girl power

'Petualangan Sherina' Mengajarkanku Cara Jadi Perempuan Independen

Plus, roknya Sherina di film itu keren banget!!!
28.8.17

Bagi satu generasi anak Indonesia, Petualangan Sherina adalah segalanya. Bukan hanya karena itu adalah karya Riri Riza yang paling dikenal, Petualangan Sherina adalah film musikal pertama di Indonesia yang memasang anak-anak sebagai pemeran utama.

Pas pertama kali film ini keluar di bioskop, aku merengek-rengek di depan ortu minta diajak ke bioskop lagi biar bisa nonton film ini dua kali. Aku akui waktu itu bocah kecil penuh drama dan film ini membuat aku merasakan banyak hal. Karya Riri Reza suskes membuatku ingin melihat kereta lewat sambil bersenandung dan menari bersama teman sehabis pulang sekolah, padahal stasiun kereta terdekat jaraknya 1 jam jalan kaki. Film yang sama juga bikin aku dandan mati-matian biar terlihat abis seperti Sherina dengan seragam pramuka.

Iklan

Kini setelah dewasa, aku baru sadar bahwa film ini meredefinisi rasanya menjadi seorang perempuan muuda.

Kalau kamu tinggal di luar negeri atau terlalu muda ketika film ini dirilis 17 tahun silam, biar aku kasih ringkasan ceritanya: Sherina M. Darmawan adalah anak SD yang tinggal bersama ayah dan ibunya. Cerita film ini bermula ketika keluarga harus pindah ke Bandung dari Jakarta, sebuah keputusan yang awalnya bikin Sherina bete.

Sejak menit-menit awal film ini, penonton film bisa menyimpulkan orang tua Sherina memperlakukannya bak orang dewasa. Jadi, enggak aneh kalau Mathias Muchus dan Uchi Nurul adalah pasangan ortu favoritku sepanjang masa di layar perak. Keduanya enggak berusaha jadi "cool," tapi kamu bakal tahu kalau mereka keren dari dinamika keluarga kecil ini. Aku masih ingat pernah mendambakan hubungan macam ini dengan ortuku sendiri. Hubungan Sherina dan ortunya akan membuat tiap anak merasa terlibat sama keluarga, karena sering disertakan dalam proses pengambilan keputusan. Tahu sendirilah, banyak anak yang tak diajak berunding soal keputusan penting keluarga, karena dianggap masih anak bawang.

Hari pertama Sherina masuk sekolah barunya, dia bertemu lelaki bernama Saddam yang brengseknya enggak ketulungan. Saddam itu jenis anak yang bisa tiba-tiba bengis tanpa alasan jelas dan tak ada yang berani atau melaporkan perilaku Saddam yang brengsek ke guru-guru. Tipikal lah. Saddam punya dua antek yang sama sengaknya, Namanya Dudung dan Icang. Keduanya menyanjung Saddam bak Kingpin penguasa SD Lembang. "Kekejian" pertama Saddam di film ini: mengolok-olok nama tengah Sherina.

Iklan

Tapi, Sherina, jagoan kita, melawan dan keduanya jadi musuh bebuyuyan. Persaingan antara keduanya membelah sekolah ke dalam dua kubu besar. Adegan yang menggambarkan pertentangan dua kubu ini melahirkan lagu soundtrack pekelahian paling keren dalam sejarah perfilman Indonesia: "Jagoan".

Sebelum ngobrolin plot film ini lebih jauh, kalian sudah liat betapa seksisnya Saddam? Saking seksisnya, line Sadddam dalam lagu begini bunyinya , "Yang namanya jagoan biasanya nggak pake rok!". Apa-apaan coba? Maksudku, pakai rok itu keputusan yang butuh keberanian kan. Berani taruhan deh, cowok kayak Saddam pasti belum pernah nyoba pake rok di transportasi publik, sarang laki-laki brengsek.

Faktor kedua, Sherina tetaplah jagoan. Peduli amat si Saddam setuju atau enggak. Enggak ada yang bisa memerintah Sherina. Wong bapaknya saja membiarkan Sherina pasang plester di tangan dan kakinya cuma buat gaya-gayaan. Omong-omong, Saddam itu makhluk macam apa sih? Yang jelas, kelihatan banget kalau dia cuma anak mama yang manja. Jangan lupa, bapaknya Saddam punya perkebunan teh berukuran luas di kawasan Lembang. Itulah perkebunan yang dikelola oleh ayah Sherina. perkebunan itu juga yang bikin Sherina sekeluarga pindah ke Bandung.

Saddam (di tengah) dan anak buahnya.

Sherina akhirnya tahu semua fakta soal Saddam. Sherina lalu membalas Saddam habis-habisan dalam lagu" Anak Mami," yang membongkar fakta penting, Saddam cuma anak lelaki kaya yang sok-sokan. begini liriknya: "Siapa sangka di sekolah, jago berkelahi / Siapa sangka di sekolah, dia galak sekali / Tapi di rumah harus dijaga mami.

