NASA Menampilkan Foto Terbaik Lanskap Alam Indonesia
Fotografi

NASA Menampilkan Foto Terbaik Lanskap Alam Indonesia

Anak-anak penggemar teori bumi datar ga bakal demen nih. Faktanya Indonesia sangat indah (dan luar biasa luas) saat dilihat dari luar Bumi, jauh lebih besar dibanding gambaran peta.
24.3.17

Lebih dari 400 tahun, kita hanya bisa membayangkan wujud wilayah Indonesia dari peta-peta yang dibuat kartografer. Tanah Air itu selalu digambarkan sebagai bentangan pulau-pulau ukuran besar dan ribuan yang lebih kecil, diapit dua benua besar: Eurasia dan Australia. Tapi nyatanya, kepulauan Indonesia jauh lebih besar dari yang selama ini kita tahu. Dari foto yang baru saja dipublikasikan oleh NASA, untuk pertama kalinya kita bisa benar-benar menyadari betapa luasnya Indonesia.

Iklan

Sebagai sebuah negara yang berada di khatulistiwa, Indonesia sering tertutup awan. Padatnya awan ini merupakan hasil akhir dari ribuan awan comulus nimbus yang muncul di udara yang cerah, hujan badai khas wilayah tropis, dan ditambah langgengnya asap dari hutan-hutan Indoensia—baik yang berasal dari aktivitas vulkanik di seluruh wilayah Indonesia atau dari hutan yang dibakar para pembalak liar dan perusahaan nakal.

Dalam sebuah momen yang sangat langka, astronot yang tengah bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berhasil mendapatkan foto sebagai wilayah Indonesia dari luar angkasa. Dalam foto itu, tampak wilayah Indonesia, membentang dari jawa, pinggiran Bali, Lombok hingga pulau Timor yang menyentuh horizon. Di samping hamparan pulau-pulau itu kita bisa menyaksikan rangkaian gunung api yang membentuk kawasan cincin api di Indonesia.

Foto oleh NASA.

Foto di atas menunjukan untuk pertama kali gambaran luas asli Indonesia, serta semua gunung-gunung yang membentuk cincin api nusantara. Dari pantauan satelit di atas bumi saja, foto NASA itu bahkan cuma bisa menangkap bentangan pulau Jawa hingga Timor.

Mayoritas orang Indonesia terbiasa memandangi peta Indonesia yang tertea dalam buku-buku pelajaran di sekolah. Peta-peta ini menggunakan proyeksi Mercator, standar pembuatan peta yang sudah digunakan sejak 1569. Proyeksi ini masih banyak digunakan dalam pelayaran di seluruh dunia. Namun, proyeksi Mercatorbelakangan kerap dikritik karena tak akurat menggambarkan luas asli banyak negara di dunia.

Pada 1973, ilmuwan asal Jerman Arno Peter menciptakan sebuah proyeksi peta baru. Temuannya segera diadaptasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai peta dunia resmi. Proyeksi Gall-Peters—meski menghadirkan representasi area banyak negara dengan lebih akurat—belum banyak dikenal orang, bahkan mereka yang berkecimpung di ranah komersil dan akademik. Saat pertama kali dipublikasikan, proyeksi ini jadi perdebatan panas di komunitas kartografik guna menentukan siapa sebenarnya yang pertama kali mengajukan proyeksi tersebut.

Meski beberapa proyeksi peta tak lagi digunakan secara luas, penerapan Proyeksi Mercator—kerap diganyang sebagai peninggalan cara pandang kolonialistik—masih digunakan secara luas, termasuk oleh Google Maps. Terlepas dari persoalan teknis ini, kita berutang banyak pada NASA. Lembaga antariksa AS itu menunjukan sebetulnya betapa luas wilayah yang masih bisa kita jelajahi sebagai penduduk asli Indonesia. (Sekaligus menampar keras mereka yang mati-matian percaya teori kalau bumi itu datar).