FYI.

This story is over 5 years old.

Google Searchlight

Cerita Klub 'Penyelundup Bir' di Jakarta Beralih Mengenalkan Tren Craft Beer Terbaik

Jenis-jenis bir di Indonesia sangat terbatas. Ada satu komunitas yang melawan semua hambatan dan stigma, mengenalkan pada penikmat lokal variasi bir produksi skala kecil terbaik di dunia.

Ade Putri Paramadita sangat mendalami semua hal yang berhubungan dengan bir. Di luar pekerjaan sehari-harinya sebagai manajer band metal Seringai, Ade sibuk menggelar bermacam acara, termasuk uji coba craft beer, bersama komunitas Beergembira. Acara selalu digelar saban malam ini menyajikan jenis-jenis bir yang rasanya khas. Craft beer belum banyak dikenal di Indonesia—istilah bir yang diproduksi dalam skala kecil serta menggunakan teknik brewing inovatif. Selain mengajak peserta mencicipi rasa bir yang jarang beredar, Ade dan kawan-kawannya akan menjelaskan keistimewaan setiap bir.

Iklan

VICE ngobrol bersama Ade, membahas perjuangan mencari bir enak di Jakarta, serta penolakan terhadap aktivitas komunitas Beergembira dari pejabat negara.

VICE: Jadi, apa itu Beergembira?
Ade Putri: Beergembira adalah komunitas. Kalau gue bikin offline event, ya kayak gini. Selalu ada workshop, temanya ganti-ganti, yang kali ini craft beer tasting. Basically kenapa gue bikin workshop, gue pengen mengedukasi orang tentang beer. Karena di sini kalau dari pemerintah ya, elo engga pernah diedukasi tentang minuman beralkohol. Yang ada adalah larangan, sementara…

Cuma engga boleh, engga boleh gitu aja ya?
Ya engga boleh. Tapi engga tahu kenapa, kan gitu. Gue tidak akan mengajak orang, tapi gue ngasih tahu, ini lho baik dan buruknya minum bir.

Di Indonesia, produksi maupun praktik mencicipi craft beer kan masih relatif baru. Kenapa kamu terdorong mengenalkan tren ini?

Jadi gini, craft beer di Indonesia memang masih baru. Ini salah satu yang kita bawa nih kayak baru pertama kali dan dibikinin workshop pula kan. Bir biasa itu maksudnya, ada macro brewery, kalo elo kenal Bintang, Heineken, dan merek-merek besar itu dari macro brewery, pabriknya besar. Di Eropa dan di Amerika bir sudah kayak budaya kan? Mereka sekarang yang lagi tren adalah micro brewery. Artinya usahanya engga terlalu besar, terus mereka bikinnya terbatas. Terus rasanya lucu-lucu. Nah ini yang sekarang uniknya kayak gitu. Sebelumnya kita engga ada sama sekali di Indonesia.

Iklan

Jadi craft beer itu sangat kaya ya dari aspek budayanya?
Di luar negeri, craft beer itu sudah jadi suatu kebanggaan. Orang akan seneng banget kalau bisa dapat batch [jenis craft bir-red] terbatas.

Jadi bagaimana cerita awal mula craft beer testing di Jakarta?
Gue sama temen-temen kita punya namanya smuggle club. Jadi we smuggle, dari luar negeri gitu, bawa deh beberapa gitu [craft beer]. Kalau dapet cuma 2 botol. Kita ngumpulin, terus tasting bareng-bareng, karena buat apa elo minum satu botol sendirian terus kayak ya udah. Jadinya rame-rame. Ada yang dibahas gitu.

Bir pertama yang kamu coba berarti dari luar negeri?
Yang pertama kali gue minum, sampai gue inget banget, ada rasa toasted coconut. Dan elo ga harus baca kalengnya untuk tahu. Jadi begitu minum pertama, I can taste it, like bener-bener jelas [rasa kelapa]. Terus ada juga, stout yang rasanya adalah chocolate coffee breakfast.

Jakarta kota yang sangat beragam. Banyak orang minum alkohol, banyak juga yang engga. Sebenarnya kurang pas juga sih misalnya kita tanya begini di acara riang kayak testing craft beer. Tapi, karena penasaran, kita tetap tanya ya. Pernah ada penolakan atau protes terhadap kegiatan kalian?
Pertama kali kita bikin Beergembira, sebenernya gue sudah sempet diserang sama salah satu anggota dewan. Dia bilang, 'elo ngapain bikin-bikin kayak gini, malah ngajarin orang minum alkohol segala macam'. Dan gue kasih tahu bahwa kita mengajarkan orang tentang bir, bukan ngajak [minum]. Whether nanti elo mau minum atau nggak, itu pilihan elo.

Tahun lalu kita bikin campaign, pertama campaign-nya tuh "penikmat beer bukan kriminal!" Itu gara-gara di acara TV, si anggota DPR yang bersangkutan itu bersama temen-temennya tuh kayak, "Wah kita harus ngilangin beer nih, karena gara-gara bir angka kriminalitas di Indonesia naik." Gue akhirnya membuat video yang isinya temen-temen gue yang menurut gue punya pekerjaan normal, berprestasi, bukan kriminal, tapi mereka minum bir.

Jadi kamu dan teman-teman lain secara sadar melawan stigma?
Ini adalah kekhawatiran teman-teman di Beergembira juga. Karena pemerintah itu sudah menyiapkan RUU antiminuman beralkohol. Dan ini cukup serius. Saya sudah sempat baca rancangan undang-undangnya. Ada pasal dimana kalau kita mengkonsumsi, kita akan didenda atau dipenjara.

Ancamannya serius juga ya, untuk orang yang sekadar minum bir.
Teman-teman, saya yakin pasti engga akan mau diatur-atur. Engga boleh makan ini, engga boleh minum itu. Jadi kalau misalnya bisa, yuk kita ikut bantuin bersuara, karena kalau enggak, orang-orang di DPR akan menganggap 'oh larangan ini gapapa kok, engga ada yang komplain'. Nantinya yang boleh meminum alkohol hanya yang bukan warga negara Indonesia.

Kalian bisa mengikuti artikel-artikel dan agenda Beergembria lewat situs, atau lewat Facebook, dan Twitter mereka.