Bentrok TNI-Polri

Debat Harga Rokok Bikin Polisi dan Tentara Kembali Bentrok di Papua

Lima polisi luka-luka dikeroyok puluhan anggota Kopassus di Mimika, dipicu harga rokok kios polisi yang dianggap mahal. Pimpinan aparat yang bentrok beralasan cuma "salah paham" (tapi sering terjadi).
29.11.21
Polisi dan Kopassus bentrok di Mimika Papua Karena Berdebat Harga Rokok
Foto hanya ilustrasi, diambil dari momen aparat gabungan polri dan TNI berjaga di lokasi kerusuhan di Mimika, Papua pada 18 Juni 2012. Foto oleh TJAHJONO ERANIUS/AFP

Kisah ini bermula dari enam polisi Korps Brigade Mobil Kepolisian (Brimob) Satgas Amole memutuskan cari penghasilan tambahan dengan berjualan rokok di Pos RCTU Mile 72, Mimika, Provinsi Papua. Pada Sabtu (27/11) petang waktu setempat, 20 tentara dari Satgas Nanggala Kopassus berkunjung ke “kios” itu, bermaksud melarisi dagangan para polisi. 

Ternyata aktivitas perdagangan antar aparat ini malah berujung petaka. Para tentara protes karena harga rokok yang dibanderol polisi terlampau mahal. Adu mulut terjadi, berlanjut baku hantam. Proses jual-beli rokok berubah jadi jual-beli serangan dengan lima polisi luka-luka sebagai hasil transaksinya.

Iklan

Ceritanya tidak hanya sampai situ. Pertikaian berubah horor ketika anggota Brimob yang terluka enggak terima dan minta bantuan rekan-rekannya memburu para tentara pengeroyok. Sekelompok polisi kembali ke lokasi kejadian untuk mencari barak tentara di sekitar, sembari melepaskan tembakan ke udara. Teriakan “Mana kau, mati kau!” beserta tembakan terekam kamera dan viral di media sosial.

Kabid Humas Polda Papua Ahmad Musthofa mengonfirmasi kebenaran insiden itu. Lewat keterangan tertulis kepada awak media, Ahmad menyebut kelompok tentara mengeroyok menggunakan benda tumpul dan tajam, meski tidak merinci lebih lanjut apa senjata yang dimaksud. Menggunakan template “salah paham”, Ahmad mengatakan kini situasi sudah kondusif.

“Pimpinan masing-masing [polisi dan TNI] setelah menerima laporan, langsung berkoordinasi untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut. Pasca kejadian tersebut situasi di Kabupaten Mimika khususnya di Ridge Camp Pos RCTU Mile 72 tepat di depan Mess Hall, Timika, Papua, aman dan kondusif,” kata Ahmad dalam keterangannya, dilansir Detik.

Ahmad menyebut pihaknya sedang melakukan proses penindakan disiplin terhadap masing-masing anggota yang terlibat perkelahian. Janji penindakan juga diucap Panglima TNI Andika Perkasa yang mengaku sudah berkoordinasi dengan Polri untuk menelusuri kasus dan menindak para anggota yang terlibat.

Iklan

Bentrok antara polisi dan tentara di Papua sebelumnya pernah terjadi pada April 2020 di Mamberamo Raya. Waktu itu situasinya lebih mengerikan. Kedua institusi keamanan tersebut dilaporkan terlibat baku tembak, menyebabkan tiga polisi meninggal dunia. Kronologi peristiwa tak dijelaskan dengan detail oleh pimpinan kedua pihak. Informasi yang dibuka menyebutkan kronologi bahwa lima polisi dari Polres Mamberamo Raya dan Polsek Mamberamo Tengah diam-diam mendatangi pos tentara untuk melakukan penyerangan. Kami menuliskan peristiwa itu di sini.

“Memang betul ada pertikaian yang berawal dari kesalahpahaman hingga menyebabkan dua anggota [kini tiga] Polres Mamberamo Raya meninggal. Dari laporan yang diterima, terungkap bahwa anggota yang meninggal itu bersama empat rekannya pada Minggu dini hari menyeberang ke Kasonaweja dan berupaya menyerang,” kata Kapolda Papua Paulus Waterpauw saat itu, kepada Kompas.

Enggak cuma di Papua, tentara dan polisi sudah sering berantem di berbagai wilayah lain. Lewat pencarian singkat, bentrok keduanya bisa ditemukan pernah terjadi di Sumatera SelatanBatamSulawesi SelatanKarawangTapanuliCiracas, dan Maluku. Kejadian-kejadian ini bahkan memakan korban jiwa. Pusat Studi Politik dan Keamanan Unpad mencatat, dalam kurun 1999-2014 terjadi 200 kasus bentrok polisi-tentara yang menewaskan 20 orang.

Peneliti Studi Militer yang juga Direktur Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPRERSSI) Beni Sukadis mengatakan gesekan kedua institusi meruncing setelah OrBa jatuh. Sebab, secara politik TNI tak lagi menguasai sektor strategis, termasuk sektor bisnis. Sementara, peluang lebih terbuka untuk polisi.

“Ada kecemburuan. Hampir di seluruh daerah kok. Kalau dikatakan konfliknya sepele, ya memang begitu adanya. Dari dulu yang kayak gitu-gitu enggak diurus sama pimpinan. Perdamaian formalitas tataran atas, bawahan enggak berubah. Kepemimpinan enggak memberi contoh. Yang atas sibuk mencari kesejahteraan dan jabatan,” kata Beni kepada Tirto.