Budaya Pop

Ngobrol Bareng Pencipta Lagu Tema WWE Paling Ikonik Sepanjang Masa

Lagu tema Stone Cold Steve Austin terus disukai pecinta gulat profesional seluruh dunia. Jim Johnston sebagai sosok di balik lagu ikonik tersebut, berbagi proses kreatifnya.
21.12.20
komposer lagu tema WWE Jim Johnston
Foto: Jim Johnston

Anak generasi 90-an pasti sudah familiar dengan lagu-lagu ciptaannya Jim Johnston. Komposer ini sangat berjasa terhadap popularitas musik tema acara gulat terbaik sepanjang masa. Dialah yang menghidupkan The Undertaker dan Stone Cold Steve Austin melalui efek suara lonceng gereja, kaca pecah dan riff gitar nyaring.

Sepanjang 30 tahun kariernya bersama WWE, Johnston telah menyulap genre rock, punk, funk, pop dan hip-hop menjadi lagu tema klasik yang tak terhitung jumlahnya untuk pegulat macam Randy Orton, Chris Jericho dan D-Generation X. Selain catchy, lagu-lagu ini bagaikan film score yang mampu membangkitkan emosi pendengar. Slogannya pun sulit untuk dilupakan.

Iklan

Sejak hengkang dari WWE pada 2017, Johnston mengaku kesulitan untuk mendapatkan proyek baru. Hollywood masih meremehkan portofolionya. “Orang mengira saya cuma bisa bikin efek suara kaca pecah doang,” ungkap Johnston.

Padahal baginya, menulis lagu tema WWE tidak sedangkal itu. “Musik saya mencerminkan [realitas] masyarakat. Lagu tema Stone Cold mengajarkan penonton untuk tidak takut melawan mereka yang berkuasa. Undertaker membantu anak-anak menerima kematian dengan cara yang tidak menyedihkan.”

“Saya ingin menyalurkan emosi karakter lewat karyaku. Saya suka [komposer] John Williams dan ingin menciptakan musik tema gulat dengan cara yang sama sepertinya. Saya ingin penonton merasakan apa yang karakternya rasakan.”

VICE meminta Johnston membeberkan proses berpikirnya selama menyusun lagunya, serta pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui The Undertaker, Stone Cold Steve Austin, The Rock, D-generation X dan Vince McMahon.

The Undertaker

“Saya ingin [The Undertaker] terdengar seperti lagu pemakaman dengan sentuhan lonceng dan organ gereja. Musiknya tak sebatas menampilkan agresi yang biasanya menjadi inti musik gulat.

Lagunya mengangkat tragedi dan kesedihan yang meliputi kisah karakter The Undertaker. Saya memainkan organ dengan gaya sinematik untuk memberikan kesan menegangkan. Saya rasa kesedihan ini berasal dari luka pribadi yang masih membekas yakni menjadi anak tengah dan merasa diabaikan. Ketika [menulis lagu ini], saya tak hanya melihatnya sebagai menciptakan musik saja, tetapi juga sebagai perjalanan psikologis. Kebanyakan orang penasaran dengan kematian dan akhirat, tapi mereka takut untuk memikirkannya.

Iklan

The Undertaker berusaha menunjukkan bahwa anak-anak harus siap memikirkan dan menghadapinya.”

Stone Cold Steve Austin

“Sepertinya Stone Cold Steve Austin bisa disukai banyak orang karena publik mengidolakan karakter yang berpegang teguh pada pendiriannya.

Karakter Steve sangat menjiwai ini. Kehebatannya tak tertandingi, sehingga tak ada satupun yang bisa mengalahkan dia. Penonton tak bisa melepaskan pandangan mereka dari Steve karena dia bergulat dengan sepenuh hati. Perseteruan sengit antara Austin dan [bos WWE] Vince [McMahon] menunjukkan dia tak takut melawan kekuasaan. Jarang ada orang seperti dia. Saya ingin lagunya merefleksikan kebebasan itu. 

Melodi gitar yang bersahutan terinspirasi dari genre funk yang memang kusukai. Saya mencari berbagai efek suara kaca pecah, tapi tak ada satupun yang memenuhi keinginanku. Saya akhirnya memadukan efek kaca pecah dengan suara tabrakan mobil, ledakan dan bahkan nada bass.

Semangat penonton akan terpacu begitu lagunya dimulai. Musik tema ini membuat kalian merasa bisa melakukan segalanya.” 

D-Generation X

“Banyak orang bilang lagu ini sangat mirip Rage Against the Machine, tapi menurutku lagunya lebih condong ke arah funk groove dan kental dengan ritme swing.

Vokal Chris Warren yang brilian berhasil memberikan sentuhan punk-rap ke dalam lagunya. Dia benar-benar mewakili apa yang ingin digambarkan lewat D-Generation X, yaitu mengacaukan tatanan yang ada. Selama proses rekaman, saya mengangkat tanda besar bertuliskan “You think you can tell us what to do?”, “You think you can tell us what to wear” dan banyak lainnya. Saya ingin dia mengucapkannya dengan suara bijak. Setelah itu, saya memotongnya hingga menjadi intro yang ada sekarang.

Iklan

Intronya panjang banget, makanya saya khawatir akan dipersingkat oleh Vince. Suara Chris bagaikan magnet, dan dia mampu menciptakan antisipasi di arena. Saya rasa lagu ini menginspirasi band-band nu-metal. Lirik ‘Are you ready?’ jadi populer banget. Sering digunakan dalam iklan liburan, asuransi dan banyak lagi.” 

The Rock

“Orang harus bisa merasakan kehadiran The Rock ketika mendengar lagu ini. Saya ingin menciptakan musik yang memang cocok dengan Dwayne [Johnson]. Awalnya saya terpikir bikin lagu rock untuk menyesuaikan nama karakternya. Saya lalu berubah pikiran antara rap atau bahkan musik orkestra. Tapi, The Rock seperti sudah punya genrenya sendiri, jadi musik tema ini hanyalah peleburan dari berbagai genre yang telah dikombinasikan dengan keriuhan yang diciptakan olehnya.

Saya bangga dengan solo gitarku di lagu ini, karena menggambarkan kepercayaan diri The Rock yang sangat tinggi. Sesi rekamannya juga seru abis. Untuk semua music director yang ingin bekerja sama dengan Dwayne, kalian harus mengikuti saja apa maunya dia karena hasilnya takkan pernah mengecewakan. Dia penuh karisma dan meninggalkan kesan yang mendalam padaku.”

Vince McMahon 

“Vince bikin saya jengkel ketika sedang menulis lagu tema ‘No Chance In Hell’. Saya membatin tak ada yang bisa melawannya karena dia punya segalanya. Saya sudah merampungkan rekaman gitar, dan sering melantunkan ‘No Chance...No Chance’ ketika mendengarkannya.

Lagu ini menceritakan tentang sistem kerja yang mengungkung kita semua, dan menggambarkan orang-orang yang menganggap dirinya sangat hebat. Vince menyukai hal-hal mengejutkan. Dia membiarkanku mengambil risiko, dan dia akan merasa sangat senang jika kalian berhasil mengejutkannya dan dia suka dengan kejutan itu. Dia bahkan akan komplain kalau tidak suka! Walaupun begitu, saya akan terus menganggapnya teman sendiri. Kami menciptakan sesuatu yang baru karena bisnisnya dulu — yang dibeli dari ayahnya — tidak memiliki musik latar untuk pegulat. Karya kami mengubah segalanya, dan menjadikan acara gulat terasa lebih teatrikal. Saya takkan pernah berhenti membanggakannya.”

@thobbsjourno

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey