FYI.

This story is over 5 years old.

Health

Kecanduan Seks itu Hanya Mitos Belaka

Rata-rata pria yang mengira kecanduan seks sebetulnya mengidap depresi atau gangguan mental lainnya.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Bekerja sebagai psikolog seks selama 27 tahun, Doug Braun Harvey sering kedatangan pasien pria yang datang ke kliniknya. Banyak dari mereka merasa paham apa penyakit yang mereka derita, tanpa didiagnosa lebih dulu. Ada seorang pria yang tidak bisa mengalami ereksi kecuali dia menonton film porno, ada yang kerap menghabiskan waktu di internet menonton obsesi fetish tertentu, namun menyembunyikan hal ini dari sang istri. Ada juga seorang lelaki yang saking seringnya masturbasi, saat di ranjang bersama pasangan sudah tak ada lagi 'isinya'. Setibanya di kantor Harvey, mereka semua memberi pengakuan mirip-mirip: mereka semua kecanduan seks.

Iklan

Masalahnya, menurut Harvey, tidak ada dari mereka yang kecanduan seks. Kecanduan seks itu hanya mitos belaka.

Harvey beserta ribuan anggota American Association of Sexuality Educators, Counselors and Therapists (AASECT) belum lama mengeluarkan pernyataan yang membantah diagnosa kecanduan seks dan video porno itu nyata. "Dari sisi ilmu pengetahuan, kecanduan seks itu hanya mitos."

Ide "kecanduan seks" pertama kali muncul dari bentuk-bentuk kecanduan yang lain. Menurut legenda, ide ini dimulai ketika sekelompok anggota Alcoholics Anonymous bergabung pada 1979 menerapkan metode dua belas langkah menuju kesembuhan. Kala itu mereka bermasalah dengan perselingkuhan, pornografi, dan hasrat seksual yang terkekang. Di zaman modern ini, ada ratusan kelompok-kelompok pemulihan dari kecanduan seks di Amerika Serikat: diantaranya Sex Addicts Anonymous, Sexaholics Anonymous, dan Porn Addicts Anonymous. Belum lagi fasilitas-fasilitas rehabilitasi yang bertugas membantu orang dengan hasrat seksual yang tidak terkendali.

Biarpun begitu, Harvey dan ahli-ahli lainnya menjelaskan bahwa masalah-masalah ini—mulai dari terlalu banyak nonton pornografi sampai menyelingkuhi pasangan—tidak bisa semudah itu dikategorikan sebagai "kecanduan" seks. Perawatan 'kecanduan' berdasarkan pengkotak-kotakan yang kelewat sederhana justru menyebabkan banyak pasien kesulitan menghadapi perilaku seksual yang menyimpang.

"Kecanduan seks adalah sebuah fenomena sosial, bukan gejala klinis atau medis," kata David Ley, seorang psikolog klinis yang praktek di Negara Bagian New Mexico. Penulis buku The Myth of Sex Addiction ini menyatakan kebanyakan orang mengira dirinya sebagai seorang pecandu seks, "karena mereka atau pasangannya membaca artikel atau menonton acara tv seputar kecanduan seks."

Iklan

Dari sedikit sekali penelitian yang pernah dilakukan seputar topik ini, tidak banyak bukti yang menyatakan para pecandu seks mengidap sifat-sifat yang mirip dengan pasien kecanduan-kecanduan lainnya yang memang sudah diteliti secara menyeluruh. Sebuah penelitian yang dirilis dalam jurnal Socioaffective Neuroscience & Psychology menguji reaksi saraf pecandu seks terhadap stimulasi seksual. Penelitian yang pernah dilakukan terhadap otak pecandu narkoba menunjukkan bahwa saraf pengguna heroin bereaksi lebih kuat terhadap imej-imej yang berhubungan dengan heroin dibanding imej lain. Namun penelitian terhadap pecandu seks menemukan bahwa aktivitas otak pecandu kurang lebih sama dengan orang normal. Edisi terbaru Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders menolak istilah "kecanduan seks," karena kurangnya bukti penelitian yang konkret.

