Olahraga

Tips Berolahraga di Rumah Bagi Pemalas yang Mageran

Kata siapa menggerakkan badan harus dengan olahraga berat? Berikut saran pakar buat kalian semua yang 'mager' gerak.
22.2.21
Dua orang berolahraga
Foto: Charlie Kwai

Sejak dulu, saya sudah malas berolahraga. Saya suka bergerak asalkan ada alasan yang menyenangkan, misal ajojing atau berjalan kaki untuk menikmati suasana sekitar. Tapi, kalau sudah yang namanya jogging, duh… rasanya malas sekali. Hal itu sangat membosankan untukku. Butuh niat yang sangat besar untuk bangkit dari sofa dan keluar rumah.

Iklan

Walaupun jarang berolahraga, saya pribadi yang aktif bergerak sebelum pandemi. Tapi sekarang, saya dan banyak orang lainnya menghabiskan sebagian besar waktu leyeh-leyeh, menonton WandaVision atau melamun. Kalian harus punya alasan untuk bangkit dari sofa atau tempat tidur. Ini jelas tidak bagus untuk kesehatan. Berbagai studi telah membuktikan rajin berolahraga memiliki manfaat yang dahsyat bagi kesehatan mental, serta mengurangi risiko penyakit seperti serangan jantung dan kanker. Olahraga bahkan dapat menjadikan tulang dan otot lebih kuat.

Bagi mereka yang gemar berolahraga, pembatasan sosial bukanlah masalah besar. Mereka bisa dengan mudahnya menyesuaikan diri untuk mempertahankan rutinitas. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang anti olahraga? Bagaimana kalau kita hanya ingin bergerak untuk merasakan manfaatnya, tapi ogah melakukan aktivitas berat? Bisakah kita berolahraga dengan benar, meski membenci konsepnya? 

Instruktur fitness Tally Rye menyarankan agar kita berhenti melihat olahraga dengan cara tradisional. Kalian tak perlu lari, push-up atau angkat beban untuk berolahraga. Setiap gerakan kecil juga termasuk olahraga. Lakukanlah apa yang kalian sukai pada saat itu. “Banyak yang beranggapan olahraga pasti tidak nyaman dan menyiksa. Saya justru melihatnya sebagai gerakan intuitif yang melatih energi dan tubuh,” dia menjelaskan.

“Ketika saya kurang bertenaga, saya akan melakukan gerakan ringan seperti pilates, misalnya,” lanjut Tally. “Semua bentuk gerakan itu termasuk olahraga. Bersih-bersih, berkebun, atau mengajak anjing jalan-jalan. Semuanya merupakan kegiatan aktif.” Dengan demikian, kalian bisa jalan ke supermarket yang jaraknya lebih jauh kalau tidak mood mengikuti kelas senam aerobik. Tally berujar, menari mengikuti alunan lagu sama saja dengan olahraga. Menurutnya, yang terpenting adalah menemukan hal menarik untuk dilakukan.

Iklan

Instruktur fitness Cairo Nevitt menganjurkan jalan kaki setiap hari dan menari sebagai alternatif bagi yang malas bergerak. “Kegiatan ini mengurangi kecemasan, dan kalian bisa menentukan sendiri kecepatan dan jaraknya,” tuturnya. “Saya mengusulkan ‘nge-rave sendirian’ kepada klien yang malas lari tapi suka menari, misalnya. Menari masih merupakan aktivitas kardio yang bagus; mereka bergerak dan bersenang-senang pada saat yang sama.”

Selain membingkai ulang cara kita melihat olahraga, Tally menjelaskan pentingnya mengubah pola pikir kenapa kita melakukannya. Selama ini ada tekanan “berolahraga harus memberikan hasil yang terlihat. Kalian mesti mencapai estetika tertentu agar dianggap ‘berhasil’,” kata Tally. “Saya rasa kita perlu menjadikan olahraga sebagai kegiatan yang bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental. [...] Ini bisa menjadi kesempatan untuk menggerakkan tubuh dan mengubah hal-hal monoton dari hari ke hari.”

Pada dasarnya, memandang olahraga sebagai aktivitas yang membuat kita merasa lebih baik — bukan sesuatu yang perlu kita upayakan — dapat menghilangkan tekanan itu. Lari, misalnya, menjadi tidak sia-sia jika kalian merasa senang setelah melakukannya, meski tidak memberikan hasil instan atau jaraknya tidak jauh. Cairo memiliki pendapat serupa. “Banyak orang gagal karena berharap bisa mendapat hasil dalam semalam,” katanya. “Berikan dirimu waktu untuk berkembang; keindahan tak hanya terletak pada hasilnya, tapi juga pada proses yang dilalui.”

Setiap orang jelas punya alasan masing-masing kenapa tidak berolahraga. Ada jenis olahraga tertentu yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh penyandang disabilitas atau mereka-mereka yang kesulitan bergerak karena bentuk tubuhnya. Tally menyarankan untuk mencari kelas atau aplikasi online yang secara khusus memenuhi kebutuhan kalian. Menurutnya, Sophie Butler adalah pilihan tepat bagi para pengguna kursi roda karena sering melakukan gerakan sambil duduk.

Intinya, kalian tidak perlu membeli perlengkapan mahal atau melakukan aktivitas fisik yang intens untuk bergerak. Tidak masalah jika kalian cuma ingin jumpalitan sambil mendengarkan lagu. Selama kalian melakukannya dengan senang hati, gerakan itu sudah cukup. Kalian juga tak perlu melakukannya sekarang juga. Kalau belum ada niat, kalian bisa berolahraga kecil besok. Atau besoknya lagi setelah nonton WandaVision. Itu kan tubuh kalian sendiri, jadi semua terserah kalian.

@daisythejones