Diskografi Cocteau Twins, Band Pelopor Musik Dream Pop Menghipnotis
Ilustrasi diskografi Cocteau Twins oleh Esme Blegvad 
Panduan Noisey

Panduan Menyelami Cocteau Twins Buat Pemula, Pelopor Musik Dream Pop Menghipnotis

Musik Cocteau Twins bakal bikin kalian mengawang-awang. Masalahnya band ini punya 8 album, belum termasuk EP. Tenang, kami sediakan panduan agar kalian efektif menyelami diskografi mereka.
JG
London, GB
EB
ilustrasi oleh Esme Blegvad
1.5.20

Tidak jauh dari kampung halamanku di Skotlandia, terdapat Grangemouth, salah satu kota paling buruk rupa di dunia. Di kota itu ada banyak kilang minyak yang selalu menyemburkan api dan asap bagai awan gelap beracun. Dalam bayangan saya semasa kecil, kota ini tidak beda jauh dengan gambaran neraka. Karena itulah saya selalu heran mengapa band dengan musik indah seperti Cocteau Twins bisa muncul dari tempat suram macam Grangemouth.

Iklan

Cocteau Twins dibentuk Robin Guthrie dan Will Heggie pada 1979. Elizabeth Fraser bergabung setelah dilirik Guthrie ketika sedang berdansa di sebuah kelab malam kotanya. Banyak yang tidak tahu kalau nama band ini bukan mengacu pada seniman dan penulis Perancis, Jean Cocteau. Alih-alih, nama mereka diambil dari sebuah lagu berjudul "Cocteau Twins" karya Johnny and the Self Abusers.

Musik Cocteau Twins di awal karier mereka merefleksikan estetika akhir dekade 70'an. Debut album Garlands (1982, dirilis ulang pada Maret 2020) menampilkan post-punk berkarakter moody yang dipengaruhi band macam The Birthday Party, Bauhaus, dan Siouxsie and the Banshees. Cocteau Twins mulai menawarkan sound khas mereka—suara gitar bening mengawang dan vokal halus yang membuatmu serasa terbang lewat album kedua Head Over Heels yang dirilis 1983.

Seiring waktu, Fraser dan Guthrie mulai menjalin hubungan asmara. Kolaborasi keduanya mematangkan konsep musik Cocteau Twins sepanjang era 80'an, sampai akhirnya band ini memperoleh kesuksesan mainstream lewat album Blue Bell Knoll (1988), terutama berkat popularitas single utamanya "Carolyn’s Fingers" di radio-radio Inggris serta Amerika Serikat.

Tiga album Coctea Twins berikutnya selalu direspons positif penikmat maupun kritikus musik (Fraser bahkan sempat digambarkan seorang kritikus musik sebagai “Pemilik Suara Malaikat”). Band ini akhirnya bubar pada 1997, disebabkan karena berakhirnya hubungan percintaan Guthrie dan Fraser.

Iklan

Putusnya pun tidak baik-baik. Pada 2005 lalu, Fraser sampai mundur dari acara reuni Cocteau Twins di Festival Coachella, yang seharusnya menghasilkan bayaran masing-masing 1,5 juta Pound Sterling (setara Rp29 miliar). Alasannya karena Fraser tidak sanggup berbagi panggung dengan mantan kekasihnya.

Selepas bubarnya Cocteau Twins, Fraser sempat mengisi vokal beberapa track di album Massive Attack, Mezzanine, termasuk untuk hit single mereka "Teardrop" (kayaknya enggak banyak musisi lain yang berkontribusi segitu besarnya pada "musik-musik yang cocok didengarkan pada malam hari" seperti Fraser).

Sementara itu, Robin Guthrie meneruskan cetak biru karakter sound Cocteau Twins dan membawanya ke arah yang lebih eksperimental. Guthrie merilis beberapa album instrumental dan menulis scoring film. Musik latar yang dia bikin untuk film Mysterious Skin, dikerjakan bersama komposer Amerika Serikat dan mantan kolaborator Cocteau Twins, Harold Budd, terdengar sangat megah dan sedih secara bersamaan.

