Walaupun koleksi vinyl antik tak semahal yang anda kira, bukan berarti anda tak bisa panen uang di era kebangkitan plat sekarang.
"Kira-kira kamu berani bayar berapa?" tanya seorang Ibu, beberapa waktu lalu. Dia datang menggotong satu kotak penuh vinyl tua ke bagian kasir toko saya. Hari itu, dia menyunggingkan senyum penuh rasa percaya diri.Saya, dengan berat hati, berusaha sepenuh tenaga membalas senyumnya. Saya bukan tipe orang yang malas menggelontorkan senyum. Masalahnya sejak si ibu masuk toko, saya sadar bakal ada perdebatan panjang tentang harga yang pantas yang harusnya dia terima. Sepintas saya melirik isi kotak yang dia bawa—sekumpulan album laris dari dekade 80-an. Senyum penuh percaya diri si ibu bakal raib dalam beberapa saat.
Iklan
Seiring bangkitnya penjualan piringan hitam dan munculnya kembali ketertarikan penikmat musik pada format ini 10 tahun belakangan, beberapa orang seakan memperoleh wahyu menjual koleksi vinyl yang menumpuk sejak era Orde Baru dari gudang rumah masing-masing. Orang-orang ini sepertinya percaya tumpukan vinyl setara dengan ladang emas. Saya menduga ilham menjual koleksi vinyl tua keluarga mereka itu terbit setelah membaca ulasan singkat tentang ramainya gelaran "Record Store Day."Cerita menyangkut Record Store Day seakan-akan sudah ada formulanya: seorang reporter yang dikejar tenggat penyelesaian naskah mewawancarai kolektor obsesif yang bergerombol di deretan toko vinyl. Lalu, biar tulisannya terkesan berisi, sang reporter menambah bobot laporannya menggunakan berbagai info tambahan lainnya: cuplikan pemburu vinyl yang mengantre sebelum toko buka hanya untuk membeli piringan hitam berharga selangit, pemilik toko yang cuap-cuap tentang meroketnya penjualan vinyl akhir-akhir ini, atau besarnya keuntungan yang mereka raup berkat kebangkitan vinyl.Seketika, semua orang—setelah membaca liputan sang reporter—mendadak jadi pemburu vinyl!Saya berani taruhan kalimat begini jamak didengar orang yang punya koleksi vinyl, tapi tidak peduli dengannya, setiap kali bertemu orang-orang yang terpengaruh liputan kebangkitan vinyl. "Sayang banget. Vinyl Pance Pondaag kamu bisa dijual mahal lho!"Malangnya sebagai pemilik toko vinyl bekas, bolehlah anda menyebutnya pengepul vinyl, saya dibebani tugas buat menghancurkan mimpi-mimpi kosong para amatiran. Sudah berkali-kali saya menyaksikan senyum penuh percaya diri perlahan-lahan sirna dari muka seorang calon penjual piringan hitam, ketika saya bilang—tentu saja dengan menjunjung tinggi nilai kesopanan—kalau kotak vinylnya penuh sesak oleh album-album Rafika Duri/Broery Marantika/The Mercy's yang kalian bawa tak bakal dihargai mahal. Alias kualitasnya biasa saja.
Iklan
Semua foto di artikel ini oleh penulis.
