Pemerkosaan

Aku Melabrak Lelaki yang Dulu Memerkosaku Lewat Aplikasi Pesan Ponsel

Kalimat “enggak apa-apa” keluar dari mulutku saat kami berlanjut telepon. Padahal, jelas ada masalah besar dan aku tidak baik-baik saja...
23.7.18

Beberapa waktu lalu, aku menerima telepon sekitar jam satu malam. Panggilan selarut ini memang sering kamu dapatkan kalau berkawan dengan komedian. Nomornya bukan nomor lokal. lagi-lagi ini juga bukan hal yang janggal. Tak merasa ada yang aneh, aku langsung mengangkat telepon. Lalu terdengar suara lelaki dari ujung sana.

“Dengan (namaku)?” tanya lelaki itu. Aku merinding. Aku kenal betul pemilik suara itu.

Iklan

“Benar.”

“Ini Brian. Kamu masih inget aku kan?”

Ya. Aku masih ingat lelaki ini.

Brian (sebut saja begitu, namanya aslinya sengaja kuganti) langsung nyerocos menjelaskan kenapa dirinya menelepon selarut itu. Dia adalah seorang pencandu alkohol dan kini sedang menjalani program 12 langkah sesuai anjuran psikolog.

Dia bilang apa yang dulu perbuat padaku salah—bahwa itu bukan sesuatu yang seharusnya terjadi. Hanya saja, dia tak menjelaskan perbuatan yang mana. Jadi, biar ceritanya lebih jelas, ini konteks obrolan kami: Brian dulu kawan saya sekaligus orang yang memerkosa aku.

Setelah ngomong panjang lebar tentang program rehabilitasi yang dia jalani, dia berhenti. Ada jeda yang bikin kikuk.

“Enggak apa-apa kan aku nelepon kamu?”

Kalimat “enggak apa-apa” keluar dari mulutku. Padahal, jelas ada apa-apa. Aku tiba-tiba tertegun tanpa alasan. Padahal, entah berapa kali aku membayangkan seperti apa aku melabrak lelaki ini selama bertahun-tahun. Namun, begitu kesempatannya datang, aku malah diam karena terlanjur syok. Aku tak menyangka suaranya bakal bikin aku seperti ini. Percakapan telepon itu harus segera aku pungkasi.

“Semoga kamu bisa maafin aku”

“Engga papa kok,” kataku sambil menutup telepon sebelum Brian mengeluarkan kata-kata lagi. Perutku seperti diaduk-aduk. Aku geram.

Lebih tepatnya murka sih. Lalu, aku pikir apa yang tadi dikatakan Brian. Ya, Brian memang merasa bersalah—tapi buat apa. Dia enggak ngomong secara spesifik. Dia juga mungkin tak mengingat detail kejadiannya. Dia bukan menelepon karena rasa bersalahnya. Alasan sejati dia meneleponku adalah karena itu merupakan bagian dari terapi yang dia jalani—langkah kesembilan.

Iklan

Bangsatnya lagi: Dia ngomong dengan sangat kalem, seperti sudah yakin dia bakal dimaafkan.

Kemudian, aku ingat-ingat lagi apa yang dia katakan menyadari aku tak sedikipun memaafkannya. Tidak sama sekali. Aku tak bisa memaafkan dia kalau dia sendiri tak sadar apa yang dilakukan adalah kesalahan besar. Dia menelepon karena merasa sudah berbuat salah. Cuma, coercive date rapist macam dirinya tak sadar kalau mereka sebenarnya pemerkosa. Bagi mereka, pemerkosa itu menunggu korbannya di jalan-jalan sepi, bukan seorang teman yang mengundang kawan perempuannya ke apartemen tipe studionya. Brian jelas tak tahu menahu dampak perbuatannya padaku atau suatu saat harus menghubungi aku (lagi-lagi karena itu bagian dari program terapi).

Dia tak pernah tahu tentang segala macam fantasi balas dendam yang aku impikan atau aku harus pindah kota lantaran perbuatannya. Dia juga tak pernah tahu aku berkali-kali mimpi diperkosa—yang konon adalah gejala PSTD. Malah, dia mustahil tahu rencanaku yang satu ini: pergi ke tempat terakhir dia tinggal dan menyakitinya. Caranya? gampang, aku bisa melempari jendela tempatnya dengan batu, menggebukinya dengan pemukul baseball dan berteriak sejadinya.

Untung, seorang teman berhasil membujukku untuk mengurungkan niat jahat itu. Pun, aku juga tak tahu apakah dia masih tinggal di sana. Lagipula, aku bisa dijebloskan ke penjara bila keukeuh menjalankan rencana itu. Belum lagi, aku masih belum punya nyari bahkan saat ngobrol dengannya di telepon.

