FYI.

This story is over 5 years old.

Health

Saya Vegetarian yang Terpaksa Harus Mengonsumsi Daging

Setelah selamat dari serangan stroke, saya ternyata butuh daging untuk membentuk kembali otot-otot tubuh yang sempat kehilangan fungsinya.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Ketika saya berusia 23, waktu itu masih tahun kedua sekolah kedokteran di Duke University, saya mengalami stroke batang otak yang parah. Stroke itu menyisakan hanya fungsi berpikir dan merusak seluruh otot di tubuh saya. Saya lumpuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak bisa bernapas, apalagi berbicara. Saya tiduran saja di ranjang rumah sakit dan menyaksikan diri saya semakin lama semakin lumpuh. Saya mengalami sindrom "locked-in", yakni saya sangat sadar situasi sekeliling tapi tak bisa melakukan apa-apa. Isak tangis dan rasa takut adalah satu-satunya yang menemani saya di masa yang lebih mirip mimpi buruk ketimbang hidup.

Iklan

Entah mukjizat dari mana, setelah tiga bulan penuh siksaan, otot-otot dan suara saya mulai kembali meski sangat sedikit. Saya jor-joran menjalani terapi fisik dan penuturan agar otot saya yang telah mengecil bisa lebih kuat dan berfungsi lebih baik. Berkat olahraga dan terapi rehabilitas, seperti simulasi listrik dan angkat beban, otot-otot saya mulai membaik dalam kurun waktu setahun. Perlahan kondisi saya menurun dan saya terus bergantung pada kursi roda. Saya hampir tak bisa menggunakan lengan, kaki, ataupun bersuara.

Saya telah mencoba segala pengobatan, baik yang dianjurkan dokter maupun terapi alternatif, agar saya bisa kembali membaik. Akupuntur, pengobatan oksigen hiperbarik, suntikan Botox, pijat neuromuscular, pokoknya apa saja deh biar otot-otot saya kembali berfungsi. Setelah menghabiskan banyak biaya dan waktu, saya masih putus asa dan sakit hati. Saya tak kunjung membaik.

Rupanya ada satu jalan yang belum saya coba, tapi ini sangat mengganggu nurani saya: Apakah pola makan vegetarian saya menghalangi tubuh untuk mendapatkan nutrisi yang cukup untuk membangun kembali otot-otot? Menurut Hannah Swartz, ahli gizi klinis di Pusat Medis Montefiore, "Mengkonsumsi protein yang pas sangat diperlukan untuk membangun otot, terutama ketika sedang menjalani terapi fisik, okupasi terapi, dan aktivitas yang membangun otot." Dia juga bilang protein hewani adalah protein yang lengkap. "Artinya, mereka memiliki asam amino yang diperlukan—jenis protein yang dibutuhkan tubuh, tapi engga bisa diproduksi sendiri oleh tubuh." Sedangkan protein nabati tak memiliki nutrisi mikro yang diperlukan tubuh.

Iklan

Saya memutuskan menjadi vegetarian sejak sekolah menengah karena sejumlah alasan berikut. Hewan dianggap suci di agama saya, ditambah apatisme saya terhadap cita rasa daging, dan mengikuti tren saat itu. Lambat laun, menjadi seorang vegetarian telah menjadi tindakan etis bagi saya. Semacam marwah saya. Namun, dalam kondisi saya setelah terserang stroke,marwah adalah kemewahan yang tidak saya miliki. Saya kehilangan segalanya karena stroke ini. Kehidupan akademis, asmara, sosial, dan tentu saja kondisi fisik berantakan. Kini, yang saya inginkan hanyalah kembali hidup normal. Saya tahu saya harus mencoba segala cara mendapatkan kembali hidup dan otot-otot saya—meski itu berarti saya harus membuat kesepakatan dengan iblis yang menyamar sebagai sepotong daging.

Dulu ketika kecil dan masih makan daging, saya senang sekali bumbu di ayam tikka masala. Jadi untuk mencoba kembali menjadi karnivora, saya pergi ke restoran India terbaik di Kota Charlotte, memesan ayam tikka ditemani roti naan bawang. Saya pandangi makanan itu, saus berwarna oranye kemerah-merahan menutupi ayamnya. Sudah, anggap saja itu tempe, saya berujar pada diri sendiri lalu menyendok suapan pertama. Saya bisa menerima kalau rasanya lebih kenyal dari yang saya kira, tapi saya tak tahan karena rasanya tak senonoh. Saya doyan saus dan roti naannya, tapi rasa bangkai tidak hilang-hilang dari lidah dan nurani saya.