Cocteau Twins dicintai banyak musisi tenar, di antaranya Prince hingga Madonna. Fakta kalau mereka terkenal di kalangan pesohor cukup unik, mengingat band ini selalu berusaha low-profile. Mereka tidak pernah bergaul sama seleb, tidak juga berlagak punya sikap politis agar diliput media, atau menawarkan estetika yang mudah dicerna. Di luar musik, tidak banyak aspek lain yang membuat kehidupan para personelnya menarik dibahas media.

Iklan

Malah, Fraser pernah mengejek upaya jurnalis musik yang berusaha menggambarkan musik Cocteau Twins dengan kalimat berbunga-bunga. "Hal yang menurut saya lucu adalah jurnalis selalu mengatakan kalau musik Cocteau Twins sulit dianalisa atau digambarkan dengan kata-kata, tapi kemudian menulis: musik band ini mengawang, agung, bla bla bla…"

Berhubung ketika menulis artikel ini saya sampai googling "sinonim kata mengawang", saya merasa diserang juga nih sama doi, hahahaha. Tapi ya tidak apa-apa. Setidaknya, sekarang saya ingin membantu para pemula yang tertarik mendalami diskografi Cocteau Twis. Berikut panduannya:


SISI GOTHIC DAN POST PUNK COCTEAU TWIN

Album debut Cocteau Twins bertajuk Garlands merusak asumsi saya yang sempat berpikir, "kok bisa ya band kayak gini datang dari kota yang buruk?". Soalnya, sound yang mereka tampilkan di album tersebut sangat cocok dengan kota Grangemouth. Nuansanya klaustrofobik dan tidak harmonis, dan tidak banyak momen “cantik” seperti di album-album mereka lainnya.

Chorus di “Blind Dumb Deaf” menawarkan secercah momen manis yang nantinya menjadi ciri khas Cocteau Twins, tapi tetap terdengar suram dan moody. Di nomor “The Hollow Men”, potensi riff bass pembuka yang menonjol sayangnya lagi-lagi diisi dengan kemuraman dan nada-nada tidak harmonis sepanjang lagu. Buat saya, Garlands terasa menekan. Ini tentunya opini subjektif dan pastinya banyak orang lain yang menganggap album ini sebagai karya terbaik mereka.

"Feathers Oar Blades" dari EP mereka berikutnya Lullabies terdengar lebih menjanjikan. Ada riff gitar dan riff bass yang kuat. Cocteau Twins agak ngerock di sini, dan hasilnya seru banget. Mungkin ini satu-satunya lagu Cocteau Twins yang bisa dibuat moshing, biarpun mosh-nya tetap diam-diam dan sopan. Di sini vokal Elizabeth Fraser juga terdengar agak dingin dan cuek, yang kontras dengan gaya vokalnya nanti yang lebih emosional.

"Peppermint Pig", track yang menjadi judul dari EP yang dirilis pada 1983, secara mengejutkan terdengar agresif. Mengingat betapa mengawangnya materi mereka nanti, kita kerap lupa bahwa Cocteau Twins muncul dari kancah post-punk, tapi di sini itu terdengar jelas. Kalau kamu suka Siouxsie and the Banshees, kamu pasti menyukai materi Cocteau Twins di era ini.

Iklan

Playlist: "Feathers Oar-Blades" / "Blind Dumb Deaf" / "Peppermint Pig" / "Hazel" / "Wax and Wane" / "The Hollow Men" / "Garlands" / "When Mama Was Moth" / "But I'm Not" / "Musette and Drums" / "Laughlines"


LAGU-LAGU MENYENANGKAN DAN CERIA DARI COCTEAU TWINS

Ada lagi enggak sih band dengan musik indah, yang punya judul-judul lagu sekonyol "Fluffy Tufts" atau "Frou-frou Foxes in Midsummer Fires?" Apa pula itu artinya judul “Great Spangled Fritillary”? Biarpun musiknya sarat emosi, Cocteau Twins ternyata punya sisi yang tidak selalu serius. Playlist berikut ini menyajikan sisi tersebut. Isinya penuh lagu-lagu aneh yang menyenangkan, dengan vokal Elizabeth Fraser yang benar-benar bebas bereksplorasi, dan cocok dipakai untuk berdansa manasuka.

