi-lagi menjadi contoh nyata sudut pandang seni bela diri yang diutarakan Bruce Lee dan banyak praktisi bela diri reformis lainnya. Di sebuah pertarungan di Malaysia, footage video menunjukan praktisi Wing Chun dihabisi, dihajar dan dicekik oleh petarung MMA kurang dari 30 detik. Menonton persiapan sebelum bertanding, sulit untuk tidak berasumsi bahwa si petarung kung fu lebih berfokus meniru gaya Donnie-Yen-sebagai-Ip-Man, alih-alih menyiapkan diri untuk "pertarungan sesungguhnya" yang akan dia hadapi. Video tersebut menunjukkan bahwa beberapa praktisi sangat tercerabut dari realita seni bela diri yang mereka tekuni. Bruce menyebut para praktisi macam ini sebagai "perenang daratan kering," dan berargumen bahwa untuk menjadi seorang petarung, kamu harus menyesuaikan diri dengan pertarungan sesungguhnya, sama seperti seorang perenang harus menyadari realita bahwa dia berada di dalam air dalam. Tentunya, tidak ada video rekaman pertarungan yang menjelaskan isu bela diri ini dengan lebih jelas selain video pertarungan di Cina antara petarung MMA Xu Xiaodong menghajar praktisi tai-chi yang kabarnya punya kekuatan mistik, Wei Lei. Insiden ini menjadi berita internasional dan mengundang banyak perdebatan (sesuai harapan Xu) tentang validitas sistem bela diri di dunia nyata. Konfrontasi muncul dalam bentuk perang mulut di mana Xu secara terang-terangan menyebut kemampuan magis swa-proklamasi Lei sebagai penipuan. Ketika ini berujung menjadi pertandingan nyata, Xu dengan mudah membungkam Wei dalam waktu sepuluh detik.

Iklan

Dalam sejarah, pertarungan semacam ini bukanlah hal baru. Ahli sejarah seni bela diri, Ben Judkins baru-baru ini mengunggah tulisan di situs Kung Fu Tea yang menjelaskan pertarungan lintas-disiplin yang serupa di mana praktisi tai chi kalah dalam sebuah pertandingan publik berskala besar di Cina di 1928. Sebelum internet hadir, era awal UFC di 1990'an juga memberikan banyak materi sebagai bahan penelitian. Di era YouTube sekarang, skenario macam ini sudah tidak lagi menjadi hal yang spesial, karena video pertarungan lintas-disiplin seperti ini sudah sangat sering muncul. Biarpun begitu, nyatanya kemenangan Xu Xiaodong atas Wei Lei lah yang paling banyak menarik perhatian, dan menunjukkan bagaimana masih banyak komunitas seni bela diri yang enggan menjauhkan diri dari mitologi dan tradisi, dan berevolusi menuju seni bela diri berbasis fakta. Sesudah menang telak, Xu malah dikutuk secara terbuka oleh berbagai pihak di Cina, termasuk Asosiasi Tinju Cina dan kantor berita Xinhua. Asosiasi Wushu Cina menyatakan bahwa pertandingan tersebut "merusak moral seni bela diri" (biarpun kedua peserta berpartisipasi atas keinginan sendiri dan pertandingan tersebut dipimpin oleh seorang wasit). Kabarnya pihak pemerintah Cina juga telah menutup blog Xu dan menyensor semua artikel terkait pertandingan tersebut. Reaksi yang negatif dari masyarakat Cina juga membuat Xu harus bersembunyi, setelah mengeluarkan pernyataan: "Saya melawan penipuan, tapi sekarang justru dijadikan target."

Iklan

Efek dari insiden ini merupakan tipikal perilaku "bunuh si pembawa pesan" yang biasanya dimiliki oleh penganut seni bela diri dengan konsep yang keliru. Sama seperti Bruce, Xu bisa saja dengan mudah disebut sebagai "pembangkang dengan sikap buruk" karena memiliki pendekatan yang terus terang. Namun seharusnya "sikapnya yang buruk" tidak menghapus inti dari pesan yang berusaha disampaikan. Reaksi negatif yang diterima merupakan cerita usang dalam sejarah seni bela diri, yang juga menimpa Bruce Lee dan banyak sosok lainnya yang berusaha mengungkap kebenaran. Asal Mula Perdebatan Soal Sisi Praktis Ilmu Bela Diri Sebagian besar praktisi bela diri tidak akrab dengan karya dan karir Tang Hao, namun para sejarawan dan akademisi dalam bidang tersebut keranjingan dengan dirinya. Hal tersebut lumrah adanya, mengingat Tang Hao adalah bapak kajian bela diri modern yang berdasarkan fakta.