Kecewa dan sejujurnya sedikit jijik, saya memandangi kursi roda. Saya harus mencoba lagi. Jadi saya menyuap sendok demi sendok berikutnya. Ayam dengan brokoli ala Cina, roti tumpuk ham dan keju, salmon panggang, ayam bakar, kalkun kodok ala Thanksgiving—semuanya saya coba, tapi rasanya sama. Dalam perjalanan kembali menjadi karnivora, saya menyadari kalau saya doyan sekali ayam goreng.

Iklan

Memang sih, saya lebih doyan tepungnya, dan masih engga doyan dagingnya. Tapi lumayan lah. Saya jadi sering pesan ayam empuk di sana sini, tapi saya paling senang bolak-balik ke McDonald's khusus membeli nugget ayam. Saya beneran suka rasa daging di nugget-nugget ini. Tapi ya, berarti satu-satunya makanan daging yang saya doyan sebetulnya sama sekali tidak bernutrisi. Resmi sudah, saya pemakan daging yang buruk.

Lagi-lagi, bisa makan yang saya suka adalah sebuah kemewahan yang tidak saya miliki. Saya menghabiskan hampir setahun mencekoki diri sendiri dengan ayam dan ikan, sambil terus melatih otot-otot saya di terapi harian. Saya fokus pada pelatihan kekuatan kaki dan dada, sambil juga melatih kegiatan funsgional seperti duduk dan berdiri. Sayangnya, meski saya sudah makan protein, saya tidak mendapatkan perubahan signifikan di kekuatan ataupun fungsi otot saya. Penyembuhan saya serasa tidak dipengaruhi oleh perubahan nutrisi apapun. Jadi sebetulnya, terapi menyakitkan dan makan daging yang sudah saya coba, sepadan atau tidak?

Riset telah menunjukan secara konsisten bahwa konsumsi protein para vegeterian dan vegan dari sumber protein nabati bervariasi, "bisa juga memenuhi kebutuhan protein tubuhnya," ujar Vu Nguyen, ahli medis fisik dan rehabilitasi di Pusat Medis Carolinas. Adam Graske, ahli kebugaran syaraf di Race to Walk, sebuah fasilitas rehabilitasi North Carolina untuk individu lumpuh meyakini setiap manusia bisa mendapatkan nilai lebih per kalori dengan protein hewani. Rupanya, para vegetarian bisa saja mendapatkan nutrisi yang diperlukan, dengan mengkonsumsi protein hewani bervariasi tinggi.

Nguyen menambahkan, "Mempertahankan otot massal sangat penting setelah stroke. Tapi, yang menyebabkan antrofi sebetulnya adalah kekurangan stimulasi syaraf." Jadi penyembuhan setelah stroke sangat berhubungan dengan memperkuat input syaraf terhadap otot, alih-alih sekadar membangun otot itu sendiri. Penyembuhan juga bergantung pada neuroplasticity, kemampuan unik otak untuk memperbaiki diri sendiri setelah kerusakan, yang membutuhkan terapi fisik yang intens. Dalam kasus ini, memang tidak ada pil ajaib, atau pengobatan ajaib, yang mampu mengembalikan saya kesedia kala. Saya perlu menerima bahwa satu-satunya faktor penyembuhan saya adalah kerja keras dan waktu. Progres saya akan banyak goncangan, jalan berliku dan polisi tidur sepanjang jalan, dan saya mesti sabar dan persisten dengan terapi saya.

Selama beberapa tahun terakhir, saya telah fokus berupaya terapi sebanyak mungkin di berbagai jenis pusat rehabilitasi dan bahkan di rumah. Dengan terus menerus menantang diri saya dengan teknik mutakhir, teknologi terbaru, dan aktivitas berbeda termasuk yoga dan pilates, perkembangan tubuh saya menjadi stabil, meski sangat lamban. Saya telah berada di titik di mana saya bisa berbicara perlahan dan runut, menggunakan tangan saya untuk beberapa aktivitas fungsional, bahkan berjalan dengan alat bantu di dalam air, di atas treadmill, dan sekeliling rumah.

Soal nutrisi, saya telah bisa kembali ke zona aman saya: tanpa daging sama sekali. Terutama quinoa dan wortel. Namun saya masih mengonsumsi sedikit protein hewani. Mulai dari telur, olahan susu, kacang-kcangan, lentil, dan beragam makanan berprotein, saya mengembangkan pola makan vegetarian yang seimbang untuk membantu pelatihan dan penyembuhan otak dan otot saya. Karena dukungan ekstra sangat penting, saya bergabung dengan grup Facebook berisi penyintas stroke muda. Saya masih mengusahakan tubuh kembali normal sekaligus, saya juga ingin mengembalikan marwah sebagai seorang vegetarian.