Howey Ou Aktivis Muda Isu Perubahan Iklim Tiongkok Dibungkam Aparat dan Sekolah
Foto Howey oleh NICOLAS ASFOURI / AFP 
Climate Uprise

Perjuangan Sunyi Howey Ou: Aktivis Muda Perubahan Iklim Tiongkok yang Dibungkam

Pemberangusan aksi Howey Ou dari aparat hukum, sekolah, hingga keluarga sendiri tidak mengendurkan semangat gadis 18 tahun itu menuntut pemerintahnya berhenti merusak Bumi.
26.9.20

Saatnya kita bergerak. Selama satu hari didedikasikan khusus membahas problem lingkungan di Bumi, semua situs VICE Media Group mempublikasikan seri “CLIMATE UPRISE”: berbagai cerita tentang bencana iklim dan cara mengatasinya. Klik di sini bila kalian ingin mengenal anak muda lain yang fokus melawan perubahan iklim di berbagai negara. Bersama-sama, kita bisa menghindari berakhirnya peradaban yang datang terlalu cepat.


Kisah remaja 18 tahun Ou Hongyi, atau lebih dikenal dengan julukan Howey Ou, tidak seindah Greta Thunberg. Dia berjuang sendirian menciptakan perubahan demi alam Tiongkok yang lebih baik. Negara adidaya ini dinobatkan sebagai penghasil karbon terburuk di dunia, mengalahkan Amerika dengan melepaskan 11,7 miliar metrik ton gas rumah kaca. Tingkat emisinya melebihi gabungan AS dan Eropa.

Meski mengkhawatirkan, fakta ini menjadi pengingat bagi Howey akan pentingnya bertindak secepat mungkin.

“Saya heran kenapa di negara yang jumlah populasinya melebihi 1,4 miliar, tak ada satupun anak muda yang berani menentang kerusakan lingkungan mengerikan yang sedang terjadi,” ujar Howey.

Kesadaran lingkungan Howey tumbuh sejak dia masih kecil. Dia besar di kota kecil Guilin yang masih asri dengan pegunungan, sungai air tawar dan bukit batu kapur dramatis sebagai latar belakangnya. Kecintaannya pada alam dan binatang mendasari tekad Howey untuk memulai misi yang mengubah hidup.

Howey menyita perhatian dunia setelah dia melancarkan aksi pemogokan iklim pertamanya di depan gedung pemerintahan pada Mei tahun lalu. Greta bahkan memuji keberaniannya melawan perubahan iklim di Tiongkok. Namun, aksi Howey hanya bertahan tujuh hari sampai akhirnya dia ditangkap polisi.

Tak seperti rekan aktivis muda asal Swedia yang menerima banyak penghargaan, gerakan iklim Howey tidak disambut dengan baik di tanah airnya. Ditambah lagi, Tiongkok dikenal sebagai negara anti-kritik. Siapa saja yang berbeda pendapat dengan pemerintah akan dicap pembangkang. Mereka terancam menerima hukuman berat jika melawan negara.

Kepada VICE News, Howey menceritakan dedikasinya menyelamatkan Bumi dan bagaimana dia menghadapi berbagai penolakan terhadap kegiatan aktivisme-nya di Tiongkok.

VICE: Halo Howey. Boleh ceritakan pengalamanmu melakukan aksi mogok iklim sendirian di Guilin, Tiongkok?
Howey Ou: Saya merencanakan aksinya berhari-hari sebelum akhirnya memberanikan diri. Saya mempersiapkan diri dengan membaca kisah-kisah aktivis yang melawan perubahan iklim. Saya juga bikin slogan dan pernyataan yang bisa mengejutkan dan menarik perhatian orang-orang di sekitar. Barulah dari situ saya menggelar aksi di Balai Kota pada 26 Mei 2019.

