Di Cina, Tencent Terpaksa Ganti PUBG dengan Game yang Lebih Nasionalis

Judulnya 'Game for Peace', sangat mirip dengan 'PUBG' tapi tidak terlalu mempromosikan kekerasan karena ada muatan bela tanah air.
10.5.19
Di Cina, Tencent Terpaksa Ganti PUBG dengan Game for Peace yang Lebih Nasionalis
Sumber gambar: Tencent

Kabar buruk bagi gamer mobile di Tiongkok: Tencent sepenuhnya menghapus game Playerunknown's Battlegrounds (PUBG) dari Google Playstore ataupun App Store. Sebagai gantinya, game tembak-tembakan beregu itu digantikan permainan alternatif yang lebih "patriotis" dan tidak seganas PUBG.

Rezim Negeri Tirai Bambu mulai Maret 2018 sempat menyetop izin penyebaran konten PUBG di aplikasi ponsel. Akibat keputusan itu, Tencent—sebagai pemilik 40 persen pengembang PUBG, Epic Games.—tidak bisa mengkomersialisasi game tersebut. Pemblokiran ini dibatalkan akhir tahun lalu lalu, walau dengan aturan tambahan.

Pemain di bawah usia 18 di Tiongkok disarankan istirahat dulu jika sudah main tiga jam berturut-turut. Kalau ngotot masih main terus selepas tiga jam, gamenya tidak dikunci, tetapi progresi dalam game menjadi sangat terbatas.

Menurut laporan kantor berita Reuters, supaya tidak bermasalah dengan aturan pemerintah, Tencent akhirnya menghadirkan game yang sepenuhnya berbeda. Keputusan ini disampaikan lewat postingan di Weibo, media sosial mirip Twitter khusus melayani pasar Cina. Perusahaan teknologi ini menggantikan PUBG dengan game "baru", bertajuk Game for Peace.

Game for Peace berhasil memperoleh “izin monetisasi” dari pemerintah Tiongkok sejak April 2019, hal yang tak pernah sukses didapat Tencent lewat PUBG. Lantas, kenapa Beijing tiba-tiba melunak? "Game for Peace dan PUBG MOBILE merupakan dua game berbeda," kata seorang juru bicara PUBG Corp saat dihubung VICE.

Tapi, jawabannya tidak semata-mata hanya itu. Game for Peace mengusung nilai-nilai yang sesuai dengan propaganda Tiongkok, walaupun dari segi permainan sama persis. Pengamat game IHS Market, Cui Chenyu, saat dihubungi Reuters menyatakan game baru ini “sangat mirip” dengan PUBG, bahkan desain levelnya sama.

"Esensi kedua game ini sebetulnya sama," ujar Daniel Ahmad, pengamat video game dari lembaga analisis konsumen Niko Partners, membenarkan kesimpulan di atas kepada VICE.

"Sedikit perbedaanya Game for Peace diiklankan sebagai game latihan militer (hasil kerjasama Tencent dan Angkatan Udara Republik Tiongkok) dan tidak memakai format tradisional Battle Royale. Game baru ini juga tidak mengandung penggambaran darah dan kematian penuh kekerasan. Ini game pertama yang akan memanfaatkan sistem ‘gaming sehat’ dari Tencent yang tidak memperbolehkan pemain di bawah usia 16 memainkan gamenya tanpa izin orang tua."

Jika menilik komentar para pengguna Weibo, yang diterjemahkan Reuters, apapun pencapaian kita dalam PUBG bisa langsung ditransfer ke Game for Peace. (PUBG merupakan game gratis, tetapi pemain bisa mengumpulkan poin dan mata uang dalam game agar dapat menyelesaikan misi. Dengan poin-poin ini, para pemain dapat memperoleh “hadiah” perlengkapan dan pakaian untuk tokoh mereka.)

Ada juga gamer yang membenarkan bila Game for Peace tidak mengandung kekerasan seperti PUBG. "Kalau kamu menembak seseorang, lawanmu enggak berdarah, tapi dia malah berdiri lagi,” tulis salah seorang pengguna Weibo. Ternyata memang begitu. Cuplikan dari Game for Peace mulai beredar di media sosial dan YouTube. Jika keluar dari game, para pemain tidak bisa menyimpan semua items yang diperoleh.

"Keputusan untuk mencabut game macam PUBG yang suksesnya luar biasa demi menguangkan tren battle royale membuktikan bahwa perusahaan besar terpaksa menyesuaikan diri dengan keinginan Tiongkok," demikian kesimpulan pengamat industri game dari IHS Market kepada VICE melalui email. "Kompromi ini pasti akan berdampak pada game-game lain, seperti Apex Legends, yang masih berusaha menembus pasar game Tiongkok."

Game for Peace menurut Tencent semangatnya adalah permainan anti-terorisme. Ada nilai "menghormati prajurit yang melindungi ruang udara negeri kami." (Klaim patriotik ini sedikit membingungkan, karena pertempuran dalam game PUBG ataupun Game of Peace berlangsung di darat. Pemain di Game of Peace juga tidak menerbangkan pesawat.)

Lembaga monitoring pasar Shorthouse menilai penyesuaian konten game yang masuk pasar Tiongkok akan jadi norma di masa mendatang. "

Bakal jauh lebih sulit bagi pengembang internasional mengakses pasar game seluler Tiongkok," ujar juru bicara Shorthouse dalam keterangan tertulis. "Setiap game harus disesuaikan agar dapat memenuhi permintaan pemerintah Tiongkok. Penyesuaian ini memakan banyak uang dan waktu, dan banyak pengembang game mungkin tidak rela mengambil risiko itu. Segregasi Tiongkok dari pasar game seluler global akan berlanjut dan menjadi semakin intensif."

Bagaimanapun, kompromi Tencent tampaknya terbayar lunas. Berkat izin monetisasi Game for Peace, Tencent bisa meraup banyak duit, mengingat besarnya pasar konten seluler di Cina. Investor pun berpikiran serupa. Hanya beberapa jam setelah game itu dirilis, Reuters melaporkan jika nilai saham Tencent naik dua persen.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard