Warga mengelilingi jenazah yang digeletakkan di pinggir kawasan Metro Manila. Jasad itu korban perang narkoba yang dicanangkan Presiden Rodrigo Duterte. Semua foto oleh Hannah Reyes Morales untuk VICE News.
Seorang anak perempuan mengintip dari jendela rumahnya, yang bersebelahan dengan TKP pembunuhan tersangka pengedar narkoba.
Penduduk kawasan pesisir Manila menonton satu sosok mayat terdampar di tepi pantai Distrik Tondo.
Suster Yvonne dan Judith, keduanya pendukung Duterte, merasa puas dengan kebijakan presiden mengatasi kejahatan.
Di bawah tekanan, Duterte akhrnya menghentikan sejenak perang tersebut. Dia berkata eksekusi para pengedar dan pengguna mula terasa di luar kendali. (Sebulan kemudian, perang anti-narkoba tersebut dilanjutkan dengan nama baru: "Project Double Barrel Reloaded.") Mayoritas korban EJK berasal dari area kumuh Manila seperti Tondo, Caloocan, dan Mandaluyong. Mandaluyong terletak di perbatasan wilayah bisnis Manila, yaitu daerah Makati, namun tidak ada jalan besar di sana. Kawasan ini adalah rumah bagi Barangay Plainview. Barangay seringkali diterjemahkan sebagai "desa," namun tempat itu terasa lebih seperti komplek perumahan. Di beberapa barangay, sudah biasa jika semua orang saling mengenal satu sama lain. Desember tahun lalu, tiga orang tewas dibunuh dan dua orang luka-luka di Plainview dalam waktu dua jam. Insiden ini menjadi tajuk berita "Season of Fear" atau "Musim Ketakutan," yang merupakan musim terakhir bagi beberapa warga. Selama liburan, bar dan kafe lokal biasanya buka sampai pagi. Tahun ini bar-bar itu kosong. Jalanannya menurut laporan media lengang seperti "kuburan".
Tingkat kepuasan pada kinerja Duterte masih sangat tinggi, terutama di kalangan kelas pekerja dan warga miskin perkotaan.
Pengemudi becak mengaku sangat mengidolakan Duterte, kendati dia tahu ada tetangganya yang terbunuh akibat perang narkoba.
Penduduk di kawasan kumuh Metro Manila masih sangat mendukung Duterte walaupun banyak warga di kampung itu yang terbunuh akibat perang narkoba.
Duterte memulai pidatonya dengan tenang, tanpa skrip, menjelaskan bahwa dia sadar betapa berat kehidupan seorang polisi. Mereka semua ingin mampu membeli mobil dan menyokong kehidupan istri dan anak-anaknya, namun tidak memiliki gaji besar. Duterte berjanji untuk melipatgandakan gaji personel kepolisian. Biarpun terdengar simpatik, Duterte menjelaskan alasan dibalik rencana penaikkan gaji ini untuk mencegah polisi bertindak korup. Sepanjang pidatonya, Duterte terdengar tegas dan konsisten. Jangan salah, berbagai macam sumpah serapah masih keluar dari mulutnya—frasa favoritnya, putang ina (anak sundal) dan ulol (bajingan). Dia juga terlihat menggelengkan kepala beberapa kali seakan-seakan gerombolan polisi preman ini (scalawags dalam bahasa Tagalog) telah mengkhianatinya. Tidak lama kemudian Duterte bercerita bagaimana aparat polisi kerap bersekongkol dengan sindikat narkoba. Sebagai orang daerah, dia mengaku tidak mengerti cara kerja korupsi di Manila, tapi dia kemudian menjelaskan bagaimana dana operasi pemberantasan narkoba ujung-ujungnya masuk kantong pribadi polisi. "Sedih sekali bagaimana kebanyakan pelaku kriminal paling keji adalah mantan polisi atau mantan militer," kata Duterte. "Kalian lah yang bertanggung jawab membuat anakmu menjadi pecandu narkoba." "Kalian semua kriminal," kata sang presiden di hadapan ratusan personel kepolisian.
Boneka bobblehead dengan wajah Duterte yang dikoleksi salah satu pendukungnya di kawasan Metro Manila.
Semua yang tidak suka dengan status quo, yang merasa pemerintah Filipina era Presiden Benigno Aquino III gagal mengatasi masalah-masalah seperti kemacetan, kependudukan, isu lingkungan, dan korupsi, mereka semua segera tertarik dengan Duterte; walikota asal Davao yang lucu dan canggung. Semua yang pernah melihat keahlian Duterte berinteraksi dengan penonton akan sadar bahwa dia tidak bisa diremehkan. Sama seperti pendukung Donald Trump dan pemilih Brexit, banyak warga Filipina mencari sesuatu yang "berbeda" dengan memilih Duterte. Duterte berhasil memenangkan simpati dalam berbagai isu penting dan masalah-masalah negara yang kerap diabaikan oleh pemerintahan sebelumnya. Terlebih lagi, ekonomi Filipina berkembang dengan pesat, mendekati 7 persen. Berbagai proyek yang tertunda di bawah pemerintahan Presiden "Noy Noy" Aquino—contohnya renovasi bandar udara, peningkatan sistem transportasi Manila—semua mengalami kemajuan di bawah pemerintahan Duterte, berkat sokongan investasi Cina dan Jepang. Dunia bisnis Manila yang dikendalikan oleh pengusaha-pengusaha Cina-Filipina juga senang melihat cara kerja Pemerintahan Duterte.
Seniman Filipina Bebot Cultura berdiri di depan lukisan Duterte di rumah adik permepuannya kawasan Metro Manila.
Keluarga Jerry Estreller Jr menghabiskan waktu di ruangan tempat Estreller terbunuh pada Desember lalu. Sebagian keluarga are Duterte supporters, but after Estreller's death, a few changed their minds.
Yang lebih penting bagi Remoto, Duterte adalah pendukung potensial hak-hak kaum gay. Di tahun 2010, ketika Ladlad pertama kali mengajukan permohonan untuk turun serta dalam pemilu presiden Filipina, permohonan mereka ditolak oleh Komisi Pemilu Filipina karena partai tersebut dianggap menyebarkan paham "immoral." Duterte, yang waktu itu masih menjabat sebagai walikota Davao, memberikan pernyataan tentang hal ini dan menyebut tindakan Komisi Pemilu Filipina sebagai "intoleransi tingkat tinggi." Dalam kapasitasnya sebagai seorang presiden, Duterte telah mengakui kekerasan terhadap perempuan dan kaum LBGT sebagai tindak kriminal. Dia juga menyetujui pendirian help desk untuk kaum perempuan dan LGBT di seluruh kantor polisi di Filipina. Kendati demikian, pemerintahan Duterte belum menghasilkan kemajuan berarti bagi komunitas LGBT di Filipina—golongan yang tergolong baru dalam peta politik Filipina dan belum mendapatkan basis pendukung yang luas. Bulan Maret lalu, Duterte menganulir salah satu janjinya semasa kampanye pilpres lalu: melegalkan perkawinan sesama jenis.Ketika saya desak Remoto tentang kebijakan Duterte yang kerap plin-plan, dia berkukuh. "Duterte menarik ulang pernyataan antigaynya sehari setelah itu. Dia bilag kaum LGBT juga berhak bahagia dan menjalin hubungan dengan sesamanya. Sayangnya, sampai saat ini, perundang-undangan Filipina belum mengizinkan hal itu." Sampai saat ini, belum ada pengacara yang mau menangani kasus LGBT dan perkawinan gay adalah salah satu hal yang kerap dipermasalahkan di ranah hukum. Remoto cuma bisa bersyukur bahwa Duterte tak punya pendirian keras melawan kaum LGBT.
Putri seorang pendukung Duterte bersantai di rumahnya kawasan metro Manila.