Thailand

Kebangkitan Musik Psychedelic Thailand di Kancah Dunia

Dulu musik Molam—semacam oplosan country dan psikedelik—dianggap “musiknya supir taksi” atau hiburan kelas bawah Thailand. Kini pencinta musik Barat malah tergila-gila.
LT
Bangkok, TH
19.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Sebuah riff organ psikedelik keluar dari sistem stereo taksi di Bangkok. Saya menunjuk ke radio dan si supir mematikannya diiringi ucapan "Excuse me." Nampaknya dia sudah terbiasa dengan turis asing atau warga elit Thailand melihat rendah musik pilihannya. Namun saya justru memintanya mengencangkan volume, menjelaskan bahwa saya penggemar musik Molam dan tengah menuju sebuah klub musik untuk mendengarkan jenis musik yang serupa. Dengan penuh antusias, supir taksi menunjukkan saya video di ponselnya rekaman cucunya berlatih memainkan musik Molam di kamar di Isaan. Setelah itu, kami menikmati musik sepanjang perjalanan taksi sambil tersenyum lebar.

Iklan

Molam adalah musik daerah yang sering diputar di Thailand dan pedalaman Laos semenjak abad 17. Di Thailand, musik ini berasal dari Isaan, sebuah daerah di timur laut negara Gajah Putih tersebut dimana terdapat banyak penduduk dari kelas pekerja. Dalam bentuk paling sederhana, musik Molam tradisional hanya menampilkan seorang vokalis dan pemain khaen, suling bambu yang dimainkan secara vertikal dalam tone bass untuk mengiringi suara vokalis. Di luar itu, instrumen tambahan yang biasanya ditambahkan dalam sebuah band Molam adalah phin, semacam kecapi kecil dengan senar, drum dan bass.

Molam mengalami pergeseran signifikan di tahun 70an, berkat pengaruh dari para tentara Amerika Serikat yang bermarkas di sekitar Isaan. Mereka memperkenalkan musik psychedelik, rock, soul dan funk dari AS via permainan gitar, piringan hitam dan siaran radio dari markas. Para pemain musik Molam menyerap sound-sound baru ini. Riff-riff Black Sabbath dan The Rolling Stones pun mulai dimasukan ke dalam musik Molam di era itu.

Dulu musik Molam dianggap sebagai "musik supir taksi" atau hiburan bagi kaum bawah. Tapi berkat riff-riff psikedelik dan pengaruh country, kini genre tersebut mengalami kebangkitan di seluruh dunia. Semua berkat jasa Nattapon "Nat" Siangsukon, dikenal juga sebagai DJ Maft Sai, pendiri tiga label rekaman, sebuah toko musik dan klub yang memperkenalkan musik Molam modern ke dunia internasional. Kini negara-negara Barat pun mulai menerima musik Molam.

Sebuah lagu klasik karya Dao Bandon masuk ke dalam soundtrack The Hangover Part II dan Paradise Bangkok Molam International Band menjadi band pembuka konser Damon Albarn di Berlin di 2014. Mereka juga pernah berbagi panggung dengan Smashing Pumpkins dan Godspeed You! Black Emperor di Polandia setahun sebelumnya.

Label rekaman Maft Sai, ZudRangMa Records, kerap mengirimkan vinyl ke penggemar musik di seluruh dunia, dengan pusat pemuja sound ini di Jerman, Jepang dan Inggris. Dua kompilasi rilisannya, Sound of Siam Volume 1 dan 2 merupakan kunci pengenalan genre ini ke penggemar musik di luar Thailand. Berisikan lagu-lagu obscure nan hipnotik dari 60an dan 70an, kompilasi nomer dua mendapatkan banyak pujian dari media-media barat seperti The Quietus.

Iklan

Studio Lam, klub kecil miliknya, terletak tidak jauh dari ZudRangMa di Bangkok merupakan ruangan berbentuk segitiga yang selalu penuh bahkan ketika hanya ada acara DJ set. Ketika band seperti PBMIN manggung di situ, jalanan didepannya penuh dengan orang minum bir dan yadong, minuman sake tradisional Thailand.

"Di Bangkok, Molam dulu tidak populer," jelas Maft Sai ke saya. "Beberapa tahun yang lalu, ketika memainkan musik Molam dalam DJ set, banyak warga Thailand yang berteriak, "ini musik daerah, musik supir taksi, ngapain muter ginian?' Tapi kita kekeuh mengadakan acara-acara musik seperti ini dan ternyata selalu ramai—sekarang orang-orang yang sama malah ikutan nyanyi lagu-lagu Molam."

Maft Sai berpose di toko vinyl miliknya di Bangkok. Foto oleh Jim Thompson House

Maft Sai lahir di Bangkok tapi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Australia dan Inggris. "Penduduk asli Isaan tahu lebih banyak tentang musik Molam daripada saya. Orang tua mereka mendengarkan musik ini semenjak kecil, tapi mereka malu menjadi bagian dari musik ini. Ini ada hubungannya dengan identitas penduduk Isaan, mereka berkulit lebih gelap, datang dari kelas pekerja, dan banyak yang menjadi petani. Namun setelah melihat kancah musik Bangkok berkembang dan melihat banyak dukungan bagi musik Molam, banyak orang Isaan semakin percaya diri," tambahnya.