Iklan

Aku lantas mencari namanya lewat Google. Kutemukan kantor Brian sekarang. Bermodal informasi ini, aku bisa saja nongol di kantornya, menemui petugas resepsionis dan ngomong “Hei, salah satu pegawai kantor ini pernah memperkosa aku bertahun-tahun lalu.” Tapi lalu apa? menunggu sampai dia menemuiku di salah ruangan kantor itu. Kayaknya kok konyol banget. Aku memang harus melabraknya secara langsung.


Tonton dokumenter VICE mengenai para penari lelaki di Banyumas yang mencoba mendobrak tabu dan trauma pembantaian sesudah G30S lewat seni:


Aku periksa lagi ponselku. Nomor Brian masih tersimpan. Daripada aku tak bisa berbuat apa-apa lagi gara-gara mendengar suaranya, aku kirimi Brian pesan teks.

“Aku enggak maafin kamu,” tulisku.

“Yang kamu lakukan enggak bisa dimaafkan begitu saja. Kamu memperkosa aku. Kamu tahu waktu itu aku mabuk. Kamu juga tahu aku masih takut laki-laki gara-gara mantanku,” makin lama, kata-kataku makin berani.

“Setelah aku bilang enggak, kamu malah memasukkan tanganmu ke celanaku dan bilang aku sudah basah. Kamu yang bikin aku mabuk dan ketakutan. Ingat, aku terus bilang enggak. Itu ALASAN kite ngeseks. Kita ngeseks bukan karena aku suka kamu. Aku enggal pernah suka kamu,” Amarah sudah sampai di ujung jariku selagi kata-kata tadi aku tik.

“Aku harap kalau kamu nanti punya anak perempuan, kamu enggak akan bisa menatap matanya. Kamu enggak akan bisa bicara dengan ibumu tanpa ingat apa yang pernah kamu lakukan dan lelaki macam apa dirimu sebenarnya. Aku enggak pernah memaafkan kamu. Jangan pernah balas pesan ini. Jangan pernah hubungi aku lagi.”

Iklan

Brian tak membalas.

Aku merasa lega. Aku sudah keluarkan semua yang pernah aku pendam. Tapi, aku tak memperoleh penyelesaian seperti yang dulu aku bayangkan. Aku tak pernah melabraknya di tempat dia tinggal atau dipecat dari kantornya. Dia malah bisa hidup dengan tenang. Beberapa hari kemudian, aku menemui salah satu kerabat Brian. Dia bilang Brian sedang melakoni program 12 langkah. Kerabatnya ini juga mengatakan kalau Brian mungkin dinasehati untuk tak mencari maaf dari orang-orang yang tak akan memaafkannya. Jadi, dengan meneleponku, Brian sudah melanggar salah satu panduan program 12 langkah—dan aku tetap tak memaafkannya.

Ada yang pernah bertanya kenapa aku tak lapor ke polisi setelah kejadian menyeramkan itu. Jawabanku sederhana saja: selama bertahun-tahun, aku tak berani mengakui kalau aku korban perkosaan. Aku terus menyangkal kenyataan itu. Lagipula, tak ada bukti yang bisa aku pegang—aku datang ke apartemennya atas keinginanku sendiri dan Brian menggunakan kondom yang dia buang ke WC setelah dia memperkosa aku.

Aku selalu mengagumi penyintas kasus perkosaan yang berani menemui polisi dan aku sejujurnya ingin Brian disingkirkan dari masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain, kalaupun, aku melaporkan Brian ke pihak berwajib, aku masih mimpi diperkosa setidaknya sekali dalam seminggu. Aku tetap hidup dirundung rasa tak takut. Nyaris tak ada yang bisa mengubahnya.

Bagiku, tak ada akhir bagi orang-orang yang mengalami trauma, tapi setidaknya Brian juga tak bisa menemukannya.

Iklan

Penyelesaian adalah modal berharga untuk melanjutkan hidup sebetulnya sangat membantu, andaikan konsep ini benar-benar ada. Aku tak bisa move on, jadi Brian juga harusnya tak boleh move on. Brian mungkin bukan seseorang sociopath karena buktinya dia ingin dimaafkan. Dia merasa perlu meminta maaf karena merasa telah menyakiti aku.

Aku ingin rasa bersalah itu ada di tenggorokannya tiap kali dia kencan dengan seorang perempuan. Aku ingin rasa bersalah itu melintas pikirannya di malam pernikahannya. Aku ini merasa malu saat mengantar putrinya beserta teman-temannya bila nanti anaknya mulai sekolah. Aku ingin dia merasakan cukup rasa sakit hingga dia tak memperkosa lagi.

Kalaupun, ada penyelesaian dan pemaafan layak diterima oleh Brian, aku ingin bersiaga hingga akhir hidup kelak—untuk memastikan aku adalah korban terakhirnya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.