Nuklir

Tanaman Mutan asal Chernobyl Bisa Membantu Rencana Manusia Mengkolonisasi Mars

Tragedi kebocoran nuklir di masa lalu membuat manusia memperoleh jamur yang dapat hidup di luar angkasa.
9.5.17
Zona Larangan Masuk dekat Reaktor Chernobyl. Foto oleh: Diana Markosian

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Ada sebuah logika konyol yang selalu kita temukan dalam komik-komik superhero. Begini bunyinya: kalau kamu kena radiasi dalam dosis tinggi, dalam sekejap kamu bakal jadi pahlawan atau mahluk super seperti Hulk, Godzilla, Daredevil sampai Radioactive Man serta berbagai sosok yang jadi jago gara-gara kena radiasi. Pada kenyataan, kena radiasi itu cobaan bukan nikmat. Wong radiasi itu pemicu yang tak mengenakan [kanker misalnya] bukannya cara cepat jadi sakti seperti yang terbukti di TKP bencana nuklir layaknya Chernobyl di Belarusia dan Fukushima di Jepang. Daerah-daerah yang terkontaminasi radiasi nuklir ini menjadi tujuan para ilmuwan yang tertarik mempelajari dampak jangka pendek dan jangka panjang radiasi nuklir terhadap flora dan fauna. Ketertarikan ini pada akhirnya melahirkan cabang ilmu baru seperti radioekologi and radiobiologi. Saksikan salah satu episode Energi Nuklir Motherboard dalam format Virtual Reality

Pemahaman bagaimana organisme beradaptasi terhadap dosis radiasi sangat berguna bagi banyak bidang ilmu dari farmasi hingga konservasi. Ada fungsi penelitian ini yang kerap dilupakan. Penyelidikan tentang adaptasi mahluk hidup terhadap dosis radiasi nuklir bisa dijadikan rujukan dalam mempersiapkan perjalanan luar angkasa berawak dalam jangka panjang dan kolonisasi antar planet lantaran kedua proyek besar manusia akan menghadapi kendala besar: skala radiasi yang lebih tinggi dari yang kita alami di Bumi.

Sebuah eksperimen yang dilakukan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) tahun lalu mencoba menyelidiki hal ini menggunakan delapan jamur yang diambil dari zona terlarang di Chernobyl. Jamur-jamur ini mulai tumbuh tak lama setelah kebocoran nuklir terjadi di Chernobyl dan dua di antaranya—masih termasuk Cladosporium—justru lebih senang hidup di permukaan yang terkena radiasi radioaktif. Sampel jamur yang digunakan dalam percobaan ini terlebih dulu dikurasi oleh sebuah tim yang dipimpin Kasthuri Venkateswaran, seorang ilmuwan peneliti senior di Jet Propulsion Laboratory, NASA, yang lebih senang dipanggil Venkat saja. "Radiasi yang tercata di Chernobyl termasuk tinggi, tapi jamur-jamur hitam ini adalah organisme yang pertama muncul [setelah kebocoran], bahkan mendahului bakteri," tutur Venkat lewat sambungan telepon. "Begitulah cara kami memilih jamur-jamur ini. Semuanya kami ambil dari lingkungan yang terpapar radiasi tinggi. Jamur-jamur ini bisa bertahan karena coding protein dan informasi biomolekuler yang menjadi tameng dari level radiasi yang tinggi." Kalau kalian iseng bertanya, apakah menyantap—katakanlah—sate jamur ini bakal bikin kita sakti? Ya enggak lah, atau tepatnya, belum tentu bisa. Tujuan akhir riset Venkat adalah membuat semacam "sunblock" untuk menghalangi radiasi luar angkasa. Sunblock inilah yang kelak akan digunakan awak misi luar angkasa berdurasi panjang. Jamur-jamur yang digunakan dalam percobaan ini beberapa bulan lalu baru saja kembali ke Bumi. jadi, bisa dibilang, penelitian ini masih dalam tahap awal. Meski demikian, Venkat dan kolega sudah gatal untuk menggelar penelitian yang lebih mendalam. "Kita harus benar-benar bersiap diri sebelum mendirikan koloni di Mars atau lebih jauh lagi,"ujar Venkat. Selain memberikan perlindungan bagi manusia terhadap radiasi luar angksa, penelitian terhadap flora dan fauna liar di kawasan yang terpapar radiasi bisa digunakan sebagai cara untuk mempelajari proses rekayasa tumbuhan yang bisa bertahan dalam lingkungan luar bumi, terutama lingkungan dengan radiasi tinggi seperti yang ditemukan dari Jupiter.

Zona terlarang Chernobyl tentu saja jauh lebih teradiasi jika dibandingkan bagian dalam pesawat—atau dalam hal ini ruang dalam stasiun luar angkasa. Jadi, kalau boleh jujur, sebenarnya ini perbandingan yang tidak pas. Namun, yang lebih penting adalah bahwa jamur-jamur ini bisa hidup di lingkungan yang terkontaminasi dan ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengungkap cara selamat dari radiasi kosmik dalam durasi panjang.
"Gen anti radiasi ini misalnya bisa disuntikan dalam sel ragi yang digunakan fermentasi bir. Jadi, banyak orang yang mau menjelajahi luar angkasa—karena setidaknya punya bir untuk diminum," ujar Venkat. Zona bencana nuklir adalah lahan empuk untuk menjawab berbagai pertanyaan astrobiologis tentang pencarian mahluk hidup di luar bumi serta asal usul kehidupan di planet yang kita tinggali. Tanaman rami tumbuh di Chernobyl beberapa dekade setelah bencana kebocoran nuklir memiliki kekebalan terhadap polusi. Temuan ini pada akhirnya memicu para ilmuwan, misalnya, menggunakannya sebagai mesin waktu untuk mengintip awal mula kehidupan di Bumi. "Spekulasi favorit saya sih ketika kehidupan mulai muncul di Bumi, level radioaktivitas jauh lebih para dari yang kita temu hari-hari ini," jelas Martin Hajduch, seorang peneliti kawaan dari Institute of Plant Genetics and Biotechnology, Slovak Academy of Sciences tentang penelitian terhadap tumbuhan rami di Chernobyl. "Jadi, tumbuhan-tumbuhan rami seakan punya "memori tentang hal ini" dan menggunakannya untuk beradaptasi daerah radioaktif di Chernobyl" Jadi, ini mungkin terdengar aneh sih tapi bencana nuklir yang awalnya mengancam kelangsung hidup di Bumi, pada akhirnya justru membantu kita memahami asal muasal kehidupan di Bumi serta mempersiapkan kita menghadapi kehidupan keras di luar Bumi.
Silakan berlanggganan Science Solved It , acara baru Motherboard yang berusaha menjawab pertanyaan besar manusia dengan menggunakan sains.