Gridthiya Gaweewong adalah kurator dari Molam Bus Project, diinisiasi bersama Jim Thompson House, artspace dan museum di Bangkok. Kantornya penuh dengan vinyl musik Molam, beberapa di antaranya rilisan langka. Dia telah diberikan tugas untuk mendirikan museum Molam dalam jangka waktu lima tahun ke depan, tapi untuk sekarang mereka memiliki bis kuno yang diubah menjadi gudang pameran. Bis ini dibawa ke acara-acara musik dan festival.

Iklan

Gaweewong menjelaskan prasangka yang didapat orang-orang Isaan. "Anda dari AS kan?" tanyanya ke saya. "Isaan itu bagaikan anda dari Idaho," daerah pinggiran yang dipandang kaum urban Thailand sebagai tempat asal supir taksi dan buruh domestik.

Sampul album Molam klasik. Foto oleh Jim Thompson House

Mengingat Molam diremehkan oleh penduduk Bangkok kala itu, tidak banyak kesempatan bagi musisi-musisi Molam untuk manggung di ibukota Thailand tersebut semenjak 70an. Untuk mendapatkan band live di acara musiknya, Maft Sai harus pergi jauh ke Isaan dan mengetok pintu-pintu rumah para musisi tua. Banyak dari mereka sudah pensiun dan kini tinggal di desa, beternak ayam atau kerbau. "Saya butuh waktu enam bulan untuk mengorganisir acara musik karena saya harus melacak semua anggota band dan meyakinkan mereka untuk main. Kadang-kadang satu tahun saya habiskan hanya untuk mengadakan dua acara musik.

Menemukan musisi bukanlah satu-satunya halangan untuk kembali mempopulerkan musik Molam. ZudRangMa Records sudah merilis reissues dan kompilasi kuno musik Thailand semenjak 2010. "Dulu, mungkin dalam setahun hanya laku 7 kopi di Thailand. Saya sadar saya harus mempromosikannya ke pasar internasional." Di saat itulah toko-toko musik berpengaruh di Inggris seperti All That Jazz,Rough Trade dan Soul Jazz mulai mengambil dan mempromosikan musik ini.

Rilisan kompilasi tersebut menampilkan sampul dengan kain tradisional Thailand dan dipromosikan sebagai "funk Thailand." Warga Thailand berpengaruh yang tinggal di luar negeri mulai membeli rilisan ini, pulang ke Thailand dan menunjukkannnya ke teman-teman mereka. Mereka pun mulai menghadiri acara-acara musik Molam. Menurut kesaksian Maft Sai, kaum urban Thailand sulit melihat musik Molam sebagai musik terhormat sebelum akhirnya mereka menyadari musik ini justru banyak dicari oleh warga asing.

Musik Molam abad 20 menampilkan riff-riff trippy, pola hipnotik dan solo gitar yang panjang namun inovatif. Era favorit musik Molam versi Maft Sai ternyata bahkan lebih tua dari dirinya sendiri. "Musik Molam modern terdengar seperti musik 70an. Mirip reggae. Polanya mirip, tapi setiap band menggunakan instrumentasi dan gaya yang berbeda. Beberapa menggunakan phin dan khaen tradisional, tapi ada juga yang menggunakan band brass. Ada juga yang menambahkan gitar dan keyboard. "

Menurut Piyanart "Pumo" Jotikasthira, pemain bass Paradise Bangkok Molam International Band, "Yang membuat musik Molam psikedelik itu khaen. Instrumen tersebut memiliki sound khas yang orang langsung kenali, bagaimana notenya bisa semakin panjang." Khaen bisa menciptakan sound dramatis organ pipa, tapi bisa dikontrol dan dimanipulasi lebih bebas dengan cara meniup.

Iklan

John Clewyey, seorang penulis musik dan musisi asal Inggris yang tinggal di Thailand semenjak 80an, mengamini pernyataan ini, "Bagi orang asing, khaen adalah daya tarik utamanya. Kebanyakan orang belum pernah melihat atau mendengar instrumen ini. Pemain Khaen bisa memainkan chord cathedral yang megah, power chord, membuat semua orang terkagum."

Clewley pertama kali menemukan musik Molam di sebuah pesta di Isaan, dimana dia tinggal bersama istrinya yang juga warga Thailand. "Saya langsung suka. Saya menari dengan para penduduk lokal semalaman suntuk. Molam mengingatkan saya akan musik folk Irlandia, tapi bukannya menggunakan biola, mereka menggunakan khaen. Kami mulai berpesta jam 9 malam dan selesai jam 5 pagi. Pernah kami mengadakan pesta di rumah dan salah satu band Molam manggung. Seluruh penduduk desa, sekitar 300 orang datang. Di pagi hari, banyak orang tertidur di semak-semak. Kelihatannya seperti adegan habis perang. Ketika mereka bangun, mereka terlihat santai saja dan kemudian melahap bakmi untuk mengisi perut."

Maft Sai setuju, "Apabila anda ingin melihat musik Molam sejati, anda harus pergi ke pesta pribadi di pedesaan dimana mereka membunuh dan memasak daging sapi, dan memainkan musik hingga jam 10 pagi."

Kalau ini terdengar berlebihan, anda bisa coba versi ringan musik Molam dengan cara masuk ke dalam taksi di Bangkok dan meminta supirnya memainkan musik favorit. Dia pasti akan senang.

Jika ingin mendengar koleksi rekaman ZudRangMa records lainnya, kunjungi website ini.

Follow Laurel di Twitter.