Lagu ini bisa dibilang jari tengah terhadap ekspektasi masyarakat Indoensia tentang bagaimana seharusnya perempuan bersikap—yaitu wajib jaga sikap dan malu-malu, ketika diperlakukan kayak tai sama orang lain. Lalu, Saddam sendiri, yang aslinya cuma tukang bully kecil-kecilan, justru anak alim di rumah. Cerita ini membuktikan adanya tekanan bagi anak lelaki untuk selalu terlihat gagah.

Tak lama berselang, Sherina dan Saddam harus menghabiskan akhir minggu bareng, jalan-jalan di perkebunan bapaknya Saddam atau lahan belakang rumahnya. Celakanya, mereka jalan-jalan terlalu jauh sampai-sampai diculik oleh beberapa anak buah Kertarajasa yang berniat mengambil alih bisnis bapaknya Saddam. Ini jelas-jelas salahnya Saddam. Kalau dia saja enggak bisa ngajak tamu jalan-jalan di belakang rumahnya, terus anak lelaki brengsek ini bisa apa dong?

Iklan

Untungnya karma memang ada, setidaknya di Petualangan Sherina. Saddam jadi orang yang pertama kali diculik. Saat itu, Sherina harusnya lari menyelamatkan diri dan mulai menikmati hidup tanpa kulit yang baret-baret selama 50 tahun ke depan. Tapi, namanya juga jagoan, Sherina malah menggalang misi menyelamatkan Saddam, lagi-lagi ngebuktiin kalau dirinya adalah jagoan sejati.

Perempuan seringkali terpaksa berurusan dengan laki-laki yang memperlakukan kita kayak tai, tapi ujung-ujungnya masih butuh bantuan kita untuk memperbaiki situasi. Jadi, tentu saja, Sherina terjebak dalam situasi yang sama. Saddam adalah laki-laki brengsek, tapi sekarang Sherina harus menyelamatkannya. Selama berhari-hari, Sherina hanya makan cokelat M&M dalam wadah Tupperware-nya. Tapi ya, tetap saja dia bisa bikin semua adegan itu terlihat galmor. Adegan-adegan ini adalah awal tren membawa bekal M&M ke sekolah selama enam bulan pada tahun 2000. Anyway, selain urusan M&M, tebak siapa yang harus menyelamatkan laki-laki sok macho karena dia meninggalkan inhaler asma di rumah karena takut terlihat lemah? Ya Sherina. Siapa lagi.

Sherina berhasil membawa Saddam ke Bosscha, yang dekat dengan perkebunan.

Setelah berhasil menghindari mara bahaya, mereka memutuskan beristirahat di sana dan nontonin bintang-bintang, tapi bahkan setelah serangan asma, si Saddam masih punya energi buat mansplain Sherina soal perbedaan antara planet dan bintang. Kayaknya nih, cita-cita Saddam itu untuk membuat Sherina menderita. Pas matahari terbit, dan begitu pula dengan Stockholm Syndrome, Sherina memutuskan mengecup dahi Saddam. Duh, sebel banget ngeliatnnya. Tapi ya ini adalah bukti Sherina hanya manusia. Geng, inget ya: kecupan di dahi itu hanya untuk orang-orang yang memperlakukan kita dengan baik. Sherina pada akhirnya kembali ke rumah dengan Saddam, tepat waktu untuk menghentikan ulah Kertarajasa. Kita bisa lihat dari awal bahwa istri Kertarajasa, Sus Natasya—yang sampai sekarang masih menjadi ikon fesyen favoritku—hanya pura-pura baik. Setelah semua drama penculikan berakhir, anak-anak disambut peluk hangat orangtua, dan tentunya tidak ada yang berterima kasih pada Sherina karena menjadi pahlawan.

Lalu Sherina dan Saddam balik ke sekolah. Mereka udah kelar berantem, dan sistem feodal yang mengakar di SD Lembang lenyap selamanya. Apa mesti seseorang diculik dulu, supaya bisa berubah menjadi orang lebih baik? Sayangnya, iya. Tapi yang jelas, butuh bantuan seorang perempuan ksatria dengan sekotak M&M, yang tidak selalu dimiliki kita semua.

Sherina adalah karakter perempuan pertama dalam film yang bisa relate banget sama aku. Sebelum Sherina, aku cuma ngefans sama karakter Lex, dari Jurassic Park, atay Kiara dari The Lion King—tapi Kiara bukan manusia. Sherina cerdik dan pemberani. Dia bisa nyanyi, bisa main piano, tapi dia juga bisa jadi jagoan. Karakternya menunjukkan bahwa perempuan muda lebih dari sekadar stereotipe penurut dan feminin. Dia membuat saya merasa ada tempat di dunia ini untuk perempuan-perempuan yang berperilaku berbeda.

Setidaknya, aku sekalian belajar satu fakta penting: kalau kamu cerdas dan baik hati, tetap aja ada laki-laki model Saddam di hidupmu. Tidak banyak yang bisa dilakukan soal ini kecuali menyatakannya dengan lantang ketika kita menyaksikan ketidakadilan. Percaya aja sama diri sendiri, jangan mau ditai-taiin.

Tujuh belas tahun lalu, aku jatuh cinta sama Petualangan Sherina. Dari film ini, aku belajar film tak berubah: dengan atau tanpa rok, kita harus berani jadi jagoan.