Literasi Finansial

Panduan Buat Anak Muda Menghadapi Resesi yang Mengancam Indonesia

Ekonom minta kita berhemat, pemerintah mendorong masyarakat tetap belanja selama pandemi. Bingung jadinya. Kita kudu ngapain? Berikut tips dari para penasehat keuangan yang dihubungi VICE.
13 Agustus 2020, 8:17am
Tips mengelola keuangan selama resesi ekonomi akibat pandemi corona
Ilustrasi resesi akibat pandemi corona via RAC/Getty Images

Dampak pandemi terhadap pertumbuhan ekonomi pekan lalu diumumkan Badan Pusat Statistik. Sepanjang triwulan II di tahun menyebalkan ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,3 persen. Berhubung untuk resmi disebut resesi, pertumbuhan ekonomi harus minus di dua kuartal berturut-turut, Indonesia memang belum masuk kategori resesi. Soalnya sepanjang triwulan I pertumbuhan ekonomi masih positif. Tapi bayang-bayangnya terus menghantui selagi kita tak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. 

Negara lain kayak Amerika Serikat dan Jepang sudah terkena resesi duluan. Pertumbuhan ekonomi AS anjlok parah sampai minus 32,9 persen. Kata pakar, resesi pastinya berdampak pada penurunan pendapatan dan PHK massal. Orang terdampak terpaksa menggunakan dana darurat, uang tabungan, bahkan menjual aset untuk bertahan hidup.

Ekonom juga bilang, ini saatnya berhemat dan menunda belanja tidak perlu. Tapi, pemerintah justru mendorong aktivitas belanja dengan kebijakan bagi-bagi duit, seperti subsidi gaji Rp600 ribu buat karyawan swasta. Buat anak muda di bawah 30 tahun yang baru pertama kali ngerasain situasi ekonomi sedepresif ini, tentu bertanya-tanya: kita harus ngapain di tengah ancaman resesi terburuk sejak Perang Dunia kedua?

Saya sendiri sebagai bagian dari anak muda (umur 26 tahun masih muda, kan?) enggak tahu pasti harus bertindak apa setelah dengar berita bahaya kedatangan resesi. Baru terjun ke dunia kerja selama tiga tahun, tabungan saya belum banyak-banyak amat sehingga enggak bisa bantu negara menggerakkan roda ekonomi. Di sisi lain, permintaan untuk berhemat juga enggak bisa saya lakukan secara serius karena selain masih butuh beli ini-itu, enggak banyak juga uang tersisa yang bisa dihemat.

Selain kelompok kayak saya, banyak kategori anak muda lain juga kena imbas. Misal, para mahasiswa yang masih bergantung pada kiriman orang tua atau fresh graduate yang baru lulus akhir 2019 dan awal 2020 sehingga kesulitan cari kerja. Kalau sudah begini, jangankan berhemat, memenuhi kebutuhan sehari-hari aja susah.

Saya lantas bertanya pada konsultan keuangan Prita Hapsari Ghozie terkait keresahan ini. Dengan harapan, jadi tahu seberapa besar dampak resesi bagi anak muda dan bagaimana cara menghadapinya.

“Dampak resesi yang paling dikhawatirkan adalah turunnya perekonomian yang berdampak pada berkurangnya lapangan kerja, peluang usaha, dan lainnya. Nah, buat para mahasiswa, dampaknya bisa jadi mirip dengan tahun 1998, jika ortu terkena masalah [PHK atau bisnis turun], ya mereka tidak bisa provide biaya hidup dan biaya pendidikan seperti sebelumnya. Buat fresh graduate, bisa jadi lapangan pekerjaan tidak banyak dan harus bersaing dengan angkatan kerja yang sudah lebih berpengalaman [tapi rela dapat gaji lebih rendah setara fresh graduate],” kata Prita kepada VICE.

Financial trainer Emiralda Noviarti yang juga kami mintai pendapat mengatakan hal senada, dengan penekanan pada dana darurat. “Sebagai mahasiswa, bisa saja penghasilan orang tua terdampak. Kalau keluarga enggak punya dana cadangan cukup, bisa jadi jatah bulanan akan mengalami hambatan, kan. Kamu harus berhemat dan berinisiatif mencari penghasilan tambahan. Kalau kamu punya tabungan, kamu akan terpaksa menggunakan dana tersebut,” terang Emiralda kepada VICE,.

Bagi kawan-kawan mahasiswa yang baru lulus, resesi jelas bikin pekerjaan sulit didapat. Boro-boro rekrutmen karyawan baru minim pengalaman, kata Emiralda, karyawan yang sudah ada saja harus mengalami pemotongan gaji/tunjangan, bahkan dirumahkan dan di-PHK.

