Hong Kong

Lebih Brutal dari DPR, Anggota Parlemen Hong Kong Tawuran Sampai Masuk RS

Parlemen di Asia Timur sering berkelahi soal kebijakan. Tapi baku hantam di Hong Kong ini paling sengit. Seorang anggota parlemen sampai digotong karena terluka. Mending mereka kayak gini atau tidur?
12.5.20
Anggota Parlemen Hong Kong berkelahi baku pukul akibat isu Tiongkok
Anggota parlemen pro-demokrasi Raymond Chan (tengah) digotong petugas keamanan setelah memicu perkelahian dengan politikus pro-Beijing Starry Lee. Saat kejadian, Lee bertugas sebagai pimpinan sidang. Foto oleh Anthony Wallace/AFP

Jumat pekan lalu, anggota parlemen pro-demokrasi dan pro-Beijing terlibat dalam pertengkaran di badan legislatif Hong Kong. Seorang lelaki diseret paksa dengan kerah bajunya, sementara paramedis menggotong yang lain dengan tandu.

Petugas keamanan akhirnya mengeluarkan 10 anggota pro-demokrasi dari majelis. Dituduh berpihak pada lawan, staf legislatif ini menerima ancaman akan ditindak secara hukum. Dua anggota pro-demokrasi yang dikeluarkan segera dilarikan ke rumah sakit.

Perkelahian ini dipicu oleh perselisihan mengenai pihak mana yang harus memimpin komite penting, menandakan kembalinya ketegangan politik yang melumpuhkan kota semi-otonomi Tiongkok selama berbulan-bulan. Mendapat seruan aksi mobilisasi, demonstran pro-demokrasi berkumpul di jalanan dekat gedung legislatif pada sore hari setelah bentrokan terjadi.

Komite DPR Hong Kong, yang bertanggung jawab memeriksa tagihan sebelum mengirimkannya untuk pemungutan suara akhir, telah berbulan-bulan dipusingkan oleh pemilihan jabatan baru. Ketidaksepakatan menghasilkan backlog besar legislasi, termasuk RUU kontroversial yang akan menindak pidana para penghina lagu kebangsaan Tiongkok.

Selain itu, perselisihannya juga dipicu oleh anggota parlemen pro-Beijing Starry Lee yang menyerobot naik podium menjelang sesi Komite DPR. Pada saat itu, anggota tengah memperebutkan kursi.

“Saya berhak memulai rapat ini,” kata Lee yang berusaha memimpin komite dari balik penjagaan aparat keamanan. Pihak pro-demokrasi sontak menyorakinya dengan sindiran, “Starry Lee bertindak di luar kekuasaannya.”

Beberapa berusaha menerobos aparat untuk mencapai kursi pembicara. Melihat ini, Lee memerintahkan petugas keamanan untuk mengusir mereka. Lainnya melawan dengan kekerasan. Anggota pro-demokrasi Claudia Mo menghina Lee “antek-antek Beijing kejam.”

Ray Chan, anggota partai pro-demokrasi People Power, berlari telanjang kaki untuk meloloskan diri dari satpam. Akan tetapi, anggota pro-Beijing Kwok Wai-keung dari Federasi Serikat Buruh menarik kerah bajunya.

Iklan

“Saya sedang di UGD sekarang. Kwok Wai-keung meneror saya dengan sikap kasarnya yang tak beralasan di Legco,” bunyi twit Chan ketika di rumah sakit. Dia kemudian menambahkan insiden tersebut menunjukkan “sifat asli” lawannya.

Andrew Wan, anggota pro-demokrasi dari Partai Demokrat, mengalami cedera di punggungnya. Tim paramedis menggotongnya dengan tandu. Anggota pro-demokrasi lain, Kwok Wing-kin, diseret petugas keamanan setelah dia melemparkan tumpukan kertas ke arah kursi dewan.

Tahun lalu, demonstrasi pecah di Hongkong setelah RUU Ekstradisi diusulkan. Aksi unjuk rasa yang dimulai hingga Juli berlangsung selama berbulan-bulan.

Demonstrasi dihentikan ketika virus corona mulai mewabah dan peraturan social distancing diberlakukan. Ketika ancaman mereda, ketegangan politik kembali meningkat.

15 orang termasuk politikus senior, pengacara, dan penerbit ditangkap pada April karena melakukan pertemuan bersama aktivis pro-demokrasi. Beijing juga meningkatkan retorika terhadap gerakan protes dalam beberapa pekan terakhir dan menggambarkannya sebagai “virus politik”.

Pada Jumat pagi, sedikitnya tujuh orang luka-luka ketika kelompok bersenjata berpatroli di sekitar Lennon Walls — dinding penuh Post-It yang bernada gerakan protes — dan bersumpah akan menghancurkan lokasi protes.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News