Penelitian lainnya menyatakan bahwa kecanduan seks itu tidak lebih dari sekedar bentuk kebiasaan, seperti berjudi dan tidak bersifat kimiawi seperti alkoholisme. Biarpun kedua bentuk kecanduan ini sama-sama mempengaruhi otak dengan cara menstimulasi sistem dopaminergik, kecanduan akibat kebiasaan tidak seekstrem kecanduan akibat substansi. Masalahnya, kategori "pecandu seks" itu mencakup banyak tipe penyimpangan perilaku yang berbeda-beda (cyberseks, masturbasi berlebihan, pacaran secara obsesif, atau kegiatan seks yang tidak sehat) namun gagal mengidentifikasi penyebab penyimpangan-penyimpangan tersebut terjadi. Kecanduan seks menjadi sekedar istilah untuk "perilaku seksual yang tidak diinginkan," daripada menjelaskan adiksi seseorang terhadap perilaku tertentu.

Iklan

Harvey mengerti kenapa pria-pria yang mengalami masalah ini sering kali dengan mudahnya mencap perilaku mereka sebagai kecanduan seks. Itu sebetulnya hanyalah bentuk pengaburan masalah yang sesungguhnya.

Diagnosa kecanduan seks kerap mengabaikan masalah sesungguhnya. Intinya, pasien memang memiliki masalah, tapi bukan kecanduan seks. Jika dibiarkan bisa berakibat fatal. Sebuah penelitian menunjukkan 92 persen dari orang yang merasa kecanduan seks sebetulnya mengidap gangguan kesehatan mental seperti kegelisahan, depresi, atau skizofrenia. Alih-alih mencari perawatan yang sesuai, atau mengidentifikasi kenapa masalah kesehatan mental mempengaruhi kehidupan seks, mereka malah menghabiskan waktu di terapi yang mengajarkan orang untuk menghindari pornografi dan masturbasi berlebihan.

Perlu diingat juga bahwa kecanduan seks itu hampir eksklusif masalah pria—90 persen pengaku pecandu seks adalah pria—dan pria gay atau biseksual mempunyai kecenderungan tiga kali lebih tinggi untuk didiagnosa sebagai pecandu seks, jelas Ley. Isu kecanduan seks diwarnai dengan masalah nilai seseorang, katanya, termasuk apa itu seks yang berlebihan dan kapan seseorang harus merasa malu akan gairah-gairah seksual pribadinya.

Ley menceritakan seorang kliennya, bocah lelaki berumur 18 tahun yang mengaku kecanduan masturbasi. "Padahal dia cuma masturbasi sekali seminggu, tapi karena dia diajarkan dari kecil bahwa masturbasi itu dosa, tidak sehat, dan berbahaya, dia ketakutan sendiri," kaya Ley.

Harvey, Ley, dan pakar psikologi lainnya berharap pernyataan mereka tentang kecanduan seks bisa mulai mengubah cara pandang orang-orang menghadapi isu perilaku seksual menyimpang. Setidaknya, mereka terdorong mulai mencari perawatan yang tepat dari sisi medis. Jangan lagi mereka mendatangi kelompok terapi atau klinik penyembuh kecanduan seks.

"Tidak ada penelitian yang menyebutkan bahwa perawatan kecanduan seks itu efektif atau lebih efektif dibanding pergi ke terapis," kata Ley. "Sebetulnya perawatan ini ada tujuannya—agar lelaki yang bermasalah dengan perilaku seksualnya dapat 'dirawat' dan terlihat 'berusaha untuk berubah.' Masalahnya, banyak pasien-pasien ini akhirnya dieksploitasi. Mereka menghabiskan ribuan dollar tanpa benar-benar dibantu menyelesaikan masalah psikiatrik atau sosial mereka."