Politik

Survei SMRC: Jumlah WNI Percaya Isu Kebangkitan PKI Stagnan Tiap Tahun

Cuma 14 persen responden percaya PKI bangkit lagi. Kesimpulan analis politik: menebar ketakutan komunisme tak efektif mempengaruhi emosi masyarakat agar mendukung politikus tertentu.
01 Oktober 2020, 12:27pm
Survei SMRC Sebut WNI yang Percaya Isu Kebangkitan PKI cuma 14 persen
Anggota FPI berunjuk rasa di Bandung menolak kebangkitan PKI pada 31 Mei 2016. Foto oleh Timur Matahari/AFP

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) baru saja mengumumkan hasil survei tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia pada isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hasilnya, didapati 14 persen orang Indonesia masih percaya partai yang sudah 55 tahun dihancurkan itu akan bangkit lagi. Angka ini tinggi, namun menurut SMRC, besarnya stagnan dari tahun ke tahun tanpa lonjakan berarti.

“Warga yang setuju bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI tidak terlalu banyak dan tetap dari waktu ke waktu,” ujar Direktur Eksekutif SMRC Sirojudin Abbas dalam webinar “Penilaian Publik Terhadap Isu Kebangkitan PKI”, Rabu (30/9), dilansir dari Suara.

Angka ini sebenarnya naik dari tiga tahun lalu yang cuma 12,6 persen. Hanya saja selama empat tahun terakhir trennya stabil di kisaran 10-16 persen. “Tampaknya jualan hantu PKI tidak begitu laku. Tapi, masih ada waktu September 2021, 2022, 2023. Siapa tahu laku sampai menjelang pilpres 2024,” kata analis politik dan ekonomi Rustam Ibrahim.

Tiga tahun lalu, melihat hasil survei bertema serupa dari SMRC, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengatakan  isu kebangkitan PKI termasuk isu dunia maya. Sesuatu yang diada-adakan buat kepentingan politik tertentu.

Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid berpendapat serupa. Ia menegaskan isu PKI muncul musiman, menjelang pemilu atau saat ada konflik tertentu.

“Munculnya sekitar Agustus-September atau menjelang pilkada atau [saat perlu ada] stigma ke kelompok masyarakat terutama yang melawan, apalagi terkait konflik agraria, konflik yang berkaitan dengan sengketa industri atau bisnis, lebih menukik lagi kalau keterkaitan dengan aparat keamanan, baik kepolisian atau TNI,” kata Alissa, disadur dari Detik.

Lebih detail, survei tersebut memperlihatkan 64 persen masyarakat pernah mendengar isu kebangkitan PKI. Dari jumlah yang mengaku pernah mendengar itu, sebanyak 38,7 persen saja (atau 14 persen secara total responden) mengamini kebangkitan PKI nyata. Lalu, dari 14 persen yang percaya kebangkitan PKI, mayoritas beragama Islam dan beretnis Minang.

Lebih luas, mereka yang pernah mendengar atau sadar sama isu ini kebanyakan laki-laki di perkotaan Sulawesi, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Sedangkan yang percaya sama kebangkitan PKI rata-rata pria serta tinggal di Bali, Nusa Tenggara Timur dan Barat, dan Sumatera. 

Pendidikan dinilai turut mempengaruhi persepsi masyarakat. Survei menjelaskan, masyarakat yang setuju emang ada kebangkitan PKI kebanyakan berpendidikan SMP dan SMA. Sirojudin menambahkan, dari segi elektoral, mereka yang sadar dengan isu kebangkitan PKI ditemukan lebih banyak di kelompok pemilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sedangkan yang percaya ada di kelompok pemilih Partai Nasional Demokrat (NasDem).

“Dan juga, kesadaran dan tingkat kesetujuan isu kebangkitan PKI lebih tinggi di pemilih Prabowo-Sandi dibanding Jokowi-MA,” tambah Sirojudin, dilansir Tirto.

Survei dilakukan pada 23-26 September 2020 dengan total sampel responden sebanyak 1.203 orang berumur lebih dari 17 tahun. Pemilihan responden dilakukan berdasarkan koleksi data SMRC yang udah melaksanakan survei sejenis sejak 2016. Pengumpulan opini kepada responden dilakukan lewat telepon dengan margin of error sebesar 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.