Tak banyak yang terjadi di hari pertama. Saya sendirian di sana, dan tidak lama-lama di lokasi pertama. Sebelum pindah ke tempat lain, saya foto-foto dulu seperti pengunjuk rasa kebanyakan. Fotonya lalu saya unggah ke Twitter. Reaksinya masih di batas wajar. Saya pun tergerak melanjutkan aksinya.

Selanjutnya, saya mulai mengajak sahabat. Kami bertemu petugas keamanan di salah satu gedung pemerintah. Saya sempat khawatir akan dicegat mereka, tapi rupanya petugas itu sangat ramah.

Dia menyarankan supaya kami mempersiapkannya matang-matang. Menurutnya, akan lebih baik kalau kami bawa proposal untuk diajukan ke pejabat. Saya melihat ada harapan di sini.

Saya memutuskan untuk kembali ke Balai Kota. Setiap hari, saya menghabiskan beberapa jam di depan gedung. Saya memposting segala sesuatunya di Twitter. Saya lalu menerima notifikasi kalau salah satu twit saya di-retweet Greta Thunberg. Dari situ, jumlah pengikut saya terus bertambah. Saya mulai dikenal. Tak hanya di Twitter, tapi juga di dunia nyata.

Polisi tak berseragam menyadari kehadiran saya. Mereka hanya memberiku dua pilihan, antara pulang atau dibawa ke kantor polisi. Saya memilih yang kedua, karena pulang sama saja artinya dengan mengakui kekalahan. Saya merasa perlawanan dengan cara damai adalah pilihan bagus.

Seperti apa strategimu agar publik tertarik pada isu perubahan iklim?
Cara paling mudah menangkap perhatian publik terhadap isu perubahan iklim yaitu dengan memberontak. Aktivis wajib mengetahui cara terbaik untuk mencapai keseimbangan. Fakta ilmiah akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan pembawaan positif dan menggugah semangat. Kita harus terus mendorong orang lain untuk melakukan hal serupa, jadi tidak boleh gampang menyerah. Selain itu, kita perlu bijaksana dalam menghadapi tantangan.

Inilah cara terbaik meningkatkan kesadaran publik.

Apa yang dilakukan polisi setelah menangkapmu?
Setibanya di kantor polisi pusat, mereka membawaku ke ruang interogasi. Polisi mencatat pengakuanku di berkas dan komputer. Mereka meminta saya untuk menceritakan semuanya. Mereka bertanya dari mana saya tahu tentang perubahan iklim, dan kenapa saya melakukan aksi mogok setiap hari. Polisi juga menanyakan orang-orang yang saya temui di jalanan. Mereka bilang saya harus jujur.

Polisi tampaknya sudah tahu banyak tentang saya dan siapa saja teman-teman saya. Karenanya, saya sadar ini bukan sebatas interogasi atau penangkapan biasa. Mereka rupanya bekerja untuk badan keamanan nasional.

Mereka lalu menguliahku. Katanya aksi saya melanggar hukum. Kalau dipikir-pikir lagi, mereka sepertinya merasa terancam dengan keberadaanku. Mereka ingin membungkam orang-orang seperti saya yang menjelek-jelekkan negara. Mereka berusaha mengendalikan informasi dan memberantas perlawanan. Mereka sama sekali tidak peduli dengan sains dan planet ini.

Sesi interogasinya berlangsung lebih dari satu jam. Saya baru dibebaskan ketika hampir tengah malam. Orang tua menjemput ke kantor polisi, dan mereka sangat khawatir. Aparat lalu meminta mereka untuk melarang saya main Twitter atau ngobrol dengan orang asing dan jurnalis.

Apa yang terjadi setelah kamu sempat ditahan?
Koneksi internet rumah kami mati selama tiga hari. Nomor HP saya dinonaktifkan. Interogasinya ternyata tidak selesai sampai di situ saja. Polisi rutin menghubungi orang tua lewat telepon kantor. Gara-gara masalah ini, saya sampai bertengkar dengan ayah ibu.

