Fashion

Bagaimana Cermin di Kamar Pas Mengibuli Anda

Beberapa cermin membuat dada saya montok, yang lain membuat saya terlihat jelek.
28 April 2016, 12:00am

Semua foto oleh penulis

Artikel pertama kali terbit di VICE Spain.

Awal bulan ini, saya membaca sebuah artikel di sebuah koran berbahasa Spanyol La Vanguardia. Artikel itu berkisah tentang jurnalis Rusia yang mengambil selfie di pelbagai toko baju retail. Lantas dari berbagai percobaan itu, ia menyimpulkan bahwa toko-toko tersebut memasang cermin yang telah dimanipulasi untuk membuat pengunjung terlihat lebih ramping. Semenjak membaca artikel itu, saya kerap mencurigai cermin yang saya gunakan untuk berkaca. Apa yang tampak di cermin itu benar saya atau cuma versi lebih ramping dan cantik saya? Dari keduanya, mana yang benar-benar saya? Apa versi nyata tubuh saya benar-benar ada jika tubuhnya selalu tampak beda di cermin? Bisakah saya mengenal diri saya jika saya tak tahu bentuk tubuh saya sesungguhnya? Berbagai pertanyaan berat ini muncul satu demi satu di kepala. Pokoknya berat deh.

Saya nyaman-nyaman saja dengan tubuh saya. Perawakan saya standar saja, biasanya ukurannya medium. Kalau dipikir-pikir, absurd juga rasanya kalau merk-merk besar itu benar-benar sudah menipu saya selama 27 tahun dan tak sekali pun saya menyadarinya. Pertanyaannya kemudian: apa saya masih bisa mempercayai merk-merk ini? Apa saya bisa minta ganti rugi untuk semua celana yang saya beli di Zara, yang tampak pas saat dicoba namun bikin kaki saya mirip sosis saat sampai di rumah—parahnya bukan kaki-mirip-sosis-yang-seksi tapi malah kaki-mirip-sosis-yang-jelek? Tapi bagaimana jadinya kalau jurnalis itu cuma pura-pura belaka? Rambutnya terlihat 3 cm lebih panjang dalam foto di kamar pas, wajahnya seperti dipermak dengan app Perfect365, dan berat badannya baru turun 2 pon. Di titik ini, yang saya yakini cuma satu hal—jangan gampang percaya orang.

Guna mendapatkan perspektif yang jelas, saya menghubungi Carles Casas—seorang ahli sensorial marketing yang sudah paham luar dalam dunia retail. Menurut Carles, tujuan utamanya bukan untuk merangsang pengunjung untuk membeli lebih banyak namun justru untuk membeli dengan lebih bijak. "Fokus kami adalah pengalaman sensorial dalam keseluruhan proses pembelian. Salah satu bagian dari proses ini adalah kamar pas, yang bisa secara dramatis mempengaruhi seluruh proses—baik secara positif atau sebaliknya. Dalam level sensorial, pengalaman pembeli sangat bergantung pada pencahayaan, temperatur, volume musik, atau bahkan aroman dalam ruangan. Kami bekerja keras untuk mengenali semua detail yang mempengaruhi pengalaman pembeli dan berusahamemperbaikinya."

Saya lantas penasaran sampai sejauh mana merk-merk ini memanipulasi pembeli dengan segala teknik yang mereka gunakan. "Semuanya legal dan telah diatur. Namun, regulator terbesar sesungguhnya adalah para pembeli. Merk-merk tidak secara aktif berusaha mengibuli dan memanipulasi publik karena mereka toh awas—di luar perkara etis—hal ini tak baik bagi merk dan penjualan mereka. Pembeli juga tak bodoh dan mereka tidak cepat memaafkan. Jika anda percaya merk-merk ini sudah mengibuli anda, itu sudah termasuk berita buruk bagi mereka, karena tak cuma anda saja yang bisa berhenti belanja, orang-orang di sekitar anda juga bisa melakukan hal yang sama."