Perkara kamu paham lirik yang dinyanyikan Elizabeth Fraser atau tidak, kurang penting. Ambiguitas lirik Fraser merupakan pilihan artistik yang sebaiknya kita nikmati saja.

Ketika membahas proses penulisan lagu di album 1986, Victorialand, Fraser mengatakan "inspirasi lirik-lirik tersebut adalah kata-kata yang saya temukan di kamus dan buku-buku bahasa asing yang tidak saya mengerti. Kata-katanya tidak memiliki makna sebelum dinyanyikan." Faktanya, metode penulisan lagu yang unik ini datang dari ketidakpedean Fraser menulis lirik secara konvensional. "Setelah dipikir-pikir lagi, konsep abstrak adalah alat bantu utama saya menulis lirik. Saya enggak pede menulis lirik yang bercerita secara gamblang. Saya selalu menghindari hal seperti itu."

Walau lirik Fraser terdengar seperti racauan ngasal, tapi ketika didengar memiliki efek yang menyenangkan. Misalnya "Orange Appled", yang diisi repetisi riff bass dan vokal ekstatik—ini adalah contoh karya Cocteau Twins yang cocok didengarkan ketika kamu sedang jalan-jalan di taman di hari yang terik. "Pitch the Baby" menampilkan salah satu penampilan vokal Fraser yang paling lepas dan memuaskan. Lagu “Multifoiled” mungkin agak sedikit terlalu galau untuk masuk ke kategori ini, tapi toh lagunya memang funky.

Diambil dari album Treasure (1984), musik “Ivo” sebenarnya terdengar sangat megah seperti opera, tapi jadinya konyol akibat vokal latarnya yang absurd. Tapi tetap bagus kok lagunya. Oh iya, sori-sori nih, tapi cover buruk mereka “Frosty the Snowman” juga saya masukan ke sini, karena menjadi bukti bahwa Cocteau Twins enggak selalu serius.

Iklan

Playlist: "Orange Appled" / "Pitch The Baby" / "Multifoiled" / "Ivo" / "Wolf In The Breast" / "Those Eyes, That Mouth" / "Mellonella" / "Frosty The Snowman" / "Suckling The Mender"


SISI EROTIS DAN EKSPERIMENTAL DARI COCTEAU TWINS

Saya sebelumnya enggak pernah membayangkan Cocteau Twins sebagai band yang punya sisi erotis. Rupanya sepanjang dekade 1980'an, mereka rupanya sering sekali dikirimi video porno bikinin penggemar yang diiringi musik mereka. Suka-sukalah ya. Kalau kamu bersikeras ingin bercinta ditemani musik Cocteau Twins, playlist ini cocok buatmu, biarpun kamu harus siap akan ada momen-momen yang aneh di tengah lagu-lagu berikut.



Playlist ini menampikan lagu-lagu dari seluruh karier band, tapi sebagian besar diambil dari dua album mereka paling ambient. Yang pertama adalah The Mood and the Melodies (1986), sebuah album semi-instrumental hasil kolaborasi dengan komposer Harold Budd. Victorialand, yang dirilis di tahun yang sama, merupakan album minimalis yang mereduksi sound Cocteau Twins yang megah menjadi vokal dan gitar-gitar tipis saja.

“Why Do You Love Me” masih terdengar segar. Menggunakan teknik feedback yang terdengar seperti siren ambulans, nomor ini mengingatkanku dengan soundtrack Mica Levi untuk film Under the Skin. Jujur, satu album The Mood and the Melodies layak didengar secara penuh sih.

