natal 2018

Lima Film Horor Natal yang Seharusnya Tidak Pernah Dibuat

Kenapa juga suasana natal harus dinodai dengan film-film pembunuhan?
24.12.18
Cuplikan dari film Silent Night, Deadly Night

Perayaan Natal di negara-negara Barat—atau mungkin keluargamu juga?—biasanya memiliki momen-momen “horor” sendiri yang melibatkan relatif-relatif atau om dan tante minum hingga mabuk dan ngomong seenaknya. Ini biasanya lucu selama bukan kamu yang menjadi target cemoohan mereka. Tapi apabila untuk alasan apapun kamu harus merayakan Natal tahun ini jauh dari keluarga, kami telah memilih lima film horor Natal yang paling tidak akan membuatmu tertawa dan mengingatkanmu akan hal-hal yang biasanya terjadi di meja makan malam perayaan Natal.

Black Christmas (1974)
Ada beberapa alasan kenapa film ini terpilih. Satu, karena film ini mengambil tempat di rumah asrama perempuan 1970-an berisikan perempuan-perempuan yang doyan telanjang. Dua, karena ada kejutan “twist” di akhir film bahwa Wes Craven dibayar jutaan dolar untuk dry hump selama lima tahun (pembunuhnya menelpon dari dalam rumah). Tiga, agak menghibur menonton mahasiswi perempuan mati dicekik dengan kantong plastik. Bagian yang paling absurd? Bahwa si pembunuhnya doyan merintih. Dia menelpon perempuan dan ngedumel gak karuan di telepon seperti orang-orang mata keranjang jaman dulu sebelum Caller ID merusak semua ini. Kemudian dia mengikuti korban dan membunuh mereka. Sudah tidak mungkin film seperti ini dibuat lagi, maka dari itu jauhilah versi remake 2006-nya.

Cuplikan dari film Silent Night, Deadly Night Silent Night, Deadly Night (1984)
Kalau kamu tidak punya duit untuk membeli hadiah natal buat anak, suruh mereka nonton ini aja. Dalam 15 menit pertama, seorang kakek mengatakan ke cucunya, Billy, bahwa Santa akan menghukumnya apabila dia nakal, kemudian seorang lelaki berkostum Santa menembak ayah Billy, dan Ibu dilecehkan secara seksual sebelum digorok lehernya. Efeknya? Billy tumbuh besar menjadi pembunuh serial gila yang berkostum santa Claus. Saya ketiduran di tengah film, tapi konsep film ini saya dukung. Tunjukkan film ini ke anak-anakmu atau anak-anak temanmu yang kayaknya kelewat dimanja. Dijamin mereka bakal ketakutan.

Santa’s Slay (2005)
Saya yakin ini satu-satunya film Santa yang dimainkan oleh pegulat profesional yang mengendarai kereta salju ditarik oleh “rusa neraka” dan menembak bola api dari mulutnya. Kayak apa ya proses castingnya? “Kami membutuhkan seorang lelaki berwajah tua dengan jenggot yang enggak peduli dengan kariernya atau hidupnya.” Tiga puluh menit kemudian, pegulat Goldberg muncul, tanda tangan kontrak, dan sisa kru asik nongkrong di Hooters sepanjang hari. Orang yang menulis screenplay film ini pasti agak gila. (PS: Sori ya ada time code di ujung kiri atas screengrab. Saking sampahnya film ini, enggak ada tempat yang menyewakan DVDnya, jadi saya harus mengunggahnya dan ini satu-satunya versi yang bisa saya temukan.)

Jack Frost (1996)
Kalau kamu seperti saya, kamu bakal terkejut bahwa ini bukan film komedi fantasi keluarga adem menampilkan Michael Keaton yang bertransformasi menjadi boneka salju yang bisa bicara dan jalan setelah terbunuh dalam sebuah kecelakaan mobil. Film itu mah baru dirilis tahun 1998, setelah produsernya mencuri plot film sampah ini (seorang pembunuh serial dalam perjalanannya menuju eksekusi terlibat dalam kecelakaan mobil dengan sebuah truk yang membawa cairan genetik dan menyatukan dirinya dengan salju dan menjadikannya seorang manusia salju pembunuh) dan mengubahnya menjadi film keluarga yang menelan biaya US$85 juta (Rp1,2 triliun dengan kurs sekarang). Pendapatan filmnya? Kurang dari setengah biayanya di box office. Ya intinya, kedua film ini sama-sama sampah.

Night Train Murders (1974)
Dilarang tayang di Inggris dan menampilkan scoring Ennio Morricone, Night Train Murders merupakan film balas dendam Italia yang aku ingin tonton kapanpun. Plotnya sederhana saja: Dua orang perempuan muda menaiki sebuah kereta dari Munich menuju rumah orang tua mereka di Italia untuk liburan. Mereka bertemu dua orang penjahat kelas teri dan seorang perempuan pirang gila yang mengikuti, menghajar, memperkosa dan membunuh mereka. Setelah membunuh kedua perempuan, trio tersebut tidak sengaja bertemu ayah kedua perempuan—seorang dokter yang bersedia mengobati luka yang diderita si perempuan pirang akibat salah satu pembunuh/pemerkosa/penjahat—yang sedang mencari anak perempuannya yang hilang. Kemudian sang ayah mendengar siaran radio yang mengatakan kedua perempuan tersebut sudah mati. Tidak lama kemudian, dia menyadari pasiennya terlibat dalam pembunuhan putrinya. Dia memaksa perempuan pirang buka mulut. Sang perempuan mengaku dia dipaksa turut serta. Sang ayah melepaskan dia, menangkap salah satu kriminal, memaksa dia overdosis dengan menusukkan jarum ke dalam lengannya dalam-dalam dan menembak partnernya dengan shotgun. Nasib sang perempuan pirang tidak pernah dijelaskan. Kurang keren apa coba film ini?