Selanjutnya, giliran saya mengecek apakah toko-toko di Spanyol juga mengelabui pembelinya layaknya toko-toko di Rusia seperti tertulis dalam artikel. Untuk melakukan itu, saya menghabiskan 4 jam keluyuran di pusat kota Barcelona, menclok dari satu toko ke toko lainnya.

Saya mulai dari Bershka, yang di Spanyol lebih dikenal dengan musik yang digeber kencang di tokonya daripada barang dagangannya. Pencahayaan di kamar pas Berskha sangat kuning namun banyak bayangan dihasilkan. Hatta, dalam kamar pas di Berskha, saya terlihat seperti salah satu lukisan Caravaggio.

Sorotan cahaya yang jatuh di belahan dada saya menghasilkan bayangan di atas perut saya. Hasilnya, pinggang saya tampak lebih ramping. Kaki saya terlihat jenjang sementara kepala saya membesar. Di atas kertas, saya bakal tampak seperti karakter putri di film Disney, tapi tak begitu kejadiannya di kamar pas ini.

Perhentian kedua saya adalah sebuah toko di jalan pusat perbelanjaan di Barcelona, Lefties. Kamar pas di toko ini dihiasi kerai berwarna merah, yang membuatnya jadi lumayan canggih dan sedikit sensual.

Saya hampir saja menyebut kamar pas ini berkelas, "boudoir" atau sejenis, jika saya tidak A) berada di kamar pas yang panas lagi berisik di salah satu toko di jalanan paling ribut di Barcelona B) pencahayaan dalam kamar pas ini menguak semua kerutan dalam celana saya dan membuat baju saya terlihat gombrong. Kamar pas ini menunjukkan segala salah di busana saya. Bahkan tangan saya jadi mirip cakar seekor burung tua. Padahal, tentunya, di kehidupan nyata, saya tak punya cakar, percaya deh.

Aroma di toko yang saya kunjungi berikutnya, Stradivarius, sangat kuat— baunya terasa disekujur kamar ganti. Selain aroma itu, dada saya juga mendadak memenuhi kamar itu—ya setidaknya di dalam cerminnya. Sungguh-sungguh ada sorotan cahaya ke arah dada saya. Akibatnya, untuk pertama kali dalam hidup saya, saya tahu rasanya jadi perempuan yang dikaruniai dada besar dan paha yang mungil.

Ini yang bikin saya ingin memborong semua barang di toko itu. Tapi, saya bersyukur saya tak seseksi itu, kalau tidak, saya pasti sudah kere karena kebanyakan belanja.

Selanjutnya, saya mampir ke tempat rahasia semua wanita—sebuah toko baju dalam. Saya suka pencahayaan kamar pas yang intim walau jelas tak membuat saya terlihat lebih baik. Frame orange yang melingkari cermin besar di kamar pas ini awalnya membuat saya lebih tinggi. Namun, setelah diperhatikan lagi, saya kok malah kelihatan gempal—seakan-akan bokong saya sudah dicrop dan pinggang saya jadi lebih tinggi dari seharusnya. Pokoknya aneh deh.

Di Oysho—toko baju dalam dan pakaian renang—saya menemukan bahwa, dengan pencahayaan yang pas, wajah saya bisa mirip Michael Jackson—di tahun-tahun akhir hidupnya yang menyedihkan.

Di kamar pas Zara, pencahayaannya yang temaram bikin muka saya seperti terbuat dari porselain, ini jelas sebuah nilai plus. Ada cermin di setiap sudut kamar, yang bikin saya tampak lebih ramping. Saya berdiri di kamar pas itu dan dengan jelas bisa melihat versi diri saya yang lebih ramping.

Saya sadar tengah dikibuli namun saya toh senang-senang saja—kamar yang sempit dan penuh itu mendadak bikin saya merasa sangat nyaman.