Ayahmu kabarnya khawatir melihat aktivisme yang kamu jalani. Dia takut ini akan merusak masa depanmu.
Betul sekali. Orang tua merasa tidak ada gunanya saya berdemo. Itu bukan tindakan bijaksana katanya. Mereka bilang saya seharusnya fokus sekolah saja. Kami jadi sering cekcok sejak kejadian itu. Mereka bahkan sampai menyita HP dan gadget yang saya miliki. Saya akhirnya kabur dari rumah dan berkelana selama beberapa bulan. Saya fokus mengurusi gerakan di pusat-pusat penelitian, soalnya tidak mungkin bisa melakukan ini di rumah. Sekarang saya tinggal sendirian, jauh dari keluarga. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya

Mengapa kamu menyebut perubahan iklim adalah pertarungan yang “sepi” di Tiongkok?
Sebagian besar aksi saya menyebarkan pesan keadilan iklim dilakukan sendirian. Saya tidak menerima banyak dukungan seperti aktivis-aktivis muda lainnya di luar negeri.

Saya memang bukan satu-satunya orang Tiongkok yang dibungkam, tapi aktivisme saya sering dipertanyakan. Banyak LSM di sini didanai pemerintah, sehingga mereka cenderung tidak terlalu berani bersuara. Saya merasa terasingkan dari kalangan pegiat lingkungan lokal. Saya tidak diundang dalam acara-acara dan konferensi bertema perubahan iklim di Tiongkok.

Twitter adalah platform yang hebat, dan saya menerima banyak dukungan dari aktivis-aktivis asing di sana. Mereka orang-orang hebat. Mereka menginspirasi saya untuk lebih berani dan percaya diri menyampaikan aspirasi.

Menurutmu, siapa yang paling dirugikan dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim?
Kelompok rentan seperti petani dan nelayan di bawah garis kemiskinan. Saya pernah mengunjungi beberapa desa untuk melihat keadaan di sana. Saya sedih dan frustrasi menyaksikan kehidupan mereka yang hancur oleh banjir dan bencana lain.

Warga setempat membagikan keputusasaan mereka kepadaku. Mereka pasrah dengan situasi yang ada, dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk mencegah bencana di masa depan. Mereka merasa pemerintah telah mengecewakan rakyat, dan tidak tahu harus ke mana meminta bantuan. Dan inilah tugas saya—menuntut perubahan melalui pemberontakan.

Saya juga mengkhawatirkan dampak nyata perubahan iklim di Dataran Tinggi Tibet, yang merupakan sumber mata air penting dan strategis bagi miliaran jiwa. Suhu di sana naik meningkat lebih cepat daripada di negara Asia lainnya.

Bagaimana perasaanmu disama-samakan dengan Greta Thunberg?
Saya pertama kali tahu soal Greta dari internet. Orang-orang membagikan ceritanya mogok sekolah untuk memprotes perubahan iklim. Itu poin pembicaraan yang besar. Saya memahami aksinya, sehingga saya ingin terlibat. Dia berperan penting dalam perang global melawan perubahan iklim. Dunia mungkin takkan membicarakan isu ini jika tidak ada Greta. Takjub sekali rasanya melihat anak muda turun ke jalan dan bersatu untuk menuntut perubahan dari pemerintah.

Bagaimana aktivisme memengaruhi kehidupanmu sehari-hari?
Saya berhenti makan daging sejak dua tahun lalu. Sebagai pencinta binatang, saya sangat menentang segala bentuk kekejaman terhadap hewan. Saya mengecam praktik peternakan industri yang menyiksa dan mengeksploitasi binatang demi keuntungan semata.

Itulah kenapa saya berhenti makan telur dan minum susu juga. Menurut saya, menjadi vegan tak hanya bagus bagi kesehatan saja, tapi juga bagi lingkungan.

Wawancara sudah kami sunting agar ringkas dan lebih enak dibaca.

ClimateUprise_Button.png