Karyanya bermula di era 1920an, di antara ledakan kesusastraan, bela diri Cina adalah lahan empuk untuk pengkajian sejarah yang sadar. Sebagai seorang pengacara dan praktisi bela diri, Tang Hao menulis sejumlah buku dan artikel yang menolak sejarah seputar bela diri Cina sebagai legenda rakyat yang ajaib. Pada 1920, dia menerbitkan Study of Shaolin and Wudang, di mana dia mencoba mendobrak disparitas antara fakta dan legenda dalam sejarah bela diri Cina, dan menyerang, menurut sejarawan Ben Judkins, "sebanyak mungkin target." Dia menolak mitologi seputar Biara Shaolin, dan mengkritik semi mistisme yang lekat pada seni bela diri saat itu. Saat mencoba memisahkan fakta dan mitologi, karya Tang Hao tidak disukai oleh komunita seni bela diri Cina. Alih-alih mereka menanggapi karyanya dengan permusuhan dan amukan; sebagaimana dikatakan oleh kawannya dalam esai memorial, "beberapa praktisi Wudang dan Shaolin membuat rencana untuk menyerang Tang Hao dan memukulinya." Hal ini dicegah saat pihak ketiga yang dihormati mengintervensi. Terlepas dari ketegangan tersebut, Tang Hao tetap menulis dan mempromosikan soal sejarah berbasis bukti dalam seni bela diri Cina selama karirnya. Hampir setahun kemudian, karyanya masih berjaya, meski Tang Hao akan sebal jika tahu betapa banyak praktisi bela diri modern masih percaya dengan mitologi, seperti konsep bahwa seni bela diri Asia berasal dari Biara Shaolin. Hal ini menunjukkan bahwa Bodhidharma telah mewarisi serangkaian latihan berkelahi pada biksu-biksu Shaolin untuk memperbaiki kebugaran mereka di abad ke-5. Ada banyak penelitian akademik yang mengatakan hal sebaliknya (yang para sejarawan menunjukkan faktor-faktor di Cina yang melihat kelahiran gaya berkelahi tanpa senjata sekitar abad ke-16.) Meski demikian, legenda Bodhidharma bertahan hingga 2017, meski itu serelevan ketika seorang atlet Olimpiade olahraga mengutip Zeus sebagai pencetus pertandingan.

Iklan

Sejarawan seni bela diri memandang benang merah dari upaya reformis yang terjalin sepanjang karir Tang Hao dan Bruce Lee. Sebagaimana ditulis sejarawan Brian Kennedy, "Banyak sistem seni bela diri Cina telah menjadi, menurut kata Bruce Lee, 'terhempit dan terdistorsi' oleh banyak ritual berbeda, judul-judul berbeda, teori yang memiliki sedikit basis atau tidak sama sekali di realita, hal-hal pesudo-religius, garis keturunan palsu… Tang Hao, sebagaimana Bruce Lee, menginginkan seni bela diri Cina untuk mengurangi beban tambahan ini."

Dalam sudut pandang ini, Tang Hao dan Bruce Lee mengabaikan kekuatan "magis" Wei Lei, sebagaimana mereka akrab dengan perawatan pasca-kelahi yang dilakukan Xu Xiaodong.

Seishiro Okazaki (tengah barisan paling bawah) setelah mengisi seminar jujitsu di Hawaii, pada 22 Februari 1948. Murid Okazaki sangat banyak, dia sudah melatih ribuan prajurit AS yang bertugas di Honolulu. (Foto oleh Bernice Jay)