Beberapa orang bersedia maklum dan tak ambil banyak pusing. Yang ada di pikiran mereka cuma cara melenyapkan koleksi vinyl tua yang banyak makan tempat, lalu secepatnya dapat sedikit uang. Beberapa calon penjual lainnya kadang juga terdorong melego koleksi mereka secepat mungkin, karena putus atau malah cerai.Tak selamanya amatiran datang berupaya menjual vinyl-vinyl kacrut. Kadang (meski jarang sekali terjadi) vinyl yang kami cari jungkir balik, datang begitu saja dibawa oleh seseorang yang berminat menjualnya semurah mungkin. Masih segar dalam ingatan saya, seorang perempuan tergesa-gesa masuk toko saya. Dia mengulurkan sekotak vinylnya. "Terserah deh mau dibayar berapa," ujarnya. Saya buru-buru membayar kotak milik perempuan muda itu. Isinya: cetakan pertama album Nick Drake, David Bowie, dan Television. Begini nih rezeki anak soleh.Kunjungan wanita paruh baya di awal tulisan ini, sayangnya, tidak termasuk yang mendatangkan rezeki buat anak soleh seperti saya."Yang benar saja!" dia berteriak, ketika saya bilang cuma berani bayar beberapa puluh ribu rupiah per satu vinyl-nya. "Michael Jackson kan sudah mati! Ini album asli dari tahun 80-an loh.""Saya ngerti banget Bu. Masalahnya Bad dan Thriller kan termasuk album paling laris sepanjang masa, jadi masih banyak vinylnya di toko rekaman atau toko loak."Si Ibu mencak-mencak lagi. Katanya, dia bakal melepas Senja Di Kuala Lumpur, albumnya Broery, hanya jika saya berani membayar jutaan. Maaf Bu, tak ada tanda tangan Broery di sampulnya. Di hadapan si Ibu, saya terkesan seperti pemilik toko vinyl serakah yang ingin mengibuli seorang amatir. Asal ibu (dan anda semua) tahu, punya toko vinyl di 2016 susah bikin kaya, apalagi mengantar kita naik haji.
Iklan
Jadi, apa yang harus anda lakukan jika anda ingin melego tumpukan vinyl tua peninggalan paman atau siapa sajalah, tanpa khawatir dikibuli orang? Gampang! Angkut vinyl anda—pinjam mobil teman kalau perlu—lalu bawa ke toko vinyl terdekat. Tapi, agar tidak terlihat blo'on, ada baiknya anda mengikuti langkah-langkah berikut.
Apa yang kami cari?
Sah-sah saja menelepon toko vinyl, memeriksa lebih dulu apakah mereka menampung vinyl-vinyl tua. Ingat, jangan coba-coba bertanya angka yang mereka mau bayar. Ini sama seperti minta dokter mengecek suhu tubuh anda lewat telepon. Kami juga perlu meneliti kualitas vinyl anda.Tentu saja, anda juga bisa menaksir sendiri berapa uang yang bisa anda peroleh, setelah mengamati koleksi itu dengan seksama. Sampul koyak, penuh bercak, dan plat yang punya goresan tak lantas bikin koleksi anda jadi "vintage". Asal anda tahu, kami tak pernah mengambil vinyl bekas jika kondisinya kelihatan parah. Piringan hitam seperti ini sebaiknya anda daur ulang saja jadi perhiasan, aksesoris interior atau—jika anda punya jiwa musisi dalam diri anda—pick gitar.Simpan juga vinyl rekaman opera, pertunjukan musik klasik, drama musikal. Alasannya: Kami tidak berminat. Rekaman macam ini tak bisa dijual di mana-mana, terutama di sebuah toko plat musik bekas. Kalau anda sempat jalan-jalan ke toko buku loak, coba deh lihat bagian vinyl-nya, pasti anda menemukan koleksi model beginian di sana. Itu pun lakunya susah.
Iklan
Tiap toko punya spesialisasinya sendiri. Khusus untuk toko saya, kami mencari rekaman dari keluaran era 60-an sampai sekarang. Genre yang saya incar di antaranya psychedelic, jazz (please deh jangan bawa vinyl Kenny G), pop, rock (semua sub-genre), new wave, blues, dan sedikit musik country. Album hip-hop lebih susah ditemukan, kebanyakan berupa single, jadi pasti harganya mahal.
