FYI.

This story is over 5 years old.

Sains Tuntaskan Misteri

Misteri Batu Bergerak di Gurun Mengusik Ilmuwan Selama 70 Tahun Terakhir

Ga usah ilmuwah deh. Semua orang yang melihat fenomena “batu berjalan” di gurun Death Valley pasti ikutan tergelitik.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Pernah lihat batu bergerak? Maksudku, batu bergerak sendiri, bukan karena dilempar orang. Batu ini bergeser gitu di permukaan datar atas kemauan sendiri. Kecuali kamu lagi giting, aku rasa siapapun belum pernah melihat batu jalan-jalan. Tapi batu-batu yang bisa bergerak sendiri ini benar-benar ada. Fenomena ini membuat ilmuwan kebingungan selama lebih dari tujuh dekade. Racetrack Playa adalah cekungan gurun luas di tengah-tengah Gurun Death Valley, Taman Nasional Amerika Serikat. Gurun ini dikelilingi bukit-bukit tinggi dan berbatu dan, ratusan tahun lalu, sempat dipenuhi air meski sekarang dasar danau ini kering kerontang. Ini adalah salah satu tempat terpanas, tergersang, dan terendah di Amerika Utara, dan menjadi rumah bagi "batu-batu bergerak". Barulah pada 2014 ilmuwan mengungkapkan alasan sebenarnya bebatuan ini bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain: sebuah kombinasi unik dan tak biasa atas pengaruh es, angin, dan matahari. Sangat langka bagi manusia untuk bisa melihat batu-batu ini bergerak. Namun tandanya jelas bahwa mereka berpindah. Di balik batu-batuan ini adalah jalan setapak panjang dan terkadang berkelok. Para ilmuwan menggunakan unit-unit GPS untuk melacak pergerakan batu-batuan ini, dan telah membuktikan bahwa batu-batuan ini bergerak. Batu-batuan ini pertama kali didokumentasikan pada awal 1990'an. Selama berdekade-dekade, tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana batu-batuan ini berpindah. Jawabannya diperoleh Richard Norris, ahli kelautan dari University of California San Diego. Dia salah satu peneliti yang akhirnya mengungkap misteri batu-batuan ini.

Sumber foto: wikimedia commons.

"Penelitian ilmiah pertama dilakukan pada 1948, lalu ada serangkaian makalah ilmiah lanjutannya," kata Norris. "Setiap sekitar sepuluh tahun seseorang merilis makalah baru soal Racetrack, namun tidak ada yang mengandalkan karir ilmiah mereka pada jenis pekerjaan yang ini. Batu-batu yang bergerak merupakan misteri yang seru banget." Norris menyadari keunikan bebatuan ini sejak masih anak-anak. Pamannya, seorang ahli geomorfologi di UC San Diego, suka mengadakan kunjungan lapangan ke danau kering ini. Norris dan sepupunya akan ngintil sang paman. Saat dewasa, dan setelah masing-masing menjadi ilmuwan, Norris dan sepupunya memutuskan mereka perlu mencoba memecahkan misteri bagaimana bebatuan ini bergeser. Lalu mereka merancang sebuah percobaan. Penelitian sebelumnya telah memproduksi hipotesis soal bagaimana batu-batuan ini bergerak. Sebagian orang menduga penyebabnya adalah angin kencang, sebagian lainnya percaya es terbentuk di sekitar batu-batuan sehingga menjadi ringan. Ada juga beberapa teori yang tak teralalu ilmiah, seperti levitasi akustik—kepercayaan bahwa suara bisa menggerakkan objek-objek berat. Untuk memastikan, Norris dan sepupunya melekatkan unit-unit GPS yang dirancang khusus, pada bagian belakang batu-batuan yang mereka bawa ke gurun Death Valley (National Parks Service tidak mengizinkan mereka bereksperimen dengan batu-batuan yang sudah ada di sana sebelumnya). Mereka juga memasang stasiun cuaca, lalu… mereka menunggu. Dibutuhkan waktu dua tahun, namun akhirnya, batu-batuan itu bergerak juga! Norris dan sepupunya, sepenuhnya atas kebetulan, bisa menyaksikan momen batu-batuan itu bergerak. Para peneliti itu mendiskusikan temuan mereka dalam makalah yang diterbitkan di PLOS One. Mereka menemukan data, saat hujan turun deras cukup ke dasar cekungan dan menggenang, dan suhu cuaca turun, airnya membeku menjadi banyak lembaran es tipis di sekitar batu-batuan—yang kemudian jatuh ke cekungan dari lereng sekitar. Nah, saat sinar matahari mencairkan es tersebut, kalau ada angin sepoi-sepoi dingin, es tersebut akan bergerak sehingga batu-batuan bergerak pula. "Es ini setebal kaca jendela," ujar Norris. "Meskipun es ini sangat tipis, ini tetaplah lembaran es yang sangat amat besar. Jadi seperti dipindahkan secara tak terhindarkan gara-gara embusan angin, dan angin ini bisa menggerakkan hal-hal besar—dan banyak batu." Hasilnya mengejutkan Norris dan banyak ilmuwan lainnya, namun hal ini adalah fenomena yang sudah dijelaskan lewat peristiwa batu bergerak lainnya di keliling dunia. Meski ini bukan penjelasan mistis yang diharapkan banyak orang, penjelasan di atas tak membuat peristiwa ini kurang greget. "Sains amat menggembirakan ya," ujar Norris.