Babak Penentuan Perdebatan yang mengikuti kekalahan Wei Lei melibatkan berbagai perspektif yang amat beragam, sebagaimana seni bela diri itu sendiri. Kesehatan, kebugaran, dan budidaya diri adalah alasan yang tepat dan populer untuk menjelaskan mengapa banyak orang melakukan bela diri di abad ke-21. Tapi, soal pertandingan baru-baru ini di Cina, tidak ada kesimpulan soal kelangsungan seni bela diri itu sendiri. Sebagaimana yang pernah ditanyakan Bruce dan rekan-rekannya di Oakland, "Gimana caranya?" Sebagaimana yang pernah diutarakan banyak orang, kekalahan seorang praktisi bukan berarti kegagalan sebuah sistem tertentu. Namun permasalahannya di sini adalah komponen seni bela diri, dan tidak ada kesempatan uji coba untuk seni bela diri Cina dari kekalahan Wei Lei dalam ring. Dalam hal ini, ada preseden bersejarah yang positif. Pada 1922, petinju kelas berat Inggris Carl "KO" Morris tiba ke Kepulauan Hawaii, dan mengeluarkan undangan ke para praktisi seni bela diri Asia untuk menguji keberanian mereka dalam ring. Morris memiliki reputasi suka meremehkan praktisi seni bela diri, dan tatangannya langsung dianggap hinaan terhadap komunitas Jepang imigran di pulau tersebut. Saat itu, Hawaii menjadi lokasi untuk seni bela diri internasional. Berdasarkan tren imigrasi yang ditunjukkan lewat kesempatan ekonomi dalam pulau tersebut, beragam gaya berkelahi Asia masuk ke pulau-pulau dan langsung bercampur. "Hawaii adalah titik peleburan pertama untuk seni bela diri Asia," ujar ahli seni bela diri elektik Dan Inosanto. "Inilah tempat orang Cina melatih orang Jepang, orang Jepang melatih orang Cina, orang Cina melatih orang Filipina, dan orang Hawaii terlibat dalam seluruh seni bela diri ini." (Untuk itu, logis saja bahwa sistem seni bela diri modern kajukenbo lahir di kepulauan Hawaii.) Pejuang Jepang pertama yang menerima tantangan Morris kalah pada ronde pertama. Meski demikian, komunitas seni bela diri Jepang tidak menganggap hal ini bukti atas apapun. Alih-alih, mereka mencari praktisi seni bela diri lokal yang mewakili variasi kultur petarungan Hawaii. Seishiro Okazaki berasal dari keturunan samurai Jepang. Seperti banyak orang lain di masanya, dia bermigrasi ke Hawaii sebagai pemuda untuk mendapatkan kesempatan kerja di ladang tebu di pulau-pulau. Di sana, pada usia 19, ia mulai belajar jujitsu sebagai sarana menumbuhkan kesehatan fisiknya. Dia menghabiskan dua belas tahun berikutnya tidak hanya berlatih jujitsu (di mana dia menguasai tiga gaya yang berbeda), tapi setiap seni bela diri yang bisa dia cari di kepulauan: kung fu dengan seorang master Cina berusia 78 tahun di Kohala, karate dari Okinawa, pemukul pisau Fillipino, gulat barat, dan seni bela diri Hawaii asli lua.

Seishiro Okazaki (duduk) bersama muridnya Wally Jay. Nantinya Jay akan jadi sahabat Bruce Lee di Oakland. (Foto oleh Bernice Jay)

Setelah mengambil tantangan berdiri, Okazaki bersiap untuk bertarung dengan secara proaktif meneliti dan menguji teknik yang bisa diterapkan melawan petinju dengan ukuran dan kemampuan Morris. Dia mengamati pertandingan tinju antara prajurit A.S. di pulau itu untuk merancang sebuah pendekatan yang akan menyesakkan teknik pugilist. Setelah berminggu-minggu penelitian, Okazaki mengembangkan pertarungan pertempuran yang sangat rendah, dengan alasan bahwa petinju cuma pernah sedikit latihan untuk meninju ke bawah. Tepat 19 Mei 1922, Okazaki bertemu Morris di ring untuk pertarungan liar. Di awal babak pertama, Okazaki salah menilai pencapaian Morris dan membuat hidungnya pecah di babak pertama. Meski begitu, dia bangkit kembali dan berhasil melempar Morris keluar dari ring dua kali. Melihat petinju itu menggantungkan jab-nya terlalu lama di babak berikutnya, Okazaki melaju rendah dan melemparkan lawannya ke matte dalam sebuah langkah yang tampaknya mematahkan lengan Morris di tempat. Dengan rendah hati setelah kemenangannya, Okazaki mengunjungi Morris di rumah sakit. Kemudian, Morris akan belajar jujitsu di kelas Okazaki selama sisa masa tinggalnya di Hawaii. Tantangan Xu Xiaodong terhadap komunitas bela diri tradisional Cina tidak berbeda dengan yang dipandu Morris ke orang Jepang di Hawaii sekitar 90 tahun sebelumnya. Alih-alih menyensor sudut pandang Xu atau mengemukakan alasan kosong untuk kehilangan Wu Lei, komunitas bela diri tradisional Tiongkok sangat ingin mendapatkan petarung baru untuk mencapai tantangan tersebut. Beberapa telah menawarkan, namun negara tampaknya puas dengan Xu yang menegur publik. Seishiro Okazaki tidak mengalahkan Carl Morris dengan mitos atau trik sulap. Dia menang melalui penelitian, analisis mendetal, dan kesiapan bertarung hidup mati; Intinya, semua hal yang oleh Bruce Lee dicirikan sebagai "pertempuran jalanan secara ilmiah." Pesan Bruce Lee ini terus relevan sampai sekarang.

Charles Russo adalah seorang wartawan lepas di San Francisco. Artikel ini mengandung nukilan bukunya, Striking Distance: Bruce Lee and the Dawn of Martial Arts in America.

Ilustrasi oleh Andrew Strawder.