Pahami Koleksi Anda
Sempatkan waktu memeriksa popsike.com, collectorsfrenzy.com, atau (untuk kasus Indonesia) iramanusantara.org dan lokanantamusik.com. Situs-situs ini dapat membantu anda mengetahui album yang selama ini cukup dicari, istilah gaulnya cek-cek ombak lah. Namun, saya mewanti-wanti jika anda menemukan album Houses of the Holy laku terjual di eBay seharga Rp300 ribu, jangan harap kami bisa membayar dengan harga yang sama.Berbeda dari penjual ebay, toko vinyl bekas mengelola segudang tagihan tiap bulannya mulai dari uang sewa, asuransi, gajian karyawan, serta biaya-biaya lainnya. Kami akui model bisnis ini sudah ketinggalan jaman, tapi ayolah, tunda dulu ya segala debat tentang tetek bengek pentingnya ruang bekumpul dan membeli musik. Diskusi itu biar kita simpan untuk lain kali saja, OK?Intinya, jika kami ingin menjual vinyl seharga Rp300 ribu (karena konsumen masa kini bisa memeriksa semuanya di internet sebelum membeli), maka kami harus membelinya dengan harga yang lebih rendah dari perkiraan anda. Jadi ada baiknya anda membawa banyak vinyl sekaligus daripada cuma bawa dua kopi, lalu pulang dengan uang Rp50 ribu saja di dompet.
Iklan
Anda Mungkin Tak Beruntung di Jagat Maya
Jika anda melego semua koleksi anda lewat forum jual beli eBay, KasKus, atau apalah, saya cuma titip doa dan bilang: selamat berjuang! Sebelum terlalu jauh melangkah, ada baiknya anda ingat bahwa anda yang bukan penjual profesional, belum pernah memiliki reputasi memperdagangkan piringan hitam sebelumnya. Kemungkinan anda memperoleh tawaran harga dari calon pembeli yang bikin loncat-loncat kegirangan di bus Transjakarta sangat minim, kalau bukan mustahil. Barangkali, anda baru benar-benar memperoleh tawaran bagus kalau memang punya cetakan awal plat Abhama atau vinyl promo album perdana Inpres.
Hati-Hati Dikibuli Pemilik Toko
Lalu, bagaimana jika anda mendapatkan penawaran harga yang sangat tak manusiawi rendahnya dari pemilik toko piringan hitam?Saya sering mendengarkan cerita kelakuan pemilik toko yang menawar plat dengan harga kurang ajar, sambil bilang "memang segitu doang harganya."Jujur saja, koleksi itu perlu dilihat lagi. Jika setelah dicek, saya menawar minimal Rp20 ribu untuk tiap vinyl yang anda bawa, berarti koleksi anda—mohon maaf sebelumnya—memang cuma kumpulan tai kucing. Beda urusannya jika pemilik toko mengajukan tawaran rendah sambil nyerocos bilang "udah deh, kami sebenarnya engga butuh-butuh amat, kita cuma mau bantuin."Saya pastikan, kata-kata itu menandakan mereka sedang mengibuli anda. Kalau begini keadaanya, saran saya lebih baik anda buang saja koleksi itu daripada berakhir di tangan pemilik toko vinyl yang serakah. Tapi, ini cuma saran loh.Tentu saja, jika anda yakin sedang dikibuli, tolak saja permintaan mereka. Jika seorang penjual serius mengincar koleksi anda, biasanya mereka tak mengizinkan anda keluar dari toko. Vinyl bekas adalah mata pencaharian kami. Kami akan menawar sebisa dompet—atau isi mesin kasir—kami mengizinkan. Jadi, jika mendapat tawaran yang rendah, tirulah resep pedagang pasar. Bilang saja "makasih, tapi belum balik modal Bang." Mereka pasti akan mencegah anda keluar toko.Percayalah pada kami. Kebanyakan pemilik toko vinyl tidak ingin mengerjai anda. Toko-toko vinyl bekas terpercaya menawar dengan harga yang layak, jika memang koleksi anda berharga. Tentu saja, kami akan senang hati merogoh kocek lebih dalam demi memperoleh vinyl Guruh Gypsy yang mampir tiba-tiba ke toko kami, karena itu adalah salah satu album terbaik yang pernah dibuat di muka bumi.Eddie Cepeda adalah pendiri toko Mother of Pearl Vinyl sekaligus penulis yang tinggal di New York. Follow Eddie di Twitter.