Kesehatan Seksual

Kabar Buruk: Ukuran Penis Bisa Menyusut Bila Keseringan Terpapar Polusi

Ini kabar buruk bagi kaum maskulin. Kerusakan Bumi bisa berdampak pada kesuburan perempuan, jumlah sperma, serta ukuran alat kelamin laki-laki.
23.3.21
Foto ilustrasi penis mengecil dengan buah-buahan dan cabai
Foto ilustrasi: Deon Black via Pexels

Gaya hidup manusia modern telah mengakibatkan kerusakan hingga kehancuran lingkungan hidup. Polusi yang disebabkan oleh ulah kita tak hanya membahayakan kesehatan umat manusia, tapi juga menjadi ancaman bagi seluruh makhluk hidup. Setelah membuat penis beruang kutub dan berang-berang melemah, polusi kini mengurangi kemampuan ereksi manusia.

Iklan

Dalam buku berjudul Count Down: How Our Modern World Is Threatening Sperm Counts, Altering Male and Female Reproductive Development, and Imperiling the Future of the Human Race, ahli epidemiologi lingkungan dan reproduksi Dr Shanna H. Swan mengaitkan penggunaan bahan kimia industri pada produk sehari-hari dengan ukuran penis yang lebih kecil, jumlah sperma yang lebih sedikit dan disfungsi ereksi. Dengan kata lain, benda berbahan kimia yang kita gunakan setiap harinya secara tidak langsung memengaruhi kesuburan kita.

Hasil studi yang dilakukan Swan dkk (2017) menemukan, jumlah sperma orang Barat turun 59 persen antara 1973 dan 2011. Dalam buku terbarunya, Swan mempelajari hubungannya dengan polutan kimia. “Bahan kimia yang tersebar di lingkungan dan digunakan sehari-hari di dunia modern mengganggu keseimbangan hormonal kita, menyebabkan berbagai masalah reproduksi,” tulisnya. Dia lebih lanjut menjelaskan bahwa jumlah sperma lelaki saat ini mungkin hanya setengahnya dari kakek mereka. Hal yang sama juga terjadi pada perempuan.

“Rata-rata perempuan berusia 20-an di berbagai belahan dunia tak sesubur nenek mereka ketika berusia 35,” Swan mengungkapkan.

Menurut pengamatannya, polutan dan bahan kimia menurunkan kualitas air mani, serta memperkecil ukuran penis dan volume testis. Swan menyebut permasalahan ini “krisis eksistensial global” yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia. 

Temuan ini menunjukkan, paparan ftalat — zat kimia yang dalam mainan dan plastik — pada akhir trimester pertama bisa memperpendek jarak anogenital (AGD). “AGD merupakan jarak dari anus hingga ke bagian awal alat kelamin. Ilmuwan sudah lama mengakui peran pentingnya. Ada penelitian tahun 1912 yang mengamati AGD. Penelitian itu menunjukkan AGD laki-laki hampir 100 persen lebih panjang daripada perempuan. Temuan kami memperlihatkan bahan kimia seperti dietilheksil ftalat memperpendek AGD pada laki-laki,” Swan memberi tahu The Intercept.

Iklan

Bahan kimia dan polutan bahkan memengaruhi libido seseorang. “Kami menemukan hubungan antara kadar ftalat dalam tubuh perempuan dan kepuasan seksual mereka,” ujarnya, masih kepada The Intercept. “Peneliti Tiongkok menemukan pekerja lelaki dengan paparan bisfenol A (BPA) lebih tinggi dalam darahnya lebih cenderung mengalami masalah seksual, seperti menurunnya gairah seks.”

Swan menyebutkan BPA, ftalat, paraben dan atrazin adalah penyebab utama dari penurunan libido dan kesuburan seseorang. Bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam plastik, herbisida, pasta gigi dan produk kecantikan mengganggu endokrin yang dapat menyebabkan kelahiran prematur, IQ rendah, obesitas dan ukuran penis lebih kecil — menurut riset Swan. Bahan-bahan kimia ini sulit untuk dihindari karena ada di setiap benda yang kita miliki di rumah, dari sampo, kosmetik, makanan kaleng sampai struk ATM.

Berdasarkan penelitian yang terbit pada 2018, ilmuwan Melbourne mengungkapkan bahan kimia dalam plastik menyebabkan cacat genital pada bayi laki-laki. Tahun ini, para peneliti dari badan kesehatan masyarakat Prancis menemukan bahwa anak laki-laki yang tinggal di daerah tercemar, seperti tambang batu bara, dua kali lebih berisiko memiliki testis turun (descended testicle) dan lima kali lebih berisiko memiliki dua testis tidak turun (undescended testicle).

Iklan

Swan memperingatkan, penurunan kesuburan dan bahan kimia beracun dapat berdampak buruk bagi generasi selanjutnya. “Seandainya kalian mengandung bayi laki-laki, paparan bahan kimia dapat pindah ke janin melalui plasenta. Sel germinal [yang akan membentuk sperma] sudah terdampak. Anak laki-lakimu itu akan terpapar bahan kimianya lagi setelah dewasa,” katanya kepada The Intercept.

“Itulah mengapa kita terus mengalami penurunan kesuburan dan kualitas sperma. Kalaupun kita tidak menerimanya dari orang tua dan kakek-nenek, generasi selanjutnya akan mengulangi dari awal lagi. Itu akan buruk, tapi dampaknya berada pada tingkat yang sama setiap saat. Kenyataan bahwa kita membawa masalah generasi sebelumnya berarti kita mengawalinya lagi dari tingkat lebih rendah dan begitulah seterusnya.”

Adakah cara yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Swan menganjurkan untuk membeli produk organik dan mengurangi penggunaan plastik guna menghindari paparan bahan kimia. Dia bahkan menyarankan untuk lebih sering mengonsumsi masakan rumahan daripada makan di luar. Ftalat dapat berpindah dari bungkus makanan dan sarung tangan petugas ke santapan kalian, yang kemudian masuk ke dalam tubuh.

Jika kalian terlalu malas menjaga kelestarian lingkungan karena “perubahan iklim itu tidak nyata”, kalian mungkin bisa mulai mengurangi polusi demi melindungi penismu.

Follow Jaishree di Twitter dan Instagram.