Di Pull & Bear, mereka tak ragu-ragu membuat saya terlihat lebih pucat. Efeknya sama: saya merasa lebih keren. Percayalah, tinggal tambah kipas angin besar dan smoke machine, anda bisa mendadak jadi bintang iklan parfum di kamar pas ini. Sayangnya, itu ada harganya: perut saya hilang. Ya ampun, kemana larinya perut saya?

Kamar pas di H&M, perhentian saya berikutnya, juga sama keadaannya karena perut saya belum juga muncul.

Saya ingin bawa pulang cermin in ke kamar—atau lebih keren lagi: Saya ingin kamar pas ini jadi kamar tidur saya. Pencahayaan di kamar ini tak cuma bikin semua kekurangan di wajah saya hilang, tapi juga membuat dada dan kaki saya kelihatan kokoh. Hebatnya lagi, kulit saya jadi mirip kulit dedek-dedek ABG, mulus tanpa cela. Saya tak ingin keluar.

Ada banyak cermin di kamar pas Springfield. Saya tak tahu harus melihat ke arah mana, tapi saya menyukai apa yang saya lihat. Kulit saya kelihatan seperti punya tan yang keren tapi tidak natural.

Saudara kembar saya, yang kelihatan lebih memikat dan sehat memandangi saya dari dalam cermin. Jelas ini tidak nyata. Tapi kalau dipikir-pikir: yang muncul di cermin itu secara teknis masih saya juga.

Meski berat, saya akhirnya keluar dan masuk kamar pas di El Corte Inglés—salah satu jaringan mall terbesar di Eropa. Di sana, saya lagi-lagi terlihat ramping.

Walau kamar pas di sini adalah yang paling sederhana, cermin di dalamnya secara kentara menunjukkan saya sedang dikibuli. Saya yakin tubuh saya tak seperti yang ditampakkan oleh cermin itu.

Di Topshop, jeans saya kenakan terlihat lebih pas dari apa yang sebenarnya saya rasakan. Cahaya lembut yang dipancarkan dari atas kepala menyoroti kening dan tulang pipi saya. Warna-warna yang terang jadi lebih jelas, menenggelamkan warna yang lebih gelap, yang terlihat makin kelam.

Akhirnya, saya masuk toko di dekat tempat saya tinggal. Namanya Friends. Kamar pas yang seadanya ternyata sebuah kamar mandi tanpa toilet. Sebuah kerai berwarna merah memisahkan kamar pas itu dari toko. Ada sebuah keranjang di atas sebuah wastafel. Jelas, wastafel itu tak lagi berfungsi.

Namun, toko itu menyediakan sebuah handuk, buat jaga-jaga barangkali mereka tak tahan dan harus mencuci tangan mereka. Kamar pas itu sangat gelap, sampai saya harus mendekat ke arah kaca untuk melihat bayangan saya di cermin.


Jadi, saya selama ini keliru. Saya tak awas perbedaan satu kamar pas dengan kamar pas lainnya. Saya merasa dikibuli. Saya kemudian menghubungi Raimon Margalef, pengacara persatuan konsumer Catalonia untuk mencari tahu jika ada yang bisa dilakukan konsumer mengenai hal ini: "Anda bisa mengatakan mereka sengaja membuat anda terlihat lebih baik di cermin. Ini bisa jadi dasar laporan ke Catalan Consumer Agency. Tapi, kalau pun anda melakukan ini, anda tidak akan dapat kompensasi. Perusahaan yang dilaporkan akan diperintahkan membayar denda, yang disetorkan langsung ke CCA. Tentu saja, ada cara lewat jalur hukum jika anda bisa membawa ahli yang bisa menunjukkan cermin itu telah mengakibatkan kerugian non material." Raimon menjelaskan.

Karena susah sekaligus mahal untuk membuktikan hal ini, mungkin hanya sedikit konsumer yang mau mengajukan protes atau menempuh jalur hukum. Ujungnya, mereka akan tetap dibuli cermin kamar pas dan selalu kecewa ketika sampai di rumah sepulang belanja.