“Contoh, dengan ditiadakannya penerimaan CPNS 2020 ditiadakan, berapa banyak lapangan kerja yang hilang? Artinya secara umum, kompetisi mencari pekerjaan akan semakin tinggi,” ujarnya.

Sementara bagi karyawan yang baru bekerja dua-tiga tahun, dampak yang mungkin terjadi adalah mengalami sendiri yang namanya pemotongan gaji/tunjangan, dirumahkan, dan di-PHK. Keputusan ini jelas berdampak dalam hidup para terdampak, sementara pengeluaran harus tetap dibayarkan.

Terus, apa yang harus kita lakukan agar siap menghadapi ini semua selain gelisah tak menentu? Emiralda dan Prita punya saran. Berikut rangkumannya:

Pertama, cek situasi keuangan saat ini. Kalau dirasa tidak aman, kita dituntut kreatif untuk cari peluang pemasukan lain. Bagi yang beruntung karena enggak kehilangan pekerjaan, memikirkan cara memiliki penghasilan tambahan tentu enggak ada ruginya. Pokoknya harus kreatif membuka potensi sumber penghasilan.

Kedua, ini saatnya kamu menggunakan dana darurat untuk bertahan hidup, tentu saja apabila ada. Kalau belum ada, ya harus mulai dipikirkan. Caranya dengan menyisihkan penghasilan (termasuk jatah bulanan) secara konsisten ke pos ini.

“Di kondisi normal [dana darurat] biasanya berkisar 4-12 bulan pengeluaran inti seperti makan dan kos. Semakin banyak tanggungan, semakin besar dana yang dibutuhkan. Semakin tidak ‘aman’ pekerjaanmu, semakin besar juga dana darurat yang kamu perlukan. Di situasi enggak normal kayak sekarang, akan ideal kalau dana darurat disiapkan sampai prediksi krisis berakhir,” jelas Emiralda. 

Hm, kalau vaksin benar dirilis awal hingga pertengahan tahun depan, berarti dana darurat yang ideal saat pandemi adalah untuk dua tahun pengeluaran wajib.

Bagi orang yang tak pernah menyisihkan pos dana darurat, ini jadi pelajaran penting yang enggak boleh diabaikan lagi. “Pelajaran berharga di masa pandemi ini adalah sadar pentingnya financial planning bagi setiap orang dan sadar pentingnya dana darurat,” kata Prita.

Now you know that cash is king. Uang tidak semudah itu dicari di jaman krisis seperti ini. So, jika kamu punya cash, simpan dengan baik hingga 12 kali living expense.”

Ketiga, biasakan membelanjakan uang secara cermat dan berhati-hati, alias mindful spending. Seperti menunda pembelian besar, mengurungkan niat mengambil kredit/utang yang tidak mendesak, menganggarkan ongkos nikah secukupnya aja, membeli produk substitusi berfungsi sama namun lebih murah, sampai memanfaatkan promo e-commerce.

“Ingat bahwa komitmen mencicil artinya memastikan adanya utang di masa depan, padahal di situasi sulit dan tidak menentu seperti saat ini, apakah kamu yakin bahwa penghasilanmu pasti aman selama kurun waktu tersebut?” Emiralda memperingatkan.

Keempat, apabila mampu, jadilah bagian dari jaring pengaman sosial. Upayakan membantu orang di sekitarmu yang membutuhkan. Ini momen penting untuk menggalakkan local pride. Jika ada tetangga atau teman yang kehilangan pekerjaan lalu berjualan, bantulah mereka dengan membeli produknya. Lalu, sebarkan informasi jualan tersebut di media sosialmu.

“Jika ada brand lokal favoritmu selama ini, misalnya produk fashion, seperti baju atau sepatu, kamu bisa membantu membeli produk mereka. Ini artinya kamu membantu menghidupkan UMKM dan kegiatan ekonomi. Kita harus berupaya untuk melalui kondisi sulit ini bersama-sama,” terang Emiralda. FYI aja, UMKM emang tulang punggung ekonomi Indonesia karena 97 persen angkatan kerja terserap ke situ.

Kelima, jika bekerja penuh waktu tidak menjadi opsi, kita harus nyari pekerjaan yang di sana kita bisa terus meningkatkan keahlian. Lalu yang keenam, tetaplah berinvestasi untuk jangka panjang. Tapi catatannya, menurut Prita investasi adalah urusan setelah dana darurat. Kalau urusan dana darurat beres, baru deh nyari peluang inves. Soalnya ya itu tadi, uang tunai adalah raja.

Resesi ataupun tidak resesi, Emiralda tetap menyarankan anak muda memiliki kebiasaan keuangan yang baik. Jangan besar pasak daripada tiang, biasakan menabung, anggaran tabungan yang bertambah seiring pertambahan gaji, sampai berinvestasi pada pengembangan diri agar semakin banyak potensi sumber pendapatan jadi salah enamnya.