Lagu-lagu dari penghujung karir mereka, seperti “Essence”, “Rilkean Heart” dan “Evangeline” terdengar lebih melodius (alias ngepop) tapi tetap memiliki kualitas mengawang yang sama seperti di puncak karirnya. Terakhir, biarpun sebetulnya bukan lagu Cocteau Twins, saya memasukkan cover This Mortal Coil untuk lagu Tim Buckley “Song to the Siren”, karena nomor ini menampilkan salah satu penampilan terbaik vokal Fraser

Iklan

Playlist: "Why Do You Love Me?" / "The Ghost Has No Home" / "Memory Gongs" / "Fluffy Tufts" / "Oomingmak" / "The Thinner the Air" / "Frou-frou Foxes In Midsummer Fires" / "Evangeline" / "Essence" / "Pandora" / "Rilkean Heart" / "Song To The Siren" / "Beatrix"


KALAU INI LAGU-LAGU COCTEAU TWINS PALING EMOSIONAL, AGUNG, DAN TRANSENDEN

Sebagai band yang memiliki reputasi "mengawang", Cocteau Twins menciptakan banyak chorus yang sulit dilupakan. Misalnya “Pearly Dewdrops’ Drops,” yang menampilkan reff menyenangkan ‘dizzy, dizzy, dizzy, paddy, paddy, paddy, bicycle and tulips….,’ ya kayak gitulah.

Playlist ini menampilkan lagu-lagu hits, dan single-single mereka yang mungkin pernah kamu dengar kalaupun kamu tidak mengikuti diskografi Cocteau Twins. Ini adalah lagu-lagu yang cocok didengarkan di mobil sambil muter-muter bersama teman-temanmu yang aneh, memimpikan esok yang lebih baik. Nomor-nomor ini bisa membuat aktivitas membosankan sehari-hari seperti naik bis ke kantor memiliki kualitas sinematik penuh melankoli.

Playlist ini juga menampilkan lagu Cocteau Twins favorit saya sepanjang masa, “Carolyn’s Fingers.” Di chorus akhir lagu, dua vokal Fraser yang berbeda ditumpuk satu sama lain dan menciptakan bunyi paling indah yang pernah saya dengar. Video klipnya juga bagus banget. Coba kamu menonton wajah Fraser yang sangat tulus kala menyanyikan lagu itu. Mustahil hatimu tidak tergugah oleh emosi yang sulit dijelaskan kata-kata. Kadang dia terlihat malu kamera, tapi terlihat juga ada kebahagiaan di balik wajahnya. “Carolyn’s Fingers” bagi saya menyiratkan ketahanan, harapan, dan simbol kelahiran kembali mahluk hidup.

Lagu peting lain di playlist ini mencakup “Heaven or Las Vegas,” single terpopuler dari mereka. Lagu ini terdengar sangat empuk di kuping dan mungkin titik awal yang terbaik kalau kamu masih asing dengan band ini. Saya belum banyak membahas album Treasure, tapi ini album favorit banyak orang, dan kalau kamu mendengar nomor "Lorelei" rasanya tidak sulit untuk mengerti kenapa. Pernah ada orang yang menggambarkan lagu tersebut sebagai “apa rasanya jatuh cinta,” yang mungkin deskripsi terbaik sejauh ini. Menampilkan intensitas emosional yang pedih dan mendalam, “Lorelei” cocok menjadi soundtrack kaum patah hati.

“Bluebeard,” yang ditulis berdasarkan hubungannya dengan Guthrie terasa sangat rapuh, dan sering dijadikan contoh momen Fraser paling terbuka dan terus terang dengan perasaannya. Menampilkan lirik penuh keraguan “Are you the right man for me? Are you safe? Are you my friend? Or are you toxic for me?,” lagunya tetap terasa ringan dan enteng.

Terakhir, ada “Love’s Easy Tears,” bersama dengan video klipnya yang membuat saya ingin mengonsumsi zat psikedelik dan menonton tv layar lebar selama beberapa hari. Kalau kamu harus memilih satu playlist, pilihlah yang satu ini. Sisanya bisa kamu coba di kemudian hari.

Playlist: "Sugar Hiccup" / "Fotzepolitic" / "Lorelei" / "Pearly-dewdrops' Drops" / "Aikea-Guinea" / "Kookaburra" / "Love's Easy Tears" / "Heaven Or Las Vegas" / "Bluebeard" / "Summerhead" / Cherry-coloured Funk" / "Iceblink Luck" / "Carolyn's Fingers"

Follow penulis artikel ini di akun @fudwedding

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey